
"Haikal ...!" panggil Resia dengan keras.
Tetapi Haikal sama sekali tidak memperdulikannya. Haikal sibuk mengurusi Alisha. Resia bertambah marah dan kesal.
"Haikal, ingat janjimu. Jika tidak, aku akan ...."
"Diam!" teriak Haikal pada Resia. "Baiklah. Alisha, kamu pulang dulu saja, ya. Maaf, maaf untuk kejadian hari ini. Besok aku akan mencarimu.
Ainisha sebenarnya kecewa dengan ucapan Haikal yang lebih memilih Resia. Sepertinya Haikal memiliki rahasia yang dipegang oleh Resia sehingga Haikal merasa takut dengan ancaman Resia. Alisha merasa usahanya semua gagal. Bahkan hal seserius inipun, tidak bisa membuat Haikal meninggalkan Resia.
Dasar laki-laki brengsek, tidak bertanggungjawab, tidak bermoral. Jadi dia memang benar-benar seorang Casanova sejati, batin Ainisha kesal.
Resia melangkah pergi dengan hati kesal dan kecewa. Akan tetapi, mungkin ini sudah cukup untuk membuat hubungan Haikal dan Resia tidak baik-baik saja.
Ainisha berpikir untuk sementara akan berhenti mengejar cinta Haikal. Ainisha ingin menenangkan diri dan beristirahat untuk sementara waktu. Dia tidak ingin memikirkan masalah Haikal dan Resia yang sudah menyita banyak waktunya dan sangat membuatnya tertekan.
Sampai di rumah, Ainisha segera mandi dan kembali menjadi Ainisha sang delivery. Dia merebahkan tubuhnya diatas kasur sambil mengingat apa yang dilakukannya semalam di rumah Haikal.
Flashback on
Taksi berhenti tepat di depan rumah Haikal. Ainisha meminta bantuan sopir taksi untuk membantu memapah Haikal sampai di teras rumah. Ainisha mengambil kunci rumah yang di sembunyikan oleh Haikal di pot bunga depan rumah.
Begitu masuk, rumah tampak sepi. Rupanya Haikal tinggal sendirian di rumah ini. Ainisha membawa Haikal masuk ke dalam kamar yang cukup besar dan mewah. Ainisha menatap beberapa foto yang terlihat berjajar di meja sehingga Ainisha tahu jika itu adalah kamar Haikal.
Ainisha mendorong tubuh Haikal dengan kasar diatas ranjang. Dia mulai membuka sepatu, jas, baju dan celana Haikal yang sudah bau alkohol dan terkena muntahannya sendiri. Yang tersisa kini, hanya celana pendeknya saja. Ainisha segera menutup tubuh Haikal dengan selimut.
Rencana Ainisha mulai di jalankan. Dia menghubungi pak Ferdi untuk memintanya membuat Resia pergi ke rumah Haikal esok hari. Sedangkan Ainisha melepas bajunya dan dia tidur di sebelah Haikal yang masih dalam kondisi mabuk dan tertidur.
Semoga semua akan berjalan sesuai rencana, batinnya.
Ainisha akhirnya tertidur karena kelelahan.
__ADS_1
Flashback off.
Ainisha masih beruntung, karena ternyata Haikal sama sekali tidak peduli dengan dirinya, meski Haikal tahu mereka telah tidur bersama. Untungnya, malam itu hanya sandiwara saja. Jika tidak, Ainisha yang akan rugi sendiri. Ainisha menghubungi pak Ferdi dan meminta izin untuk berhenti beberapa waktu karena di masih syok, menghadapi pertengkaran langsung dengan Resia. Ainisha juga ingin mencari cara yang lebih tepat untuk memisahkan Haikal dan Resia.
Berbagai cara yang sudah Ainisha lakukan, tetapi tetap saja mereka masih belum berpisah. Selama mereka belum berpisah, maka hutang ayahnya masih akan dianggap belum lunas.
Keesokan harinya, Ainisha berangkat bekerja seperti biasa. Dengan senyum khas, Ainisha berbagi ceria dengan orang-orang di sekitarnya.
"Aini ...."
"Hai, Mas Tama. Ada perlu apa, datang ke tempat kerjaku?" tanya Ainisha sambil tersenyum.
"Aku ingin mengucapkan terima kasih atas pertolonganmu beberapa hari yang lalu. Kamu menyelamatkan pekerjaan aku juga," kata Tama sambil mengulurkan tangannya yang segera di sambut Ainisha
"Sama-sama, Mas."
