Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 31. Aku Ainisha


__ADS_3

Ainisha merasa bersalah pada kedua orangtuanya, terutama pada ibunya. Dia menunggui ibunya bersama sang ayah yang tampak sangat khawatir.


Ainisha menghubungi Bu Minarsih, untuk mengabarkan bahwa malam ini, mungkin Ainisha akan pulang terlambat karena ibunya masuk rumah sakit. Ainisha akan memastikan bahwa kondisi ibunya baik-baik saja.


Setelah kondisi Bu Semi stabil, beliau sudah boleh di temui. Dengan catatan tidak boleh mengganggu pasien. Ainisha bersama pak Harjo masuk keruang ICU secara bersamaan.


Ainisha sangat sedih, melihat ibunya terbaring dengan kondisi yang penuh dengan alat-alat medis yang ada di beberapa bagian tubuhnya. Ainisha tidak dapat membendung airmatanya yang mulai menetes. Hal itu membuat pak Harjo heran.


"Nak, Bapak ingin bicara denganmu sebentar. Kita bicara diluar," ajak pak Harjo serius.


Ainisha menyadari, pasti ayahnya curiga akan keberadaannya. Mungkin memang sebaiknya semua tetap seperti awal sebelum dia datang. Ainisha duduk di samping pak Harjo.


"Apa benar kamu teman SMA Ainisha, putriku?" tanya pak Harjo menyelidik.


"Benar, Pak. Saya minta maaf, karena telah membuat istri Bapak masuk rumah sakit. Saya tidak ada maksud seperti itu," jawab Ainisha sedih.


"Tidak apa-apa. Memang, semenjak Ainisha meninggal, ibunya Ainisha sering merasa sedih saat melihat teman sekolahnya datang. Makanya Bapak meminta mereka untuk tidak datang ke rumah," kata Pak Harjo sedih.


"Apa, Ainisha sudah meninggal?" tanya Ainisha kaget. "Kapan?"


Pak Harjo mulai bercerita, awal kejadian yang dialami Ainisha. Malam itu, pak Harjo dan Bu Semi mendapatkan panggilan telepon dari Rumah sakit yang mengatakan bahwa Ainisha meninggal.


Padahal, Ainisha sudah lama pergi dari rumah sakit dan pamit untuk mengerjakan tugas. Mereka awalnya tidak tahu, tugas apa yang membuat Ainisha bisa meninggal.


Ternyata, ada seorang laki-laki yang mengaku sebagai suami Ainisha. Dia meminta maaf pada Pak Hadi, karena telah membuat Ainisha pulang naik taksi sendirian. Taksi tersebut mengalami kecelakaan dan terbakar. Dia mengetahui nomor plat mobil yang di pesan oleh Ainisha.


"Meskipun kami sangat sedih, kami sudah berusaha menerima kenyataan bahwa putri kami satu-satunya telah tiada," ucap pak Harjo terlihat tulus.


"Maafkan saya, Pak. Apakah kalian butuh bantuan? Saya bersedia membantu sebagai teman Ainisha," ucap Ainisha menawarkan bantuan.

__ADS_1


"Tidak perlu. Menantu kami sudah memberi kami tempat untuk berjualan. Agar kami bisa terus bersama sehingga Bapak bisa menjaga ibunya Ainisha setiap saat," jawab Pak Harjo sambil menghela napas.


Ainisha merasa sedih, saat ayahnya menolak bantuan dari dia. Dia ingin berkata, bahwa dia adalah Ainisha. Tetapi mulutnya terkunci rapat-rapat karena dia juga masih memiliki misi baru untuk membalas dendam.


Satu lagi yang membuat Ainisha agak bingung, Haikal sudah mengakui bahwa Haikal adalah suami Ainisha. Pasti ibunya setuju karena mengira Ainisha sudah meninggal.


Saat Ainisha mengira-ngira keputusan Haikal dan ibunya, Haikal tampak setengah berlari mendekati mereka.


"Ayah, bagaimana kondisi ibu?" tanya Haikal penuh rasa cemas.


Apakah apa yang aku lihat ini benar, ataukah semua ini hanya mimpi? batin Ainisha.


"Haikal, kamu jangan cemas. Dokter sudah berusaha yang terbaik. Sekarang, ibu mertuamu dalam kondisi stabil, meski masih harus berada di ruang ICU," jawab pak Harjo sambil memegang tangan Haikal.


