
Esok harinya, Ainisha menunggu kedatangan Tama. Karena seperti kata Haikal, Tama akan mengantarkan uang tunai 200 juta kepadanya. Ainisha tahu, uang 200 juta itu bukan uang yang sedikit. Meski sudah mendapatkan persetujuan Haikal, mungkin saja Haikal tiba-tiba menyesali apa yang sudah dia setujui.
Ainisha mengingat apa yang terjadi kemarin di kantor Haikal. Haikal setuju memberinya uang 200 juta tetapi Ainisha harus mau menjadi istri palsunya selama ibunya berada di rumahnya. Di jelaskan pula, selama menjadi istri palsunya, Ainisha harus tinggal di rumah Haikal.
Perjanjian ini dianggap sebagai perjanjian kerja. Itu berarti Ainisha adalah bawahan Haikal. Perjanjian ini berlaku sampai ibunya pergi dari rumah Haikal. Jika ibunya Haikal, hanya tinggal 3 atau 4 hari di rumah Haikal, maka perharinya Ainisha dibayar 50 juta. Dan uang sebanyak itu pasti akan disesali oleh Haikal.
Dengan hati cemas, Ainisha berjalan mondar mandir diluar rumah ICU tempat ibunya di rawat. Sang ayah juga tampak khawatir, melihat kondisi istrinya yang semakin hari semakin drop. Merasa tertekan, pak Harjo keluar menemui Ainisha yang masih gelisah menunggu Tama.
"Aini, bagaimana dengan biaya pengobatan ibumu? Kamu bilang hari ini, kamu bisa mendapatkan uang itu. Tetapi, Ayah lihat kamu hanya mondar-mandir di sini saja. Lalu darimana uang itu akan datang jika tidak kamu cari?" tanya pak Harjo cemas.
"Ayah tenang saja, sebentar lagi akan ada yang membawa uang kemari. Dan ibu akan segera di operasi," jawab Ainisha menenangkan ayahnya.
"Baiklah, Ayah percaya padamu. Semoga apa yang kamu katakan itu benar. Ayah masuk, untuk menemani ibumu. Ayah ingin berada di sisi ibumu, disaat-saat seperti ini," ucap sang ayah.
"Ayah, terimakasih. Ayah telah benar-benar berubah demi kami," gumam Ainisha.
Padahal, dalam hati Ainisha juga was-was dan khawatir jika Haikal berubah pikiran. Ditengah kekhawatiran Ainisha dan ayahnya, Tama akhirnya datang juga.
"Aini," panggil seseorang yang ternyata adalah Tama.
"Kak Tama," gumam Aini senang.
"Aku datang atas perintah pak Haikal. Ini uang tunai 200 juta seperti yaang kamu minta," ucap Tama sambil menyerahkan sebuah amplop besar pada Ainisha.
Tangan Ainisha gemetar menerima amplop berisi uang 200 juta dari Tama. Ainisha seolah tidak percaya, jika dia benar-benar bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat.
"Terimakasih Kak Tama," ucap Ainisha sambil tersenyum lega. Kekhawatirannya saat ini terhapus sudah setelah ada uang 200 juta ditangannya.
"Aini. Pak Haikal berpesan, setelah kamu menerima uang ini, kamu harus secepatnya pergi ke rumahnya. Paling lambat, malam ini kamu sudah harus ada disana," ucap Tama mengingatkan Ainisha.
"Kenapa secepat itu, aku juga harus berkemas dan menyiapkan barang-barang pribadiku," ucap Ainisha membantah ucapan Tama.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu membawa apapun. Karena di rumah pak Haikal, semua sudah dipersiapkan untukmu. Termasuk pakaian dan keperluan pribadimu," ucap Tama kemudian.
"Kak Tama, sebenarnya Ainisha agak sedikit takut. Apakah pak Haikal akan macam-macam padaku?" tanya Ainisha cemas.
"Aku rasa, tidak akan. Meskipun pak Haikal terkenal sebagai seorang Casanova, dia masih memiliki batasan-batasan dalam berperilaku. Aku yakin kamu akan aman disana. Tetapi...," Tama menghentikan ucapannya sehingga membuat Ainisha takut
"Tetapi apa, Kak Tama?"
"Wajah kamu, sangat mirip dengan istri pak Haikal. Meskipun dari segi penampilan, kalian sangat berbeda. Istri pak Haikal cantik dan seksi. Dia juga lemah lembut dan ramah. Sedangkan kamu, tomboy dan urakan. Penampilan seadanya dan tidak ramah sama sekali," ucap Tama membandingkan antara Ainisha dan Alisha.
