
John membuka amplop yang ada di tangannya. Kedua tangannya bergetar saat melihat apa sisi dari amplop tersebut. Hasil tes DNA antara Haikal dan Haidar itu menyatakan, bahwa hasilnya 99,9% adalah positif.
Hati John masih tidak mau percaya dengan apa yang dilihatnya. John masih berharap bahwa semua itu salah. Haikal sudah meminta Bu Minarsih untuk menjelaskan, dan menceritakan semua yang terjadi pada Clara setelah ditinggalkan John.
Tetapi, tetap saja John seolah sudah menutup hatinya dan hanya percaya pada dirinya sendiri. John mengusir Haikal dan Bu Minarsih dari kantornya. Dia tidak ingin kebahagiannya hilang karena mengetahui bahwa Haidar bukan anaknya dan Clara bukan Clara.
Dengan hati kesal, John menggebrak meja kerjanya. John merasa marah pada Haikal yang sudah mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya. Clara dan anaknya adalah miliknya.
John menghubungi seseorang yang ternyata adalah mata-matanya di perusahaan Haikal. Ternyata, selama ini John sudah mempersiapkan sesuatu untuk menghancurkan perusahaan Haikal dari dalam. John ingin perusahaan Haikal jatuh bangkrut tak bersisa.
Setelah memberi arahan pada nah buahnya, John berjalan menuju jendela. Tatap matanya jauh memandang ke arah gedung-gedung yang menjulang tinggi. Senyum sinisnya terlihat diiringi napasnya yang memburu karena kesal.
Aku tidak akan pernah membiarkan, kalian bahagia diatas penderitaanku. Haikal, aku akan membalas apa yang telah kamu lakukan padaku, batin John.
John pulang masih dalam keadaan kesal. John tidak perduli dengan Resia yang datang menyambutnya. Dia mengabaikan Resi yang berusaha mengambil tas dari tangannya. Hal itu membuat Resia semakin sakit hati.
John yang dia kenal dulu, tidak seperti ini.
Dulu John akan menempatkannya diurutan pertama baik, baik dari segi perhatian maupun permintaan. Tetapi, kini setelah dirinya tidak lagi memiliki rahim, sikap John lama kelamaan berubah. Apalagi akhir-akhir ini, hal terpenting bagi John adalah mengambil Haidar dari tangan Clara.
Ada rasa penyesalan di hati Resia, dia terlalu percaya pada John dan menyerahkan semua bisnis peninggalan sang ayah pada John. Bisnis yang kini telah merubah John menjadi lebih arogan.
Tidak hanya itu saja, John sudah tidak mau lagi memenuhi kewajibannya sebagai suami. Dia lebih memilih mencari kesenangan diluar. Meskipun, Resia tidak pernah lagi ikut campur masalah bisnisnya, dia masih memiliki orang kepercayaan yang selalu mengawasi tindakan John.
__ADS_1
Sudah saatnya, Resia mengingatkan John bahwa semua yang di miliki John saat ini bukanlah miliknya tetapi milik Resia. Resia berjalan perlahan menuju kamarnya. Saat dia membuka pintu, terlihatlah John dengan wajah yang di penuhi kemarahan.
"John, kita harus bicara," ucap Resia sambil berdiri di dekat John.
"Ada apa? Cepat katakan, aku capek dan ingin segera beristirahat," ucap John datar.
"John, aku ini istri kamu. Tapi kamu sama sekali tidak pernah menganggap aku ada. Aku tahu aku tidak bisa memberimu anak. Tapi, aku juga manusia, yang butuh di sayang," ucap Resia sambil meneteskan airmata.
"Resia, sudah untung aku tidak menceritakan kamu. Aku masih memberimu status istri. Apalagi yang kamu mau. Meskipun kita melakukannya, toh kamu juga nggak bakalan bisa hamil. Aku hanya mencari kesenangan di luar, yang lebih menggairahkan dari kamu," jawab John dengan nada mengejek.
Mendengar jawaban John, hati Resia merasa hancur. Resia merasa dicampakkan setelah semuanya dia berikan.
