Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 54. Di rumah Mertua


__ADS_3

Ainisha mengikuti langkah suaminya sampai di depan pintu. Haikal memencet bel sambil tersenyum pada Ainisha. Tidak lama kemudian, bik Marni membukakan pintu dan terkejut melihat anak majikannya datang bersama istrinya.


"Selamat datang, Pak Haikal dan Bu Ainisha. Silahkan masuk. Bibik akan segera memanggil ibu dan bapak," ucap bik Marni sambil membungkuk pelan.


"Terima kasih, Bik. Apakah ayah sudah pulang?" tanya Haikal.


"Kebetulan sekali, Bapak pulang lebih awal hari ini. Silahkan, Bu Ainisha," jawab bik Marni.


"Terima kasih, Bik," jawab Ainisha agak gugup berada di rumah mertuanya.


Padahal seharusnya dia sudah harus siap, karena dia akan tinggal cukup lama di rumah mertuanya ini. Haikal mulai menyadari, jika sang istri merasa tidak nyaman berada di rumah orangtuanya.


"Ainisha, sabar ya? Kelak, kita akan memiliki rumah sendiri seperti dulu. Meskipun aku tidak bisa berjanji, kalau kita akan memiliki rumah yang mewah lagi," ucap Haikal sambil memegang tangan Ainisha.


Ainisha hanya mengangguk pelan dan berusaha tersenyum agar suaminya tidak merasa cemas. Tidak lama kemudian, Bu Kartika dan pak Hartawan datang menemui mereka. Mereka terlihat sangat bahagia melihat kedatangan anak, menantu dan cucu kesayangan mereka.


Bu Kartika langsung menggendong Haidar dan mengajaknya bermain. Sementara, pak Hartawan, Haikal dan Ainisha duduk santai di ruang tengah sambil berbicara santai. Saat pak Hartawan dan Haikal mulai masuk dalam ranah bisnis dan perusahaan, Ainisha langsung pamit undur diri dengan alasan ingin bermain dengan Bu Kartika dan Haidar. Ainisha tidak begitu ingin tahu urusan perusahan mertuanya.


Sejak hari itu, Haikal mulai bekerja di perusahaan ayahnya dan mulai diperkenalkan kepada klien dan relasi bisnis lainnya sebagai calon pengganti pak Hartawan. Haikal mulai sibuk dan sudah jarang berkumpul dengan Ainisha dan Haidar. Dia sering pulang malam langsung tidur karena kelelahan.


Ainisha sadar jika suaminya pasti butuh istirahat karena sering lembur, untuk menindak lanjuti proposal barunya yang telah disetujui. Ainisha mulai kehilangan sosok Haikal yang dulu sangat memperhatikannya. Apalagi saat ini dia tinggal di rumah mertua yang tidak sebebas di ruang sendiri.


Mau mengeluh pada siapa? Jika suaminya saja lebih mementingkan pekerjaannya dari pada dirinya. Bu Kartika sebenarnya sangat baik padanya dan Haidar. Tetapi, setelah kedatangan Tere, sepupu Haikal yang datang dari luar negeri, hidup Ainisha menjadi sulit.

__ADS_1


Suatu hari, Ainisha mendengar pembicaraan antara Tere dengan Bu Kartika. Tere mengatakan kepada Bu Kartika bahwa apa yang terjadi pada Haikal adalah karena Ainisha. Tere juga mengatakan bahwa semenjak Haikal menikah dengan Haikal, perusahaan Haikal menjadi bangkrut. Yang lebih menyakitkan, Tere menyebut Ainisha sebagai wanita pembawa sial dan harus di jauhkan dari hidup Haikal.


Ainisha berharap, ibu mertuanya tidak akan terpengaruh oleh ucapan Tere, tetapi pada kenyataannya beliau menjadi agak bersikap dingin padanya. Ainisha sedih, tetapi dia hanya bisa diam saja. Dia takut jika semua ini hanya akan menimbulkan pertengkaran.


Hari itu, Bu Kartika menui Ainisha di kamarnya saat menidurkan Haidar.


"Ainisha, ibu ingin bicara," ajak Bu Kartika sambil duduk di tepi ranjang.


Ainisha lalu duduk disamping ibu mertuanya. Pikiran Ainisha mulai kalut karena dia yakin jika sang ibu mertua sudah termakan oleh ucapan Tere. Tetapi, tentu saja Ainisha berharap bahwa apa yang ditakutkannya tidak akan pernah terjadi.


