Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 53. Mengikuti Suami


__ADS_3

Kehidupan rumah tangga Ainisha dan Haikal serasa menemui babak baru. Sebuah perbedaaan pendapat dan sebuah konflik mulai muncul diantara meraka. Meskipun akhirnya mereka bisa saling menerima dan memaafkan. Dibalik konflik tersebut ada cinta yang lebih utama dan membuat mereka saling menyadari bahwa dengan cinta, perbedaan itu bisa menjadi bumbu didalam pernikahan.


Haikal memutuskan untuk membiarkan Ainisha kembali bekerja dan dia yang akan mengalah untuk mencari pekerjaan di kota ini. Meskipun Haikal tahu, betapa sulitnya mencari pekerjaan untuk orang seperti dia. Siapa yang akan mu memperkejakan mantan pemilik perusahaan yang sudah bangkrut?


Ketika Ainisha pergi bekerja, Haikal menitipkan Haidar pada mertuanya. Sedangkan dia akan mencoba mencari pekerjaan baru. Berbekal pengalamannya dan ijazah yang dia miliki, harusnya dia akan lebih mudah mendapatkan pekerjaan.


Sementara itu, Ainisha sangat bahagia ketika Haikal menyetujui dirinya tetap bekerja di perusahaan Bu Minarsih. Meskipun Ainisha sudah mendapatkan izin dari dari Haikal, Bu Minarsih tetap mencoba membantu Ainisha untuk tetap menghormati keinginan suaminya.


"Ainisha, apa suamimu sudah benar-benar mengizinkan kamu kembali bekerja?"


"Sudah, Bu. Bahkan dia meminta maaf padaku karena telah melarang aku bekerja kemarin," jawab Ainisha.


"Bukannya ibu mau ikut campur urusan rumah tangga kalian. Memang tanggung jawab Haikal untuk membahagiakan hidup anak dan istrinya. Ketika seorang suami berjuang untuk itu, seorang istri harus mendukungnya. Ketika Haikal mengajakmu pergi, sebagai istri kamu wajib mengikuti. Kemanapun suamimu pergi," ucap Bu Minarsih sambil menatap Ainisha lembut.


"Bukannya Ainisha ingin menentang keputusan Mas Haikal bekerja di perusahaan ayahnya, tapi bagaimana dengan ayah dan ibuku?" tanya Ainisha sedih.


"Aku yakin pemikiran orangtuamu akan sama denganku. Mereka pasti ingin kehidupan yang terbaik untuk pernikahan putri mereka. Selama Haikal bisa bertanggung jawab atas hidup dan masa depan kalian, orangtuamu pasti akan mengizinkan kalian pergi. Toh kalian bisa mengunjunginya kapan saja," jawab Bu Minarsih.


Setelah mendengarkan pencerahan dari Bu Minarsih, Ainisha merasa dirinya memang sedikit egois. Terlalu keras kepala agar tetap bisa bekerja sendiri dan tidak memperhitungkan posisi Haikal sebagai kepala rumah tangga. Haikal memiliki hak yang lebih besar untuk diberi kesempatan bertanggung jawab atas dirinya dan Haidar.


Karena itu, sepulang kerja, Ainisha pergi menemui orang tuanya, di sebuah rumah makan yang ternyata cukup banyak pelanggannya. Ainisha duduk dan mengamati suasana rumah makan milik orangtuanya, yang bisa berkembang atas bantuan Haikal.

__ADS_1


"Ainisha, kenapa kamu datang kemari?" tanya sang ibu yang melihat Ainisha duduk sendirian.


"Ainisha ingin mampir dan melihat usaha ayah dan ibu," jawab Ainisha sambil tersenyum.


"Kamu mau makan?"


"Tidak, Bu. Bungkus saja untuk di rumah," jawab Ainisha.


"Suamimu tadi pagi menitipkan Haidar pada kami. Ibu sebenarnya kasihan melihat Haikal harus kesana-kemari mencaci pekerjaan. Padahal dia hanya tinggal bilang 'Ya ' pada orang tuanya maka dia bisa memimpin perusahaan milik ayahnya," ucap Bu Semi sambil menatap Ainisha sedih.


"Ibu, jika Mas Haikal bekerja di perusahaan ayahnya, berarti kami juga harus pindah. Bagaimana dengan kalian?" tanya Ainisha sedih.