"Ayah, bukankah semalam ibu mertua baik-baik saja. Kenapa bisa terjadi hal seperti ini?" tanya Haikal lagi.


Saat melihat Haikal, Ainisha menjadi gugup. Tetapi Ainisha berusaha tenang karena sekarang wajahnya dan juga dirinya berperan sebagai Clara. Tidak ada alasan baginya untuk kembali terpikat dengan Haikal yang sudah jelas memilih ibunya daripada dirinya.


"Kamu, teman Ainisha? Kalau kamu adalah teman Ainisha, kenapa kamu tidak tahu jika Ainisha sudah meninggal?" tanya Haikal curiga.


"Selama ini aku tinggal di luar negeri. Jadi aku tidak tahu kalau Ainisha sudah meninggal. Aku turut berduka cita," jawab Ainisha sedikit merubah gaya bicaranya.


"Terima kasih. Saya minta mulai sekarang jangan temui ibu mertua saya lagi," ucap Haikal sedikit mengancam.


Ainisha hanya terdiam mendengar perkataan Haikal. Ainisha tidak percaya jika Haikal sangat perhatian dengan ibunya setelah Ainisha dinyatakan meninggal. Apa yang sebenarnya ingin dia tunjukkan. Muak rasanya melihat kemunafikan Haikal.


Sementara Bu Semi mulai sadar dan berangsur-angsur membaik. Tetapi tidak ada yang mengira jika pertama kali yang dia tanyakan adalah dia.


"Dimana dia," tanya Bu Semi lemah dan hampir tidak terdengar.

__ADS_1


"Siapa, siapa yang kamu cari?" tanya pak Harjo berusaha mendekatkan telinganya ke bibir Bu Semi agar lebih jelas.


"Gadis itu."


Pak Harjo mengerti apa maksud sang istri. Dia menoleh ke arah Haikal. Haikal lalu keluar untuk memanggil Ainisha yang masih berdiri dengan hati gelisah dan cemas. Dia ingin sekali melihat kondisi ibunya.


"Hei, Nona. Bu Semi ingin bertemu denganmu," panggil Haikal datar.


Ainisha kaget mendengar panggilan Haikal. Ainisha masih terdiam karena dia tidak percaya jika ibunya ingin bertemu dengannya. Padahal dia yang sudah membuat ibunya masuk rumah sakit.


Apakah ibu ingin memarahiku? batin Ainisha.


"Nona, temuilah ibu mertuaku, sebentar saja. Sebenarnya, saya tidak suka ada orang yang menyebabkan ibu mertuaku sakit. Tetapi karena beliau sendiri yang meminta ingin bertemu dengan anda, saya akan membiarkan Anda bertemu beliau. Tapi, saya akan mengawasi anda," ucap Haikal kembali dengan nada formal.


Ainisha mengangguk pelan, lalu mengikuti langkah Haikal. Untuk sesaat dia berhenti, ketika dia sudah bisa melihat ibunya. Dia mengusap airmatanya untuk menghilangkan kecurigaan semua orang.


Haikal dan Pak Harjo meninggalkan Ainisha hanya berdua dengan ibunya. Ainisha duduk di samping dekat ibunya kalau dia memegang tangan yang dulu selalu membelainya ketika dia dalam kesedihan. Ainisha melihat ibunya ingin bicara, tetapi terlihat sangat sulit.


"Ibu, ibu tidak perlu banyak bergerak ataupun bicara. Saya mengerti kesalahan saya. Saya minta maaf pada ibu. Karena saya, ibu masuk rumah sakit," ucap Ainisha sambil menatap ibunya dengan tatapan sedih.


Ibunya hanya terlihat menggelengkan kepalanya perlahan, seolah dia tidak marah pada Ainisha.


Tangan ibunya menggenggam erat tangan Ainisha. Airmata ibunya tiba-tiba menetes diujung matanya yang terlihat sayu. Ainisha mengusap airmata ibunya dengan ujung jarinya dengan lembut. Cukup lama mereka larut dalam perasaan masing-masing.


Ainisha kemudian memutuskan untuk pergi meninggalkan ibunya dan kembali ke rumah Bu Minarsih. Ainisha ingin segera menyelesaikan dendamnya pada Resia dan John. Setelah itu, barulah dia akan mengaku pada orangtuanya bahwa dia masih hidup meski dengan wajah orang lain.


Ainisha mulai mempersiapkan diri untuk muncul dihadapan John sebagai Clara.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2