
Haikal memanfaatkan kesempatan dihari ulang tahun Bu Minarsih, untuk lebih dekat dengan Clara. Bukan karena dia jatuh cinta dengan Clara, melainkan karena Haikal masih penasaran tanda lahir di belakang telinga Clara.
Haikal menyadari jika sang istri sudah lama meninggal dan tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Ainisha di hati Haikal. Meskipun dia orang yang memiliki kemiripan dengan Ainisha.
Akan tetapi, Haikal tidak mendapatkan jawaban yang dia harapkan. Karena Ainisha bisa menutupi kebiasaan Ainisha didepan Haikal. Merasa tidak menemukan apapun, Haikal memutuskan untuk berhenti mencurigai Clara.
Seminggu kemudian, Haikal berkumpul dengan teman-temannya di sebuah cafe. Mereka ingin reuni karena sudah lam mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing dan tidak ada waktu untuk berkumpul. Haikal sangat bahagia bisa sedikit terhibur dan melupakan kesedihannya.
"Haikal, kenapa kamu terlihat lebih tua dari usiamu. Jangan terlalu banyak pikiran," ucap Dokter Patra.
"Benarkah? Kamu terlalu lama di luar negeri, kamu tidak tahu apa yang terjadi setelah kamu pergi keluar negeri?" tanya Haikal sambil meminum jus di depannya.
"Maaf, aku baru tahu. Aku turut berduka cita atas meninggalnya istrimu. Kamu pasti sangat sedih karena kamu kehilangan dua orang sekaligus," ucap dokter Patra sambil menghela napas.
"Maksud kamu apa, dokter Patra?" tanya Haikal kaget.
"Maaf, Haikal. Aku tidak memberitahumu sebelum aku pergi. Sebenarnya, istrimu saat itu benar-benar sedang hamil. Awalnya aku kaget juga dengan kehamilan istrimu, tetapi mungkin itu jalan dari Tuhan bahwa aku tidak perlu berbohong kepada ibumu saat itu," jawab dokter Patra sambil menatap Haikal.
Haikal tampak kaget dan bingung mendengar penjelasan dari dokter Patra. Jika benar saat itu Ainisha sedang hamil, mengapa saat kecelakaan itu, dokter yang memeriksanya tidak mengatakan bahwa mayatnya dalam kondisi hamil?
Haikal mulai curiga bahwa yang meninggal bukanlah Ainisha, istrinya. Jika hal itu benar, ada berbagai macam kemungkinan yang bisa saja terjadi. Bisa jadi, Ainisha masih hidup dan bahkan sekarang sudah melahirkan.
__ADS_1
Saat berpikir seperti itu, Haikal teringat pada Clara, wanita yang memiliki tanda lahir yang sama dengan Ainisha. Dia juga belum lama melahirkan. Sorot mata yang sama. Akan tetapi mereka memiliki wajah yang berbeda.
Haikal semakin dibuat bingung dengan semua ini. Haikal mulai mencari cara untuk mencari kebenaran tentang Clara dan anaknya. Tentu saja, dia tidak bisa secara terang-terangan menunjukan kecurigaannya dihadapan Clara dan Bu Minarsih.
Hal pertama yang lakukan adalah mencoba mencari tahu ayah biologis dari anak Clara, Haidar. Setahu Haikal, dari gosip yang dia dengar, Clara hamil anak John dan John tidak mau bertanggungjawab. Otomatis, seharusnya Haidar adalah anak John. Tetapi entah kenapa, sepertinya Haikal seperti memiliki ikatan batin dengan Haidar saat dia menggendongnya di hari ulang tahun Bu Minarsih.
Haikal datang menemui Ainisha di rumahnya dengan alasan ingin memberikan sebuah mainan untuk Haidar. Dengan alasan itu, Haikal bisa mengambil sampel rambut Haidar untuk dilakukan tes DNA secara diam-diam.
"Terima kasih, Pak Haikal. Seharusnya anda tidak perlu repot-repot. Lagian, Haidar masih terlalu kecil untuk bermain," ucap Ainisha sambil menggendong Haidar.
"Maaf, aku tidak terpikirkan hal itu. Aku hanya senang saja, karena aku dulu pernah menikah dan pernah juga berharap, aku memiliki seorang anak. Sayangnya, istriku mengalami kecelakaan dan meninggal sebelum sempat merasakan kebahagian itu," ucap Haikal mencoba memancing reaksi Clara.