"Ainisha, ketika kamu kecil, kamu adalah milik dan tanggungjawab kami. Tetapi setelah kamu menikah, kau sudah menjadi milik dan tanggung jawab suamimu. Jadi kemanapun suamimu pergi, kamu tentu harus ikut. Yakinlah ayah dan ibu akan baik-baik saja," ucap bu Semi meyakinkan Ainisha.


Setelah mendapatkan keyakinan hati dari ibunya, Ainisha segera pulang. Ainisha pulang sambil membawa nasi goreng untuk mereka makan bertiga. Ainisha berharap, belum terlambat baginya untuk membuat Haikal mempertimbangkan kembali keputusannya yang sempat kandas karena keegoisan Ainisha.


Sampai di rumah, Ainisha bergegas membersihkan diri dan berganti pakaian. Barulah dia memperlihatkan diri pada suami dan anaknya. Mereka makan dengan santai dan sambil mengobrol. Mereka menikmati kebersamaan yang sudah beberapa hari mereka rasakan semenjak perusahaan Haikal bangkrut. Ternyata dibalik musibah ada kebahagiaan yang masih tersisa untuk keluarga kecil mereka. Mereka tetap mensyukuri nikmat ini, meski sekecil apapun.


"Mas, sudah dapat kerjaan?" tanya Ainisha memulai percakapan.


"Belum. Mereka sepertinya tidak mau memperkerjakan orang seperti aku. Alasannya karena mereka tidak bisa membayar tinggi untuk orang seperti aku. Padahal sudah aku bilang, digaji betapapun aku terima. Itu pasti hanya alasan mereka untuk menolak aku. Ah, mengenaskan," jawab Haikal sedih.

__ADS_1


"Kalau begitu, kamu bisa bekerja di perusahaan ayah kamu," ucap Ainisha.


"Tidak. Untuk apa aku bekerja di sana, kalau harus jauh dari kamu dan Haidar," jawab Haikal sambil memegang tangan Ainisha.


"Kami akan ikut kemanapun mas Haikal pergi. Bagaimana mungkin, aku akan membiarkan suami tercinta aku sendirian disana dan bagaiman jika kamu direbut orang lain?"


"Memangnya aku barang, bisa jadi rebutan. Aku ini punya hati dan perasaan. Dan keduanya milik kamu. Jadi, tidak akan ada yang pernah bisa mengambil aku darimu," jawab Haikal sambil tersenyum manis.


Ainisha melihat Haikal sangat bahagia. Seperti saat dirinya bahagia mendapatkan izin untuk bekerja, kini dia yang memberikan izin pada suaminya untuk bekerja sesuai keinginan suaminya.


Malam ini, Haikal dan Ainisha mulai berkemas. Mereka telah memutuskan untuk pergi besok siang. Karena paginya mereka harus berpamitan dengan orangtua Ainisha dan Bu Minarsih. Karena bagaimanpun juga, mereka tidak akan bertemu dalam jangka waktu yang cukup lama.


Keesokan harinya, mereka bertiga pergi ke rumah orangtua Ainisha untuk berpamitan dan meminta restu agar kehidupanmu pernikahan mereka serta kondisi ekonomi mereka akan lebih baik. Doa dari orangtua akan lebih mujarab dari apapun.


Setelah dari ruang orangtuanya, Ainisha dan Haikal berpamitan kepada Bu Minarsih. Sebagai ibu kedua Ainisha, Bu Minarsih berjanji akan memberikan hadiah yang istimewa pada Ainisha dan Haikal suatu saat nanti. Meskipun Ainisha dan Haikal sangatlah penasaran, tetapi karena Bu Minarsih tidak ingin memberitahukan hadiah apakah itu, maka mereka tidak bisa memaksanya.


Ainisha dan Haikal menyewa sebuah mobil untuk pergi ke rumah orangtuanya yang jaraknya cukup jauh dari kota mereka. Perjalanan yang hampir 5 jam ini, barulah mereka sampai di rumah orangtua Haikal.


Mereka berdiri tepat di depan sebuah rumah yang cukup mewah dan besar. Haikal segera mengajak Ainisha untuk masuk ke dalam rumah. Tetapi, Ainisha berhenti di halaman rumah orangtua Haikal karena ada keraguan di hatinya. Apakah, dia akan bisa hidup bersama dengan mertuanya?


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2