
Ainisha berhenti sejenak di luar gedung perusahaan milik Haikal. Matanya dipenuhi airmata yang masih enggan menetes. Ainisha berusaha memikirkan kembali, sebelum dia memutuskan untuk masuk ke perusahaan Haikal.
Sekali dia masuk dan menerima pekerjaan dari Haikal, maka akan sulit baginya untuk bisa keluar dari zona nyamannya. Ada kemungkinan, Haikal akan mengenalinya suatu saat nanti. Tetapi hanya inilah kesempatan Ainisha untuk bisa mendapatkan sejumlah uang yang dia butuhkan dalam waktu seminggu.
Dengan segenap hati, akhirnya Ainisha memutuskan untuk masuk dan akan menerima pekerjaan yang pernah di tawarkan olehnya beberapa waktu yang lalu. Langkahnya sedikit berat mengingat dia akan masuk kedalam sarang harimau yang paling dia takutkan. Takut ketahuan.
Demikianlah hatinya merasakan betapa dia harus menekan rasa takut yang selama ini membuatnya pergi dari sisi Haikal. Kini dia harus berkompromi dengan ketakutan itu dan melawannya.
Ainisha dan Alisha adalah dua orang dengan karakter berbeda. Jika tidak ingin ketahuan, Ainisha harus menghilangkan semua karakter Alisha pada dirinya. Walaupun sedikit banyak, karakter Alisha mulai masuk ke dalam diri Ainisha.
Ainisha terus melangkah menuju lobi kantor Haikal. Saat itu, Tama sudah menunggunya sesuai perintah Haikal. Ainisha berusaha tersenyum saat bertemu dengan Tama.
"Ainisha, akhirnya kamu datang," kata Tama menyambut Ainisha.
"Bisakah aku bicara dengan kak Tama sebentar?" tanya Ainisha sambil menatap Tama.
"Tentu saja, Aini. Mari ikut aku," jawab Tama sambil memberi isyarat pad Aini untuk mengikutinya.
Ainisha berjalan mengikuti Tama dari belakang. Berhentilah mereka di ruang kerja Tama yang tidak jauh dari ruang kerja Haikal.
"Duduklah. Katakan, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Tama sambil duduk.
Ainisha duduk dan berusaha mengumpulkan tenaganya untuk berani mengutarakan maksud hatinya.
"Begini, Kak Tama. Ibuku saat ini sedang sakit dan aku butuh uang secepatnya. Bisakah aku meminta bayaran aku terlebih dulu? Aku janji setelah itu aku akan menyerahkan hidupku untuk bekerja di sini sampai hutang-hutangku lunas," kata Ainisha mencoba peruntungan.
"Aini, aku tidak bisa memutuskan. Tetapi, jika kamu ingin mendapatkan pinjaman sebagai syarat kamu mau bekerja di sini, sebaiknya kamu bicarakan sendiri pada pak Haikal," kata Tama sedih.
"Tolonglah, Aini Kak Tama. Beritahukan kesulitan Aini pada pak Haikal. Mungkin saja, pak Haikal akan mau mendengarkan perkataan Kak Tama," pinta Ainisha sambil memohon.
Apa yang dikatakan Ainisha membuat Tama merasa kasihan padanya. Ainisha tipe wanita yang tidak akan memohon jika dia tidak benar-benar dalam kondisi terpaksa.
"Baiklah, kamu tunggu di sini sebentar. Aku akan mencoba berbicara dengan pak Haikal tentang kesulitan mu," kata Tama lalu dia meninggalkan Ainisha.
__ADS_1
Dengan hati cemas dan khawatir, Ainisha menunggu hasil dari pembicaraan Tama dan Haikal. Ainisha memejamkan mata sambil berdoa agar semua bisa berjalan lancar seperti yang dia harapkan. Hanya inilah harapan satu-satunya yang Ainisha harapkan.
Setelah beberapa lama, Tama kembali dengan wajah sedih. Ainisha tiba-tiba putus asa melihat kedatangan Tama.
"Kak Tama, maafkan Ainisha. Pasti pak Haikal marah pada Kak Tama. Ainisha mengerti, Ainisha belum bekerja, tetapi Ainisha sudah menginginkan bayaran. Ainisha bukan orang penting," kata Ainisha merasa bersalah pada Tama.
"Pak Haikal setuju. Tetapi, dia ingin bicara langsung denganmu. Untuk membicarakan pekerjaan yang harus kamu kerjakan untuk mendapatkan uang yang kamu butuhkan," kata Tama lalu tersenyum pada Ainisha.
"Lalu kenapa tadi Kak Tama tampak sedih, pekerjaan seperti apa yang harus aku lakukan?" tanya Ainisha lagi.
