
Ainisha terduduk lemas di depan cermin. Air bening mulai menetes di wajahnya yang tampak muram. Wajah siapa yang sedang dia pakai saat ini? Wajah ini memang cantik, tetapi bagi Ainisha, wajahnya lebih cantik lagi.
Dada Ainisha terasa sesak dan dia menarik napas berkali-kali untuk menenangkan diri. Hanya Bu Minarsih yang bisa menjawabnya. Ainisha perlahan berdiri dan berjalan keluar untuk menemui Bu Minarsih untuk meminta penjelasan.
Diluar kamar, Ainisha bertemu dengan bibik di rumah ini. Dia tampak terkejut melihat Ainisha ada didepannya.
"Non Clara, masih hidup!?" tanya Bibik kaget.
"Clara ... siapa Clara?" gumam Ainisha.
Bibik tidak menjawab, dan langsung pergi. Ainisha semakin penasaran dengan identitas barunya. Ainisha berjalan menuju ke kamar Bu Minarsih untuk memperjelas semuanya. Ainisha mengetuk pintu pelan beberapa kali sampai Bu Minarsih membuka pintu.
"Ainisha, masuklah," ucap Bu Minarsih sambil duduk di tepi ranjang.
Ainisha berjalan pelan mendekati Bu Minarsih lalu duduk disampingnya.
"Bu Minarsih, apa yang terjadi dengan wajahku? Kenapa aku menjadi orang lain?" tanya Ainisha sedih.
"Aku tahu, kamu pasti akan menanyakan ini. Begini ceritanya."
Bu Minarsih mulai bercerita. Malam itu, Bu Minarsih yang baru pulang kerja, melihat Ainisha tergeletak di tengah jalan. Terlihat dari jauh ada seseorang yang ada disana. Tetapi dia pergi saat mobil Bu Minarsih berhenti disana.
Kondisi Ainisha saat sangat menyedihkan dengan benyak luka di wajahnya. Bu Minarsih panik dan segera meminta pak Kodir, sopir pribadinya membawa Ainisha ke rumah sakit.
Tetapi menurut dokter, luka di wajah di wajah Ainisha, bukan hanya luka karena kecelakaan. Tetapi, ada bekas senjata tajam berupa goresan-goresan yang membuat dokter memutuskan untuk melakukan operasi plastik. Karena bu Minarsih tidak tahu wajah asli Ainisha, maka terpaksa menggunakan wajah putrinya yang sudah meninggal.
"Maafkan aku, Ainisha. Aku melakukan itu tanpa meminta izin padamu terlebih dahulu. Aku hanya memikirkan keselamatanmu, itu saja," ucap Bu Minarsih merasa bersalah.
"Ainisha mengerti, semua ini demi Ainisha. Terima kasih, Bu Minarsih. Tapi bagaimana Ainisha akan kembali jika wajah Ainisha seperti ini. Mereka tidak akan mengenali Ainisha lagi sebagai putri mereka," ucap Ainisha cemas.
"Ainisha. Menurutku, jelaskan pelan-pelan, mereka pasti akan mengerti," ucap bu Minarsih sedih.
__ADS_1
"Kenapa Anda terlihat sedih. Apakah aku mengingatkan Bu Minarsih dengan putri Anda?" tanya Ainisha curiga.
Bu Minarsih kembali bercerita. Tetapi kali ini, dia bercerita tentang putrinya yang sudah meninggal. Namanya Clara.
Sejak Bu Minarsih bercerai, Clara tumbuh menjadi anak yang sulit dinasehati. Dia suka bertindak semaunya, tanpa peduli akibatnya.
Suatu hari Clara dinyatakan hamil dan Bu Minarsih meminta Clara untuk mengatakan siapa ayah dari bayi yang dikandungnya. Dia hanya mengatakan bahwa ayah dari bayinya adalah kekasihnya. Namanya John.
Bu Minarsih akan menemui John untuk meminta pertanggungjawaban atas kehamilan putrinya, tetapi Clara tidak mau ibunya ikut campur. Clara sendiri yang akan bicara pada John.
Pada akhirnya, John menolak bertanggungjawab dan membuat Clara patah hati. Hingga mengalami tekanan batin. Bu Minarsih membawanya pergi keluar negeri, berharap Clara akan bisa melupakan John dan semua masalahnya.
Sayangnya harapan itu tidak terwujud, bahkan malah membuat Clara semakin tertekan. Clara bunuh diri karena overdosis obat tidur. Bu Minarsih sangat sedih, apalagi Clara meninggal bersama bayi yang di kandungnya.