"Aini, masih ingat bos aku kan?"
"Oh, ingat tapi aku nggak tahu namanya," kata Ainisha berpura-pura.
Tawaran pekerjaan yang sebenarnya sangat bagus untuknya. Tetapi sayang, jika dia bekerja di tempat itu, kemungkinan ketahuan akan lebih besar.
"Maaf, Mas Tama. Kayaknya, aku lebih nyaman bekerja di sini," jawab Ainisha.
"Sayang sekali. Padahal kita bisa satu kantor. Tapi, nggak papa. Bos juga bilang kalau kamu menolak, kami akan membantumu menaikan bonus dari pekerjaanmu saat ini. Setiap hari Rabu dan Kamis, kirimkan kami 20 bungkus pizza."
"Kenapa hari Rabu dan kamis?" tanya Ainisha.
"Entahlah, hanya bos yang tahu," jawab Tama.
"Baiklah. Besok aku akan mengantarkan pesanan kamu ke kantor. Tapi, aku antar sampai diluar kantor saja ya, nanti Mas Tama yang ambil," kata Ainisha.
__ADS_1
"Kenapa tidak masuk saja?" tanya Tama penasaran.
"Kalau aku bawa masuk sendiri semuanya, rasanya aku tidak sanggup. Jadi aku meminta bantuan Mas Tama, setidaknya, karyawan lain juga bisa membantuku," kata Ainisha.
"Boleh. Baiklah, sampai bertemu besok," ucap Tama lalu melangkah pergi.
Ainisha tersenyum mengiringi kepergian Tama. Lalu dia menghela nafas berat. Memikirkan sesuatu yang sangat berbahaya. Ainisha sangat takut jika penyamarannya diketahui Haikal. Ini bisa sangat berbahaya dan merusak semua usaha yang sudah dilakukannya selama ini.
Setelah Tama pergi, Ainisha menjalankan pekerjaannya seperti biasa dan berakhir pada sore harinya. Untuk sementara dia bisa melupakan semuanya. Tetapi ketika dia sampai di rumah, dia sangat terkejut ketika pak Ferdi sudah menunggunya.
"Pak Ferdi?" gumam Ainisha.
Ainisha mencoba bersikap tenang. Walupun didalam hatinya ada beribu pertanyaan mengenai kedatangannya hari ini.
"Ainisha, pak Ferdi sudah lama menunggumu," kata pak Harjo.
"Ainisha, ayah dan Ibu masuk dulu, kalian silahkan mengobrol dulu," kata ibu Semi sambil mengajak suaminya masuk ke dalam rumah.
Ainisha menatap pak Ferdi penuh tanya. Padahal kemaren Ainisha sudah meminta izin dan sudah di izinkan oleh pak Ferdi
"Ainisha, kamu pasti bertanya-tanya kenapa aku datang kesini. Aku sudah memikirkan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi padamu. Terutama, jika ada yang curiga tentang latar belakang Alisha. Di dalam amplop ini, sudah tersedia kartu identitas dan alamat tempat tinggal kamu yang baru. Termasuk kunci rumah yang akan kamu tempati saat kamu menjadi Alisha," kata pak Ferdi menjelaskan.
"Rumah, kartu identitas? Kenapa aku tidak kepikiran untuk membuatnya?" tanya Ainisha pada dirinya sendiri.
"Kamu periksalah dengan baik. Jika ada yang masih kurang, kamu bisa segera menghubungiku dan aku akan membuatkannya untukmu."
"Baik, pak Ferdi. Tapi sudah katakan, untuk beberapa hari ini, aku ingin menangkan diri dulu. Semua rencana sudah aku lakukan, tetapi ternyata antara anak Pak Ferdi dan Haikal, memiliki suatu perjanjian. Hal itulah yang membuat sangat sulit untuk memisahkan mereka. Aku akan mencari tahu, ada perjanjian apa diantara mereka sehingga mereka tidak bisa berpisah," kata Ainisha.
"Baiklah. Aku akan memberimu waktu untuk mencari tahu hubungan mereka yang sebenarnya. Ingat Ainisha, jangan terlalu lama kamu membuat rencana. Jangan sampai mereka tiba-tiba menikah," kata pak Ferdi penuh harap.
"Baik, pak Ferdi."
__ADS_1
Ainisha masih tampak bingung, dengan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Ainisha memegang kepalanya sambil menghela nafas. Mencoba mencari rencana baru lagi.
Bersambung