Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 23. Orak-arik telor


__ADS_3

"Ainisha, kamu kenapa," tanya Haikal saat Ainisha sudah keluar dari kamar mandi sambil memegangi perutnya.


"Aku lapar. Perutku rasanya sakit dan mual-mual. Aku sudah cari makanan di dapur, tetapi ternyata tidak ada apapun yang bisa aku makan. Rumah sebesar ini tapi tidak ada makanan sama sekali," jawab Ainisha.


"Itu, karena tadi aku bilang sama bibik untuk tidak masak. Aku makan diluar dengan klien. Lagipula, siapa yang tahu kalau kamu belum makan," ucap Haikal sambil menatap Ainisha yang terlihat tidak berbohong.


"Sejak siang tadi aku belum makan. Apakah malam ini aku akan mati kelaparan?" gumam Ainisha.


"Siapa bilang, tidak makan sehari orang akan mati kelaparan. Jangan membesar-besarkan masalah. Kalau mau makan, kamu bisa masak sendiri. Pasti ada sesuatu di kulkas yang bisa kamu masak," ucap Haikal sinis.


"Tetapi, aku tidak bisa masak. Apalagi dengan kondisi aku seperti ini," ucap Ainisha sedih .


Haikal menarik napas panjang. Haikal terus berpikir, jika Ainisha sakit, bagaimana dia bisa menjalankan tugasnya untuk berperan sebagai Alisha. Dengan hati terpaksa, Haikal berdiri mendekati Ainisha yang berbaring meringkuk diatas ranjang.


"Bangunlah, aku akan membuatkan makanan untukmu," ajak Haikal.


Ainisha tersenyum lalu duduk ditepi ranjang sambil menatap Haikal.


"Bisa jalan sendiri 'kan, hingga sampai ke ruang makan?" tanya Haikal sambil membalas tatapan Ainisha.


"Bisa," jawab Ainisha.


Haikal berjalan keluar dan Ainisha mengekor di belakangnya. Mereka menuju ke dapur untuk memasak.


"Kamu duduk saja, tunggu sampai aku selesai membuatkan kamu makanan."


Ainisha duduk diruang makan yang berada tidak jauh dari dapur sesuai permintaan Haikal. Ainisha terus memperhatikan Haikal yang tampak bingung. Dia membuka kulkas dan mencari sesuatu. Haikal mengeluarkan telur dan sayur-sayuran seperti kembang kol dan beberapa wortel. Haikal mencuci semua sayuran, lalu memotong-motongnya menjadi bagian agak kecil.


Sementara Ainisha menyandarkan kepalanya di atas meja makan sambil memperhatikan Haikal. Senyum manis Ainisha mengembang saat melihat Haikal berusaha membuat sesuatu agar bisa dia makan. Ainisha tidak habis pikir, bukannya dia bisa membangunkan bibik untuk membuat makanan. Tetapi Haikal malah memasak sendiri untuknya.

__ADS_1


Sambil menunggu Haikal selesai memasak, Ainisha malah mulai mengantuk. Tetapi Ainisha berusaha menahan rasa kantuknya dengan membayangkan bakso di depannya. Tidak lama kemudian, Haikal datang membawa sepiring makanan untuk Ainisha.


"Makanlah. Mungkin rasanya tidak seenak masakan restoran, tetapi aku rasa bisa untuk kamu makan," ucap Haikal sambil meletakkan piring di depan Ainisha.


Ainisha bangun lalu dia berdoa sebelum makan. Dia mencoba satu sendok untuk mengetahui bagaimana rasa dari makanan di depannya. Ternyata enak juga. Ainisha lalu dengan lahap menghabiskan orak-arik telor buatan Haikal.


Awalnya, Haikal tidak yakin dengan orak-arik telor buatannya. Tetapi setelah melihat Ainisha begitu lahap menghabiskan orak-arik telor buatannya, Haikal jadi percaya diri.


"Terimakasih, Pak Haikal. Akhirnya, perut Ainisha tidak sakit lagi. Ainisha sudah kenyang. Ainisha mau balik tidur lagi," ucap Ainisha sambil membawa piring bekas makannya ke tempat cuci piring.


Ainisha mencuci piring terlebih dahulu sebelum akhirnya dia memutuskan untuk kembali kekamarnya. Ainisha yang berjalan duluan dan Haikal mengekor di belakang.


Sesampainya di kamar, Ainisha sudah bersiap untuk melanjutkan tidurnya. Ainisha duduk sebentar untuk memberi kesempatan pencernaannya untuk bekerja.


"Ainisha, ini surat perjanjian yang harus kamu tanda tangani. Aku yakin, tidak akan ada yang memberatkan kamu," ucap Haikal sambil menyodorkan kertas dan pulpen kepada Ainisha.


