Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 11. Putusnya pertunangan


__ADS_3

Rumah kediaman Haikal.


Matahari sudah mulai condong ke arah barat, pertanda malam sudah mulai menjelang. Seorang wanita bergegas masuk setelah menerima paket dari seorang kurir. Tampak ada rasa penasaran yang terpancar dari sorot matanya, karena di pojok amplop itu tertulis kata rahasia.


"Nyonya, ini ada paket datang. Tapi tidak ada alamat pengirimnya," kata bik Nah sambil menyerahkan sebuah amplop besar pada majikannya.


"Tidak ada alamat pengirimnya? Ada apa ini. Pasti ada sesuatu yang tidak beres ini," gumam Bu Kartika sambil mengamati amplop yang diberikan bik Nah.


"Bibik kembali ke dapur dulu, kalau sudah tidak di perlukan," pamit bik Nah.


"Silahkan, Bik."


Bu Kartika mengamati dan dibolak-baliknya amplop ditangannya. Setelah itu, barulah dibukanya perlahan-lahan. Matanya membesar saat tahu isi dari amplop yang dipegangnya.


"Resia ...."


Tangan Bu Kartika bergetar karena menahan marah. Gadis yang sangat dia harapkan karena kelembutan dan sikapnya yang baik, ternyata menyimpan sesuatu yang sangat menjijikkan. Dia berselingkuh di belakang Haikal, putranya.


Bu Kartika tidak ingin putranya memiliki istri yang suka berselingkuh meski dia tahu jika putranya juga bukan pria yang baik. Haikal selalu bergonta-ganti pasangan sejak dua tahun terakhir. Paling lama dia pacaran, hanya sampai dua Minggu saja. Karena itulah, Haikal mendapatkan predikat seorang Casanova.


Bu Kartika menunggu suaminya pulang kerja untuk membicarakan tentang hubungan Resia dan Haikal. Bu Kartika ingin pertunangan Haikal dan Resia dibatalkan.


Selesai makan malam, pak Hartawan dan Bu Kartika santai di ruang keluarga sambil menonton TV.


"Pak, ada yang ingin ibu bicarakan dengan Bapak. Ini tentang Haikal dan Resia," kata Bu Kartika mengawali pembicaraan.


"Ada apa dengan mereka? Bukannya Bapak sudah pernah bilang, Bapak tidak mau ikut campur urusan mereka lagi," kata pak Hartawan datar.


"Pak, tadi ibu mendapat kiriman paket. Isinya foto-foto Resia sedang bersama seorang laki-laki di sebuah hotel. Ibu jadi menyesal menjodohkan Haikal dengan dia," kata Bu Kartika.


"Foto? Lalu ibu maunya apa?"


"Membatalkan pertunangan mereka. Ibu tidak mau memiliki menantu tukang selingkuh," jawab Bu Kartika sambil menghela nafas.


Mendengar perkataan istrinya, pak Hartawan tertawa cukup keras karena merasa lucu melihat sikap istrinya.

__ADS_1


"Pak, kok malah menertawakan ibu?" tanya Bu Kartika kesal.


"Ibu, Bapak heran melihat sikap Ibu. Dulu, siapa yang ingin mereka bertunangan, bahkan Ibu malah hampir menentukan tanggal pernikahan mereka lebih cepat. Sekarang, Ibu panik dan ingin segera membatalkan pertunangan mereka. Untung Bapak tidak ikut campur masalah Haikal, bisa-bisa rambut Bapak ini rontok semua karena mikirin Haikal," kata pak Hartawan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Pak, Ibu melakukan semua itu, demi masa depan keluarga kita. Biar kita segera bisa memiliki cucu. Lihat, Bu Sari, cucunya sudah dua. Manis-manis dan imut lagi," kata Bu Kartika tersenyum manja.


"Yang pingin segera menimang cucu itu ibu, tapi Haikal, serius saja tidak," kata Pak Hartawan datar.


"Kadang-kadang, ibu berharap ada seorang wanita yang tiba-tiba datang. Dan hamil karena Haikal," kata Bu Kartika sambil menghela nafas.


"Jangan bicara aneh-aneh, Bu. Ucapan adalah doa. Bapak tidak ingin ada hal seperti itu."


"Maaf, Pak. Ibu hanya putus asa menghadapi Haikal. Bapak, besok antar ibu kerumah Haikal. Ibu janji tidak akan meminta Bapak ikut campur masalah ini. Ibu yang memulai, biar ibu yang menyelesaikannya sendiri," kata Bu Kartika memohon.


"Iya-iya. Besok kita ke rumah Haikal sekalian Bapak mau bicara dengannya soal bisnis," jawab pak Hartawan sambil tersenyum.


