Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 28. Tidak bisa mempertahankanmu


__ADS_3

Haikal berhenti dan menatap tubuh Ainisha yang duduk dilantai sambil memegangi kedua lututnya. Tubuhnya terlihat lemah karena pasti sejak siang tadi belum makan. Haikal mendekati Ainisha untuk mengajaknya makan.


"Ainisha, kenapa kamu masih di sini? Kenapa kamu tidak kembali ke rumah dan beristirahat," tanya Haikal sedih melihat kondisi Ainisha.


Bagaimanapun juga, Ainisha adalah Alisha yang berarti bahwa dia adalah istrinya sekarang. Diluar kesalahan yang dilakukan Ainisha padanya, pernikahan mereka tetap berarti bagi Haikal.


"Aku ... aku," jawab Ainisha gugup.


"Sudahlah, ayo kita makan bersama," ucap Haikal sambil membantu Ainisha berdiri.


Melihat kondisi Ainisha yang lemah, Haikal memutuskan untuk membiarkan Ainisha duduk di ruang tunggu. Sementara Haikal pergi keluar untuk membeli makanan.


Selang beberapa waktu, Haikal sudah kembali dengan sebungkus nasi goreng dan minuman hangat untu Ainisha. Dengan sabar, Haikal menyuapi Ainisha, yang matanya mulai berkaca-kaca karena terharu melihat perhatian Haikal padanya. Padahal, Haikal sudah mengetahui semua rahasianya sekarang.


"Kamu tidak makan? Kita makan bersama," ucap Ainisha lemah.


Haikal tersenyum, lalu dia ikut makan beberapa sendok nasi goreng. Kebersamaan Haikal dan Ainisha, menjadi hal terindah yang mereka rasakan setelah terbongkarnya rahasia Ainisha.


Selesai makan, Haikal membawa Ainisha masuk untuk bertemu ibunya yang sudah sadarkan diri. Akan tetapi, apa yang diharapkan Haikal maupun Ainisha, tidak seindah itu. Bu Kartika masih tetap tidak bisa menerima perbuatan Ainisha.


"Haikal, untuk apa dia masih ada di sini? Ibu tidak ingin melihatnya lagi sampai kapanpun," teriak Bu Kartika.


"Ibu, bagiamana pun dia adalah menantu ibu sekarang. Dia akan pergi kemana kalau tidak bersamaku," jawab Haikal berusaha menenangkan ibunya.


"Haikal, kamu sudah terkena guna-guna wanita itu. Apa yang kamu lihat dari dia. Dia cuma gadis miskin yang ingin kaya dengan mendekatimu. Orang miskin yang hanya memikirkan uang. Aduh ... Ha ... Haikal." Bu Kartika yang semakin emosi, tiba-tiba merasakan sakit pada dadanya.

__ADS_1


Haikal dan Ainisha panik lalu memencet tombol untuk memanggil dokter. Dokter dan dua orang perawat datang untuk menangani Bu Kartika. Haikal dan Ainisha diminta untuk keluar.


Haikal dan Ainisha sangat sedih dengan kondisi ibu Haikal. Bu Kartika bukannya semakin membaik, malah semakin memburuk saat bertemu Ainisha. Ainisha menyadari bahwa kehadirannya di sisi Haikal memang bukan solusi yang terbaik. Ada banyak hal yang harus di pertimbangkan untuk bisa menjadi keputusan yang terbaik untuk semua orang.


Ainisha tahu sepenuhnya, apa yang telah dia tabur pasti suatu saat dia akan memetiknya. Demikian juga dengan dosa-dosanya pada keluarga Haikal, Ainisha harus rela jika keluarga Haikal sangat membencinya.


Ainisha juga menyiapkan diri, jika sampai keluarga Haikal akan melaporkan dirinya pada polisi. Walaupun Haikal sangat mencintainya, tetapi disisi lain ada ibunya yang sakit. Ainisha tidak ingin membuat Haikal dilema memilih antara dia atau ibunya.


Setelah ibunya dinyatakan sudah tenang, Haikal masuk untuk menemui ibunya.


"Ibu, ibu jangan terlalu banyak berpikir. Ibu, harus baik-baik saja," kata Haikal sedih.


