Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 41. Menjadi tangan untuknya


__ADS_3

Haikal merintih pelan, ketika seorang dokter mulai membersihkan lukanya. Meskipun Haikal sebenarnya ingin menunjukan pada Ainisha, kalau dirinya tidak akan terpengaruh dengan luka sekecil itu. Tetapi, akal liciknya malah ingin terlihat bahwa luka yang di alaminya cukup parah.


Ainisha ikut merasakan sakit, ketika Haikal meringis kesakitan. Ingin rasanya dia memegang erat tangan Haikal untuk menguatkannya. Sayangnya, rasa takut menjelaskan membuatnya berpikir dua kali.


Selesai dari rumah sakit, Ainisha menemani Haikal beristirahat sebentar diruang tunggu sambil menunggu obat. Mereka agak canggung satu sama lain. Sesekali Haikal melihat kearah wajah Ainisha yang terlihat cemas. Haikal semakin yakin, jika wanita didepannya adalah Ainisha.


Waktu itu, sudah saatnya makan siang. Ainisha mengajak Haikal pergi untuk makan siang di kantin rumah sakit. Ainisha memesan makanan dan minuman dua porsi. Sambil menunggu pesanan datang, Ainisha dan Haikal duduk di pojok ruangan dekat jendela.


Setelah pesanan datang, Ainisha mempersilahkan Haikal makan. Haikal tidak menjawab dan langsung berusaha mengangkat tangannya untuk mencoba mengambil sendok. Akan tetapi, rasa nyeri dan sakit, membuatnya berhenti berusaha.


Ainisha menarik napas panjang, karena menyadari jika Haikal tidak bisa makan sendiri. Dengan agak canggung, Ainisha duduk didekat Haikal dan menyuapinya. Awalnya, Haikal juga agak canggung. Akan tetapi, ketika menyadari jika wanita yang didekatnya ada kemungkinan istrinya, Haikal menikmati moment bahagia ini dengan senang hati.


Ainisha yang awalnya canggung, karena takut Haikal akan menolaknya, kini menjadi lega dan mulai terbiasa setelah melihat reaksi Haikal. Terlepas dari kekhawatiran tentang wajahnya, Ainisha juga berusaha menikmati moment bahagia ini.


Selesai makan, Haikal dan Ainisha memutuskan untuk pulang, tetapi karena tangan Haikal sedang sakit dan Ainisha tidak berani menyetir jarak jauh, mereka berunding, apa yang akan mereka lakukan.


"Kita mencari tempat beristirahat untuk sementara, sampai aku bisa menghubungi asistenku untuk menjemput kita disini," ucap Haikal memberikan ide.


"Mencari tempat beristirahat sementara, maksudmu?" tanya Ainisha bingung.


"Kita cari hotel atau losmen terdekat. Tapi, jangan salah paham dulu. Aku tidak bermaksud lain," jawab Haikal tiba-tiba panik.


"Tidak, aku tidak salah paham. Aku tahu kamu bukan orang seperti itu," ucap Ainisha sambil tersenyum.


"Darimana kamu tahu?" tanya Haikal ingin tahu jawaban Ainisha.


Ainisha hanya menggelengkan kepalanya dan tidak mau menjawab pertanyaan Haikal.


Haikal agak kecewa, tetapi dia cukup senang karena Ainisha bersedia menginap di hotel. Hotel yang tidak jauh dari rumah sakit tempat Haikal berobat.


Sampai disana, ternyata kamar hotel telah penuh dan hanya tersisa satu kamar. Mau tidak mau dan terpaksa, Ainisha bersedia satu kamar dengan Haikal. Karena mereka hanya beristirahat sebentar, bagi Ainisha tidak masalah.

__ADS_1


Mereka berjalan menuju ke kamar yang ternyata cukup luas. Ainisha langsung mandi karena badannya terasa lengket. Sedangkan Haikal duduk bersandar di ranjang sambil mengingat saat bercumbu dengan Ainisha, istrinya.


Bayangan Ainisha membangunkan gairahnya yang lama tertidur. Napas Haikal mulai tidak beraturan. Dadanya naik turun menahan hasratnya yang lama terpendam.


Apalagi, saat melihat Ainisha keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Hatinya berdesir dan hampir dia tidak dapat menahan semuanya. Wajah Clara berubah menjadi Ainisha dan seolah menggodanya.


Haikal menggigit bibirnya, menahan hasratnya yang tidak tersalurkan. Haikal menyadari bahwa dia harus bersabar sebentar lagi, sampai saat dia benar-benar yakin bahwa wanita yang ada dihadapannya adalah istrinya.


Ainisha duduk diatas kursi sambil bercermin dan dia mulai menyisir rambutnya yang panjang.


"Pak Haikal, mandilah. Saya sudah selesai," ucap Ainisha.


"Keadaan aku seperti ini, mana bisa mandi kalau tidak ada yang bantu," jawab Haikal agak gugup karena dia masih tenggelam dengan bayangan istrinya.