"Ainisha, ibu tahu kamu sangat mencintai Haikal dan Haikal juga sangat mencintai kamu. Saat Haikal jatuh bangkrut, kamu pasti sangat sedih bukan? Seperti halnya ibu yang juga sedih melihat putraku satu-satunya harus bernasib buruk. Apa kamu tidak menyadari, bahwa semua ini terjadi setelah dia menikah dengan kamu, Ainisha?" ucap Bu Kartika sambil menatap tajam Ainisha.


"Maksud ibu, apa? Ainisha sama sekali tidak mengerti apa yang ibu katakan," tanya Ainisha berusaha seolah dia tidak mengerti.


"Ibu, Ainisha sangat mencintai mas Haikal, Ainisha tidak mungkin meninggalkan dia. Lagi pula mas Baiklah juga tidak akan mau berpisah dengan aku dan Haidar," jawab Ainisha sambil meneteskan airmata.


"Ainisha, kamu wanita yang pengertian. Apakah kamu tega, jika perusahaan milik suamiku bangkrut gara-gara kamu masih menjadi istri Haikal. Ibu tidak rela. Ainisha ceraikan Haikal!" titah Bu Kartika kesal.


"Tidak, ibu. Ainisha tidak mau," jawab Ainisha memohon.


Tiba-tiba, Bu Kartika berdiri dan mendekati Haidar yang sedang tertidur. Ainisha sempat panik. Ainisha takut, jika Bu. Kartika berbuat sesuatu pada Haidar. Tetapi, Ainisha bisa bernapas lega, ketika memet Bu Kartika hanya mengelus-elus kepala Haidar.


Setelah mengelus-elus kepala Haidar, Bu Kartika tiba-tiba bersimpuh di depan Ainisha. Hal ini membuat Ainisha bingung dan canggung.

__ADS_1


Ainisha mundur selangkah, lalu dia ikut duduk bersimpuh di lantai. Airmatanya tidak terbendung lagi melihat Bu Kartika.


"Ibu, jangan lakukan ini. Bangkitlah, Bu," ucap Ainisha sambil memegang bahu mertuanya.


"Ainisha, ibu mohon, kasihanilah ibu. Berjanjilah untuk meninggalkan Haikal. Kamu tahu bagaimana seorang ibu, pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Kamu pasti juga khawatir terhadap Haidar. Demikian juga aku. Aku tidak akan berdiri sampai kamu berjanji mau meninggalkan Haikal," ucap Bu Kartika sambil menangis.


Hati Ainisha bagai dicabik-cabik dan diberi garam. Sangat pedih dan teramat sakit.


"Ibu, Ainisha tetap tidak akan pergi, kecuali mas Haikal yang mengusirku dari sisinya," ucap Ainisha yang membuat bu Kartika bertambah kesal.


Bu Kartika kemudian berdiri dan menatap tajam Ainisha yang menunduk lesu.


"Baik, jika itu keputusanmu. Aku akan membuat Haikal mengusir kamu dari hidupnya. Ingat itu, Ainisha," ucap bu Kartika mengancam Ainisha.


Genderang pernah antara menantu dan mertua mulai ditabuh. Ainisha merasa sangat tertekan. Dia tidak tahu kepada siapa dia akan mengadu. Ainisha berniat membicarakan apa yang terjadi dengan Haikal.


Seperti biasanya, Haikal pulang larut malam. Ainisha pun memberanikan diri untuk bicara pada Haikal tentang keinginan ibunya yang ingin memisahkan mereka.


Haikal tersenyum mendengar aduan Ainisha dan bahkan menganggap Ainisha mengada-ngada. Haikal tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ainisha tentang ibunya. Dulu mungkin ibunya tidak menyukai Ainisha, tetapi sekarang, ibunya sangat menyangka Ainisha dan anaknya.


Melihat reaksi Haikal, Ainisha merasa sangat kecewa. Jika suaminya sudah tidak percaya lagi padanya, lalu kepada siapa dia harus berbicara. Tetapi Ainisha, tidak ingin menyerah begitu saja. Dia ingin tetap bertahan di rumah ini, sampai mereka bisa membeli rumah baru untuk mereka.


Ainisha tidak tahu, apa yang akan terjadi padanya, di kemudian hari.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2