"Haikal, bagaimana ibu bisa baik-baik saja, jika kamu masih bersama wanita pembohong itu. Jika kamu masih ingin melihat ibu hidup, tinggalkan dia. Ceraikan dia secepatnya," kata Bu Kartika pelan.


"Tapi, Bu, aku sangat mencintainya. Aku mohon ...," ucap Haikal terhenti karena ibunya langsung menjawab.


Haikal kini ada didalam dilema. Di satu sisi ada ibunya di sisi lain ada istrinya. Haikal terdiam beberapa saat, lalu keluar untuk bertemu Ainisha dan mencari solusi yang tepat untuk mereka berdua.


Di luar ruangan, Ainisha duduk berdiam diri dengan perasaannya yang mulai tenang. Keputusannya telah dia ambil sebelum Haikal datang.


"Ainisha, maafkan aku. Ibu masih belum bisa menerima kamu sebagai istriku. Bagaimana jika kamu kembali ke rumah orangtuamu untuk sementara dan jika ibu sudah tidak emosi lagi, aku akan menjemputmu," ucap Haikal tentang solusi hubungan diantara mereka.


Ainisha yang memang sudah siap dengan semua itu, hanya tersenyum dan menerima.


"Haikal, kamu tidak perlu khawatir dengan diriku. Aku paham kesulitan mu. Aku sudah membuat keputusan untuk aku dan terbaik untuk ibumu. Aku siap jika kamu akan menceraikan aku. Karena dari awal, akulah yang salah. Masuklah dan temani ibumu," kata Ainisha yang berniat segera pergi.

__ADS_1


"Maafkan aku Ainisha. Untuk saat ini aku tidak bisa mempertahankan kamu di sisiku. Tapi, aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Tunggulah aku, aku akan datang menjemputmu secepatnya," kata Haikal sedih.


Ainisha hanya mengangguk pelan. Dengan hati sedih dia pergi meninggalkan rumah sakit. Ainisha menunggu taksi yang sudah di pesannya. Malam itu, hujan turun dengan derasnya.


Saat menunggu taksi, datanglah seorang wanita yang seusia dengannya terlihat cemas dan panik. Ainisha mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan wanita itu. Rupanya dia terburu-buru harus segera pulang karena saat pergi dari rumah, dia tidak pamit pada orangtuanya.


Taksi yang dipesannya telah datang. Karena kasihan dengan wanita itu, Ainisha memberikan taksi yang dipesannya kepadanya.


"Terima kasih," ucap wanita itu sambil menyerahkan payung pada Ainisha sebelum pergi.


"Sama-sama," jawab Ainisha sambil tersenyum.


Malam sudah semakin larut. Ainisha memutuskan untuk menerobos hujan dengan menggunakan payung yang ada di tangannya. Ainisha berjalan perlahan di tengah guyuran hujan yang kian deras. Angin berhembus cukup kencang hingga hingga payung yang digunakan Ainisha terangkat keatas.


Ainisha kaget karena kini tubuhnya telah basah oleh air hujan. Dia mencoba mencari tempat berteduh. Akan tetapi, saat dia tidak konsen dengan keadaan jalan di sekitarnya, sebuah mobil menabrak tubuh basah Ainisha. Tubuh Ainisha terpental tidak jauh dari mobil yang menabraknya.


Ainisha hanya bisa merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dia sudah tidak bisa lagi berdiri. Akan tetapi, matanya masih sanggup melihat samar-samar seseorang turun dari mobil yang menabraknya. Seorang wanita dengan di payungi oleh seorang pria. Cukup jelas wajah wanita itu bagi Ainisha.


"Resia ...." gumam Ainisha sebelum akhirnya dia tidak sadarkan diri dan koma.


Apa yang terjadi pada Ainisha setelahnya, saat dia terbangun dari komanya menjadi kejutan bagi dirinya sendiri maupun bagi orang-orang yang mengenalnya. Karena Ainisha merasa, dirinya tidak akan selamat setelah kecelakaan malam itu.


Ainisha mulai membuka matanya perlahan-lahan. Di sapunya seluruh isi ruangan bahkan langit-langit kamar tempatnya terbaring lemah. Di tubuhnya dipenuhi alat-alat medis untuk membantunya agar masih tetap bertahan hidup. Ainisha baru menyadari jika saat ini, dia berada di ruang ICU di sebuah rumah sakit.


Siapa yang menyelamatkan aku? batin Ainisha.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2