Bu Minarsih menyimpan dendam pada John saat kembali ke Indonesia dan mendapati John bahagia bersama kekasihnya. Tetapi tidak ada yang bisa Bu Minarsih lakukan untuk bisa membalaskan dendamnya.
Bu Minarsih menunjukan sebuah foto pada Ainisha. Foto seorang pria yang pernah Ainisha lihat. Sosok pria yang pernah membuatnya ketakutan dan hampir putus asa. Pria itu adalah John, teman prianya Resia. Dunia memang terlalu sempit. Ainisha harus berurusan dengan Resia dan John kembali.
Timbul rasa kasihan di hati Ainisha pada Bu Minarsih. Putri satu-satunya meninggal karena bunuh diri. Timbul juga keinginan Ainisha untuk membalas kebaikan Bu Minarsih. Membalaskan dendam Bu Minarsih pada Resia dan John.
"Ibu, mulai sekarang, Ainisha akan menjadi Clara, putrimu. Aku akan membalaskan dendam ibu dan Clara. Aku akan membuat hidup John dan kekasihnya hancur berantakan," ucap Ainisha penuh dendam.
"Ainisha, ibu tidak ingin kamu mengorbankan hidupmu untuk membalaskan dendam kami," ucap Bu Minarsih sedih.
"Ibu, ibu tahu siapa wanita yang merusak wajahku? Ada kemungkinan dia adalah Resia kekasih John. Jadi, dendam kita pada orang yang sama, yaitu kedua orang ini," ucap Ainisha sambil menatap Bu Minarsih.
"Tapi, bagaimana dengan keluargamu?"
"Setelah dendamku terbalaskan, aku akan mengaku kepada kedua orangtuaku," Ucap Ainisha sambil menghela napas.
Sejak hari itu, Ainisha mulai menjalani hidup sebagai Clara, putri Bu Minarsih. Menjalani hari-harinya bersama sang putera kecilnya sampai dia merasa sehat kembali.
__ADS_1
Ainisha kini mulai rindu pada orangtuanya yang sudah lama di tinggalkan. Dia ingin sekali melihat bagaimana kondisi orangtuanya saat ini. Ainisha akhirnya meminta izin pada Bu Minarsih untuk menjenguk orangtuanya.
Dengan diantar pak Kodir, Ainisha pergi ke rumah orangtuanya. Mobil berhenti di depan rumah orangtua Ainisha. Ainisha melangkah perlahan menuju ke arah pintu masuk. Saat akan mengetuk pintu, pintu sudah terbuka terlebih dahulu. Dihadapannya tampak ibu dan ayahnya sedang membawa bahan-bahan makanan. Ainisha kaget, demikian juga dengan ayah dan ibunya.
"Mbak ini mau cari siapa?" tanya Ibunya dengan nada lembut seperti biasanya.
"Mencari Ibu dan Ayah," jawab Ainisha spontan dan langsung memeluk ibunya.
Ibunya sangat kaget karena ada seorang wanita yang menganggapnya ibu.
"Mbak, maaf. Mbak ini siapa?" tanya Bu Semi sambil melepaskan pelukan Ainisha.
Ainisha lupa jika sekarang wajahnya telah berubah. Dia tidak bisa seenaknya mengaku sebagai Ainisha, karena mereka pasti tidak akan percaya.
"Maaf, Bu. Saya temannya Ainisha. Apakah saya bisa bertemu dengannya?" tanya Ainisha berpura-pura.
"Kamu temannya Ainisha?" tanya Bu Semi terlihat panik.
"Benar, saya teman waktu di SMA dulu," jawab Ainisha.
"Ainisha ... Ainisha ...."
Bu Semi tiba-tiba memegang dadanya yang tidak lam kemudian tubuhnya lemas dan dia jatuh pingsan. Pak Harjo panik, lalu menggendong tubuh Bu Semi keluar.
"Pak mau dibawa kemana?" tanya Ainisha ikut panik.
"Rumah sakit," jawab pak Harjo singkat.
"Saya bawa mobil. Ada di gang depan," ucap Ainisha bertambah panik.
Pak Harjo berlari membawa tubuh istrinya menuju mobil Ainisha. Pak Kodir membantu memasukkan Bu Semi kedalam mobil. Pak Harjo duduk di belakang menemani Bu Semi.
__ADS_1
Timbul penyesalan di hati Ainisha yang telah menyebabkan ibunya masuk rumah sakit. Andai saja hari ini dia tidak datang. Sebegitu sedih ibunya mendengar nama Ainisha.
Bersambung