Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 56. Memaafkan


__ADS_3

Ainisha sangat sedih dan kecewa dengan sikap Haikal yang tidak percaya padanya. Meskipun dia tahu, Haikal sengaja melakukan visum agar dia lebih yakin bahwa Ainisha tidak berselingkuh dan melakukan hal yang tidak senonoh dengan pria lain di rumahnya.


Ainisha masih menunggu jawaban dari Haikal, atas keinginannya meminta pisah dari Haikal. Jika memang sudah tidak ada lagi kepercayaan, untuk apa dipertahankan.


"Ainisha, aku tidak akan pernah melepaskan kamu dan Haidar sampai kapanpun. Bukankah aku sudah meminta maaf, dan seharusnya kamu mengerti posisi aku saat itu. Suami mana yang tidak akan marah, saat melihat istrinya bersama pria lain di dalam kamar. Bahkan dengan posisi foto seperti itu. Ainisha, bayangkan jika kamu dalam posisi seperti aku. Jika kamu melihatku dalam kamar dan dalam posisi seperti itu, apakah kamu tidak akan marah dan cemburu?" ucap Haikal berusaha menjelaskan isi hatinya.


Ainisha menangis dan membayangkan dia dalam posisi Haikal. Ainisha juga teringat, bagaimana dulu dia juga melakukan kebohongan dan berpura-pura tidur dengan Haikal. Apakah ini juga balasan?


Ainisha mulai menyadari, dia memang tidak boleh egois dalam memutuskan sesuatu. Termasuk meminta pisah dari Haikal. Ditatapnya wajah kecil Haidar. Bagaimana nasib dia, jika orangtuanya berpisah?


Mungkin memang akan terasa konyol, anak menjadi alasan agar orangtuanya tidak berpisah. Berpisah memang seharusnya bukan jalan pertama yang harus Ainisha tempuh. Tetapi, berpisah merupakan jalan terakhir jika sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan.


"Ainisha, aku berjanji, akan selalu percaya padamu. Hanya ucapan kamu yang akan aku dengarkan, bukan orang lain lagi," ucap Haikal dengan segala cara, supaya Ainisha tidak lagi meminta pisah darinya.


Ainisha lalu duduk di atas ranjang dihadapan suaminya yang terlihat penuh penyesalan. Ainisha menjatuhkan diri ke dada suaminya yang dengan lembut memeluk Ainisha.


"Jangan biarkan fitnah membuat keluarga kita hancur," bisik Haikal.


Ainisha mengangguk pelan. Dia ingin berpikir bahwa semua yang dilakukan Haikal hanyalah untuk menyelamatkan keluarga kecilnya dari kesalahpahaman. Agar terbuka jelas dan tidak ada lagi keraguan dalam rumah tangga mereka.


Moment ini, akhirnya membuka kesempatan bagi Ainisha untuk protes. Protes karena Haikal terlalu sibuk bekerja dan hampir tidak ada waktu untuk Ainisha dan Haidar. Ainisha menunggu jawaban dari suaminya dengan hati berdebar-debar.


Sayangnya, jawaban Haikal hanya sebuah senyuman yang tidak bisa di tebak oleh Ainisha.


"Haikal ...," ucap Ainisha seolah ingin Haikal serius menjawab pertanyaannya.


"Sayang, aku pikir kamu tidak akan protes lagi masalah itu. Aku jelaskan lagi. Aku ingin membuat perusahaan ayah semakin maju dan berkembang sehingga bisa bersaing dengan perusahaan lain. Tapi, baiklah. Mulai sekarang, aku akan menyempatkan diri setiap akhir pekan adalah waktu untuk kalian," ucap Haikal semakin erat memeluk Ainisha.

__ADS_1


Mereka berbaikan demi kelangsungan pernikahan mereka. Merekapun bergantian menjaga Haidar karena mereka harus mandi untuk menyegarkan diri. Menyegarkan hati dan pikiran agar tidak kusut lagi. Melupakan pertengkaran dan kesalahpahaman yang nyaris membuat mereka berpisah.


Sejak peristiwa itu, Haikal kembali memprioritaskan anak dan istrinya dari pada pekerjaannya. Haikal semakin menunjukkan rasa cinta dan kasih sayangnya pada mereka. Mereka semakin memperlihat jalinan cinta agar tidak mudah tergoyah oleh hasutan orang lain yang belum tentu benar.


