
Ainisha merasa senang dan bahagia melihat kehidupan rumah tangga John dan Resia tidak seindah dulu lagi. Bayangan bahwa mereka akan hidup tanpa adanya seorang anak, menghantui kehidupan mereka.
Meskipun dibibir, John yakin dia akan bisa menerima Resia apa adanya, tetapi John masihlah tetap manusia biasa. Seorang pria yang mendambakan keturunan. Keturunan yang berasal dari darah dagingnya sendiri bukan dari hasil adopsi.
Saat seperti inilah, John teringat pada Clara. Wanita yang pernah mengisi hatinya sebelum bertemu Resia. Terakhir kali mereka bertemu, delapan bulan yang lalu. Saat itu Clara mengatakan padanya bahwa dia sedang hamil dan meminta pertanggungjawaban dari John. Sayangnya, John menolak Clara karena terpikat pada Resia.
John termenung, melihat Resia tampak sedih sepanjang hari. Niat hati ingin menghibur, tetapi suasana hati Resia tampak tidak baik-baik saja. Resia lebih banyak berdiam diri dan menangis setelah keluar dari rumah sakit.
"Sayang, berhentilah menangis. Kamu harus kuat. Apapun keadaan kamu, aku akan menerima. Jadi kamu tenanglah," ucap John berusaha menenangkan istrinya.
"John, kamu tidak akan pernah tahu, bagaimana rasanya menjadi wanita yang tidak sempurna. Sakit, sedih, putus asa dan rasanya aku ingin mengakhiri hidupku saat ini," ucap Resia penuh emosi.
"Aku mengerti bagaimana perasaan kamu. Sayang ...," ucap John terhenti.
"Pergi ... sana pergi. Aku ingin sendirian," ucap Resia dalam kondisi tidak stabil.
John hanya bisa menuruti keinginan istrinya. John keluar dan pergi menuju ke sebuah cafe untuk merilekskan diri setelah di rumah selalu dimarahi Resia.
Tanpa sengaja, dia bertemu dengan Clara yang saat itu juga sedang di cafe bersama Haikal untuk membicarakan kerjasama yang baru. Clara juga tidak menyangka akan bertemu John di tempat ini.
John menatap tajam Clara. Timbullah keinginan dihatinya untuk bertanya tentang anaknya. Walaupun mungkin terlambat, tetapi tidak ada salahnya untuk mencoba mendekati Clara kembali.
John mendekati Clara yang setelah melihat Clara dan Haikal sudah selesai membahas pekerjaan. Dengan perasaan ragu, John menyapa Clara.
"Clara, boleh aku bicara padamu sebentar?" sapa John pelan.
"John," gumam Ainisha kaget.
Sementara Haikal yang sudah mengetahui hubungan Clara dan John dahulu, hanya diam dan merasa canggung.
__ADS_1
"Clara, karena pembahasan kita sudah selesai, aku tidak akan menghalangi jika kamu memiliki urusan lain," ucap Haikal kemudian.
Ainisha melihat kearah John yang masih berdiri menunggu jawaban darinya. Ada rasa kebingungan yang menyelimuti hati Ainisha. Karena sejak apa yang terjadi pada Resia, keinginannya untuk membalas dendam pada John dan Resia telah dia singkirkan sejak beberapa hari lalu.
"Baik, silahkan," jawab Ainisha sambil berdiri.
Ainisha mengikuti langkah John menuju ke tempat duduk John. Mereka duduk berhadapan dan John memanggil pelayan untuk memesan segelas minuman. Setelah minuman datang, barulah John mulai berbicara.
"Clara, silahkan diminum dulu?" ucap John sambil Ainisha.
"Terima kasih. Katakan saja apa yang ingin kamu bicarakan. Karena seperti yang pernah kamu katakan padaku beberapa waktu lalu, bahwa kita sudah tidak ada hubungan lagi. Kamu pasti belum lupa dengan semua itu," ucap Ainisha agak kesal.
"Clara, aku minta maaf jika saat itu, perkataanku telah menyakiti hatimu. Aku saat itu hanya takut jika kamu melakukan hal yang bodoh lagi seperti dulu," jawab John.
"Melakukan hal bodoh, apa maksud kamu?" tanya Ainisha bingung.
