
Ainisha kaget, saat melihat Resia masih berdiri di depan pintu. Bukannya tadi dia sudah pergi?
Tidak hanya Ainisha yang kaget, John juga sangat kaget karena keberadaan Ainisha di rumah ini sudah ketahuan oleh Resia. Resia tersenyum sinis melihat kepanikan John.
"Resia, kenapa kamu masih di sini?" tanya John panik.
"Karena ... aku penasaran. Aku ingin tahu kenapa kamu terlihat gugup tadi di depanku. Ternyata, kamu menyembunyikan pelakor itu di rumahmu," jawab Resia sambil tersenyum sinis.
"Jaga bicaramu. Dia bukan pelakor, dia Clara calon istriku!" Bentak John.
"Kamu tidak perlu menutupi lagi. Aku tahu dia Ainisha, bukan Clara. Bagaimana, kita buat kesepakatan. Aku tidak akan melaporkan kamu karena telah menyembunyikan istri orang. Dengan syarat ...," ucap Resia sengaja membuat John was-was.
"Syarat apa?" tanya John.
"Kembalikan semua milikku," ucap Resia dengan wajah serius.
"Tidak. Aku tidak akan melakukan itu. Jeki ... Gio ...!" teriak John. "Kemana mereka?"
Terdengar tawa Resia karena kedua anak buah John sudah dia lumpuhkan. Resia tentu sudah membuat persiapan, dengan membawa orang bayaran dari Bu Minarsih. Sementara John kesal melihat Resia menertawakannya. Dia melepaskan tangan Ainisha lalu berusaha mencari anak buahnya keluar.
Di luar, John menemukan mereka sedang diikat oleh lima orang. John curiga, itu pasti orang-orangnya Resia.
John kembali masuk rumah dan mendapati Resia dan Ainisha sedang duduk di ruang tamu. John terlihat sangat marah karena ketiga dari anak buah Resia mengikutinya.
"Resia, mereka anak buah kamu?" tanya John kesal.
"Benar, mereka anak buahku. Jangan kira karena kamu sudah mengusirku, aku tidak akan memiliki uang. Aku masih memiliki tabungan yang tidak kamu ketahui. Aku sudah menyiapkan berkas untuk kamu tandatangani," jawab Resia santai.
"Aku tidak akan mau tanda tangan," ucap John masih keras kepala.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menghubungi Haikal sekarang. Dan dia pasti akan segera datang dengan polisi, untuk menangkap kamu, John Sayang," ucap Resia sok gemulai.
Ainisha terlalu melihat pemandangan didepannya. Ini seperti sebuah drama. Tetapi ini nyata. Ainisha melihat Resia benar-benar menghubungi Haikal.
"Hallo, Haikal ...," ucap Resia.
John segera merebut ponsel Resia lalu mematikan penggilan teleponnya. Resia tersenyum penuh kemenangan sedangkan Ainisha merasa sangat sedih karena harapannya untuk bebas telah hilang.
John terdiam sesaat mencoba berpikiran jernih. Kalau dia tidak tanda tangan, dia pasti akan ditangkap oleh polisi dan di penjara. Tetapi jika dia mau tanda tangan, dia akan jatuh miskin. Lalu dia teringat masih memiliki rekening pribadi yang pasti tidak diketahui oleh Resia. Uang itu bisa dia gunakan untuk meninggalkan kota ini dan menikah dengan Ainisha.
"Baik, aku akan tanda tangan," jawab John sambil menarik napas berat.
Resia lalu menyerahkan berkas-berkas tersebut dan segera ditandatangani oleh John. Ternyata, cukup mudah mendapatkan semuanya kembali. Rupanya John memang benar-benar mencintai Ainisha. Tetapi, Resia sama sekali tidak bersimpati kepada John.
Ainisha hanya bisa diam ketika Resia mengambil berkas dari tangan John. Resia tersenyum licik lalu memeriksa sebentar keasliannya. Resia takut, John akan membuat tanda tangan palsu. Setelah memastikannya, Resia memasukkan berkas tersebut ke dalam tasnya.
"Oke. Aku akan pergi. Dan selamat bersenang-senang," ucap Resia lalu melangkah pergi.
