Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 18. Dimana-mana ada kamu


__ADS_3

Kepergian Ainisha menyisakan kesedihan yang dalam bagi Haikal. Harapannya hidup bahagia bersama Alisha, kini telah berakhir sudah. Haikal kian putus asa, ketika menyadari bahwa mungkin mereka memang tidak berjodoh.


Alisha memang datang dan pergi tanpa diduga. Bahkan terakhir kali, Alisha hilang bagai ditelan bumi. Kali ini, meski Alisha sudah berstatus sebagai istrinya, kenapa tetap saja dia bisa meninggalkannya begitu saja.


Rasa putus asa ini, membuat Haikal membayar seseorang untuk mencari keberadaan Alisha. Walaupun Haikal sadar, tidak akan semudah itu bisa menemukan Alisha jika Alisha sendiri tidak ingin muncul.


Penyesalan terbesarnya adalah, membiarkan Alisha tanpa pengawalan dan Haikal terbuai dengan cinta yang ditunjukkan Alisha padanya. Haikal terlalu percaya diri bahwa Alisha tidak akan pergi lagi.


Haikal memutuskan tidak memberitahukan kepergian Alisha pada ibunya. Haikal tidak dapat membayangkan bagaimana reaksi ibunya saat tahu menantu kesayangannya pergi dari rumah. Terlebih lagi Haikal masih berharap, suatu saat Alisha akan kembali.


Setidaknya Haikal yakin, bahwa dia akan bisa membawa Alisha kembali meski dengan paksaan sekalipun. Jika saat itu tiba, Haikal akan memaksa Alisha berada disisinya dan tidak akan memberi kesempatan pada Alisha untuk sedetikpun lepas dari pandangannya.


Sebulan sudah berlalu sejak kepergian Alisha. Haikal kini berubah menjadi pribadi yang dingin. Dingin pada semua wanita hingga sebutan Casanova padanya berubah menjadi balok es. Haikal lebih banyak diam, karena bayangan Alisha masih terus menghantuinya. Bahkan di dalam lingkungan perusahaannya, dia seolah melihat Alisha.


Siang itu, Haikal tampak tidak bersemangat. Dia duduk bersandar di kursinya sambil memutar-mutar kursinya. Saat Tama datang dan mengetuk pintu, Haikal sama sekali tidak mendengarnya. Bahkan, Tama mengetuk untuk yang ketiga kali, Haikal masih tidak bereaksi. Akhirnya Tama masuk karena khawatir dengan keadaan bosnya yang tampak berubah setelah di tinggal pergi istrinya.


"Bos," panggil Tama yang mengagetkan Haikal.


"Kenapa tidak mengetuk pintu?" tanya Haikal sambil menghentikan kegiatannya memutar-mutar kursinya.


"Sudah tiga kali aku mengetuk pintu, Bos. Tapi, sepertinya Bos tidak mendengar. Tama khawatir, terjadi sesuatu pada Bos," jawab Tama.


"Benarkah? Ada perlu apa kamu menemuiku?"


"Bos, sudah waktunya makan siang. Bos mau makan apa. Bos harus makan, jangan menyiksa diri Bos lagi. Jika Bos ingin menemukan istri Bos kembali, Bos harus kuat dan penuh semangat. Bos harus menjaga kesehatan. Bos tidak boleh putus asa. Mungkin dia memiliki kesulitannya sendiri yang tidak bisa dikatakan pada Bos," kata Tama memberi semangat


bos-nya.


"Kamu benar, Tama. Aku memang harus tetap bertahan dan harus tetap sehat untuk bisa terus mencarinya," kata Haikal sambil mengejan nafas.


"Kalau begitu, Bos harus makan. Bos mau makan apa? Apa pesen pizza saja seperti beberapa waktu lalu?" tanya Tama.

__ADS_1


"Boleh juga. Tapi bukannya kamu bilang, pesanan berakhir karena adik kelasmu berhenti bekerja?"


"Bukan berhenti, Bos. Kalau berhenti, dia bisa bekerja di sini seperti permintaan Bos. Tapi dia tiba-tiba menghilang dan keluarganya juga tidak tahu dia kemana," jawab Tama sedih.


"Ah, Wanita memang makhluk yang susah dimengerti. Tiba-tiba datang, tiba-tiba menghilang," gumam Haikal.


"Tapi, kudengar dia sudah kembali bekerja. Nanti aku hubungi dia," kata Tama.


