
Plakkk
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah John. John kaget bahkan Ainisha juga kaget. Bukan tamparan dari tangan Ainisha, melainkan tamparan dari Bu Minarsih. Bu minarsih pasti sakit hati mendengar ucapan John.
Tamparan itu, salah satu bentuk pelampiasan sakit hati yang dialami seorang ibu yang anaknya meninggal karena patah hati. Meskipun beliau sering bilang pada Ainisha untuk tidak perlu membalaskan dendam Clara, tetapi nyatanya saat Bu Minarsih melihat John, rasa sakit itu tidak bisa dibendungnya.
"Bu Minarsih?" gumam John panik.
"Jauhi Clara! Mungkin dulu aku tidak bisa melindungi Clara darimu, tapi kali ini aku tidak akan kecolongan lagi," ucap Bu Minarsih penuh emosi.
"Ibu, aku minta maaf. Aku tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Aku hanya ingin tahu apakah bayi itu anakku?" tanya John penasaran.
"John, kamu tidak memiliki hak untuk mengetahui apakah bayi ini anakmu atau bukan. Tapi jika kamu terus memaksa, kami akan berteriak bahwa kamu adalah penculik," ancam Bu Minarsih kesal.
Mendengar ancaman Bu Minarsih, John akhirnya pamit meninggalkan Ainisha yang lega melihat John pergi. Ainisha menarik napas panjang lalu mendekati Bu Minarsih yang masih berdiri kesal menatap kepergian John.
"Ibu, terima kasih. Ibu datang tepat waktu. Aku tidak tahu harus bagaimana membuatnya pergi," ucap Ainisha kemudian.
"Clara, sejak kamu bersedia manggil aku ibu, ibu berkewajiban untuk melindungi kamu sebagai putri ibu. Selama kamu membutuhkan bantuan ibu, ibu akan selalu ada untuk kamu," ucap Bu Minarsih sambil mengelus bahu Ainisha.
Saat mereka hendak pulang, mereka berpapasan dengan Haikal yang kebetulan sedang datang ke rumah sakit untuk memeriksakan ibunya. Ainisha terlihat agak sedih mengingat kejadian dulu, saat diusir oleh Bu Kartika. Sekarang dia pasti senang karena Ainisha dianggap sudah meninggal.
"Clara, Bu Minarsih. Kalian ada di rumah sakit juga?" tanya Haikal berdiri tepat di depan mereka.
Ainisha hanya diam saja karena menahan rasa sedihnya. Ainisha takut jika dia menjawab, yang ada tangisnya akan pecah dan pasti akan membuat Haikal dan ibunya curiga.
"Ini, menemani Clara memeriksakan anaknya," jawab Bu Minarsih datar.
"Oh, Clara sudah memiliki anak? Kok saya baru tahu, kapan menikah?" tanya Haikal penasaran.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Haikal, Bu Minarsih dan Ainisha hanya terdiam. Mereka saling berpandangan dan bingung harus menjawab apa.
"Maaf, saya tidak bermaksud ingin terlalu banyak tahu urusan pribadi kalian. Saya tarik kembali pertanyaan saya. Apakah anakmu tidak apa-apa?" tanya Haikal kemudian.
"Untungnya tidak apa-apa. Hanya demam biasa saja. Pak Haikal sendiri?" jawab Ainisha.
"Habis mengantar ibu check up. Ibu, perkenalkan ini relasi kerja Haikal," ucap Haikal sambil memperkenalkan Ainisha dan Bu Minarsih pada ibunya.
Mereka akhirnya bersalaman dan saling menyebut nama masing-masing. Antara Bu Minarsih dan Bu Kartika terlihat cukup akrab. Mereka terlihat memiliki kecocokan dalam segi bahan pembicaraan. Mereka tampak saling tersenyum dan tertawa kecil.
Sementara Haikal mengajak Ainisha duduk di kursi depan rumah sakit. Tidak lama kemudian, Haidar terbangun dan menangis. Ainisha berusaha menenangkan Haidar tetapi Haidar masih saja menangis.
"Mungkin dia haus," ucap Haikal sambil menatap Ainisha.
"Iya, maaf pak Haikal. Bisakah bapak tidak melihat saya? Saya ingin memberi ASI untuk Haidar," ucap Ainisha agak malu.
"Oh, maaf. Silahkan," jawab Haikal sambil melihat ke arah lain.
