
Ainisha panik, saat merasakan perutnya terasa ada yang bergerak-gerak. Ingin rasanya dia menyentuh perutnya dengan tangannya. Sayangnya, kedua tangannya masih sulit untuk di gerakkan. Ainisha tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya setelah kejadian malam itu.
Matanya menatap ke arah perutnya yang terlihat besar. Ainisha syok dan panik. Tumor. Itulah yang terpikirkan di dalam hati Ainisha. Ainisha mulai panik, apalagi saat seorang perawat datang memeriksanya karena melihat dirinya sudah sadarkan diri.
Tetapi, perawat itu tampak biasa saja dan tidak menunjukan bahwa kondisi Ainisha berbahaya. Tidak lama kemudian, datanglah seorang dokter yang juga segera memeriksa kondisi Ainisha. Disusul seorang wanita paruh baya yang tampak senang melihat Ainisha sudah sadar.
Ainisha semakin bingung dengan keadaannya. Mereka sama sekali tidak menunjukan bahwa kondisinya buruk. Setelah mendapatkan persetujuan dari dokter, kedua perawat itu mencabut alat-alat medis yang ada di tubuh Ainisha satu persatu.
Bagaimana dengan kondisi perutnya yang besar?
Sepertinya mereka semua tidak perduli dan terkesan biasa saja. Mungkin mereka menunggu Ainisha sadar, baru mereka akan melakukan operasi. Tidak berapa lama, dokter dan perawat itu pergi.
"Kamu sudah sadar? Ibu bersyukur sekali. Kamu masih diberi kesempatan untuk hidup kembali," tanya wanita itu sambil memegang tangan Ainisha.
"Apa yang terjadi?" tanya Ainisha penasaran.
"Kamu koma, selama hampir 7 bulan," jawab wanita itu.
"Koma, 7 bulan? Apakah ibu yang menyelamatkan aku?" tanya Ainisha lagi.
"Benar, panggil saja ibu Minarsih. Kamu pasti penasaran dengan apa yang terjadi padamu pasca kecelakaan itu," jawab Bu Minarsih.
Bu Minarsih mulai bercerita. Malam itu, Bu Minarsih naik mobil dan hendak pulang ke rumah setelah dari luar kota. Ditengah jalan dia melihat Ainisha yang sedang terbaring di jalan dalam keadaan pingsan.
__ADS_1
Sempat juga Bu Minarsih melihat seorang wanita berada di sana, tetapi wanita itu tidak menolong Ainisha. Bahkan wanita itu langsung pergi setelah melihat Bu Minarsih datang.
Bu Winarsih segera membawa Ainisha pergi ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya. Meskipun nyawa Ainisha bisa di selamatkan tetapi, dia dalam keadaan koma.
Ainisha ingat, siapa wanita yang dimaksud Bu Minarsih. Dia adalah Resia. Resia tidak akan mau menolong, karena dialah yang menyebabkan Ainisha kecelakaan.
Anehnya, Bu Minarsih tidak menceritakan apa yang terjadi selanjutnya, termasuk perutnya yang tiba-tiba membesar.
Karena itulah, Ainisha mempertanyakan kenapa perutnya membesar dan tidak segera di operasi.
"Bu Minarsih, apakah saya menderita tumor atau apa? Mengapa perutku membesar dan ada yang bergerak-gerak di dalamnya?" tanya Ainisha cemas.
"Tumor? Tumor apa?" tanya Bu Minarsih kaget.
"Kamu tidak perlu cemas. Itu bukan tumor atau penyakit lainnya. Tetapi, itu adalah bayi," jawab Bu Minarsih.
"Ba-bayi? Aku ... hamil? Tidak, itu tidak mungkin. Saat itu aku tidak hamil. Ini pasti ada kesalahan," kata Ainisha panik.
"Tidak hamil, kesalahan? Apa maksudmu, Nak? Saat ibu membawamu ke rumah sakit, kamu sudah dalam keadaan hamil," kata Bu Minarsih kaget , ternyata Ainisha belum mengetahui jika dirinya hamil saat kecelakaan itu terjadi.
Ainisha sangat terkejut dengan kenyataan yang sedang di hadapinya saat ini. Bukankah 7 bulan lalu, Haikal bilang bahwa kehamilannya adalah hasil rekayasanya dengan dokter yang ternyata adalah sahabat Haikal.
