
Suasana menjadi tegang ketika sang dokter mulai mengungkapkan sekaligus menjelaskan keadaan Resia. Ternyata, saat melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, didapati bahwa Resia menderita kanker serviks.
Tentu saja, John, Haikal dan Ainisha merasa kaget mendengar pernyataan dokter. Kanker serviks, penyakit yang cukup ditakuti oleh kalangan wanita itu, bisa sangat menakutkan. Terlebih lagi, dokter menyarankan untuk dilakukan pengangkatan rahim. Karena kanker serviks yang diderita oleh Resia, sudah memasuki stadium lanjut.
Ainisha ikut merasakan sedihnya hidup yang akan di jalani Resia. Terlebih dia dihadapkan pada dua pilihan, yang sama-sama akan membuat hidupnya penuh kesedihan. Jika dia memilih mengangkat rahimnya, maka seumur hidupnya dia tidak akan memiliki keturunan. Dan jika dia memilih mempertahankan rahimnya, hidupnya akan dalam bahaya.
Ainisha tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Resia jika hidup tanpa memiliki rahim. Apalagi dia belum memiliki anak.
Tetapi kenapa aku harus ikut sedih dan pusing memikirkan Resia? Seharusnya aku merasa senang karena dia tidak akan bahagia sepertiku saat ini, batin Ainisha.
Ainisha terus saja kepikiran dengan Resia. Dia saja berpikir bahwa seorang wanita tidak akan merasa sempurna sebagai wanita jika tanpa rahim. Karena salah satu yang bisa membedakan antara pria dan wanita adalah rahim. Karena pria tidak akan pernah memiliki rahim.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter, John sangat terpukul dan putus asa. Tetapi dia juga harus membuat sebuah keputusan yang cepat dan tepat. Ainisha hanya bisa terdiam Melihat John yang terduduk lemas di kursi tunggu. Bagi Ainisha ada sedikit rasa senang di antara rasa sedihnya.
Ini seperti sebuah karma, ataukah ini hanya sebuah teguran? Apakah ini saatnya aku menjalankan rencanaku? batin Ainisha.
Ainisha mendekati John dan duduk di sampingnya. Ainisha berharap rencananya mendekati John akan berhasil.
"John, sabar. Aku harap, kamu tabah menghadapi semua ini. Pasti akan ada hikmah dibalik semua ini," ucap Ainisha lembut.
"Terima kasih, Clara. Kamu masih mau menolong Resia meski aku sudah bersikap buruk padamu," ucap John sambil menatap Clara.
"Itu sudah seharusnya. Meskipun aku sangat membencimu, karena kamu tidak pernah menganggap aku ada, tetapi rasa kemanusiaan masih harus aku junjung tinggi," ucap Clara menyindir John.
"Maaf, aku harus segera membuat keputusan. Menurutmu, apakah aku harus menerima saran dari dokter untuk mengangkat rahim Resia?" tanya John.
"Aku tidak bisa memberi saran. Lakukan saja sesuai hatimu karena nanti, kamu yang akan bertanggungjawab pada Resia saat dia bertanya padamu. Aku hanya bisa memberi support untukmu," jawab Ainisha lembut.
__ADS_1
"Benar kata Clara, John. Sebagai teman, aku hanya bisa berharap, semua akan baik-baik saja nantinya," ucap Haikal ikut memberi semangat pada John.
"Terima kasih," ucap John sedih.
John akhirnya memutuskan untuk menunggu sampai Resia sadar dan akan memutuskan bersama Resia.
Sementara Haikal mengantarkan Ainisha pulang karena malam sudah sangat larut. Sepanjang perjalanan, tidak ada pembicaraan diantara mereka. Hanya Haikal, sesekali melirik kearah Ainisha yang tertidur pulas di sampingnya.
Mobil Haikal berhenti di pinggir jalan di dekat rumah Bu Minarsih. Haikal tidak tahu bagaimana membawa Ainisha masuk kedalam rumahnya. Haikal terpaksa menunggu sampai Ainisha terbangun. Haikal melepas jasnya dan diselimutkan ke tubuh Ainisha.
Selama menunggui Ainisha, Haikal merebahkan diri di jok mobilnya. Hingga dua jam kemudian, Ainisha terbangun dan kaget saat menyadari dirinya tertidur di mobil Haikal.
Ainisha melepaskan sabuk pengamannya lalu menatap Haikal yang masih tertidur lelap. Ainisha mengambil jas yang diselimutkan Haikal ke tubuhnya untuk diselimutkan ke tubuh Haikal.
