
Malam semakin larut. Haikal mengantar Ainisha pulang ke rumah Bu Minarsih seperti yang Ainisha inginkan. Haikal tidak berani memaksa Ainisha untuk segera kembali padanya. Karen semua memang butuh proses.
Sepanjang perjalanan, Ainisha tampak sangat sedih. Airmatanya tidak berhenti mengalir. Ingin rasanya saat bertemu ibunya, Ainisha langsung memeluknya. Tetapi, dia tidak bisa melakukan itu, karena semua harus pelan-pelan demi kesehatan ibunya.
"Ainisha, tenanglah. Aku akan pelan-pelan memberitahu ayah dan ibu. Tidak akan lama. Aku janji padamu," ucap Haikal berusaha menenangkan Ainisha.
"Aku tahu. Aku hanya kangen pada mereka," ucap Ainisha sambil menunduk sedih.
"Yakinlah, semua akan baik-baik saja," ucap Haikal lagi.
Ainisha menarik napas dalam-dalam, saat sudah sampai didepan rumah. Senyum Ainisha mengembang seolah ingin memberi angin pada Haikal, untuk mampir. Haikal membalas senyum Ainisha sambil menatap wajah Ainisha.
"Aku temani kamu masuk. Aku Takut, Bu Minarsih akan menyulitkan kamu," ucap Haikal menawarkan diri.
"Tidak perlu. Bu Minarsih, sudah tahu semua tentang kita," jawab Ainisha sambil tersenyum malu.
"Apa, jadi Bu Minarsih sudah tahu? Baiklah, aku langsung pulang saja. Ainisha, bolehkah aku ...," ucap Haikal terhenti karena dia masih ragu untuk meminta sebuah ciuman.
Ainisha hanya mengucapkan selamat malam pada Haikal. Haikal tidak bisa berharap lebih karena keadaan yang masih canggung diantara mereka. Ainisha masuk kedalam rumah, setelah mobil Haikal pergi dan tidak terlihat lagi.
Bu Minarsih tidak menanyakan apapun saat tahu, Ainisha pergi dengan Haikal. Dia tidak ingin ikut campur urusan rumah tangga Ainisha dan Haikal. Dia hanya khawatir, jika John atau Resia menyakiti Ainisha.
Beberapa hari ini, Haikal dengan gigih mencoba memberikan pengertian pada orangtua Ainisha tentang keberadaan Ainisha. Pelan tapi pasti, Haikal memberitahu mereka tentang apa yang terjadi pada Ainisha terutama tentang operasi pada wajah Ainisha.
Haikal juga tidak lupa, memberitahukan tentang cucu laki-laki mereka, yang kini sudah belajar merangkak.
Mendengar cerita Haikal, kedua orangtua Ainisha ingin sekali bertemu dengan Ainisha dan anaknya. Haikal berjanji mempertemukan mereka, selama kesehatan Bu Semi akan baik-baik saja. Bu Semi berjanji akan menjaga kesehatannya demi bisa bertemu dengan Ainisha.
Pertemuan keluarga antara Ainisha dan orangtuanya, sudah diatur Haikal di rumah sakit tempat Bu Semi biasa berobat. Hal itu Haikal lakukan, untuk menjaga segala kemungkinan yang mungkin saja akan terjadi saat mereka bertemu.
__ADS_1
Ainisha datang bersama Haidar dan mbak Sari, babi sitter Haidar. Langkah Ainisha tampak berat, karena dia sangat takut jika penyakit ibunya kambuh lagi seperti dulu. Tetapi, semua belum tentu terjadi, jadi kekhawatiran Ainisha tidak beralasan.
Perlahan, Ainisha membuka pintu sebuah ruang rawat inap tempat ayah dan ibunya sedang menunggunya. Semua mata menatap ke arah Ainisha. Ainisha melihat ayah dan ibunya bergantian.
Matanya mulai berkaca-kaca ketika sang ibu berdiri dan mendekatinya perlahan.
"Ainisha ...," ucap Bu Semi pelan.
"Ibu. Ini Ainisha, Bu," ucap Ainisha yang kemudian memeluk ibunya.
Ibu dan anak itu, saling meluapkan perasaan rindu yang selama ini terpendam. Ainisha sempat khawatir jika, ibunya akan kambuh jika melihatnya. Tetapi, dia sangat bahagia saat ibunya baik-baik saja.
Setelah cukup lama berpelukan, Bu Semi melepaskan pelukannya dan meminta Ainisha untuk menemui ayahnya. Ainisha menatap ayahnya sejenak, lalu Ainisha melangkah mendekati sang ayah dan memeluknya.
