Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 51. Izin bekerja


__ADS_3

Meskipun hati Haikal sedih dan sakit, melihat kondisi keluarga kecilnya yang jauh dari harapannya, Haikal tetap kekeh mempertahankan prinsipnya.


Dahulu, dia menolak bekerja di perusahaan ayahnya, memulai usaha dari nol hingga bisa berkembang dan maju. Perusahan itu adalah cermin keberhasilannya. Kini, jika dia menerima permintaan ayahnya, bukankah itu akan menjadi cermin kemundurannya?


Setelah ayah dan ibunya pulang pada sore harinya, Haikal duduk santai seorang diri di ruang tamu. Dipandanginya rumah kontrakannya yang kecil. Sangat berbeda jauh dengan rumahnya yang dulu. Perabotannya juga hampir tidak ada. Bahkan TV juga tidak ada. Tidak ada yang bisa Haikal kerjakan, selain makan, tidur atau bermain dengan Haidar.


Tetapi satu yang membuatnya masih bisa tersenyum. Keberadaan Ainisha dan Haidar lebih bisa membuatnya tenang dan santai. Mungkin ini yang dikatakan kebenaran sebuah pepatah. Makan tidak makan, asalkan kumpul.


"Mas, makan dulu. Aku sudah membuat telur orak-arik. Semoga kamu suka," ajak Ainisha.


Begitulah, sekarang untuk makan saja, semua serba sederhana. Biasanya makan dengan berbagai lauk yang semuanya serba mahal. Tetapi masih harus disyukuri karena masih diberikan kesehatan dan bisa menikmati makan malam dengan nikmat bersama anak dan istrinya. Ainisha juga tidak pernah mengeluh apapun tentang kebangkrutannya. Apalagi mengeluh kekurangan uang.


Malam semakin larut, saat Haidar mulai tertidur di pangkuannya. Semenjak, Haikal sering di rumah, Haidar memang sangat dekat dengannya. Bahkan sampai tidurpun ingin di gendong ayahnya. Mungkin karena kesibukan Ainisha mengurus rumah dan Haikal yang bertugas menjaga Haidar, sehingga kedekatan itu tercipta dengan sendirinya.


"Mas, Haidar sudah tidur?" tanya Ainisha saat melihat Haikal membawa Haidar masuk ke kamar.


"Sudah," jawab Haikal sambil menidurkan Haidar di kasur.


"Mas, aku ingin bertemu orangtuaku. Mereka pasti khawatir tentang kita," ucap Ainisha sambil menatap Haikal yang masih berdiri setelah menidurkan Haidar.


"Iya. Aku ngerti perasaan kamu. Mereka pasti khawatir sekali dengan kondisi putri dan cucu mereka. Apalagi ibumu yang memiliki riwayat jantung, jangan sampai banyak pikiran," ucap Haikal sambil duduk disebelah Ainisha.


"Mari kita tunjukkan, kalau kita baik-baik saja. Supaya mereka tidak khawatir," ucap Ainisha sambil menatap suaminya sendu.


"Maafkan aku, Aini. Apakah kamu menyesal mengikuti aku?" tanya Haikal.


"Tidak, Mas. Mengikuti suami adalah kewajiban seorang istri. Biarpun tidur di kasur tanpa dipan, Ainisha sudah senang," jawab Ainisha sambil bersandar di pundak suaminya.

__ADS_1


Haikal tersenyum meski hatinya sedih melihat pengorbanan Ainisha yang rela mengikutinya.


Apakah aku akan tega membiarkan anak dan istriku terlantar hanya demi egoku yang terlalu tinggi? Batin Haikal.


Haikal mencium kening Ainisha dan mengajaknya beristirahat. Masih banyak hal yang harus dia kerjakan untuk bisa tetap bertahan hidup tanpa meminta bantuan orang lain.


"Istriku, kenapa aku tidak bisa tidur?" tanya Haikal yang tampak resah.


"Kenapa, apa mau aku bacakan cerita, seperti anak-anak?" tanya Ainisha sambil tersenyum.


"Biarkan aku memelukmu saja," jawab Haikal lembut.


Ainisha tersenyum saat suaminya memeluknya erat. Seakan dia tidak ingin ditinggalkan oleh Ainisha. Diatas tempat tidur yang cukup sempit untuk mereka bertiga, membuat mereka tidak ada jarak.


Saat memeluk Ainisha, bukannya Haikal bisa tidur, malah sebaliknya. Apa lagi adik kecilnya sudah tidak bisa diajak kompromi.


