
Ainisha pulang dengan hati riang. Senyumnya merekah bak bunga yang baru mengembang. Semua telah kembali seperti dulu. Ainisha telah menutup masa lalu antara dia dan pak Ferdi.
Sesampainya di rumah, Ainisha bingung karena tidak melihat ibunya di rumah. Dia berusaha mencari ke seluruh rumah, tetapi ibunya tetap tidak ada. Disaat Ainisha hampir putus asa, datanglah salah seorang tetangga menghampirinya.
"Mbak Ainisha, ibu Mbak Aini ada di rumah sakit," kata Bu Sri.
"Rumah sakit, memang ibu kenapa, Bu?" tanya Ainisha panik.
"Bu Semi terkena serangan jantung," jawab Bu Sri.
"Apa, serangan jantung? Dibawa ke rumah sakit mana, Bu?" tanya Ainisha semakin panik.
"Rumah sakit Permata. Kamu juga sudah memberitahu ayahmu, pasti sekarang ayahmu juga sudah berada disana," jawab bu Sri lagi.
"Terimakasih Bu Sri, saya akan segera ke sana," kata Ainisha.
"Ibu permisi pulang dulu," kata Bu Sri yang segera pulang.
Sementara Ainisha segera pergi ke rumah sakit Permata tanpa berganti pakaian terlebih dulu. Dia pergi dengan naik ojek online agar lebih cepat sampai di sana.
Di ruang tunggu, Ainisha melihat ayahnya duduk termenung sambil memegangi kepalanya. Ainisha segera mendekatinya untuk mengetahui kondisi ibunya saat ini.
"Ayah," panggil Ainisha lalu duduk di samping ayahnya.
"Ainisha, kamu sudah datang, Nak," kata pak Harjo sambil menatap sendu Ainisha.
__ADS_1
"Ada Apa, Ayah. Kenapa Ayah tampak sedih, bagaimana kondisi ibu?" tanya Ainisha.
"Ibumu ... ibumu sedang berada di ruang ICU. Dokter mengatakan, ibumu mengalami gagal jantung. Ibumu harus secepatnya memasang alat pacu jantung yang biayanya sangat mahal," kata pak Harjo sambil menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan untuk mengimbangi sesak di dadanya.
"Berapa biayanya, Ayah?" tanya Ainisha penasaran.
"Sekitar 190 juta, bahkan mungkin bisa mencapai 200 juta lebih. Belum lagi biaya perawatan setelahnya. Biaya kontrol setiap 3 bulan sekali. Darimana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu, Aini?" tanya ayahnya sambil memegang tangan Ainisha.
"Ayah, Aini akan berusaha mencari pinjaman. Aini tidak peduli bagaimanapun caranya, Aini harus bisa mendapatkan uang untuk berobat ibu," jawab Aini.
"Aini, waktu ibumu tidak banyak. Alat itu sudah harus dipasang segera. Dokter hanya memberi waktu sampai Minggu depan. Jika kita tidak bisa mendapatkan uang 200 juta itu, ibumu bisa mati, Aini. Uang 200 juta, bukan uang yang sedikit untuk kita, orang miskin. Siapa yang akan mau meminjamkan uang sebanyak itu pada kita?" tanya pak Harjo lagi.
"Ayah, tenang saja. Ibu akan baik-baik saja. Aini yang akan mencari uang itu," jawab Aini sambil menghapus air matanya.
Ainisha dan ayahnya berjalan menuju ruang ICU dimana ibunya sedang dirawat. Sedih rasanya melihat sang ibu terbaring dengan sekujur tubuhnya di penuhi alat medis. Matanya mulai berkaca-kaca kembali setelah tadi sempat berhenti menangis.
Malam telah semakin larut. Ainisha dan sang ayah terbaring di lantai tempat tunggu pasien ICU, tanpa alas dan selimut. Hingga ada salah satu anggota keluarga pasien lain yang kasihan melihat mereka, sehingga meminjamkan tikar dan selimut untuk mereka berdua. Sehingga malam ini mereka tidak jadi kedinginan. Tidak lupa, Ainisha dan pak Harjo mengucapkan terima kasih padanya. Ternyata di zaman sekarang ini masih ada pemuda baik seperti dia.
Keesokan harinya, Ainisha mengembalikan tikar dan selimut sambil mengucapkan terimakasih. Pemuda itupun menawarkan diri untuk memberi tumpangan pada Ainisha. Tetapi, dengan halus Ainisha menolak tawaran pemuda itu.