"Ainisha, ada apa? Pelakor sepertimu memang pantas mendapatkan ini. Bye," ucap Resia kesal lalu berlalu pergi pergi meninggalkan John dan Ainisha.
John sudah kehilangan segalanya demi bisa bersama Ainisha. John segera memesan lewat orang dalam, tiket menuju kota Batam. Kota yang sangat jauh dan pasti, Haikal dan yang lainnya tidak akan bisa menemukannya.
Haikal meminta Bibik untuk membereskan barang-barang Ainisha. Sementara John meminta dua anak buahnya untuk menjaga Ainisha. John segera membereskan barang miliknya dan secepatnya meninggalkan rumah ini.
Hari itu juga, John pergi bersama Ainisha menuju ke bandara. Meskipun Ainisha berusaha berontak, tetapi tetap kalah dengan tenaga dua anak buah John. Mobil John melaju dengan cepat meninggalkan rumah yang sudah bukan miliknya lagi.
Sampai di bandara, John berpesan pada kedua anak buahnya untuk menjual mobilnya, setelah itu meminta mereka pergi jauh dari kota ini. Tentunya dengan imbalan yang sepadan.
"John, aku ingin ke toilet," ucap Ainisha sambil memegangi perutnya.
__ADS_1
"Tidak bisa, aku harus segera melakukan cek barang dulu. Tahan sebentar lagi," jawab John panik. John takut Ainisha akan memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur.
"Tapi aku sudah tidak tahan. Aku ini sedang hamil, aku Tidka bisa menahannya lagi. Atau Akau harus buang air di sini?" ucap Ainisha sambil meringis menahan kencing.
"Baiklah, tapi awas, kamu jangan kabur," ancam John.
Disaat John mengantri pemeriksaan barang, Ainisha sengaja pamit pergi ke toilet. Karena Ainisha tahu, John tidak akan bisa melarang apalagi ikut untuk mengawasi Ainisha.
Ainisha sangat lega mendapatkan kesempatan untuk pergi. Ainisha bergegas pergi menuju toilet agar tidak dicurigai oleh John. Dia hanya masuk sebentar, lalu pergi keluar lagi. Setelah merasa aman, Ainisha berjalan cepat mencari pintu keluar bandara. Tetapi karena Ainisha belum pernah pergi ke bandara, Ainisha merasa agak bingung. Sampai akhirnya dia berhasil menemukannya.
Berhasil menemukan pintu keluar seperti berhasil mendapatkan lotere. Hati Ainisha sangat senang meskipun masih ada kemungkinan terkejar oleh John saat dia menyadari bahwa Ainisha kabur.
Benar saja, saat Ainisha menoleh, Ainisha melihat John berlari mengejarnya.
"Clara, jangan lari, cepat kembali!" teriak John.
Ainisha tidak memperdulikan teriakan John. Ainisha terus berlari menjauhi John. Ainisha hanya ingin pergi jauh darinya.
"Ainisha, pesawat akan segera berangkat!" terima John lagi.
Ainisha yang sedang hamil tidak akan bisa berlari jauh. Ainisha terengah-engah dan akhirnya menyerah. John kembali bisa menangkap Ainisha dan langsung di gendongnya tubuh Ainisha menuju pintu bandara.
"John turunkan aku. Banyak yang melihat," ucap Ainisha kesal.
John tidak menghiraukan ucapan Ainisha. Di tetap menggendong Ainisha meskipun sedang melakukan pemeriksaan terakhir. John Tidka ingin kecolongan lagi. John membawa tubuh Ainisha hingga masuk ke dalam pesawat. Barulah John merasa tenang.
Terdengar suara pramugari memberikan sambutan selamat datang, arahan dan juga peringatan. Mereka mengingatkan penumpang untuk mematikan ponsel dan tidak merokok. Dan yang lainnya Ainisha tidak jelas mendengarnya.
Ainisha sudah putus asa. Sebentar lagi, dia akan pergi jauh dari kota ini, dari suami dan anaknya. Jauh dari ayah dan ibunya juga.
__ADS_1
Tiba-tiba, terdengar suara lantang dari seseorang yang sangat Ainisha kenal. Suara yang sangat dia rindukan. Adakah harapan bagi Ainisha untuk kembali bersama suami dan anaknya?