Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 27. Paket dari Resia


__ADS_3

"Apa, cerai?" pekik Ainisha.


"Kenapa kamu kaget? Bukankah itu lebih baik agar kamu tidak akan terus terikat denganku?" tanya Haikal kesal


"Ya, kamu benar," gumam Ainisha.


Haikal semakin kesal karena Ainisha tidak ada inisiatif sama sekali untuk jujur padanya. Kalau dia mau jujur, aku pasti akan menerimamu sebagai istriku, Ainisha, batin Haikal.


Tetapi, semua itu tidak akan terjadi, karena Ainisha lebih memilih untuk menyembunyikan semua dari Haikal.


Esok siangnya, sebuah paket datang dengan alamat pengirim dari Resia untuk Haikal. Bu Kartika penasaran, dengan isi paket tersebut dan menyimpannya sampai Haikal pulang kerja nanti. Tetapi rasa ingin tahunya mengalahkan segalanya.


Bu Kartika akhirnya membuka isi dari paket tersebut. Betapa kaget dan marahnya dia, mengetahui kebenaran bahwa tentang menantunya, Alisha.


Bu Kartika berusaha bersabar dan menunggu Haikal pulang kerja. Bu Kartika ingin membicarakan semua ini pada Haikal. Saat Haikal pulang kerja, Bu Kartika menunggu hingga Haikal mandi dan berganti pakaian.


Setelah Haikal tampak santai, dia menyerahkan paket yang diterimanya tadi siang pada Haikal.


Haikal terdiam karena dia tidak tahu apa isi dari paket tersebut. Meskipun Haikal mulai curiga hal ini menyangkut siapa Alisha, tetapi Haikal masih harus membukanya dihadapan ibunya. Dengan hati tenang, Haikal membuka isi paket tersebut.


Saat dia tahu apa isi dari paket tersebut, Haikal berusaha untuk menyembunyikannya dari ibunya. Haikal tidak tahu jika ibunya sudah melihatnya.


"Haikal, kamu tidak perlu berusaha menyembunyikannya. Karena ibu sudah melihatnya. Apa benar isi dari kiriman Resia? Jika itu benar, kenapa kamu tidak marah, atau jangan-jangan, kamu sudah tahu tentang Alisha?" tanya Bu Kartika marah.


"Ibu, Semua ini tidak benar. Resia pasti hanya ingin merusak kebahagiaan kita. Mana mungkin Alisha berbohong dan mempermainkan keluarga kita?" jawab Haikal berusaha agar ibunya tidak marah.


"Kalau begitu, tanya dia. Agar kita tahu apa yang sebenarnya," kata Bu Kartika kesal.

__ADS_1


Haikal tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tapi bukti tindakan Alisha memang semua sudah terlihat jelas. Haikal memanggil Ainisha di kamarnya. Ainisha turun dengan hati tidak tenang karena tadi dia sempat mendengar suara keras dari Bu Kartika.


Alisha dan Haikal duduk diatas sofa dihadapan Bu Kartika.


"Alisha, jelaskan ini pada kami!" perintah Bu Kartika sambil menyerahkan paket dari Resia padanya.


Ainisha mengambil paket dari tangan Bu Kartika. Tangannya bergetar dan hatinya berdebar-debar karena takut. Di bukanya isi paket dari Resia yang ternyata berisi dokumen perjanjian antara Ainisha dan pak Ferdi, serta bukti-bukti tentang kebohongan dan siasat Ainisha dalam mendekati Haikal. Wajah Ainisha berubah pucat pasi dan tubuhnya terasa lemas. Dia tidak bisa berkata-kata lagi.


"Alisha, oh aku lupa. Nama kamu Ainisha. Cepat jelaskan pada kami tentang semua ini. Atau kami akan menuntut kamu karena kamu sudah melakukan sabotase pada mobil Haikal. Masih untung, tidak terjadi sesuatu yang buruk. Jika itu terjadi, aku tidak akan pernah memaafkan kamu," gertak Bu Kartika dengan hati marah.


"Ainisha, katakan saja itu tidak benar. Kamu tidak mungkin akan melakukan itu," kata Haikal berusaha membuat Ainisha tidak mengaku. Karena Haikal tahu pasti jika ibunya tidak akan pernah memaafkan orang yang berbohong apalagi mempermainkan keluarganya.


Ainisha sudah kepalang basah. Semua sepertinya sudah saatnya terbongkar. Mungkin ini lebih baik, daripada dia harus menyimpan dosa seumur hidupnya.


