
Persiapan honeymoon antara Haikal dan Ainisha, telah selesai dipersiapkan. Ainisha membantu Haikal menyiapkan semuanya di rumah Haikal. Termasuk pakaian miliknya, yang dulu masih tersimpan di rumah Haikal.
Tidak banyak yang mereka bawa. Karena mereka hanya akan pergi, selama 3 hari saja. Padahal, rencana awal mereka akan ada disana selama satu Minggu. Ini semua karena Ainisha, tidak ingin terlalu lama meninggalkan Haidar. Sebagai seorang suami sekaligus seorang ayah, Haikal memang harus memahami kondisi ini.
Mobil yang akan membawa mereka ke bandara juga sudah disiapkan. Ainisha dan Haikal pamit pada semua orang yang datang kerumahnya. Ayah dan ibunya, orangtua Ainisha, Bu Minarsih dan Haidar serta pengasuhnya.
Mereka semua, akan mengantar sampai di bandara. Suasana perpisahan sementara ini terasa mengharukan. Ainisha sendiri bingung, dia dan Haikal akan pergi bulan madu dan itupun hanya beberapa hari saja.
Ainisha dan Haikal berpamitan untuk kedua kalinya. Kali ini, Ainisha dan Haidar menciumi Haidar, hingga Haidar merasa tidak nyaman. Untungnya, Haidar masih sangat kecil, jadi masih belum tahu jika orangtuanya hendak pergi tanpa dirinya.
Mereka segera berangkat menuju pesawat yang akan membawa mereka ke Bali. Selama perjalanan, Ainisha selalu menggenggam tangan Haikal karena ini pengalaman pertama Ainisha naik pesawat.
Haikal membalas genggaman tangan Ainisha dengan lembut. Haikal juga meminta Ainisha untuk bersandar padanya, jika merasa takut.
Selama hampir dua jam, mereka telah sampai di kota tujuan. Mereka segera pergi ke hotel yang sudah dipesan seminggu yang lalu. Ainisha merasa asing di kota ini. Tetapi, untungnya ada Haikal yang setiap saat menemaninya.
Ainisha dibuat kagum, dengan hotel tempatnya menginap yang terlihat sangat mewah. Kamar tidur yang sangat nyaman, bahkan jika seharian dikamar tidak akan membuat bosan. Karena mereka bisa melihat pemandangan laut dari balkon kamar yang mereka tempati saat ini.
"Waw, indah sekali pemandangannya, Haikal. Pasti biaya menginap kita sangat mahal," tanya Ainisha sambil menatap pemandangan.
"Mahal, untuk kamu, aku tidak keberatan. Asal kamu suka. Ini juga tidak setiap hari. Jadi mari kita gunakan waktu ini, agar lebih berarti bagi kita," ucap Haikal menjadi jawaban.
Haikal memeluk pinggang ramping Ainisha sambil mencium aroma rambut Ainisha yang tergerai bebas. Sesekali, tangan Haikal nakal merayap bebas.
__ADS_1
"Kita baru saja sampai. Apa ini, Haikal?" tanya Ainisha yang mulai geli dengan sentuhan Haikal.
"Tidak ada aturan, yang melarang berhubungan saat baru tiba. Aku belum pernah mendengar itu," jawab Haikal masih dengan posisi semula.
"Iya, tidak ada yang melarang. Tapi ...," ucap Ainisha terhenti karena tiba-tiba Haikal membalikan tubuh Ainisha dan segera mencium bibirnya.
Pasti Haikal tidak ingin lagi mendengar ocehan Ainisha yang berusaha menolaknya secara halus. Ainisha menjadi bingung, karena Haikal seolah tidak memiliki rem untuk bisa menghentikan keinginannya saat ini. Ataukah memang sengaja tidak direm?
Ainisha tidak bisa lagi menolak, saat tubuhnya di bimbing Haikal hingga sampai di atas ranjang. Haikal tidak peduli, apakah hari sudah malam atau belum. Yang pasti, dia ingin memanfaatkan setiap detik untuk bisa lebih intim dengan istrinya.
Ainisha mengerti sepenuhnya, jika suaminya sangat lama memendam hasrat padanya. Dia tidak pernah melampiaskan pada wanita lain, meskipun Ainisha dinyatakan sudah meninggal.
Sebagai istri, Ainisha hanya bisa memberikan yang terbaik, yang bisa Ainisha lakukan untuk suaminya. Berusaha menembus kesalahan yang dulu pernah dia lakukan pada Haikal.
Ainisha menikmati setiap saat, masa bulan madunya. Setelah selesai bercumbu, Haikal mengajak Ainisha untuk mandi bersama. Hanya senyum malu yang Ainisha perlihatkan, ketika Haikal menggendong tubuh Ainisha kedalam kamar mandi.