Suasana haru, menyelimuti ruang rawat inap tersebut. Kini giliran Haidar yang tampil dihadapan kakek dan neneknya. Suasana berubah penuh kegembiraan. Kehadiran Haidar di tengah-tengah mereka, menjadi obat yang tidak perlu resep dokter.
Haikal memberi kesempatan pada Ainisha dan orangtuanya untuk berkumpul dan menghabiskan waktu bersama. Sedangkan Haikal pergi ke rumah orangtuanya untuk membicarakan tentang dia dan Ainisha.
Dirumah orangtuanya, Haikal sengaja meminta ayah dan ibunya untuk bersama-sama memberikan pendapatnya tentang keputusannya untuk menikah kembali dengan Ainisha.
Didepan orang tuanya, Haikal menceritakan tentang Ainisha dan semuanya. Tetapi Haikal sama sekali tidak menyebutkan tentang Haidar didepan mereka. Haikal ingin mengetahui apakah ibunya akan menerima Ainisha dengan ikhlas karena Haikal tidak ingin, Ainisha akan kembali merasakan ketidaknyamanan menjadi menantu yang tidak diinginkan.
Awalnya, ayah dan ibunya sangat terkejut mendengar cerita Haikal. Mereka hampir tidak percaya jika Ainisha ternyata masih hidup meski dengan wajah orang lain. Mereka tampak bahagia terlebih Bu Kartika yang merasa bersalah karena menganggap kematian Ainisha karena sikapnya yang egois.
Seperti yang Haikal harapkan, ayah dan ibunya sangat mendukung keputusan Haikal untuk menikah kembali dengan Ainisha. Tidak ada kebahagiaan yang Haikal inginkan selain bisa bersama dengan istri dan anaknya.
Haikal segera menghubungi Ainisha dan memberitahukan kabar gembira tersebut pada Ainisha. Haikal juga mengatakan bahwa, orangtuanya akan secara resmi datang untuk melamar ke rumah orangtua Ainisha.
Tetapi, ada sesuatu yang mengganjal dihati Bu Kartika, karena dia sudah menyiapkan calon istri baru untuk Haikal. Putri dari sahabatnya. Bahkan Bu Kartika telah berjanji akan segera meminta Haikal untuk melamarnya karena mengira Ainisha benar-benar sudah meninggal.
__ADS_1
Bu Kartika tidak tega melihat Haikal selalu bersedih karena terus mengingat Ainisha. Jadi, dengan menikah lagi, Bu Kartika yakin Haikal akan bisa tersenyum dan bahagia lagi.
Tetapi setelah mendengar penjelasan Haikal tentang keberadaan Ainisha yang ternyata masih hidup, Bu Kartika harus memutar otak untuk membatalkan rencananya. Tidak mudah menarik kembali janjinya pada sahabatnya, karena pasti akan mempengaruhi hubungan persahabatan diantara mereka.
"Ibu, kenapa ibu tampak bingung?" tanya Haikal.
"Maafkan ibu, Haikal. Ini kesalahan ibu. Ibu sudah berjanji pada ibunya Sista untuk menikahkan Sista denganmu. Ibu sekarang bingung, ibu harus bagaimana. Aku takut mereka marah dan memutuskan persahabatan kami," jawab Bu Kartika sedih.
"Makanya, ayah pernah bilang, biar Haikal sendiri yang memutuskan jalan hidupnya. Kita sebagai orang tua hanya bisa mendukung. Ini malah kekeh ingin segera punya menantu baru. Alasannya, pingin cepet punya cucu. Hhh, nggak gitu juga kali," ucap pak Hartawan sambil tertawa mengejek istrinya yang terlihat manyun.
"Alah, Ayah juga pingin segera punya cucu. Jangan munafik, Ayah," jawab Bu Kartika dengan gaya mencibir.
"Ya, sih. Ayah nggak munafik. Tetapi masalah pernikahan, ayah tidak tidak mau gegabah. Lihat saja, Ibu. Pusing kan jadinya," ucap pak Hartawan lagi.
"Ayah, seharusnya Ayah kasih solusi. Bukannya menyindir terus, benar kan Haikal?" tanya Bu Kartika meminta dukungan Haikal.
Haikal hanya tersenyum melihat ayah dan ibunya saling berdebat santai.
"Loh, solusinya gampang. Bilang saja, Haikal mencintai orang lain, beres kan?" jawab pak Hartawan.
Bu Kartika terdiam. Memang sepertinya gampang tinggal bilang seperti itu. Tetapi, sebenarnya itu sulit untuk dilakukan.
Bersambung
Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku. Judulnya Perjuangan Seorang Anak karya Lenni Masliana Nasti.
Jangan lupa mampir ya, ceritanya keren banget ....
__ADS_1