
Acara pernikahan akan segera dimulai. Meskipun yang hadir hanya beberapa anggota keluarga, saksi dan seorang ustadz. Mereka akan melangsungkan pernikahan secara siri dan masalah surat-surat resminya akan diurus kemudian.
Mereka menunggu pengantin wanita keluar dengan hati was-was dan cemas. Akan tetapi, hingga satu jam mereka menunggu, pengantin wanita tidak juga terlihat.
Haikal tampak gelisah karena takut, jika Alisha akan berubah pikiran disaat-saat terakhir. Karena Haikal tahu dari sorot mata Alisha, tampak ada keraguan di sana, saat tahu hari ini mereka akan menikah. Kegelisahan itu tidak hanya dirasakan oleh Haikal, tetapi juga dirasakan oleh ibunya Haikal.
"Haikal, apa kamu sudah memastikan jika calon istrimu bersedia menikah denganmu. Jika saat ini dia benar-benar hamil anakmu, pasti dia akan segera datang karena kamu mau menikahinya," kata sang ibu agak kecewa.
"Ibu, sudahlah. Ayah lihat, ibulah yang sangat antusias setelah mendengar dia hamil anak Haikal. Ibu yang bersikeras mempercepat pernikahan ini. Jadi jangan salahkan Haikal atau calon istrinya. Mentang-mentang mau memiliki cucu, jadi nggak peduli yang lain," kata pak Hartawan sambil menatap istrinya yang sangat panik.
"Bapak, namanya juga mendengar calon menantu hamil. Haikal, bagaimana ini. Atau Alisha sebenarnya masih memiliki orangtua, makanya dia ngambek karena kita tidak melibatkan mereka dalam pernikahan kalian," kata Bu Kartika.
"Setahu Haikal, orangtuanya sudah lama meninggal. Dia sekarang hidup sendirian. Terakhir kali, dia menyewa sebuah rumah. Mungkin karena dia tidak sanggup membayarnya, dia menghilang dan baru kemarin aku bisa menemukan dia," jawab Haikal.
"Kalau benar seperti itu, kenapa dia masih belum mau keluar?" tanya Bu Kartika.
Disaat, semua orang sudah panik dan khawatir, Ainisha datang dengan pakaian adat Jawa. Sebuah kebaya putih nan cantik dengan bawahan kain batik dan kerudung putih berhias manik-manik putih. Ainisha tampak cantik dan anggun dengan pakaian pengantin yang dipakainya. Kesan Alisha yang penggoda dan seksi, hilang berganti dengan Alisha yang anggun dan berkelas.
Semua yang hadir tersenyum lega melihat mempelai wanita sudah datang. Mbak penata rias, membantu Ainisha duduk di samping Haikal yang sejak kedatangan Alisha, matanya tidak bisa lepas dari wajah cantik calon istrinya tersebut.
Prosesi akad nikah sudah di mulai. Dengan jelas dan lancar, Haikal mengucapkan ijab kabul yang segera diikuti kata 'sah' dari pak Ustadz dan semua yang hadir.
Doa pernikahan telah dipanjatkan dan diaminkan oleh semua yang hadir. Ainisha mencium tangan Haikal sebagai tanda rasa hormatnya pada Haikal yang sekarang sudah resmi menjadi suaminya.
Selesai acara pernikahan, mereka yang hadir memberikan ucapan selamat kepada pasangan pengantin baru. Setelah itu diadakan acara makan bersama sambil berbincang santai.
"Selamat Haikal, Alisha. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ucap paman Dedi sambil menyalami Haikal dan Ainisha.
__ADS_1
Ucapan dari paman Dedi diikuti yang lain. Suasana cukup meriah meski tidak semegah harapan Bu Kartika untuk pernikahan Haikal pada saat dulu. Dulu, Bu Kartika ingin membuat pernikahan Haikal menjadi pernikahan yang paling megah dan mewah. Karena Haikal adalah anak semata wayang keluarga Hartawan. Tetapi pada akhirnya, malah hanya sebuah pernikahan kecil dan sederhana yang mereka berikan.
Menjelang sore, mereka telah pergi dan pulang kembali kerumah masing-masing kecuali kedua orangtua Haikal. Mereka ingin lebih lama bersama Alisha menantunya.
