Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 50. Saat terburuk


__ADS_3

Haikal tidak memberitahukan apapun yang dapat merubah suasana hati Ainisha. Apalagi tentang ketidak percayaan John pada hasil tes DNA yang dia bawa. Jika Ainisha tahu, dia pasti tidak akan bisa tidur dengan tenang. Haikal hanya mengatakan bahwa, John terlalu terobsesi dengan Haidar dan Clara.


Meski begitu, Ainisha tetap saja khawatir dengan apa yang dikatakan suaminya. Terobsesi, mengindikasikan banyak hal. Tentunya bukan hal yang baik, jika berhubungan dengan orang seperti John. Tetapi, Ainisha tidak ingin menunjukan kekhawatirannya pada Haikal.


Mereka segera beristirahat setelah berada kembali di rumah Haikal. Tetapi sebelumnya, Ainisha membereskan pakaiannya yang baru dia bawa dari rumah Bu Minarsih.


Sebelum tidur, Haikal menyempatkan diri menyayangi Ainisha. Memberikannya pelukan hangat dan ciuman kecil di pipi.


"Ainisha, kamu fokus saja mengurus Haidar. Biar John, aku yang akan mengurusnya," ucap Haikal lembut.


"Iya, Mas. Aku percaya padamu," jawab Ainisha sambil tersenyum.


Satu Minggu kemudian, sebuah berita mengejutkan datang dari Tama. Semua proyek yang sudah masuk rencana perusahaan gagal total. Ternyata rahasia perusahaan Haikal sudah dijual oleh John kepada saingan Haikal. Hal itu dimanfaatkan oleh saingan Haikal untuk memenangkan semua tender yang di ikuti oleh perusahaan Haikal. Perusahaan Haikal jatuh bangkrut dalam hitungan hari karena kehabisan modal usaha.


Haikal sangat tertekan dan bingung. Bagaimana caranya menjelaskan keadaan perusahaannya pada Ainisha?


Haikal pulang dengan keadaan yang semrawut dan kucel. Ainisha mulai curiga dengan keadaan suaminya dan langsung bertanya padanya setelah suaminya membersihkan diri dan beristirahat.


"Mas, apa yang terjadi? Kenapa kamu terlihat banyak pikiran?" tanya Ainisha sambil duduk disampingnya.


"Haidar mana?"


"Dia sedang tidur. Mas, kenapa tidak menjawab pertanyaan Ainisha?"


Haikal terdiam dan mencoba menguatkan hatinya untuk berterus terang kepada Ainisha.


"Perusahaan aku bangkrut," jawab Haikal singkat.

__ADS_1


Ainisha tertegun dan kaget. Berita itu memang terasa mengejutkan dan tiba-tiba. Haikal panik melihat reaksi Ainisha yang diam tanpa kata. Pikiran dan hatinya mulai was-was jika Ainisha memilih meninggalkannya.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Mas, aku ikut bersedih. Mungkin semua sudah digariskan untuk kita. Lalu bagaimana rencanamu?" ucap Ainisha membaut hati Haikal lega.


"Aku, akan menjual semuanya. Apa kamu keberatan?" tanya Haikal sambil menatap Ainisha.


"Mana mungkin aku keberatan. Semua ini adalah milikmu. Aku malah tidak bisa membantu apa-apa. Apa kita harus meminta bantuan Bu Minarsih?" jawab Ainisha.


"Tidak perlu. Kamu bersedia menemaniku di saat terburuk aku, aku sudah sangat bahagia. Jangan libatkan orang lain," ucap Haikal sambil memegang tangan Ainisha.


"Kalau bukan aku yang menemanimu, siapa lagi? Aku ini istrimu. Jadi aku akan bersamamu di saat kamu kaya bahkan juga di saat kamu miskin. Kita bertiga, akan menghadapi semua ini bersama-sama," ucap Ainisha lalu memeluk suaminya.


"Terima kasih, istriku. Kamu dan Haidar adalah hartaku yang paling berharga dibandingkan semua kekayaan ini. Jika kekayaan ini hilang, aku masih bisa mencari lagi. Tetapi jika kalian yang hilang, aku tidak tahu, apakah aku masih bisa hidup atau tidak," ucap Haikal romantis.


"Kalau kami hilang, ya harus dicari, Mas. Atau peluk saja aku dan Haidar, biar tidak hilang," ucap Ainisha bercanda.


Haikal tersenyum ditengah rasa sedihnya. Ainisha memang wanita yang bisa membuatnya tetap kuat menghadapi semua kesulitan ini.