Jika saat itu Ainisha sudah hamil, maka ada kemungkinan dokter itu tahu yang sebenarnya terjadi pada Ainisha. Dengan perasaan masih penasaran, akhirnya Ainisha berusaha menerima semua ini dengan ikhlas.
__ADS_1
Beberapa hari kemudian, Ainisha merasakan sakit pada perutnya. Kebetulan saat itu Bu Winarsih sedang menemaninya. Bu Winarsih segera memanggil dokter yang bertanggungjawab atas kesehatan Ainisha. Setelah melalui beberapa pemeriksaan, Ainisha dinyatakan akan segera melahirkan.
Ainisha panik dan cemas, apalagi ketika sang dokter menyarankan untuk melakukan operasi karena tubuh Ainisha yang masih lemah. Ainisha mengalami dilema. Dia ingin melahirkan secara normal, apakah dokter akan mengizinkan?
Dokter berunding dengan beberapa tenaga medis lainnya menanggapi keinginan pasien. Lalu mereka mengadakan pemeriksaan sekali lagi untuk melihat perkembangan dari kondisi Ainisha.
Akhirnya diputuskan untuk melaksanakan keinginan Ainisha, melahirkan secara normal. Dengan perjuangan yang sangat berat karena dia baru saja sadar dari koma, lahirlah seorang bayi laki-laki yang sangat tampan. Ainisha memberi nama anaknya Haidar Ziyan. Dia berharap, anaknya akan menjadi seseorang pemberani tidak seperti dirinya. Tidak berani menghadapi hidup dan pasrah pada nasib. Tidak berani memperjuangkan cinta.
Kondisi bayi Ainisha sangatlah baik meski selama masa pertumbuhan di dalam rahim hanya mengandalkan asupan gizi dari makanan pengganti. Tubuhnya juga normal, tidak ada cacat sama sekali. Karena tidak ada yang memberi adzan dan iqomah pada Haidar, maka Ainisha terpaksa meminta salah satu dokter untuk melakukannya.
Ainisha menangis bahagia sekaligus sedih. Ainisha bahagia karena tanpa dia sadari sekarang dia telah menjadi seorang ibu. Dia semakin dituntut untuk bersikap dewasa dan bertanggungjawab pada Haidar, anaknya. Ainisha juga sedih, karena Haidar dilahirkan tanpa seorang ayah disampingnya. Bahkan mungkin Haidar tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu ayahnya dan memanggilnya Ayah.
Setelah kondisinya membaik, Ibu Minarsih membawa Ainisha pulang ke rumahnya. Awalnya, Ainisha menolak karena dia ingin pulang ke rumah orangtuanya. Mereka pasti sangat sedih kehilangan dirinya selama 7 bulan ini. Tetapi, akhirnya dia setuju pulang dulu kerumah Bu Minarsih untuk sementara waktu sampai Ainisha benar-benar sehat.
Sesampainya di rumah Bu Minarsih, Ainisha masuk perlahan-lahan, sementara Haidar di gendong seorang baby sitter yang sudah di sewa saat Haidar lahir. Ainisha ditunjukan kamarnya selama di rumah ini.
Bu Minarsih membiarkan Ainisha beristirahat karena kondisinya memang belum sepenuhnya pulih. Ainisha mandi dan membersihkan diri cukup lama. Karena selama koma, dia tidak pernah mandi. Ainisha lalu berganti pakaian yang sudah disiapkan oleh Bu Minarsih. Bukan pakaian baru, tetapi sangat cocok dan pas di tubuh Ainisha.
Ainisha mengeringkan rambutnya dan dia duduk di depan cermin untuk menyisir rambutnya. Tapi apa yang dia lihat di depan cermin, membuatnya terbelalak.
"Siapa, ini wajah siapa? Kenapa saat aku bercermin ada wajah dia?" gumam Ainisha panik.
Ainisha bangkit dan berjalan ke arah pintu. Dia berharap, saat bercermin lagi nanti, apa yang dilihatnya akan berubah. Ainisha kembali duduk sambil memejamkan mata. Dia berdoa sebentar untuk menghilangkan keraguan di dalam hatinya.
__ADS_1
Perlahan, dia membuka matanya. sedikit demi sedikit dan dia kembali terkejut saat mendapati wajah di dalam cermin tetap bukan wajah dia. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya selama dia sedang koma?