Saat menyelimuti Haikal itulah, Ainisha meneteskan airmata. Ada rasa rindu yang dalam pada suaminya itu. Dia juga ingin mengatakan bahwa mereka sudah memiliki seorang putra yang sangat tampan. Haidar Ziyan, buah hati yang tidak pernah dia duga sebelumnya akan hadir diantara mereka.
Airmata Ainisha berubah senyuman. Ada perasaan bahagia mengetahui bahwa Haikal masih merindukannya hingga saat ini. Tetapi, siapa wanita yang bersama Haikal kemarin?
Ainisha segera turun dari mobil dan masuk kedalam rumah. Ternyata Bu Minarsih masih menunggu Ainisha pulang.
"Clara, sudah pulang?" tanya Bu Minarsih setelah membukakan pintu untuk Ainisha.
"Ya, Bu. Kenapa Ibu belum tidur?" tanya Ainisha setelah mencium punggung tangan Bu Minarsih.
"Ibu sengaja menunggumu. Ibu khawatir, setelah mendengar Resia kecelakaan," jawab Bu Minarsih sambil menatap Ainisha.
"Kenapa, Ibu mencurigai aku terlibat dalam kecelakaan Resia?" tanya Ainisha penuh rasa curiga.
__ADS_1
"Ibu ... tidak bermaksud seperti itu, Clara. Ibu tahu, meskipun kamu ingin sekali membalas dendam pada pada Resia, tetapi Ibu melihat kamu bukan orang yang kejam," jawab Bu Minarsih berusaha menghilangkan kecurigaan Ainisha.
"Ibu, peristiwa yang menimpa Resia, sepenuhnya kehendak Allah. Ainisha tidak ambil bagian sedikitpun. Mungkin itu memang sudah menjadi garis hidup yang harus Resia alami," ucap Ainisha sambil menghela napas.
"Sebenarnya Ibu hanya khawatir, bagaimana kamu akan pulang. Apalagi ini sudah larut malam. Sulit untuk mendapatkan taksi," ucap Bu Minarsih kemudian.
"Pak Haikal ada bersamaku," jawab Ainisha singkat.
"Syukurlah, kalau begitu. Berarti dia yang mengantarkan kamu pulang?"
"Benar, Bu. Oh, Ainisha sangat lelah, Ainisha ingin beristirahat," ucap Ainisha sambil menguap.
"Istirahatlah, Ibu juga mau istirahat."
Bu Minarsih dan Ainisha menuju kekamarnya masing-masing untuk segera beristirahat. Tetapi, meskipun Ainisha sudah berusaha memejamkan mata, tetapi bayangan kebersamaannya bersama Haikal yang penuh suka dan juga duka membuatnya sulit tidur.
Keesokan harinya, Ainisha bergegas mandi dan berganti pakaian. Dia ingin melihat apakah Haikal sudah pergi atau belum dari rumah ini. Dia segera keluar rumah, dan mendapati mobil Haikal sudah tidak ada lagi. Ada sedikit rasa kecewa merasuk kedalam hatinya. Tetapi tidak mungkin saat ini dia mengambil jalan salah karena sekarang tujuannya adalah untuk mendekati John dan membuatnya meninggalkan Resia.
Untuk merealisasikan tujuannya, Ainisha pergi ke rumah sakit dan melihat bagaimana kondisi hubungan John dengan Resia. Ainisha melihat, bagaimana John berusaha membujuk Resia untuk menyetujui operasi plastik untuk mengembalikan wajahnya seperti dulu. Dalam hal ini, Resia lebih beruntung daripada dia. Resia bisa menggunakan wajahnya sendiri tidak seperti dirinya.
Tetapi, hal itu juga tidak menghilangkan rasa syukur Ainisha kepada Allah. Bahwa dia masih diberikan kesempatan untuk hidup lebih lama. Bahkan hidup dengan buah cintanya dengan Haikal.
Selama beberapa hari, Ainisha mengikuti perkembangan Resia. Hal yang paling membuat Resia cukup puas adalah ketika melihat Resia sedih dengan keputusannya untuk mengangkat rahimnya. Ada sedikit senyum dibibir Ainisha saat Resia menangis dan berteriak.
Apakah sekarang aku telah berubah menjadi psikopat karena sebuah dendam? batin Ainisha.
Bersambung
__ADS_1