Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 16. Masih virgin


__ADS_3

Ainisha ingin sekali menangis keras jika saja dia tidak malu pada orangtua Haikal. Apa yang akan di pikirkan mereka, jika tahu menantunya menangis di malam pertama. Setahu mereka, Ainisha saat ini sedang hamil. Jadi hal itu akan membuat mereka curiga.


Ainisha sendiri juga bingung, dengan dirinya. Jika Haikal sudah mengambil kesuciannya kemarin malam, tidak mungkin malam ini, saat mereka berhubungan, Ainisha merasakan sakit.


Jangan-jangan, Haikal belum pernah menyentuhku?" batin Ainisha.


Demikian juga Haikal. Dia panik melihat Alisha meneteskan airmata meskipun dia tidak mendengar isak tangis Alisha. Awalnya dia sudah sangat bergairah karena yakin hanya dengan sekali gerak, semua akan baik-baik saja.


Pada saat dia mabuk beberapa waktu lalu, seharusnya sudah menjadi jalan mulus baginya untuk lebih mudah melakukan ritual malam ini. Meskipun malam itu dia dalam keadaan mabuk, seharusnya jika dia melakukannya pastilah usahanya sangat keras.


Tetapi, aku memang tidak ingat peristiwa malam itu. Apakah aku memang benar-benar melakukan hubungan dengan Alisha atau sebenarnya aku hanya menciumnya saja. Karena hanya itu yang aku ingat pada malam itu. Jika malam itu benar adanya, seharusnya sekarang akan mudah bagiku menaklukan ritual malam pertamaku. Karena sebenarnya kemarin malam, aku hanya membohonginya saja agar dia bersedia menikah denganku dan tidak menghilang lagi seperti sebelumnya, batin Haikal.


Haikal kasihan melihat Alisha, tetapi Haikal juga tidak bisa menghentikan usahanya untuk menjadikan Alisha miliknya seutuhnya. Apalagi, gairahnya yang sudah mencapai puncaknya dan tidak bisa mundur lagi.


"Maafkan aku, aku tidak bisa berhenti ditengah jalan. Marahlah padaku nanti, oke?" kata Haikal lirih di telinga Ainisha.


"Bisakah lebih cepat?" jawab Ainisha balik bertanya dan sambil menahan sakit.


"Tentu," jawab Haikal penuh semangat mendengar jawaban Alisha.


Meskipun Haikal terkenal sebagai Casanova, tetapi hanya sebatas berciuman dan dia tidak pernah sekalipun mengambil kesucian seorang gadis. Tetapi demi istrinya, kali ini dia harus berusaha sebaik mungkin menjadi suami yang hebat diatas ranjang.


Ainisha kagum melihat Haikal berusaha sangat ekstra keras. Yang akhirnya membuat Haikal mampu menjebol pertahanan istrinya yang ternyata memang masih perawan. Bercak darah di sprei ini menjadi bukti, jika mereka tidak pernah melakukan Zina sebelumnya.


Haikal terkulai lemas di samping Alisha yang mulai terlihat santai. Ainisha tersenyum malu saat Haikal mencium keningnya dan berbisik lembut.

__ADS_1


"Terima kasih istriku."


Ainisha menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Kemudian Haikal memeluk tubuh Ainisha hingga Ainisha merasa aman dan nyaman. Malam sudah mulai larut dan mereka mulai terlelap dalam mimpi masing-masing.


Keesokan harinya, Alisha dan Haikal bangun kesiangan. Ainisha melepaskan pelukan Haikal dan memakai pakaiannya kembali. Ainisha segera mandi karena hari ini adalah hari pertamanya sebagai istri dan seorang menantu. Tentu saja Ainisha ingin menjadi istri dan menantu yang baik.


Selesai berganti pakaian dan berdandan ala kadarnya, Ainisha membangunkan Haikal dan memintanya untuk segera mandi. Haikal terlihat agak malas, karena ini pertama kalinya ada seseorang yang berani membangunkan dirinya.


Ainisha menyadari jika Haikal tidak terbiasa dengannya. Karena itu dia memberikan ucapan selamat pagi dengan mencium pipi Haikal. Mau tidak mau, Haikal bangkit dan berusaha mencium Ainisha. Tetapi Ainisha menolak dan meminta Haikal agar mandi terlebih dulu, baru bisa menciumnya.


"Mas, ih malu," kata Ainisha sambil menutup matanya melihat Haikal bertelanjang dada.


"Kita udah suami istri, kenapa malu. Semua ini milikmu lho," jawab Haikal menunjuk dirinya sendiri.