"Kak Tama ...."
Ainisha menatap sedih ke arah Tama. Tama jadi serba salah setelah melihat Ainisha hampir menangis.
"Ainisha, jangan sedih dulu. Aku tidak bermaksud mengatai kamu tidak menarik. Menurutku, kamu lebih baik dari istrinya pak Haikal. Kalau aku, aku lebih suka gadis sederhana seperti kamu. Percaya, deh sama aku," ucap Tama gugup.
"Tidak menarik juga tidak apa-apa, Kak. Toh aku tidak ingin dicintai siapapun. Aku sudah senang hidup seperti ini sebagai diri aku sendiri," ucap Ainisha sambil tersenyum.
"Apa tidak bisa menunggu sampai ibu selesai operasi?" tanya Ainisha lagi.
"Kayaknya tidak bisa. Karena ibunya pak Haikal kalau mau datang, waktunya tidak terduga. Takutnya saat beliau datang, kamu tidak ada di rumah."
"Kenapa tidak terus terang saja pada ibunya, jadi tidak harus bingung seperti ini."
"Nanti kamu tanyakan langsung padanya," ucap Tama.
"Mana aku berani bertanya padanya, Kak Tama?"
"Dengan sifat kamu, apa sih yang kamu takutkan?" ledek Tama.
"Hhhh, Ainisha akan mengurus biaya administrasi untuk ibu. Mungkin nanti malam aku baru siap. Kak Tama bisa menjemputku nanti malam kan?" tanya Ainisha sambil melihat kearah Tama.
__ADS_1
"Kalau nanti malam, biar pak Haikal sendiri yang jemput. Aku sedang ada acara keluarga. Tidak apa-apa, kan?"
"Iya, tidak apa-apa."
"Aku doakan, semoga ibumu operasinya berjalan lancar. Dan bisa segera sehat kembali. Aku pulang dulu," ucap Tama sambil tersenyum.
"Aamiin. Terimakasih atas doanya."
Tama alu pergi meninggalkan Ainisha yang segera masuk untuk menemui ayahnya sebelum mengurus biaya administrasi untuk operasi ibunya. Pak Harjo tersenyum senang melihat uang yang dibawa putrinya. Hatinya lega mendapatkan secercah harapan atas uang 200 juta yang dibawa Ainisha. Semoga dengan uang 200 juta itu, akan bisa membuat Bu Semi bisa kembali sehat dan bisa kembali berada di antara mereka.
Ainisha menemui dokter yang akan bertanggungjawab atas operasi ibunya. Setelah mendapatkan kejelasan waktu untuk operasi sang ibu, Ainisha segera mengurus semua biaya administrasi.
Malam mulai menjelang, ketika Ainisha duduk di samping ibunya bersama sang ayah. Ada sedikit keraguan, ketika Ainisha harus pamit pada ayahnya, untuk menggantikan uang 200 juta yang di terimanya lagi tadi. Mengganti dengan pekerjaan yang sesungguhnya sangat sulit baginya.
"Ayah, memulai malam ini, Ainisha akan bekerja untuk menggantikan uang 200 juta itu," ucap Ainisha ragu-ragu.
"Pekerjaan seperti apa, sehingga kamu di gaji sebesar itu?" tanya ayahnya penasaran.
"Pembantu. Ainisha harus menjadi pembantu hingga uang 200 juta itu lunas," ucap Ainisha sedih.
"Maafkan Ayah, Aini. Karena ayah tidak bisa menjalankan kewajiban sebagai ayah dan suami yang baik."
"Jangan sedih Ayah. Yang penting sekarang, biaya operasi ibu sudah kita dapatkan. Ainisha tidak apa-apa bekerja siang malam. Tetapi, jika nanti saat operasi ibu, Aini tidak bisa datang, tolong sampaikan permintaan maafku untuk ibu. Katakan juga, Aini bekerja di luar kota agar ibu tidak khawatir," ucap Ainisha lagi.
"Sesuai keinginan kamu saja, Ainisha. Tapi kamu harus menjaga diri."
Nasehat sang ayah mengingatkan bahwa malam ini Haikal sendiri yang akan menjemputnya. Ainisha pamit pada ayahnya dan menunggu Haikal di luar ruangan.
Semoga Haikal tidak datang, batin Ainisha.
Baersambung
__ADS_1