Ainisha tertegun, dia lupa jika saat ini tangan Haikal sedang sakit. Demi kemanusiaan, dia harus membantu Haikal. Lagipula, halal baginya melihat tubuh Haikal.


"Mau saya bantu?" tanya Ainisha sambil berbalik badan.


Senyuman malu-malu Haikal terlihat jelas saat Ainisha menawarkan diri membantunya. Haikal agak sedikit syok karena, mana ada seorang wanita bersedia membantu seorang laki-laki yang bukan muhrimnya, mandi.


"Boleh, asal kamu tidak keberatan," ucap Haikal kemudian.


"Nggak ah kalau mandi. Aku bantu kamu cuci muka aja. Oke?" ucap Ainisha disambut tawa Haikal.


"Tidak perlu. Kamu istirahat saja. Sebentar lagi, asistenku datang," ucap Haikal sambil menatap Ainisha lembut.


"Kak Tama?" ucap Ainisha spontan.


Ucapan Ainisha itu, membuat jantung Haikal semakin kencang berdetak. Pasalnya, Haikal tidak pernah mengatakan siapa nama asistennya. Bahkan, mereka tidak pernah bertemu meskipun Haikal dan Ainisha bekerja sama.


Ainisha tidak menyadari jika Haikal semakin yakin bahwa perempuan didepannya adalah istrinya. Haikal tidak bisa bertanya lagi karena Tama datang dan segera membawa mereka pulang.

__ADS_1


Keesokan harinya, sidang pertama antara John dan Ainisha tengah berlangsung. Pengadilan memberi mereka kesempatan untuk berdialog dan berunding untuk mencari jalan terbaik. Perdebatan antara pengacara Ainisha dan pengacara John berlangsung sengit.


Sementara Ainisha hanya diam mendengarkan sambil berusaha mencari jalan agar John mundur. Tibalah pada kesimpulan dan pilihan. Ainisha menikah dengan John atau Ainisha segera menikah dan John akan mundur.


Ternyata, John sangat percaya diri bahwa Ainisha akan memilih menikah dengan John demi Haidar. Apalagi, Clara sangat mencintainya, dan John yakin jika sampai saat ini, Clara masih mencintainya.


Apa yang dipikirkan Ainisha saat ini, hanyalah agar dia dan Haidar bisa lepas dari John. Ainisha menata hatinya untuk segera mengungkapkan semuanya hari ini. Tetapi, Ainisha tidak menyangka jika Haikal akan muncul dan bersikap sebagai pahlawan.


"Aku adalah calon suaminya," ucap Haikal mengagetkan semua yang ada di ruangan tersebut. "Kami akan segera menikah."


"Apa, kalian akan menikah? Haikal, bukankah kamu sangat mencintai Ainisha istrimu?" tanya John kaget dan emosi.


"Kamu benar, aku sangat mencintai istrimu. Tetapi, dia pasti akan mengerti bahwa aku juga membutuhkan seseorang yang akan menemaniku," jawab Haikal.


Ainisha tidak mampu berkata-kata. Bibirnya terasa kelu dan matanya berkaca-kaca. Suaminya akan menikahi Clara dan dia sudah melupakan Ainisha. Dia tidak tahu, harus senang atau sedih mendengarnya.


Tetapi yang pasti, akhirnya gugatan John gugur sampai di sini. Terlihat kekecewaan yang sangat dalam diwajahnya dan rasa marah pada Haikal karena telah merusak rencananya. Dan sesuai perjanjian, John harus merelakan Haidar hidup bersama Ainisha.


John dan pengacaranya bergegas pergi. Terapi sebelum pergi, John berkata lantang.


"Aku tunggu undangan pernikahan kalian, atau aku akan kembali untuk mengambil Haidar secara paksa," ancam John dengan sorot mata tajam.


Ainisha dan Haikal saling berpandangan. Haikal tersenyum mengiyakan, sedangkan Ainisha tampak kesal dengan Haikal.


Ainisha meninggalkan Haikal bersama pengacaranya tanpa berkata apa-apa. Hal itu membuat Haikal menjadi kecewa. Haikal lalu pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan hasil dari tes DNA yang dia lakukan beberapa waktu lalu. Dirinya sudah tidak sabar ingin mengetahui kebenarannya.


Tunggu sampai hasil tes DNA keluar. Aku akan membuat kamu berkata 'ya' untuk menikah denganku. Karena hasil tes DNA itu, akan membuktikan bahwa kamu adalah istriku. Tempatmu adalah di sampingku bersama anak-anakku. Tidak akan ada lagi kesempatan bagimu untuk menghindari ku seperti saat ini. Karena aku akan mengikatmu, di hatiku, batin Haikal.


Bersambung


Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku. Judulnya Suamiku Bukan Milikku karya Zafa.

__ADS_1


Jangan lupa mampir ya ...



__ADS_2