
Suara lantang Haikal terdengar bergema di dalam pesawat. Setelah itu hilang berganti suara orang lain. Ainisha menganggap semua itu hanyalah ilusi semata. Halusinasinya yang terlalu berharap akan ada keajaiban datang padanya. Ainisha sadar, Haikal tidak ada di kota ini, apalagi di bandara ini.
"Ainisha." Terdengar suara Haikal memanggilnya.
Senang dan bahagia terlihat dari pancaran wajah Ainisha saat melihat Haikal ada dihadapannya. Ainisha berusaha berdiri dan hendak berlari memeluk suaminya. Tetapi, John dengan cepat menarik tubuh Ainisha dan menyanderanya. Ainisha berteriak kesakitan karena khawatir dengan bayi dalam perutnya. Para penumpang sangat kaget dan ketakutan, bahkan ada yang berteriak histeris.
"Jangan mendekat, atau aku bunuh dia!" teriak John panik. Tentunya dia tidak akan mengira, pelariannya ini akan gagal karena Haikal.
"John, tenang. Jangan sakiti istriku, kita bisa bicarakan baik-baik," ucap Haikal panik.
Ainisha hanya bisa menahan tangan John yang terus memeganginya. Ainisha sedih melihat Haikal begitu panik dan khawatir saat melihat dirinya dalam bahaya. Apalagi jika dia tahu bahwa dirinya sedang hamil. Dia pasti akan jadi gila jika terjadi sesuatu pada dirinya dan sang bayi.
Ainisha hanya bisa pasrah dan menunggu keajaiban Allah datang padanya. Dalam hati dia mengucapkan dzikir untuk menenangkan hatinya agar tidak putus asa dan panik. Tidak ada yang lebih berkuasa dari kekuasaan Allah jika sudah berkehendak.
Tubuh Ainisha tiba-tiba terkulai saat John di gerebek dari belakang oleh beberapa petugas kepolisian yang dibawa Haikal. Haikal secepat kilat menangkap tubuh Ainisha agar tidak terjatuh ke lantai. Ainisha tidak sadarkan diri.
Mata Ainisha terbuka perlahan dan mencoba menerka-nerka keberadaannya. Pandangan matanya yang masih kabur perlahan-lahan mulai jelas. Pandangan matanya mulai terhenti pada seseorang yang sangat dia rindukan.
"Ibu ...," suara Haidar memecah kesunyian.
"Haidar, ibu kangen," suara Ainisha agak parau.
Ainisha bermaksud duduk untuk meraih tangan Haidar, tetapi dia kaget karena Bu Minarsih menghalanginya dan menunjukan kalau saat ini Ainisha sedang dirawat.
__ADS_1
"Bu, bagaimana aku bisa sampai ke sini?" tanya Ainisha penasaran.
"Suamimu yang membawamu ke sini. Ibu senang kamu bisa ditemukan dalam keadaan sehat dan baik-baik saja," jawab Bu Minarsih lega.
"Di mana mas Haikal sekarang? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Ainisha cemas.
"Kamu tenanglah. Haikal baik-baik saja. Dia sedang di kantor polisi untuk mengurus laporan penculikan kamu. John memang sudah keterlaluan. Menculik istri orang," jawab Bu Minarsih kesal.
"Bu, Ainisha tidak ingin mendengar lagi nama John disebut. Ainisha tidak ingin mengingat hal buruk yang sudah terjadi padaku. Cukup, Bu," ucap Ainisha sambil meneteskan airmata.
"Maafkan ibu, Ainisha. Ibu janji, ibu tidak akan mengingatkanmu dengan semua itu lagi. Ibu janji," ucap bu Minarsih menyesal dan sedih.
Ainisha memang merasa trauma terhadap apa yang dilakukan John padanya. Entah kapan dia akan bisa melupakan apa yang terjadi. Ainisha berharap, dia tidak akan bertemu John untuk selamanya.
"Ibu, Haidal ingin tidul bersama ibu," ucap Haidar dengan logat manisnya.
Haidar tampak senang bisa bersama ibunya kembali. Peristiwa yang mereka alami, menjadi trauma tersendiri untuk Haidar dan Ainisha.
Beberapa jam kemudian, Haikal datang dengan membawa kabar baik. John kini telah resmi ditahan dan akan segera menjalani sidang pertama setelah selesai berkas-berkasnya. Haikal berniat memberikan kabar baik itu pada Ainisha. Sayangnya Ainisha saat itu sedang tertidur bersama Haidar.