"Terimakasih, Pak."


Bu Kartika merasa lega, karena suaminya mau mendukung rencananya. Semua memang berawal dari dirinya. Memaksa Haikal menikahi Resia yang jelas-jelas tidak dicintainya. Bahkan mengancam Haikal dengan harta warisannya. Bu Kartika benar-benar merasa bersalah telah memaksakan kehendak pada putra satu-satunya itu.


Pada siang hari, mereka sudah sampai di rumah Haikal. Dan seperti biasa, mereka segera membuka pintu rumah Haikal dengan kunci yang mereka miliki. Mereka tidak perlu menunggu bibik membukakan pintu.


Mereka duduk sebentar sebelum Bu Kartika pergi ke dapur untuk membuat makanan. Saat itu, bibik yang sudah mengetahui kedatangan nyonya besarnya segera mendekati Bu Kartika.


"Nyonya, biar bibik yang masak. Nyonya istirahat saja," kata bibik sambil mengeluarkan bahan-bahan dari dalam kulkas.


"Baiklah, bik. Aku memang capek," kata Bu Kartika.


Bu Kartika segera kembali duduk didekat suaminya yang sedang berbicara dengan Haikal.


"Jangan lupa, ajak Resia juga."


Setelah berkata seperti itu, pak Hartawan menatap istrinya yang menyapanya penuh tanda tanya.


"Nanti malam, kita makan malam bersama di rumah ini. Silahkan jika ibu ingin menggunakan kesempatan ini untuk memenuhi keinginan ibu. Bapak sudah berusaha membuat kesempatan itu," kata pak Hartawan serius.

__ADS_1


"Terimakasih, Pak. Ibu mau menyiapkan diri dulu agar nanti tidak terlalu emosi menghadapi Resia.


Malam mulai menjelang. Haikal dengan terpaksa mengajak Resia bersamanya karena keinginan ayahnya. Sebelum membicarakan hal penting, Bu Kartika masih bersikap baik pada Resia dan mereka makan dengan tenang. Selesai makan, barulah Bu Kartika memperlihatkan tujuan yang sebenarnya meminta Resia datang.


"Resia, Tante ingin minta maaf, karena Tante telah memutuskan untuk membatalkan pertunangan kalian. Tante harap kamu mengerti," kata Bu Kartika to the point.


"Maksud Tante apa, kami baik-baik saja. Kenapa Tante ingin membatalkan pertunangan kami?" tanya Resia penasaran.


"Sebenarnya, Tante tidak ingin mengatakan alasannya, tetapi karena kamu ingin tahu, Tante akan tunjukkan alasan Tante padamu."


Bu Kartika mengeluarkan beberapa lembar foto dan ditunjukannya pada Resia. Dan Resia sangat terkejut melihat foto-foto yang kini ada ditangannya.


"Dari mana Tante mendapatkan foto-foto ini?" tanya Resia panik.


"Kamu tidak perlu tahu, darimana Tante mendapatkan foto-foto itu. Yang pasti itu benar kamu bukan?" tanya Bu Kartika sambil tersenyum sinis.


"Aku ...."


"Jadi, kamu tinggalkan rumah ini dan jangan pernah berharap lagi pada Haikal. Keran sejak malam ini kalian sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," kata Bu Kartika lagi.


"Tapi Tante, ini pasti ulah orang jahat yang tidak ingin melihat aku dan Haikal bersama," kata Resia membela diri.


"Tante tidak peduli. Karena kamu juga tidak mengelak dan itu adalah benar-benar kamu. Tante tidak ingin memiliki menantu pembohong dan tukang selingkuh sepertimu. Pergi dan jangan berharap kamu bisa bersama Haikal lagi," kata Bu Kartika kesal.


Resia berdiri dengan emosi lalu pergi meninggalkan rumah Haikal. Haikal yang sudah diberitahu oleh ayahnya, hanya diam saja. Dalam hatinya dia sangat senang atas keputusan ibunya malam ini. Dia membiarkan Resia pergi tanpa mencegah sedikitpun kepergian Resia.


Setelah Resia pergi, Haikal mengucapkan banyak terimakasih pad ibunya. Haikal tidak perlu melakukan apa-apa karena ibunya sudah melakukannya dengan baik.


"Terimakasih, Ibu."


"Ibu juga minta maaf padamu Haikal. Karena sudah memaksamu untuk menerima Resia sebagai istrimu. Mulai sekarang, ibu akan menerima siapapun pilihan kamu. Ibu tahu kamu pasti sudah bisa mencari calon istrimu sendiri," kata Bu Kartika.


Haikal sangat senang. Sekarang tinggal, mengenalkan Alisha pada kedua orangtuanya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2