"Suruh cepat," kata Haikal.


"Siap, Bos. Sekarang juga aku langsung hubungi dia."


Haikal menatap Tama sambil tersenyum, sebelum dia sibuk dengan berkas-berkas yang ada didepannya. Berkas sebanyak ini, seharusnya tadi sudah berkurang. Gara-gara sering termenung, semua berantakan. Haikal menoleh ke arah Tama yang tampak galau.


"Tama, kamu kenapa?" tanya Haikal.


"Bos, kayaknya Aini nggak bisa. Dia ada ketempat lain, padahal dia itu bisa cepat jika antar pesanan."


"Wah, ide Bos boleh juga," kata Tama sambil tertawa senang.


Sesuai perintah Haikal, Tama menghubungi bos-nya Ainisha dan akan memesan setiap hari dengan syarat harus diantarkan oleh Ainisha. Tanpa menunggu lama, Bos Ainisha setuju dengan syarat Tama. Tama tersenyum bahagia karena bisa membuat Ainisha datang mengantarkan makanan pesanan mereka.


"Bos, sudah beres. Aku ke depan dulu untuk menunggu Aini datang," kata Tama lalu berlalu pergi.


Haikal lupa, jika ada sesuatu yang ingin ditanyakan pada Tama. Sayangnya, Tama sudah terlanjur pergi. Haikal meneruskan pekerjaannya memeriksa beberapa berkas. Setelah beberapa lama, Haikal beranjak dari kursinya untuk menemui Tama.


Berjalan dengan gaya seorang bos, Haikal menuju keluar ruangannya menuju ke arah kamar mandi. Tanpa sengaja, matanya tertuju kepada seseorang yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Alisha," gumamnya pelan.


Haikal mengikuti wanita itu hingga ke depan perusahaannya. Haikal terkejut saat tahu, siapa wanita itu. Dia adalah Aini, adik kelas Tama. Jika diperhatikan dengan seksama, wajah mereka cukup mirip. Tetapi mereka berbeda dari segi yang lainya. Penampilan, gaya hidup, cara berjalan dan pokoknya mereka berbeda.

__ADS_1


Haikal kembali ke ruangannya dengan perasaan sedih. Apakah karena dia sedang merindukan Alisha, makanya semua wanita yang dia temui, seolah mirip dengan Alisha.


Alisha-Alisha, kamu dimana? Tidakkah kamu merindukan aku, seperti aku yang sangat merindukan kamu? Kembalilah sayangku, datanglah, batin Haikal.


Ketukan pintu dari luar menyadarkannya dari lamunan.


"Masuk," teriak Haikal.


Tama masuk dengan membawa dua kotak pizza. Kedua kotak pizza itu diletakkan diatas meja tidak jauh dari meja kerja Haikal.


"Bos, makan siang sudah siap. Saya akan keluar untuk makan siang juga," kata Tama mempersilahkan Haikal untuk segera makan.


"Tama, bukankah pizza ini ada dua. Makanlah yang satunya. Aku tidak mungkin menghabiskan dua kotak sekaligus," kata Haikal sambil menyodorkan sekotak pizza pada Tama.


"Wah, boleh nih, Bos."


Tama duduk di samping Haikal yang juga segera membuka pizza yang sudah tercium aromanya yang menggugah selera. Mereka makan sambil sesekali saling berpandangan.


"Tama, bukankah Aini itu gadis yang pernah membantu ketika mobil kita mogok waktu itu?" tanya Haikal ketika mereka sudah terlihat kenyang.


"Betul sekali, Bos. Ada apa, kenapa Bos bertanya tentang Aini?"


"Dulu tidak sempat memperhatikan. Ternyata dia masih muda sekali," kata Haikal.


"Tidak juga, Bos. Aini terlihat lebih muda karena karakternya yang ceria dan selalu tersenyum," jawab Tama.


Saat mereka berbincang santai, ponsel Haikal berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk dari ibunya. Dalam pesan singkat dikatakan bahwa ibunya sudah kangen ingin bertemu dengan Alisha. Minggu depan, ibu datang.


Wajah Haikal yang tadinya biasa saja kini berubah panik. Panik memikirkan apa yang akan terjadi pada ibunya ketika mengetahui bahwa Alisha telah pergi meninggalkannya.


Aku harus memikirkan cara, agar tidak membuat ibu kecewa, batin Haikal.

__ADS_1


__ADS_2