Kebahagiaan Haikal dan Ainisha, seharusnya membuat Bu Kartika bahagia. Tetapi, Tere terus saja menaburkan benih-benih kebencian yang dalam, di hati Bu Kartika untuk Ainisha. Ternyata, Tere mencintai Haikal yang merupakan kakak sepupunya sendiri. Kalau Haikal dan Ainisha berpisah, dia akan memiliki kesempatan untuk mendekati Haikal.


Suatu hari, Ainisha pergi ke Mall untuk membeli keperluan Haidar. Tidak berapa lama, taksi yang di pesannya datang. Ainisha segera naik taksi online yang baru saja dipesannya.


"Pak, tumben cepet. Biasanya nunggu sampai 10 menitan baru nyampe sini?" tanya Ainisha setelah di masuk ke dalam taksi tersebut bersama Haidar.


"Iya, kebetulan ada di sekitar daerah sini," jawab pak sopir.


Perjalanan yang tidak cukup jauh. Tetapi, Ainisha yang sedari tadi tidak memperhatikan jalan sekitar, menjadi sangat terkejut saat mereka belum juga sampai ke tempat tujuan. Bahkan, saat Ainisha melihat ke luar jendela melalui kaca, Ainisha sangat kaget karena jalan yang dilalui, bukanlah jalan menuju ke Mall. Ainisha mulai panik.


"Pak, berhenti! Sepertinya kita salah jalan," teriak Ainisha pada sang sopir.


"Tapi ... ini bukan jalan menuju ke Mall," ucap Ainisha panik. Hatinya mulai khawatir.


"Ini memang bukan jalan menuju ke Mall, tapi ini jalan menuju ke tempat saya," jawab sopir itu lagi.


"Apa, bukan ke Mall? Pak, tolong hentikan! Biarkan kami turun di sini," teriak Ainisha panik.


"Tenang, Nyonya, kita sudah sampai," jawab pak sopir sambil tersenyum menyeringai.


Ainisha mulia ketakutan. Dipeluknya Haidar erat-erat. Tidak lama kemudian, mobil berhenti dan Ainisha dengan cepat membuka pintu mobil setelah pria itu keluar. Ainisha keluar dari mobil dan berlari sekencang mungkin. Tetapi, langkahnya terhenti saat di depannya, seorang pria menghalangi larinya.


Mereka kemudian menangkap Ainisha dan Haidar.

__ADS_1


Mereka memisahkan Ainisha dari Haidar. Ainisha dibawa ke sebuah ruangan yang tidak terurus dan diikat di atas kursi dengan mulut disumpal. Sementara itu tangis Haidar terus menggema dan membuat Ainisha terus berontak ingin lepas walaupun usahanya tidak membuahkan hasil.


Salah seorang dari mereka membawa Haidar yang sedang menangis dan yang seorang lagi membawa senjata tajam.


Ainisha ingin sekali berteriak, tetapi dia tidak bisa. Apalagi saat mereka mengancam akan menyakiti Haidar, Ainisha berasa ingin membunuh mereka berdua.


"Nyonya, anda lihat betapa mungilnya anak ini. Bagaimana jika kulitnya tergores pisau ini," ucap salah satu sambil memegang pisau.


Ainisha hanya bisa menahan amarah dan rasa takutnya jika mereka benar-benar melakukan ancaman mereka. Apa yang sebenarnya mereka inginkan?


Salah satu dari mereka membuka kain yang menyumpal mulut Ainisha.


"Tolong jangan sakiti anakku. Jika kalian membutuhkan uang, aku bisa memberikannya untuk kalian," ucap Ainisha dengan suara gemetar.


"Kami tidak butuh uang," jawab pria yang membawa pisau.


"Siapa yang menyuruh kalian untuk menculik ku? Berapa banyak yang dia berikan, aku bisa memberi yang lebih besar dari itu," ucap Ainisha berusaha membuat mereka tergoda dengan uang.


Ainisha curiga jika orang-orang itu ada yang menyuruh. Ainisha merasa tidak memiliki musuh di kota ini. Apakah mereka suruhan dari saingan perusahaan Haikal?


Kedua orang tersebut tertawa mendengar tawaran Ainisha. Mereka sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Ainisha.


"Aku tahu kalian sebenarnya adalah orang yang baik. Kalian pasti juga memiliki keluarga dan anak. Lihatlah, kami hanya orang lemah apalagi anakku, dia baru berusia 2 tahun. Dan tidak tahu apa-apa. Jika kalian ingin membunuh kami, bunuh aku saja. Tolong biarkan anakku hidup," ucap Ainisha putus asa.


Ainisha sudah pasrah dengan takdir hidupnya. Jodoh, mati dan rezeki adalah rahasia Allah.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2