
Suasana hati Ainisha masih diliputi kegelisahan. Bagaimanpun juga, berada ditempat itu, akan membuatnya menangis. Kenangan yang tidak akan mungkin bisa Ainisha lupakan. Juga tidak akan mungkin bisa terulang kembali.
Ainisha menarik napas panjang sambil merebahkan dirinya di jok belakang. Taksi yang tumpanginya melaju lancar di jalanan yang tidak terlalu ramai. Perjalanan yang cukup membuat Ainisha melihat betapa dia masih merindukan Haikal.
Seharusnya, Ainisha senang karena hari ini, pria yang dia cintai akan kembali membicarakan pernikahan dengannya. Baik sebagai Alisha, Ainisha ataupun Clara, Haikal tetap suaminya.
Setelah perjalanan hampir setengah jam, sampailah Ainisha di Cafe. Ainisha turun dengan hati berdebar-debar dan jantung yang berdetak kencang. Pertemuannya kali ini dengan Haikal, entah akan seperti apa.
Ainisha berjalan perlahan, memasuki pintu Cafe yang terbuka. Baru selangkah dia masuk, terdengar alunan musik yang terdengar begitu familiar di telinganya. Lagu yang pernah Ainisha nyanyikan saat dia mendekati Haikal.
Dari arah panggung, terdengar suara seorang wanita sedang memandu, untuk menyanyikan lagu tersebut.
"Selamat sore semuanya, Lagi ini request dari seseorang yang tidak ingin disebut namanya. Rasa rindu dan cinta yang tersimpan, semoga bisa terwakilkan dengan lagu ini. Mbak cantik yang baru masuk, bersediakah menyanyikan lagu ini untuk yang sedang kangen?" ucap wanita yang ternyata seorang penyanyi Cafe ini.
Ainisha tersenyum, setidaknya lagu ini akan membuatnya mengenang masa lalu. Dan dia akan menikmatinya sebelum bertemu Haikal. Ainisha lalu berjalan menuju ke atas panggung dan mengambil mic dari tangan sang penyanyi.
Lagu 'My heart Will Go On' mulai di nyanyikan oleh Ainisha. Sama persis seperti waktu dia menjadi Alisha. Matanya terpejam membayangkan saat Haikal duduk dihadapannya.
Setelah beberapa saat, Ainisha membuka matanya dan jantungnya seakan berhenti berdetak. Haikal duduk di kursi yang sama. Tapi kali ini, dia sendirian. Senyumnya masih sama seperti dulu. Senyum termanisnya yang membuat Ainisha semakin ingin berteriak histeris.
Ainisha hampir tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Baginya, ini seperti mimpi. Ainisha kembali melanjutkan lagunya sambil kembali memejamkan mata. Dia yakin semua ini akan hilang, begitu lagunya selesai.
Menikmati alunan musik dan lagu, hingga sampai menimbulkan halusinasi, cukup membuat Ainisha bahagia. Biarpun tidak nyata, tetap dia merasa bahagia karena dia seperti mengulang kembali kisahnya dimasa lalu.
Musik dan lagu yang dinyanyikan Ainisha hampir berakhir. Ainisha kembali membuka matanya untuk untuk kedua kalinya. Ainisha yakin, semua akan kembali seperti semula. Tetapi, saat Ainisha membuka mata, Haikal masih duduk ditempat yang sama.
Mungkin ini mimpi yang nyata, batinnya.
Ainisha kemudian turun dari atas panggung dan mendekati Haikal. Haikal berdiri sambil tersenyum untuk menyambut Ainisha. Saat Ainisha berjalan semakin dekat, sebuah spanduk bertuliskan selamat ulang tahun untuk Ainisha, turun tepat di depan Ainisha. Ainisha berhenti dan tertegun.
Hati Ainisha terharu melihat semua ini. Apalagi, saat Haikal muncul dari balik spanduk sambil membawa seikat bunga mawar di tangannya. Ainisha tak kuasa menahan air mata yang tiba-tiba menetes. Ainisha yang tidak pernah merayakan ulang tahun, semakin merasa tersanjung. Haikal ternyata masih mengingat hari ulang tahunnya.
__ADS_1
"Selamat ulang tahun, Ainisha," ucap Haikal sambil menyerahkan seikat bunga pada Ainisha.
Ainisha menerima bunga dan ucapan selamat dari Haikal. Ainisha pun terbuai dengan pelukan Haikal yang sangat dirindukannya.
"Ainisha," bisik Haikal.