"Clara, siapa yang tidak tahu kamu dulu seperti apa. Tetapi sekarang kamu tampak jauh berbeda. Aku seperti tidak mengenalimu lagi. Clara, jujur saja, aku kini mengagumimu. Sikap kamu juga semakin dewasa," ucap John memuji Clara.
"John, kamu tidak perlu bicara seperti itu. Kita hanya manusia biasa, yang pasti akan berubah. Entah itu berubah baik atau malah bertambah buruk. Tapi, terima kasih karena kamu menganggap perubahanku menjadi lebih baik," ucap Ainisha lalu tersenyum untuk memberikan kesan ramah.
"Kamu benar. Sebenarnya itu juga yang ingin aku bicarakan. Aku ingin minta maaf atas apa yang pernah aku lakukan dulu padamu. Aku menyesal telah menyakiti hatimu dengan tidak percaya bahwa kamu hamil anakku," ucap John sedih.
"Semua itu sudah berlalu. Aku juga sudah tidak ingin mengingat semua itu lagi. Mengingat rasa sakit yang teramat sangat," ucap Ainisha mencoba bersikap sebagai Clara.
Ainisha mulai curiga dengan sikap John yang berubah baik dan perhatian padanya. Ainisha ingin mencari tahu, apa yang sebenarnya ada di dalam hati John saat ini. Ainisha tidak ingin dirinya yang akan terjebak dengan jebakan John.
"Clara, apakah kamu sudah menikah?"
"Belum. Kenapa?" tanya Ainisha balik.
__ADS_1
Ainisha melihat ke arah John yang ragu untuk menjawab pertanyaan Ainisha. Saat itulah, Haikal yang sejak tadi terus memperhatikan Clara dan John melangkah pergi melewati mereka sambil menyapa Ainisha.
"Clara, aku harus segera pulang. Tolong sampaikan salamku untuk ibumu," ucap Haikal.
"Tunggu, bisakah aku ikut mobilmu. Aku tadi ada yang lupa, masih ingin aku tanyakan padamu. Sambil jalan saja," ucap Ainisha sambil berdiri menatap Haikal.
"Apa kalian sudah selesai berbicara?" tanya Haikal sambil melihat kearah John.
"Sudah. Tidak ada yang penting kok," jawab Ainisha yang langsung berjalan mendekati Haikal.
"Baiklah kalau begitu," ucap Haikal.
Ainisha tidak perduli dengan apa yang dipikirkan John saat ini tentang sikapnya. Ainisha hanya ingin menghindari pertanyaan yang paling ditakutkan Ainisha. Yaitu, tentang anaknya, Haidar Ziyan.
John pasti ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang dirinya saat ini. Ainisha ingin memikirkan kembali sebelum melangkah lebih jauh untuk merusak rumah tangga John dan Resia.
Ainisha mengikuti langkah Haikal menuju keluar cafe. Sesampainya diluar, Ainisha berhenti mengikuti Haikal. Hal itu membuat Haikal bingung karena tadinya dia berbicara, dan tidak ada yang menyahut. Ternyata, Ainisha tidak lagi di belakangnya.
Haikal berbalik arah dan mendekati Ainisha yang berdiri menunggu taksi. Haikal menarik Napas dalam-dalam menyadari bahwa, wanita didepannya ini banyak rahasia seperti Ainisha dulu.
"Clara, bukanya tadi kamu bilang ada yang ingin kamu tanyakan padaku?" tanya Haikal penasaran.
"Maaf, tadi aku hanya membuat alasan agar bisa segera pergi. Sekali lagi, maaf pak Haikal," jawab Ainisha sambil tersenyum malu.
"Oh, jadi hanya alasan saja. Kalau begitu, aku pergi dulu," ucap Haikal lalu melangkah pergi.
Ainisha menatap kepergian Haikal dengan sedih. Tidak lama kemudian, sebuah taksi berhenti di depan cafe dan Ainisha segera naik. Ainisha harus kembali ke perusahaan, untuk melaporkan hasil pembicaraannya tadi dengan Haikal pada Bu Minarsih.
Mulai kini, Ainisha harus bisa menjadi Clara dan menerima semuanya dengan ikhlas.
__ADS_1
Bersambung