"Itu hanya formalitas pekerjaan. Kalau yang ini adalah apa yang harus kamu kerjakan selama di rumah ini. Kamu pelajari baik-baik dan lakukan seperti apa yang aku minta. Hal ini untuk menjaga agar ibuku tidak curiga. Disitu juga tertulis bahwa aku akan menjaga diri dari hal-hal yang tidak diinginkan selama kamu tinggal di kamarku ini," kata Haikal menjelaskan.


"Disini tertulis, jika kita akan melakukan sesuai kebutuhan. Mungkin ada saatnya ibu ingin melihat kita mesra. Maka pihak kedua akan mendapatkan bonus. Pelukan, 200 ribu. Ciuman kening, 300 ribu. Wah, ternyata semua sudah diperhitungkan," ucap Ainisha sambil menghela nafas panjang.


"Jika kamu setuju, silahkan tanda tangan," ucap Haikal.


"Bagaimana, kalau ciuman kening, 500 ribu," tawar Ainisha.


Ainisha ingin lebih banyak mendapatkan uang dari Haikal. Haikal berpikir sejenak.


"Kenapa kamu menawar? Belum tentu aku akan mencium keningmu," jawab Haikal.


"Kalau begitu, kenapa tidak mau menaikkan bonusnya?" ucap Ainisha.

__ADS_1


Bener juga, berapapun bonusnya, toh aku juga nggak bakalan cium kening dia. Ini hanya formalitas saja, batin Haikal.


"Baiklah, aku setuju." jawab Haikal.


"Oke, yang ini sudah deal, ya. Aku lanjut baca. Kita tidak mungkin tidur terpisah terus, karena hal itu pasti akan membuat ibu curiga. Maka jika kita harus tidur satu ranjang, bonusnya satu juta. Kalau tanpa sengaja menyentuh, akan ditambah 500 ribu. Tapi kalau sengaja?" tanya Ainisha sambil menatap Haikal.


"Mana mungkin aku akan sengaja menyentuhmu?" tanya Haikal balik.


"Bisa saja. Kamu takut? Kalau kamu sengaja menyentuh bagian manapun dari tubuhku, bonusnya 3 juta. Bagaimana?" tanya Ainisha lagi.


"Baik-baik. Terserah kamu. Karena tidak mungkin aku akan melakukannya," ucap Haikal yakin.


"Oke, aku sudah mengganti beberapa hal. Sekarang aku akan tanda tangan."


Ainisha menandatangani kertas tersebut tanpa ragu. Keinginannya saat, adalah untuk mendapatkan uang dari Haikal. Karena bisa untuk biaya makan ayahnya selama tidak bekerja karena harus menunggui ibunya di ruangan sakit.


Tetapi sepertinya malam ini, dia tidak akan mendapatkan uang bonus itu, karena ibunya belum datang. Ainisha merebahkan dirinya di ranjang yang pernah ditempatinya bersama Haikal melewatkan malam pertama. Selintas dia melihat ke arah Haikal, yang sudah tertidur diatas sofa.


Airmata Ainisha, tiba-tiba menetes pelan. Ainisha tidak menyangka jika semua akan menjadi serumit ini. Dia ingin lepas dari semua ini, tetapi dia juga tidak bisa membohongi hati kecilnya. Bahwa, dia juga mencintai Haikal. Cinta yang malah membuatnya tersiksa karena diikuti rasa ketakutan. Takut jika Haikal akan membencinya, setelah dia tahu semua perbuatannya selama ini.


Jika bukan karena pak Ferdi, dia tidak akan mengenal Haikal. Dia juga tidak akan mungkin jatuh cinta padanya. Terjebak di dalam pernikahan yang baginya hanya khayalan semu. Karena yang menikah bukan dia, tetapi dirinya yang lain. Malam semakin larut dan Ainisha mulai terlelap dalam tidurnya.


Keesokan harinya, Ainisha terbangun dan dia hampir lupa jika saat ini, dia tidak berada di rumahnya. Tiba-tiba terdengar bunyi ponsel berdering. Ternyata itu ponsel Haikal. Ainisha ingin mengangkat panggilan itu, tetapi dia takut jika dianggap lancang. Diapun mendiamkan saja panggilan itu hingga berhenti sendiri. Berulang kali berdering, tetapi Ainisha tidak bergeming dari tempat tidurnya.


Saat mendengar ponselnya berdering beberapa kali, Haikal keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono. Walaupun ketika hendak diangkat, panggilan itu berhenti. Haikal melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata ibunya.


Tidak lama kemudian, sebuah pesan singkat dari ibunya masuk ke ponselnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2