"Semua yang dikatakan Resia benar. Semua bukti yang dikirim Resia juga semua benar. Saya minta maaf pada Ibu Kartika dan juga pada pak Haikal serta seluruh keluarga besar kalian. Tapi, saya mohon, jangan libatkan keluarga saya. Saat ini ibu saya sedang sakit dan baru selesai operasi. Beliau butuh ketenangan," kata Ainisha sambil duduk bersimpuh di depan bu Kartika.


"Apa, jadi semua ini benar? Kamu mendekati Haikal hany untuk uang, kamu menikah bukan karena kamu mencintai Haikal. Pasti kamu juga berpura-pura hamil ?" tanya Bu Kartika sambil mengibaskan tangan Ainisha. Bu Kartika menolak permohonan maaf Ainisha.


"Apa, Haikal. Kamu juga ...."


Tidak sanggup meneruskan ucapannya, Bu Kartika tiba-tiba pingsan. Mungkin dia syok saat tahu, Haikal juga ikut terpengaruh dan terlibat kebohongan Ainisha.


"Ibu ...!" teriak Haikal yang segera membopong ibunya dan dibawanya ke rumah sakit. Ainisha berlari mengikutinya dan berdiri di samping mobil Haikal.


"Kenapa berdiri saja, ayo masuk dan pegangi ibu agar tidak jatuh," kata Haikal panik.


Ainisha duduk di jok belakang sambil memangku kepala Bu Kartika yang sedang pingsan. Ainisha merasa bersalah atas semua yang sudah terjadi pada Bu Kartika.

__ADS_1


Setelah perjalanan sekita 15 menit, sampailah mereka di rumah sakit terdekat.


Para medis segera membawa Bu Kartika masuk untuk segera dilakukan pemeriksaan. Haikal dan Ainisha menunggu dengan hati was-was dan cemas. Haikal berjalan mondar-mandir di hadapan Ainisha sementara Ainisha duduk menyesali semua yang telah terjadi. Menyesali perbuatannya yang buruk dan telah menyakiti orang lain.


Tidak berapa lama, datanglah salah seorang dokter yang menangani Bu Kartika.


"Dokter, bagaimana kondisi ibu saya?" tanya Haikal panik.


"Anda keluarga pasien?"


"Benar, Dokter. Saya anaknya," jawab Haikal.


"Begini, ibu anda hanya syok saja. Sepertinya ada hal yang membuat pasien mengalami tekanan. Memang ada sedikit masalah dengan jantung pasien. Jadi kami berharap, keluarga bisa menjaga emosi dan mengontrol perasaan pasien agar tidak merasa tertekan. Kami khawatir jika pasien mengalami tekanan emosi yang tinggi, itu akan membuat jantung pasien semakin bereaksi. Bisa-bisa, ibu anda mengalami serangan jantung mendadak," jelas dokter yang membuat Haikal sedih.


"Baik dokter, kami akan menjaga ibu dengan baik," jawab Haikal agak lega.


"Baik, saya permisi dulu. Selamat siang," ucap dokter tersebut lalu pergi.


Sesaat kemudian, Bu Kartika dipindahkan ke ruang rawat inap. Setelah tersadar, bu Kartika menjadi emosi dan marah saat melihat Ainisha ada di dalam ruang tempatnya dirawat.


"Kamu, pergi! Aku tidak ingin melihat wajah wanita jahat itu," teriak Bu Kartika penuh emosi.


"Tenang ibu, ibu tidak boleh terlalu emosi. Aku akan memintanya pergi. Ibu tenang, ya?" kata Haikal berusaha membuat ibunya tenang.


Haikal mendekati Ainisha yang berdiri dipojok ruangan dalam kondisi ketakutan akan kesalahannya.


"Ainisha, kamu keluar dulu. Setelah ibu tenang, kita akan meminta maaf bersama-sama. Ibu pasti akan memaafkan kita," kata Haikal lembut.

__ADS_1


Ainisha hanya bisa mengangguk pelan dan dia langsung keluar tanpa sepatah katapun. Matanya berkaca-kaca menahan tangis. Dia duduk di luar hingga malam menjelang. Saat itu Haikal hendak keluar mencari makan, karena perutnya terasa lapar. Dia terkejut saat melihat pemandangan yang sangat miris dan membuatnya sedih.


Bersambung


__ADS_2