Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 42. John dan rencana tersembunyi


__ADS_3

John pulang dengan perasaan kesal. Usahanya untuk mendapatkan anaknya, hancur berantakan karena kehadiran Haikal. Padahal John sudah sangat yakin, usahanya akan sukses.


John duduk dengan kasar diatas sofa sambil terus menyesali apa yang terjadi. Dia berusaha memutar otak agar bisa mencari cara mendapatkan Haidar. Bagaimanapun juga, Haidar adalah harapan satu-satunya jika dia masih ingin hidup bersama Resia.


Bagi John, selama ini, Resia adalah pohon uangnya. Uang dan usaha menjadi rentenir peninggalan ayahnya, cukup untuk hidup hingga tujuh turunan. Usaha sebagai rentenir yang saat ini dia kelola, mampu memberikan kehidupan yang mewah baginya.


Tiba-tiba, John teringat Resia. Tidak biasanya rumah ini begitu tenang. Biasanya, setiap dia pulang, Resia sudah menunggu dengan segala ocehannya. Terlebih, saat dia tahu, John memiliki anak dengan Clara. Dia sangat takut, jika John ingin menikahi Clara. Resia jadi sering cepat emosi. Dia akan mengamuk dan memukulinya walaupun dengan tenaganya yang lemah.


Dengan perasaan khawatir dan cemas, John mencari Resia ke kamarnya. Perasaannya mulai tidak enak, saat dia tidak menemukan Resia di dalam kamarnya.


John segera turun dan bertanya pada Bibik. Bibik awalnya tidak berani menjawab, tetapi saat John mengancamnya, barulah bibik mau mengatakan dimana Resia berada.


Menurut bibik, Resia mengatakan kepada bibik kalau dia mau pergi membunuh Clara. Menurut bibik, Resia hanya bercanda karena emosinya sedang labil saat mengetahui kebenaran bahwa John memiliki anak di luar nikah.


Akan tetapi bagi John, apa yang diucapkan Resia adalah kebenaran. John tahu siapa Resia. Dia bisa melakukan apa saja, untuk mencapai tujuannya. Apalagi, dia memiliki segalanya. Uang dan orang-orang bayarannya atau yang biasa disebut pengawal, yang akan melakukan apa saja perintah Resia.


John bergegas pergi menuju rumah Bu Minarsih. John takut, jika Resia benar-benar nekad mau membunuh Clara. Meskipun, John baru saja dibuat kecewa oleh Clara, akan tetapi, dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Clara.


Sebelum sampai di rumah Clara, sebuah telepon dari salah satu pengawal Resia mengatakan bahwa Resia masuk rumah sakit. John panik, lalu memutar mobilnya menuju rumah sakit. John bingung, dengan apa yang terjadi pada Resia. Bukankah dia mau membunuh Clara, kenapa sekarang dia yang masuk rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, John memarahi dua orang pengawal yang selalu bersama Resia.


"Kalian ini kerjanya apa? Menjaga Ibu saja kalian tidak bisa!" bentak John.


"Maafkan kami, Bos John. Ibu Resia tadi yang minta menyetir sendiri," jawab salah satu pengawal merasa bersalah.

__ADS_1


"Seharusnya kalian tidak boleh membiarkan Ibu menyetir jika di dalam kondisi marah. aku sudah bilang pada kalian untuk menjaga dan mengawasi Ibu agar tidak melakukan hal-hal yang membahayakan. Atau kalian mau saya pecat?" ucap John dengan nada emosi.


"Jangan, Bos. Kami masih mau bekerja dengan Bos John," jawab satunya.


"Kalau begitu, kalian harus dengarkan semua kata-kataku. Tugas kalian tidak boleh gagal lagi. Kalian harus menjaganya sampai aku mendapatkan apa yang aku inginkan," ucap John pelan.


"Siap, Bos," jawab keduanya.


"Kalian boleh istirahat sebentar. Aku akan menghubungi kalian jika aku membutuhkan kalian. Ingat, jangan terlalu jauh, agar kalian bisa cepat datang jika aku butuhkan," ucap John seperti orang yang berkuasa.


"Siap."