Sebelum pulang, Ainisha memberikan ayahnya dorongan semangat untuk tetap optimis menghadapi penyakit ibunya. Harapannya untuk mendapatkan pinjaman dari tempat kerjanya, biarpun hanya sedikit dia harus mendapatkannya.
"Aini, harta kita hanya tinggal rumah yang kita tempati saja. Kamu gadaikan saja, siapa tahu kita bisa mendapatkan setidaknya 50 juta," kata pak Harjo.
"Ayah, Aini akan coba cari dengan jalan lain. Tapi kalau memang, tidak ada jalan lagi, baru kita gadaikan rumah kita."
__ADS_1
Setelah selesai berdiskusi dengan ayahnya, Ainisha akhirnya pergi dengan dengan menggunakan ojek online untuk pulang ke rumah.
Di rumah, Ainisha mandi dan segera berganti pakaian untuk segera pergi ke tempat kerjanya. Tujuannya hanya satu yaitu untuk mencari pinjaman dari tempatnya bekerja. Sebelum pergi, Ainisha mengambil sertifikat tanah untuk berjaga-jaga, jika dia hanya sedikit mendapatkan pinjaman.
Ainisha pergi dengan naik sepeda mini miliknya seperti biasa. Wajahnya yang biasanya ceria, kini tidak tampak lagi. Yang tampak hanya kesedihan yang dalam. Sesampainya di tempat kerjanya, dia langsung menemui manajernya, Pak Wira. Ainisha mengunggapkan kesulitannya pada pak Wira dan berniat meminjam uang. Tetapi jawaban pak Wira sungguh di luar dugaannya.
"Ainisha, akhir-akhir ini kamu sering kali bolos. Bahkan terakhir itu kamu tidak masuk kerja selama lebih dari seminggu. Ditambah lagi, yang bolos sehari dua hari tidak aku hitung. Maaf saja, sebenarnya aku kasihan atas musibah yang sedang kamu hadapi, tetapi aku sebagai manajer tempat ini tidak bisa memberimu pinjaman. Maaf," ucap pak Wira.
"Tapi, pak. Saya sudah bekerja disini cukup lama. Tidakkah ada sedikit saja agar saya bisa mengurangi biaya pengobatan ibu saya?" tanya Ainisha memohon.
"Maaf. Jika kamu terus memaksa, hari ini juga, kamu saya pecat," kata pak Wira mulai emosi.
"Tapi, Pak. Bapak tidak bisa seenaknya memecat saya. Saya ...," ucap Ainisha panik karena dia tidak menyangka jika usahanya mencari pinjaman, malah berakibat pemecatan.
"Sudah, Aini. Hari ini, kamu saya pecat. Silahkan tinggalkan tempat ini dan jangan harap kamu bisa bekerja di sini lagi," kata pak Wira keras.
Ainisha sudah tidak bisa lagi berkata apa-apa lagi. Dia ingin sekali memukul atasannya itu yang sudah semena-mena kepadanya. Meskipun dia memang jarang masuk kerja, tetapi setidaknya dia masih berhak mendapatkan pesangon. Tapi, Ainisha sudah terlanjur kesal.
Kini harapannya tinggal menggadaikan sertifikat rumahnya. Dia pergi menuju ke bank untuk meminjam uang. Tetapi ternyata, prosesnya memakan waktu yang cukup lama. Akhirnya Ainisha mencari informasi tentang rentenir yang bisa memberinya uang dengan cepat.
Datanglah dia ke seorang rentenir. Ainisha masih maju mundur karena dia teringat peristiwa ayahnya yang pernah terjerat hutang pada rentenir. Semua berakhir dengan buruk. Disaat dia hampir putus asa, Tama menghubunginya. Dia mengirimkan pesan singkat untuknya.
Aini, aku dengar kamu dipecat. Tawaran bos masih berlaku. Datanglah ke perusahaan. Kami menunggumu.
Ainisha seperti mendapatkan secercah harapan. Dia memasukan kembali, sertifikat tanahnya ke dalam tas. Ainisha berangkat menuju perusahaan tempat Tama bekerja. Ainisha sadar dengan semua yang terjadi. Ternyata dia tetap tidak bisa lepas dari Haikal. Dia seperti terjerat takdir dengan Haikal.
__ADS_1
Bersambung