"Saya turut berduka cita, Pak Haikal. Sepertinya, Pak Haikal sangat mencintai istri Bapak. Tetapi, yang sudah meninggal tidak akan bisa hidup kembali. Kalau Pak Haikal menginginkan seorang anak, pak Haikal bisa menikah lagi. Memang begitu 'kan biasanya seorang laki-laki," ucap Ainisha sedikit menahan kesal.
Ainisha menarik napas panjang, agar dirinya tidak terbawa emosi. Ainisha menyerahkan Haidar pada Haikal. Ainisha pamit pergi ke belakang dan membiarkan Haikal hanya berdua dengan Haikal.
Kesempatan yang tidak disia-siakan Haikal. Haikal menidurkan Haidar diatas sofa. Dengan gunting kecilnya, Haikal memotong sedikit rambut Haidar lalu disimpannya di botol plastik yang sudah disiapkannya.
Sebelum Ainisha datang, Haikal kembali menggendong Haidar agar Ainisha tidak curiga.
Setelah mendapatkan apa yang Haikal inginkan, Haikal segera pergi ke rumah sakit. Dia sudah tidak sabar, ingin mengetahui kebenarannya. Walaupun jika nanti kebenaran itu pahit baginya. Hal itu lebih baik daripada terbelenggu dalam ketahuan dan kecurigaan.
__ADS_1
Haikal menemui, Dokter Patra, untuk membantunya melakukan tes DNA. Haikal juga meminta agar hal itu disembunyikan dari siapapun tanpa terkecuali. Apapun hasilnya, akan menjadi rahasia mereka berdua.
Sambil menunggu hasil dari tes DNA itu, Haikal melakukan aktivitas seperti biasa. Hanya terlihat sedikit harapan yang tanpa sadar dia pupuk, sehingga dia lebih terlihat santai dan bisa tersenyum. Hal itu disadari oleh sang ibu yang datang menemuinya.
"Haikal, apa kamu sudah memutuskan untuk menerima pertunangan yang ibu tawarkan?" tanya Bu Kartika senang.
"Ibu, sampai kapan Haikal harus terus mengatakan jika Haikal belum bisa melupakan Ainisha. Haikal tidak akan menikah sampai Haikal benar-benar bisa melupakan Ainisha," jawab Haikal agak kesal karena ibunya terus saja memaksanya untuk segera menikah lagi.
"Haikal, bagiamana kamu bisa melupakan Ainisha jika kamu tidak mencoba mencintai wanita lain. Setelah kamu menikah, kamu pasti akan melupakan Ainisha. Percaya sama Ibu," ucap Bu Kartika berusaha mempengaruhi Haikal.
"Jika nanti Haikal memutuskan untuk menikah lagi, Haikal akan mencari sendiri. Haikal tidak akan merepotkan Ibu," kata Haikal tegas.
Haikal harus bersikap seperti itu, agar sang ibu tidak terus memintanya untuk menikah lagi. Atau Haikal akan bersikap sama seperti dulu, menjadi Casanova yang akan di benci oleh orangtua para gadis. Mereka tidak akan membiarkan putri mereka hidup dalam penderitaan batin.
"Haikal, setidaknya, temui dulu gadis itu. Baru setelah itu, kamu boleh memutuskan untuk menerima atau menolak," pinta sang ibu sambil memohon.
Haikal sebenarnya mengerti kekhawatiran ibunya tentang dirinya. Karena semenjak, Ainisha meninggal, Haikal sama sekali tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun. Sedangkan sang ibu sudah ingin sekali menimang cucu.
Haikal berpura-pura tidak mengerti keinginan ibunya, karena Haikal masih belum bisa memaafkan dirinya sendiri. Saat dimana seharusnya dia memperjuangkan Ainisha sebagai istrinya, dia malah membuat Ainisha harus merelakan diri untuk berkorban menunggunya bisa meluluhkan hati ibunya.
Penyesalannya tidak pernah hilang, apalagi ketika Ainisha dinyatakan meninggal setelah menerima putusannya saat itu. Haikal merasa, dialah penyebab Ainisha meninggal. Jika kali ini, Haikal diberi kesempatan lagi, maka dia akan mempergunakan kesempatan ini untuk memperjuangkan cinta istrinya kembali.
__ADS_1
Bersambung