"Bagaimana kondisi Ainisha Bu Minarsih?" tanya Haikal sedih.
"Dia mengalami trauma setelah penculikan itu. Kasian sekali mereka. Ibu dan anak, sama-sama mengalami trauma," jawab Bu Minarsih sedih.
__ADS_1
"Tapi, sebenarnya aku ingin memberikan kabar baik untuk Ainisha, tentang John," ucap Haikal sambil menghela napas berat.
"Ibu minta, kamu tidak perlu memberitahu Ainisha tentang John. Biarkan dia sembuh dulu dari rasa traumanya. Ibu tidak tega melihat dia tertekan dan cemas saat mendengar nama John disebut. Saat ini yang dia butuhkan adalah rasa aman dan kita harus bisa memberikan itu padanya," ucap Bu Minarsih bijak.
"Haikal mengerti. Haikal tidak akan membicarakan masalah John lagi di depan Ainisha. Mulai saat ini, aku akan menjaganya sepenuh hati," ucap Haikal penuh keyakinan.
"Haikal, jujur pada ibu. Apakah selama Ainisha tinggal di rumah orangtuamu, dia mengalami tekanan?" tanya Bu Minarsih menyelidik.
"Maksud ibu, apakah Ainisha pernah menceritakan sesuatu pada ibu?" tanya Haikal kaget dengan pertanyaan Bu Minarsih.
"Tidak. Hanya saja, saat aku menghubungi dia, nada suaranya sangat berbeda dengan Ainisha yang ibu kenal. Ainisha itu cukup tangguh, tetapi saat ibu bertanya tentang kehidupan di rumah mertuanya, dia bilang bahagia dan baik-baik saja. Tapi, ibu tahu dia menangis dari nafasnya. Kalau hanya tekanan dari ibumu, dia akan bisa menahan diri. Apakah kamu melakukan hal yang membuat dia sedih?" tanya Bu Minarsih seperti seorang jaksa.
Haikal terdiam sesaat mengingat peristiwa hari itu. Haikal meneteskan airmata, menyesali apa yang pernah dia lakukan pada Ainisha. Perlakuan kasar dan rasa tidak percaya membuatnya gelap mata.
"Haikal, dulu ibu yang selalu menasehati Ainisha untuk mengikuti kemanapun suami pergi. Tetapi jika ibu tahu, akan membuat Ainisha menderita, ibu tidak akan pernah membiarkan dia ikut denganmu. Ainisha berhak bahagia dan kamu tidak berhak untuk merenggut kebahagian anak dan cucuku," ucap bu Minarsih menahan airmata.
"Maafkan aku, aku memang telah menyakiti hati Ainisha. Tapi, Ainisha sudah memaafkan aku. Ainisha baik-baik saja saat itu," jawab Haikal mencoba memberi pengertian pada Bu Minarsih.
"Ainisha memang wanita yang sangat baik dan pemaaf. Tetapi apakah kamu tahu, luka yang pernah kamu torehkan dihatinya, tidak semudah itu sembuh, Haikal. Apalagi sekarang dia harus mengalami hal yang sangat menakutkan. Jika kamu tidak yakin bisa menyembuhkan trauma Ainisha, biarkan dia dan Haidar tinggal bersama orangtuanya," ucap bu Minarsih tegas.
"Jangan, mereka adalah anak dan istriku. Mereka harus hidup bersamaku. Aku yakin aku akan bisa membuat Ainisha dan Haidar bahagia," ucap Haikal panik. Bagaimana dia akan bisa hidup tanpa mereka?
"Haikal, Ainisha tidak butuh harta berlimpah, tidak butuh rumah mewah apalagi mobil sport. Dia hanya ingin menjalani kehidupan pernikahan biasa, seperti orangtuanya. Sederhana, saling mengasihi dan terutama selalu ada disisinya. Apalagi saat dibutuhkan," ucap Bu Minarsih lagi.
__ADS_1
"Haikal mengerti, Bu. Kali ini Haikal berjanji akan mengikuti semua keinginan Ainisha. Mungkin kemarin aku salah mengira bahwa mereka akan bahagia jika bisa hidup mewah dan berkecukupan seperti dulu," ucap Haikal berusaha menerima semua yang dikatakan Bu Minarsih.
"Tapi, kami tidak bisa membiarkan Ainisha dan Haidar ikut bersamamu."