Ainisha yang menyadari bahwa saat ini, dia sudah masuk dalam jebakan Haikal, memukul dada Haikal. Haikal berpura-pura kesakitan dan membuat Ainisha menyesal.
"Maafkan aku, Pak Haikal tidak apa-apa?" ucap Ainisha masih mengikuti gayanya sebagai Clara.
"Pak Haikal, kenapa tidak bisa lebih mesra lagi?" tanya Haikal kecewa.
"Darimana kamu tahu kalau aku , Ainisha?" tanya Ainisha sambil duduk.
"Banyak. Tapi yang paling penting adalah DNA Haidar," jawab Haikal sambil ikut duduk di samping Ainisha.
"Tes DNA, kapan?" tanya Ainisha kaget.
"Hasilnya baru tadi siang keluar. Kalau kapan aku ambil sampelnya, rahasia," jawab Haikal sambil tersenyum.
Selesai bercerita, Haikal memeluk Ainisha erat-erat, seolah tidak ingin berpisah lagi. Saat itu juga, Haikal melamar Ainisha untuk diajaknya menikah lagi. Haikal ingin memberikan pernikahan yang sempurna untuk Ainisha.
Ainisha sangat bahagia, akan tetapi, saat ini masih ada hal-hal yang harus Ainisha lakukan. Ainisha harus memberitahu orangtuanya tentang keberadaannya. Barulah, dia bersedia menikah dengan Haikal. Termasuk juga, restu dari orangtua Haikal yang selama ini tidak bisa menerima kehadirannya disisi Haikal.
Haikal menyetujui semua keinginan Ainisha, bahkan dia yang akan membantu Ainisha bicara pada orangtuanya.
Untuk mempercepat waktu, Haikal mengajak Ainisha dengan segera pergi menemui orangtua Ainisha. Pertemuan yang kedua sejak wajah Ainisha berubah. Kali ini Ainisha akan lebih berhati-hati dalam berbicara agar ibunya tidak akan masuk rumah sakit lagi. Ainisha menyerahkan semuanya pada Haikal.
"Ayah, ibu. Malam ini, Haikal ingin memperkenalkan calon istri Haikal," ucap Haikal mengawali pembicaraan.
"Sepertinya, kami pernah bertemu. Tapi dimana?" tanya Bu Semi.
__ADS_1
"Ayah ingat, dia adalah teman sekolah Ainisha. Benar begitu, bukan?" tanya pak Harjo yakin.
"Benar," jawab Ainisha singkat.
"Nak Haikal, Ayah sudah mendengar jika kamu berniat menikah lagi. Kami sudah berunding dan mengikhlaskan Nak Haikal melanjutkan hidup dengan wanita lain," ucap Pak Harjo pelan.
"Nak Haikal tidak perlu khawatir dengan kami. Kami sudah terlalu lama merepotkan Nak Haikal. Kami sangat berterima kasih atas semua yang sudah kamu berikan pada kami. Mulai sekarang, kamu tidak boleh lagi mengutamakan kami. Keluarga barumu harus kamu utamakan," ucap bu Semi lemah.
"Haikal mengerti. Ayah, Ibu. Jika Ainisha saat ini ada disini, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Haikal sedikit memancing reaksi mertuanya.
"Ibu kangen. Ibu pasti akan memeluk dan menciumnya. Mengajaknya tidur di ranjang yang pernah kita tempati berdua," jawab Bu Semi sambil tersenyum. Karena Bu Semi mengira semua tidak akan terjadi.
"Ayah hanya ingin bertanya, kenapa dia begitu cepat meninggalkan kami," jawab pak Harjo sambil mengusap butiran airmata yang menetes.
Ainisha menunduk mendengar ucapan kedua orangtuanya. Ainisha juga kangen ingin bersama sang ibu.
"Bagiamana jika Ainisha masih hidup?" ucap Haikal sambil menatap kedua mertuanya.
"Bagaimana mungkin orang mati bisa hidup kembali," jawab Pak Harjo.
"Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan berkehendak," ucap Haikal serius.
"Benar sekali, Nak Haikal. Kami juga berharap Ainisha masih hidup," ucap pak Harjo.
"Anggap saja, wanita yang ada didepan kalian ini adalah Ainisha. Siapa tahu, semua akan menjadi kenyataan," ucap Haikal serius.
Pak Harjo dan Bu Semi saling berpandangan. Mereka tidak mengerti apa yang sebenarnya Haikal maksudkan.
Bersambung
Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku. Judulnya Suami Kedua karya Biggest.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ya ...