"Aku tadi sedih, karena pekerjaan ini tidak berhubungan dengan pekerjaan kantor. Tapi aku yakin kamu pasti bisa. Aku akan selalu mendukungmu, Aini. Semua demi ibumu. Pergilah, pak Haikal sendiri yang akan menjelaskan pekerjaan seperti apa yang harus kamu lakukan," kata Tama memberi semangat Ainisha.
Ainisha melangkah keluar dari ruang kerja Tama menuju ruang kerja Haikal yang hanya terbatas dinding. Sejenak Ainisha berhenti dan menarik napas panjang, lalu di hembuskan perlahan. Ainisha siap menghadapi Haikal.
Ainisha mengetuk pintu sambil menunggu jawaban dari dalam.
"Masuk," suara Haikal sangat jelas dari dalam ruangannya.
Ainisha masuk sambil menundukkan wajahnya, berharap Haikal tidak akan mengenalinya sebagai Alisha. Seharusnya memang Haikal tidak akan mengenalinya karena saat ini Ainisha lebih seperti gadis kampung yang kucel dan wajah yang kotor penuh debu.
Ainisha mengangkat kepalanya karena tidak mendapat respon dari Haikal. Ainisha terkejut melihat Haikal terus menatap dirinya tanpa berkedip. Seolah dia tahu sesuatu tentang dirinya.
"Pak Haikal," panggil Ainisha mengejutkan Haikal.
"Oh, maaf. Kamu Ainisha sang delivery itu kan? Yang pernah membantuku beberapa waktu lalu," kata Haikal.
"Benar, Pak Haikal."
"Kamu sudah siap untuk bergabung dan bekerja di sini?"
"Sudah. Tapi, sebelum saya bekerja, bolehkah saya meminta pinjaman pada perusahaan terlebih dahulu?" tanya Ainisha.
"Sebenarnya, tidak pernah ada seorangpun karyawan yang belum bekerja, meminta pinjaman," kata Haikal serius.
__ADS_1
"Tapi, saat ini saya sangat membutuhkan uang untuk berobat ibu saya, Pak. Saya berjanji akan bekerja dengan sungguh-sungguh dan rajin agar bisa membayar hutang-hutang saya," kata Ainisha memelas.
"Maaf, sebagai pimpinan perusahaan, saya tidak bisa memenuhi keinginan kamu. Karena jika saya melakukan itu, akan menimbulkan rasa ketidakadilan untuk karyawan lain. Tetapi, saya ada tawaran pekerjaan lain untukmu. Asal kamu bersedia, saya akan memberikan sejumlah uang yang kamu butuhkan," kata Haikal sambil menatap Ainisha.
"Maksud, Pak Haikal, saya bisa meminjam uang sebanyak yang saya mau?" tanya Ainisha agar lebih yakin.
"Berapa yang kamu butuhkan?"
"200 juta."
"Oke, 200 juta. Aku akan memberikan uang 200 juta asal kamu bersedia bekerja untukku," kata Haikal sambil menatap Ainisha lebih tajam.
"Lalu, apa pekerjaan yang harus saya lakukan?" tanya Ainisha.
"Jadilah istri palsuku," jawab Haikal sambil menahan napas.
"Apa, istri palsu Pak Haikal?" tanya Ainisha kaget.
Ainisha seperti ditimpa batu yang sangat besar. Dadanya tiba-tiba terasa sesak dan dia sulit untuk bernapas. Ainisha berusaha menarik napas dalam-dalam dan dihembuskannya perlahan-lahan.
"Benar sekali. Jika kamu setuju, uang 200 juta akan segera kamu terima," kata Haikal meyakinkan Ainisha.
Ainisha berpikir sebentar. Terbayang wajah sedih ayahnya dan tubuh ibunya di ICU rumah sakit sedang menunggu dirinya datang membawa uang untuk biaya operasi.
"Saya akan memberi kamu waktu untuk berpikir. Setelah yakin, datanglah kembali," kata Haikal lagi.
"Tidak. Saya sudah memutuskan. Saya akan menerima tawaran pekerjaan dari Pak Haikal. Tapi, bisakah saya memberi saya uang tunai saja?" tanya Ainisha.
"Tidak masalah. Tapi aku juga perlu waktu untuk bisa mendapatkan uang tunai. Besok pagi, pada jam kerja, Tama akan mengantarkan uang tunai 200 juta ke rumah sakit tempat ibumu di rawat. Kamu tunggu saja di sana."
"Terima kasih, Pak Haikal."
Ainisha merasa lega. Kini dia bisa tersenyum karena dia sudah mendapatkan biaya untuk operasi ibunya. Meskipun dia harus berurusan lagi dengan Haikal, suaminya.
__ADS_1
Akankah Ainisha bisa menjalankan tugasnya dengan baik?
bersambung