John masuk kedalam ruang perawatan Resia. Dia bersikap menjadi suami yang perhatian dan penuh kasih sayang. John memegang tangan istrinya yang terbaring lemah dengan selang infus. Matanya berkaca-kaca mengiringi sandiwara yang dia mainkan saat ini.


Resia membuka matanya, ketika merasakan sentuhan hangat suaminya. John begitu baik dan sangat mencintainya. Resia merasa, John pria yang sangat sempurna. Menerima dia apa adanya, meskipun John tahu bahwa dia tidak akan bisa memilki anak.


"Sayang, bagaimana keadaan kamu saat ini? Apa yang kamu rasakan, apakah ada yang sakit?" tanya John lembut.


"Semua badanku rasanya sakit semua. John, aku rasa, aku sudah tidak bisa lagi ikut mengelola usaha kita. Mulai sekarang, aku akan menyerahkan padamu," ucap Resia sambil membalas pegangan John.


"Sayang, apa kamu percaya padaku?" tanya John pura-pura, padahal itu yang dia inginkan.


"Aku percaya sepenuhnya padamu. Semua uang peninggalan Ayah, yang dipinjam orang-orang semuanya tersimpan di buku besar didalam laci kamar kita," jawab Resia sambil menatap suaminya yang terlihat sedih.


"Baiklah, mulai sekarang kamu bisa santai dan duduk tenang dirumah. Kemana kamu ingin pergi, kamu akan ada banyak waktu," ucap John tertawa dalam hati.

__ADS_1


Yes, semua sesuai rencana, batin John.


John mulai mempersiapkan semuanya. Mulai dari hal pemindahan harta kekayaan dan yang lainnya. Rencana ini, rupanya sudah sejak lama, John harapkan. Dia bersedia menjadi orang yang penurut dan terlihat tidak berpendidikan. Dia bersedia menjadi suami yang selalu bilang 'iya' selama hampir 2 tahun lamanya hanya demi kesempatan ini.


Lalu bagaimana dengan Ainisha, setelah hari dimana John tidak akan bisa mengambil Haidar dari tangannya lagi secara hukum?


Ainisha bersyukur sekali atas hal itu, dan dia mencoba bersikap biasa meskipun di dalam hatinya, masih ada yang mengganjal.


Satu Maslah itu selesai, tetapi Maslah lain akan muncul di belakangnya. Apalagi kalau bukan, masalah Haikal.


Sore yang indah dan tampak cerah. Tetapi hati Ainisha masih diliputi seribu pertanyaan atas sikap Haikal. Pengakuannya didepan John, membuat Ainisha tidak bisa fokus bekerja. Ainisha tidak ingin jika Haikal jatuh cinta pada wajahnya, yang berarti Haikal jatuh cinta pada Clara.


Ainisha sangat egois jika menyangkut cintanya pada Haikal. Ainisha ingin, Haikal terus mencintainya dan tidak mencari wanita lain untuk menggantikannya di hati Haikal. Ainisha juga pernah mendengar jika saat ini, Haikal menolak wanita yang dipilihkan orangtuanya. Hal itu cukup membuat Ainisha bahagia.


Ainisha menatap Haidar yang sudah mulai berlatih merangkak. Haidar, buah cintanya yang bisa memberinya semangat untuk terus bertahan hidup. Haikal kecil itu, tampak bahagia bermain dengan babi sitter-nya.


Tiba-tiba, sebuah kesan singkat masuk ke ponselnya. Haikal memintanya datang sore ini ke cafe. Ainisha terkejut, saat Haikal mengirimkan nama dan alamat Cafe yang harus Ainisha datangi.


Cafe tempat dimana Ainisha dan Haikal bertemu dan Haikal jatuh cinta pada Alisha. Beribu pertanyaan muncul dibenaknya. Ada apa, kenapa harus bertemu disana?


Hanya bicara tentang pernikahan yang tidak belum tentu terjadi, kenapa harus ke tempat yang akan membuatnya mengingat masa lalu?


Bersambung


Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku, Judulnya Mu love From Blue Sea karya Kiss.

__ADS_1


Jangan lupa mampir ya ...



__ADS_2