Ainisha pura-pura tidak mendengar dan dia mulai memejamkan mata. Haikal merasa dipermainkan oleh Ainisha karena Ainisha langsung memejamkan mata saat di panggilnya.


Melihat Ainisha sudah tidak bergerak, Haikal masih memiliki cara lain untuk membangunkannya. Di ciumnya telinga Ainisha berkali-kali dengan lembut sampai Ainisha merasa geli dan tersenyum manja.


Ainisha berbalik badan dan pandangan mata mereka saling beradu. Getaran gairah sudah menjalar ke seluruh tubuh Haikal. Tanpa sepatah kata, Haikal merengkuh istrinya dalam dekapannya. Mereka menikmati malam dengan peluh di sekujur tubuh dan tertidur saat tubuhnya terasa lelah.


Meskipun sudah jatuh miskin dan tidur di kamar yang sempit, tetapi Haikal berharap keharmonisan hubungan suami istri, tetap terjaga dengan baik.


Keesokan harinya, mereka pergi ke rumah orangtua Ainisha dengan taksi. Sesampainya di rumah orangtuanya, Ainisha segera turun dan membiarkan Haidar di gendong oleh Haikal. Ainisha sudah tidak sabar ingin segera menemui mereka, yang kebetulan saat itu berada di luar rumah untuk berjemur.


Ainisha langsung memeluk ibunya dan menangis terharu melihat ibunya dalam keadaan sehat.

__ADS_1


Ainisha berkata kepada orangtuanya untuk tidak terlalu memikirkan kondisi Ainisha saat ini. Mereka hanya kehilangan harta, yang pasti akan bisa di cari lagi.


Selama hampir seharian, Ainisha berada di rumah orangtuanya. Sebelum memutuskan untuk pulang, mereka menyempatkan diri mampir ke rumah Bu Minarsih. Disanalah, Bu Minarsih meminta Ainisha untuk kembali bekerja di perusahaannya tanpa sepengetahuan Haikal.


"Jangan buru-buru menolak. Bicaralah secara baik-baik pada suamimu. Kamu seharusnya bisa menjelaskan padanya. Tidak ada cara lain yang bisa ibu lakukan, untuk membantu kalian," ucap Bu Minarsih sedih.


"Ainisha akan mencoba bicara pada Mas Haikal. Semoga saja, dia tidak akan keberatan, Ainisha bekerja," ucap Ainisha sambil melihat ke arah Haikal yang sedang bermain bersama Haidar.


Sampai di rumah, Ainisha meminta izin pada suaminya untuk bisa bekerja seperti dulu di perusahaan Bu Minarsih. Ainisha sangat berharap, Haikal mengizinkannya bekerja. Tetapi, Haikal malah terlihat tidak senang dan merekapun berselisih untuk pertama kalinya.


Kali ini, Ainisha begitu gigih ingin bekerja demi keluarga kecil mereka.


"Mas, aku akan bekerja sampai kamu bekerja kembali," ucap Ainisha dengan wajah memohon.


Melihat kegigihan Ainisha, Haikal akhirnya setuju, Ainisha bekerja. Dengan syarat, Ainisha akan tetap menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dan seorang ibu tanpa mengeluh. Ainisha setuju dengan syarat yang diajukan Haikal, meski dia tahu, Haikal melakukan itu agar dirinya menyerah untuk bekerja.


Ainisha benar-benar merasa kesulitan, harus mengatur waktu. Antara bekerja dan tugasnya sebagai ibu dan seorang istri. Dia harus bangun pagi-pagi sekali. Membersihkan rumah, membuat sarapan dan mencuci pakaian, serta memandikan Haidar.


Setelah itu, dia berangkat bekerja sampai sore. Sorenya, dia harus menyetrika pakaian yang sudah bersih, membuat makan malam, memandikan Haidar. Satu lagi tugas utamanya, memenuhi kewajibannya memuaskan hasrat suaminya.


Karena Ainisha mulai merasa, jika sejak dia bekerja, sepertinya Haikal sengaja meminta jatahnya setiap malam. Sengaja ingin membuatnya lelah dan mengeluh. Dengan begitu, Ainisha harus berhenti bekerja.


Akan tetapi, Ainisha tidak mau menyerah secepat itu, hanya karena sikap Haikal. Ainisha berusaha menikmati semua ini sebagai bagian dari ibadahnya membantu suaminya. Dengan begitu, dia tidak akan merasa terbebani dan santai saja dengan tugas-tugas yang siap menunggunya.


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2