"Mas, aku menyiapkan sarapan untukmu dulu. Mas cepet mandinya, nanti langsung saja turun untuk sarapan," kata Ainisha sambil tersenyum dan segera berlalu pergi.


Ainisha pergi ke dapur berniat membuat sarapan. Tetapi ternyata, ibu mertuanya sudah lebih dulu selesai membuat sarapan dan sudah tertata rapi di meja makan. Ainisha berdiri termenung. Gagal sudah harapannya untuk menjadi istri dan menantu idaman.


"Alisha, sudah bangun. Sini, duduk dekat ibu. Hati-hati jalannya jangan sampai jatuh, bisa bahaya untuk bayimu," kata Bu Kartika sambil menatap Alisha lembut.


"Iya, Bu."


Ainisha tidak menyangka jika dirinya akan diperlakukan begitu baik oleh ibu mertuanya. Meskipun dia bangun terlambat, ibu mertuanya tidak marah sama sekali.


"Alisha, apa suamimu sudah bangun atau dia tidak kuat bangun?" tanya Bu Kartika sambil tersenyum.

__ADS_1


"Sudah bangun, Bu. Saat saya tinggal tadi, dia sedang mandi. Mungkin sebentar lagi turun,* jawab Ainisha.


"Dia tidak memperlakukan kamu dengan kasar kan? Kalau dia berani kasar sama kamu bilang saja sama ibu. Nanti ibu akan memukul wajahnya," kata Bu Kartika memasang dada untuk Alisha.


Ainisha hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Saat itu, Haikal dan ayahnya datang bersamaan.


"Ibu, jangan pukul wajahku, ini aset berhargaku untuk mendapatkan Alisha. Lagi pula, kapan aku kasar sama Alisha?" tanya Haikal sambil duduk di samping Ainisha.


"Ibu hanya khawatir dengan bayi dalam kandungannya. Meskipun kalian pengantin baru, jangan terlalu sering. Karena kondisi kandungan Alisha pasti masih rapuh," kata Bu Kartika sambil menatap Ainisha.


"Ibu, jangan bahas itu lagi. Mereka pasti sudah lapar. Ayo, kita berdoa dahulu sebelum makan," kata Pak Hartawan lalu memimpin doa.


Mereka makan tanpa bersuara hingga selesai. Ainisha berniat membereskan bekas makanan mereka, tetapi Bu Kartika melarangnya.


"Biar bibik yang membersihkan. Kamu bersiap saja, ibu ingin mengajakmu pergi berbelanja keperluan kamu dan juga calon bayi kamu," kata ibu mertuanya.


"Tapi, apa ini tidak terlalu dini untuk membeli perlengkapan bayi?" tanya Ainisha kemudian.


"Gak apa-apa, Alisha. Mumpung ibu ada di sini. Nanti siang, ayah dan ibu harus segera kembali ke rumah. Ayahmu tidak boleh terlalu lama meninggalkan pekerjaannya. Bisa-bisa berantakan semua pekerjaannya," jawab ibu mertuanya.


"Alisha, nurut saja kata ibu. Nanti aku temenin kalian. Kamu disini tidak memiliki pakaian ganti. Kita beli baru saja semuanya," kata Haikal tersenyum ke arah Ainisha yang tidak bisa menolak lagi.


"Bapak di rumah saja. Ada pertemuan on line dengan klien," kata pak Hartawan.


Mereka bertiga berangkat ke Mall dan memilih barang-barang yang yang diperlukan Ainisha. Pertama mereka mencari pakaian yang cocok untuk Alisha. Haikal meminta Alisha memilih pakaian yang tidak terlalu seksi seperti milik Alisha sebelum menikah. Tentunya Haikal tidak ingin, Alisha tampil seksi lagi di depan orang lain.

__ADS_1


Beberapa potong pakaian tidur yang seksi menjadi pilihan Haikal. Hal itu membuat Ainisha tersenyum malu membayangkan dirinya harus memakai pakaian setipis itu. Walupun akhirnya dia setuju juga dengan keinginan Haikal. Selanjutnya mereka membeli sepatu dan perkataan make up.


Saat Bu Kartika mengajak Ainisha membeli perlengkapan bayi. Ada rasa bersalah yang muncul di hati Ainisha. Sementara Haikal berusaha menenangkan Ainisha dengan menggenggam tangan Ainisha. Karena awal kebohongan itu berasal dari Haikal. Haikal ingin orangtuanya setuju pernikahannya dengan Alisha, tanpa bertanya tentang apapun setelah tahu Alisha hamil anaknya.


__ADS_2