Sore harinya, Haikal mengajak Ainisha menikmati keindahan sunrise, melalui balkon kamarnya. Haikal duduk bersandar di kursi santai yang tersedia disana. Haikal meminta Ainisha duduk diantara dua kaki Haikal dan bersandar padanya. Dengan begitu, Haikal bisa memeluknya mesra.
Tidak ada kegiatan diluar, yang mereka lakukan hari ini. Haikal lebih mengutamakan momen romantis didalam kamar seharian. Dan akan berlanjut pada malam harinya. Untuk makan, Haikal memesan makanan dan tidak keluar kamar sama sekali.
Baru keesokan harinya, mereka melakukan kegiatan luar. Sarapan bersama lalu mulai mengikuti jadwal yang sudah Haikal siapakah sebelumnya.
Hari pertama, sudah mereka lewatkan seharian di dalam kamar. Hari kedua, Haikal akan mengajak Ainisha pergi bersepeda sambil menikmati sawah berterasering di Jatiluwih. Mereka segera berangkat dan menikmati momen bahagia tersebut.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan bersepeda, Ainisha merasa seperti sedang berpacaran dengan Haikal. Seru dan mereka merasa kembali menjadi remaja.
Sayangnya, hujan tiba-tiba turun dan membuat mereka harus kembali ke hotel. Dan sepanjang hari itu, hujan terus turun sehingga membuat mereka tidak bisa melaksanakan jadwal yang sudah dibuat.
Entah ini suatu musibah atau berkah. Musibah karena mereka tidak bisa melihat indahnya Bali. Dan berkah, karena sepanjang waktu mereka berusaha menghangatkan diri, dengan berpelukan sepanjang waktu di atas ranjang.
Sampai saatnya mereka harus pulang dan harus membawa oleh-oleh. Mereka terpaksa keluar untuk membeli sesuatu yang bisa mereka jadikan oleh-oleh untuk semua orang. Tidak hanya untuk para orangtua, juga para asisten rumah tangga dan pengasuh.
Bagi Ainisha, waktu bulan madu yang hanya sebentar ini, sudah cukup untuk menikmati kebersamaan dengan Haikal. Tetapi tidak bagi Haikal. Haikal tampak tidak rela jika hari ini, mereka harus kembali. Wajah kesal itu, sengaja Haikal tunjukkan di depan Ainisha. Tentu saja, untuk membuat Ainisha berubah pikiran tanpa berdebat.
Ainisha menyadari sikap suaminya yang masih ingin berada disini. Tetapi saat teringat Haidar, rasa ingin pulang malah semakin besar.
"Haikal, bukannya kamu masih harus bekerja dan mendapatkan gaji untuk menghidupi kami, anak dan istrimu?" tanya Ainisha sambil memasukkan pakaian ke dalam tas.
"Tentu saja. Itu tanggung jawabku. Masalah uang, kamu tidak usah khawatir. Sejak muda aku sudah bekerja dan menabung untuk ini. Jangan seperti wanita matre, Aini, untuk membenarkan keinginanmu supaya cepat pulang," ucap Haikal agak kecewa.
"Haikal, Kehidupan pernikahan yang sebenarnya itu, saat kita di rumah, bukan di hotel. Kita harus setuju itu. Aku bukan hanya sebagai istri sekarang, sudah ada Haidar yang juga butuh aku. Tapi, kamu tidak perlu khawatir, aku akan berusaha menjalankan tugas dan kewajibanku sebagai istri yang baik," jawab Ainisha sambil menatap Haikal.
"Aku tidak pernah meragukan kamu, Ainisha. Kamu adalah bidadari ku. Kamu adalah kebahagiaanku. Kamu yang bisa membuat aku merasakan manis pahitnya cinta dan hanya kamu yang bisa membuatku tidak bisa berhenti mencintai," ucap Haikal sambil menatap Ainisha intens. Tangannya memegang kedua pipi Ainisha yang mulai memerah karena malu, di sanjung habis-habisan olehnya.
Ciuman lembut dibibir Ainisha, membuat keduanya larut dalam cinta. Disaat keduanya mulai saling membalas, suara dering ponsel Ainisha membuyarkan segalanya. Ainisha langsung melepaskan tangan Haikal untuk segera mengangkat panggilan yang entah dari siapa.
Haikal tampak kecewa. Rencananya gagal, padahal Haikal sudah melihat Ainisha masuk dalam jeratnya.
__ADS_1
"Haikal, kita harus segera pulang!" ajak Ainisha dengan ekspresi datar demi menyembunyikan sesuatu.
Bersambung