Alisha merasa canggung karena Bu Kartika begitu perhatian dan penuh kasih sayang pada Alisha. Tidak lupa, Bu Kartika juga memberikan banyak nasehat dan bekal menjadi istri yang baik.
"Alisha, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Kamu harus bisa menjadi penutup kekurangan Haikal. Kamu juga wajib menuruti apapun keinginan suamimu, terutama saat dia membutuhkanmu. Termasuk juga melayani kebutuhan jasmaninya. Pokoknya selama tidak bertentangan dengan agama, kamu turuti saja kemauan suamimu."
Ainisha hanya bisa tersenyum dan mengiyakan semua nasehat ibu mertuanya.
"Ibu punya satu rahasia," ucap Bu Kartika lagi.
"Apa itu, Bu?" tanya Ainisha.
"Kamu harus pinter-pinter memuaskan suamimu dalam urusan ranjang. Maka dalam urusan lain, kamu akan dijadikan ratu. Ini ibu sudah membuktikannya," kata sang ibu mertua.
"Tentu saja, Alisha. Tapi ibu yakin, Haikal sangat mencintai kamu, jadi cintailah putraku," kata Bu Kartika.
"Insyaallah, Bu," jawab Ainisha sambil tersenyum.
Sebelum makan malam, Ainisha dan Haikal membersihkan diri dan berganti pakaian santai. Malam sudah mulai larut. Setelah lelah berbincang, ayah dan ibu mertuanya pamit untuk beristirahat.
"Sayang, kita juga harus beristirahat. Hari ini aku capek sekali," ajak Haikal sambil berdiri.
"Iya, Mas. Aku juga capek," kata Ainisha ikut berdiri dan mengikuti langkah Haikal masuk kedalam kamarnya.
Haikal menutup pintu kamar dan menguncinya setelah Ainisha masuk.
__ADS_1
"Kok di kunci, Mas?" tanya Ainisha sambil berbalik badan.
"Ah, takut ada tikus masuk."
"Rumah sebersih ini, masak ada tikus?" tanya Ainisha lagi.
"Kenapa dipermasalahkan. Anggap saja lebih aman tidur dengan kamar terkunci. Sudahlah, katanya lelah, cepatlah istirahat," jawab Haikal.
Ainisha bergegas merebahkan diri di atas tempat tidur. Disusul Haikal yang juga segera merebahkan diri di dekat Ainisha.
"Sudah ngantuk?" tanya Haikal sambil menatap Ainisha yang belum juga memejamkan mata.
"Belum. Sepertinya, aku harus banyak berdoa biar cepat tidur," jawab Ainisha.
"Kalau belum ngantuk, kita bisa lakukan sesuatu yang membuat kita bisa segera tidur," kata Haikal.
"Sesuatu apa yang bisa membuat kita bisa cepat tidur?" tanya Ainisha lugu.
"Kamu cukup diam saja. Biar aku yang lakukan. Setuju?" tanya Haikal lembut di telinga Haikal.
Ainisha mengangguk dan menerima permintaan Haikal. Rupanya itu hanya modus Haikal supaya bisa menyentuh Ainisha. Perlahan, Haikal duduk dan menatap sejenak wajah Ainisha yang menunggu hal yang akan di lakukan Haikal.
Setelah beberapa saat, Haikal menyentuh wajah Ainisha dengan kedua tangannya. Diciumnya bibir Ainisha dengan lembut. Ainisha yang tidak menyangka dengan perbuatan Haikal, merasa gelagapan. Tetapi dia teringat nasehat ibu mertuanya, bahwa melayani suami adalah kewajiban setiap istri.
Ainisha membalas ciuman Haikal dan membuat Haikal semakin berani melakukan yang lebih jauh. Malam ini, mereka melakukan ritual malam pertama meski mereka yakin jika mereka pernah melakukan itu sebelumnya.
Pikiran mereka dipenuhi hal yang sama. Haikal berpikir, jika mereka melakukan hubungan badan pertama kali, saat dia mabuk beberapa waktu lalu. Sementara Ainisha berpikir, mereka berhubungan badan kemarin malam saat dia diberi obat oleh Resia.
__ADS_1
Mereka berharap malam ini semua akan mudah mereka lakukan. Tetapi, siapa sangka jika prosesi malam pertama mereka berujung pada tangisan Ainisha. Haikal panik dan cemas melihat Ainisha meneteskan air mata padahal dia belum mendapatkan apa yang dia inginkan.