"Anakmu namanya Haidar?" tanya Haikal kemudian.
"Benar."
"Kenapa aku merasa sangat familiar dengan nama itu. Mungkin saja karena kami memiliki nama yang mirip. Haikal, Haidar," ucap Haikal sambil tersenyum.
"Memang mirip, kayaknya," sahut Ainisha.
"Bisa-bisa orang mengira kalau Haidar adalah putraku," ucap Haikal bercanda yang disambut Ainisha dengan tatapan sedih.
Ainisha menunduk dan rambutnya yang terurai menghalangi dan membuat Ainisha tidak nyaman memberi ASI pada Haidar. Haikal yang tidak sengaja melihat, spontan mengangkat kedua tangannya dan berusaha mengikat rambut Ainisha.
__ADS_1
Sungguh diluar dugaannya, Pemandangan yang membuat hati Haikal bergetar. Tanda lahir istrinya berada sama persis dengan tanda lahir wanita yang saat ini ada dihadapannya. Sayangnya, istrinya sudah meninggal. Jika tidak, dia pasti akan mengira bahwa wanita ini adalah istrinya.
Ainisha yang merasa malu, segera menolak tangan Haikal yang bersiap mengikat rambutnya. Haikal jadi gugup karena sikapnya yang spontan itu.
"Maaf, aku ... terlalu lancang," ucap Haikal gugup.
"Lain kali, saya harap Pak Haikal akan lebih bersikap sopan pada saya," ucap Ainisha merasa tidak diremehkan karena tidak memiliki anak tanpa suami.
"Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya ingin menunjukkan perhatian saya saja sebagai teman," ucap Haikal merasa bersalah.
Sejak peristiwa itu, Haikal mencoba bersikap sopan terhadap Ainisha. Terlepas dari rasa penasaran siapa sebenarnya Clara. Ainisha memang sengaja memberikan batasan pada Haikal agar jati dirinya tidak terbongkar. Dia ingin tahu, apakah Haikal mencintai Ainisha atau dengan mudahnya berpaling pada wanita lain.
Ainisha ingin melihat janji Haikal saat Ainisha Haikal memilih ibunya dan meminta Ainisha untuk menunggunya. Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk membuktikan cinta Haikal suci ataukah seperti yang orang katakan tentang Haikal. Casanova sejati.
Walaupun saat itu, Ainisha sudah membuktikan bahwa Haikal setia padanya. Tetapi, kali ini Ainisha ingin mendekati Haikal sebagai Clara.
Hari itu, Bu Minarsih mengadakan acara ulang tahunnya dengan acara makan-makan di rumahnya sendiri. Kali ini, Bu Minarsih mengundang Haikal sebagai tamu satu-satunya. Awalnya, tidak ada niat untuk mengundang Haikal. Akan tetapi secara kebetulan Bu Minarsih bertemu Haikal dan Haikal secara bercanda minta di undang.
Ainisha berdandan sangat cantik meskipun sambil menggendong Haidar. Tetapi dia tidak menyangka jika akan ada Haikal hadir di pesta malam ini.
Haikal datang dengan pakaian rapi dan dia terlihat masih sama seperti pertama kali Ainisha bertemu Haikal. Cinta pada pandangan pertama, kini terulang lagi saat dirinya menjadi Clara. Jantungnya berdegup kencang dan hatinya berdebar-debar.
"Clara, kamu temani Haikal sebentar. Ibu mau menyiapkan makan sebentar," ucap Bu Minarsih sambil tersenyum pada Haikal.
"Baik, Bu. Silahkan Pak Haikal, tapi saya sambil bawa Haidar," jawab Ainisha sambil menunjukan Haidar pada Haikal.
"Nggak apa-apa. Kalau boleh, aku malah ingin mencoba belajar menggendong Haidar. Bolehkah?" tanya Haikal sambil tersenyum.
Ainisha tersenyum sambil mengangguk pelan. Senang rasanya, Haidar akan digendong ayahnya. Ainisha menyodorkan Haidar pada Haikal. Haikal mencoba menggendong Haidar meskipun dengan sikap grogi karena dia belum terbiasa.
__ADS_1
Ada rasa bahagia di hati Ainisha, saat melihat Haidar tampak tenang dalam pangkuan Haikal. Tidak terasa, mata Ainisha berkaca-kaca sampai hampir menangis.
Bersambung