"John, aku sudah tidak tahan lagi. Kita cerai saja," ucap Resia setelah dia berpikir sejenak.
"Baik. Kalau itu yang kamu mau, aku akan menerimanya dengan senang hati," jawab John sambil tersenyum senang.
Resia sempat kaget melihat John dengan mudahnya menerima permintaan cerai darinya. Padahal dia berharap, John akan merayu dan memintanya untuk tidak bercerai. Tetapi, kenyataannya John malah terlihat sangat senang. Resia akan bertindak tegas.
"Kalau begitu, tinggalkan rumah ini dan juga kembalikan semua bisnis peninggalan ayah!" teriak Resia marah dan kesal.
"Hahaha ...." Tawa John menggema di dalam kamar yang tertutup. Resia merasa heran, melihat John yang tenang dan tidak terpengaruh dengan ucapannya.
"John ... aku serius!" teriak Resia lagi.
__ADS_1
"Resia, dengan sangat menyesal, aku katakan bahwa kamulah yang harus angkat kaki dari rumah ini," jawab John dengan rasa percaya diri yang tinggi.
"Apa, ini rumahku? Kamu yang harus pergi!" teriak Resia lagi.
John mengeluarkan selembar kertas lalu memberikannya pada Resia. Resia membacanya tak berkedip. Kakinya terasa lemas saat dia mengetahui bahwa semua aset miliknya, beserta bisnis peninggalan ayahnya telah beralih kepemilikan menjadi milik John. Resia terduduk ditepi ranjang dan menyesali diri. Kenapa dia begitu percaya pada John yang ternyata adalah musang berbulu domba.
Resia menatap, tandatangan dirinya diatas materai. Dengan penuh rasa marah dan benci, Resia merobek kertas tersebut hingga menjadi potongan-potongan kecil dan dilemparkan ke lantai. Berharap bahwa semua miliknya akan bisa kembali padanya.
"Robek saja sesukamu. Itu hanya salinan saja. Aku masih menyimpan yang asli dan tidak mungkin akan aku berikan padamu. Satu lagi, orang yang kamu suruh memata-matai aku, sudah aku pecat," ucap John semakin membuat Resia emosi.
Resia berdiri kemudian memukul tubuh John dengan kedua tangannya. Awalnya John membiarkan perbuatan Resia, akan tetapi kemudian dia segera memanggil anak buahnya untuk mengusir Resia dari rumah itu.
Resia berontak ketika dia orang anak buah John menyeretnya keluar rumah. Tidak berapa lama, setumpuk pakaian dilempar oleh John kearah Resia. Dengan menyimpan amarah dan dendam, Resia memasukkan pakaiannya ke dalam tas miliknya. Sorot matanya tajam menyimpan luka yang sangat dalam.
John tampak sangat puas melihat dia sudah berhasil mengusir Resia dari rumah ini. Awalnya dia sempat kasihan dan berharap, Resia akan menjadi istri yang penurut dan tidak banyak tingkah. Tetapi karena hari ini Resia berani melawannya, maka semuanya telah berakhir di sini.
John melihat kepergian Resia tanpa belas kasihan. Hatinya kini menjadi lega, karena ternyata dia memiliki rencana untuk membawa Haidar dan Clara tinggal bersamanya. Dia tidak peduli, meskipun Clara sekarang sudah menjadi istrinya Haikal.
Saat ini, John baru menjalankan rencana pertamanya, yaitu menghancurkan perusahaan Haikal secepatnya. John masuk kembali kedalam kamarnya yang kini terasa sepi.
Setelah mandi dan berganti pakaian, John pergi ke rumah kerjanya untuk memantau perkembangan rencananya. John duduk dengan santai dan seakan tanpa beban. Di laptop miliknya telah terkirim beberapa rahasia perusahaan Haikal yang John inginkan. Senyum liciknya terlihat menambah sadisnya wajah John.
Haikal, tunggu saja kehancuran mu. Akan aku pastikan, bahwa kamu tidak akan bisa menghidupi Clara dan Haidar. Dan saat itu, kaulah yang akan menjadi pemenangnya, batin John.
__ADS_1