Perusahaan Haikal ternyata dibeli oleh John lewat tangan kedua. Demikian juga rumah yang Haikal tempati, juga harus ikut terjual.


Haikal sangat sedih ketika melihat Ainisha dan Haidar harus tinggal di rumah kontrakan yang sederhana. Ainisha terpaksa memecat baby sitter Haidar, dan mengasuh Haidar sendiri. Semua kemewahan telah hilang.


Hal itu membuat Haikal merasa gagal sebagai seorang suami dan ayah. Untunglah, Ainisha berasal dari keluarga biasa, jadi dia tidak merasa kaget dan tertekan saat menjalani hidup kekurangan bersama Haikal.


Sebenarnya, Bu Minarsih berniat membantu perusahaan Haikal, tetapi memang untuk bisa bangkit kembali sangatlah sulit. Membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sedangkan Bu Minarsih tidak bisa memberinya sebanyak itu. Terlebih lagi, Haikal tidak bisa menerima uang dari Bu Minarsih karena takut akan mempengaruhi perusahaan Bu Minarsih sendiri.


Kehidupan Ainisha dan Haikal sedang dalam ujian. Saat inilah, kesetiaan Ainisha di uji. Baru saja menikah dan harus hidup serba kekurangan. Haikal melarang Ainisha menerima bantuan dari siapapun karena harga dirinya yang terlalu tinggi. Sedangkan untuk makan saja, mereka mengandalkan sisa tabungan.

__ADS_1


Tama meminta izin pada Haikal, untuk tetap bekerja di perusahaan untuk menyelidiki siapa pengkhianat di perusahaan Haikal dulu. Tidak ada alasan bagi Haikal untuk melarang Tama bekerja dimanapun. Haikal melarang Tama menyelidiki, karena dia sudah ikhlas jika memang sudah takdirnya memulai dari awal lagi.


Hari itu, Ainisha membuatkan nasi goreng untuk Haikal. Haikal sempat meneteskan airmata, ketika melihat Ainisha memasak sendiri sambil menggendong Haidar. Biasanya, semuanya ada bibik yang akan melakukannya untuk mereka.


Haikal mendekati Ainisha dan mengambil Haidar dari gendongannya. Ainisha tersenyum melihat Haikal berusaha membantunya dengan mengajak Haidar bermain. Dengan begitu, Ainisha bisa lebih leluasa di dapur.


Saat mereka akan sarapan bersama, orangtua Haikal datang. Dari wajah mereka tampak raut muka kesedihan yang dalam ketika melihat Haikal. Bagaimana tidak, usaha yang di rintis Haikal sejak lama, kini hancur seketika karena ulah orang yang tidak bertanggung jawab.


Akan tetapi, mereka cukup bersimpati kepada kekuatan hati Haikal yang tetap terlihat kuat menghadapi cobaan ini. Mereka yakin jika keberadaan sosok Ainisha mampu memberikan kekuatan pada Haikal untuk tetap tegar.


"Ayah, Ibu. Ainisha membuat sarapan yang enak. Mari sarapan bersama," ajak Haikal sambil tersenyum.


Mereka menikmati sarapan bersama tanpa membicarakan apapun. Mereka sama-sama tidak ingin membuat selera makan ini hilang.


Selesai sarapan Bu Kartika membantu Ainisha mencuci piring kotor. Setelah itu mereka bergabung dengan Haikal dan ayahnya di ruang depan. Mereka mengobrol sambil bermain bersama Haidar.


"Haikal, apa rencanamu sekarang?" tanya pak Hartawan sambil menatap Haikal.


"Untuk sementara, Haikal ingin istirahat dulu. Menghabiskan waktu, bersama Ainisha dan Haidar," jawab Haikal sambil menghela napas berat.


"Ayah mengerti. Tapi, penawaran ayah untuk mengambil alih perusahaan ayah, masih terbuka. Meskipun tidak sebesar perusahaan lamamu, tapi ayah yakin jika kamu yang pegang, perusahaan ayah pasti akan lebih maju lagi. Ayah sudah tua dan pikiran ayah tidak bisa secerdas anak muda," ucap pak Hartawan merendah.


"Haikal belum terpikirkan kesana. Itu akan jadi pilihan terakhir Haikal," jawab Haikal.


"Haikal, lihat anak dan istrimu. Apa kamu tega membiarkan mereka berlama-lama hidup seperti ini?" tanya pak Hartawan sedih.


Haikal menatap sendu anak dan istrinya yang sedang bermain bersama ibunya.

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2