Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 59. Menanti pertolongan


__ADS_3

Suasana siang ini sangat panas. Sepanas hati Ainisha yang seakan terbakar karena ulah John. John memang manusia yang tidak tahu aturan. Demi bisa menikahi Ainisha, John menerjang norma yang ada. Ingin menikahi wanita yang sudah bersuami. Satu kata untuk John, gila.


Demi bisa menjauhkan Haidar dari John, Ainisha kini ikut-ikutan menjadi gila. Dia menerima permintaan John untuk menikah dengannya. Kegilaan Ainisha ini, tidak akan pernah terbayangkan olehnya, akan dilakukan oleh Ainisha sendiri. Semua orang akan mengutuk dirinya, bahkan mungkin akan menganggapnya wanita paling menjijikkan. Memiliki dua suami. Jauh di lubuk hati Ainisha, dia tidak ingin semua itu terjadi.


Ainisha memastikan diri mengantarkan Haidar menggunakan mobil lain untuk mengantar Haidar ke rumah neneknya. Haidar tidak secara langsung diantarkan ke sana. John menggunakan cara tersembunyi meninggalkan Haidar di depan rumah Bu Minarsih. Hal itu John lakukan, karena John tidak ingin keberadaan Ainisha di ketahui oleh orang lain.


Ainisha melihat dari kejauhan, ketika satpam menemukan Haidar dan membawanya masuk kedalam rumah. Setelah Ainisha memastikan Haidar sampai dengan selamat ke rumah neneknya, Ainisha bisa bernapas dengan lega.


Kini saatnya Ainisha mempersiapkan diri untuk menghadapi John. Setelah tidak ada ancaman lagi dari John, Ainisha akan bisa lebih leluasa bertindak. Ainisha berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Dia mempersiapkan sebuah pisau bekas mengupas buah, yang kebetulan dia minta saat bibi memberinya buah hari ini.


Ainisha berpikir sekali lagi, tentang keinginannya untuk bunuh diri. Karena agamanya melarang dan mengharamkan untuk bunuh diri. Karena hidup dan mati adalah milik Allah. Ainisha mengingat kembali, saat-saat bahagia bersama Haikal dan Haidar. Jika dia bunuh diri, tidak hanya dia telah berdosa besar, tetapi juga akan menyakiti orang-orang yang mencintainya.


Jadi seberat apapun cobaan ini, Ainisha ingin meyakinkan hatinya, bahwa pertolongan itu akan datang disaat waktu yang tepat. Jika dia bisa bertahan, masih ada kemungkinan baginya untuk bisa berkumpul lagi dengan anak dan suaminya.


Ainisha mengembalikan pisau yang dipegangnya ke atas piring buah. Dan dia Kemabli berdoa, agar diberikan jalan yang terbaik untuk hidupnya.


Saat itulah, bibik datang dengan membawa seorang penata rias untuk mendandaninya. Dengan perasaan sedih, Ainisha membiarkan dirinya diperlakukan sebagai calon pengantin baru. Saat itu hatinya sudah sangat putus asa. Karena tidak ada, tanda-tanda akan ada orang yang membantunya melepaskan diri dari cengkeraman John.


Ainisha melihat ke arah jendela dan terpikir olehnya untuk melarikan diri lewat sana. Tetapi, semua harus dipikirkan baik-baik sebelum bertindak, agar tidak ketahuan. Ainisha meneteskan air mata sehingga, penata rias tersebut mengalami kesulitan untuk membuat riasan yang sempurna. Terdengar suara helaan napas kesal dari mbak Rere sang penata rias, hingga dia akhirnya menyerah.


"Saya menyerah, Pak John," ucap sang penata rias ketika John datang.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya John bingung.


"Pengantin anda terus meneteskan airmata. Itu menghabiskan stok bedak yang saya bawa," jawab Mbak Rere mengeluh.


"Anda tidak usah khawatir masalah itu. Sediakan saja yang anda perlukan. Soal biaya, Anada tidak perlu khawatir. Lagi pula, pengantinku sudah cantik alami. Dia tidak perlu dipoles terlalu tebal," ucap John memuji Ainisha.


"Baik, Pak John. Sesuai keinginan Anda," ucap mbak Rere.


Mendengar pujian John tidak lantas membuat Ainisha senang. Ainisha merasa jijik mendengar semua itu dari mulut John. Mbak Rere kembali merias Ainisha dengan riasan sederhana.


Setelah John dan mbak Rere pergi, Ainisha bergegas menuju ke arah balkon. Dia melihat ke bawah untuk mengukur, seberapa jauh jarak tinggi kamar ini dengan dengan tanah. Sesudah mengira-ngira, Ainisha mencari apa saja yang bisa disambung menjadi tali yang panjang.


Dengan mengucap kata Bismillah, Ainisha naik keatas pagar balkon. Ainisha merasa agak takut dan juga merasa agak repot, karena dia saat ini memakai gaun pengantin jawa. Tetapi demi bisa lepas dari John, dia harus berani dan berusaha cekatan.


Ainisha segera turun dengan berpegangan pada tali kain tersebut dan turun perlahan tanpa melihat ke bawah lagi. Hal itu Ainisha lakukan karena jika dia melihat ke bawah, pasti dia kan merasa ketakutan dan ragu untuk turun.


Perlahan namun pasti, Ainisha sudah sampai pada ujung tali kain tersebut. Dan Ainisha akan segera melompat turun karen tinggal sekitar satu meter lagi dari ujung kakinya. Akan tetapi, tiba-tiba seseorang menangkapnya dan langsung menggendongnya menuju depan rumah.


Tanpa Ainisha ketahui, ternyata saat Ainisha melemparkan tali tadi, John sudah tahu jika Ainisha ingin melarikan diri. Tetapi John sengaja menunggu hingga Ainisha benar-benar melakukannya.


Ainisha berteriak dan meronta-ronta dalam gendongan John, yang tidak peduli dengan teriakan Ainisha. John segera membawa Ainisha ke dalam dan didudukkan di atas sofa. Dangan tatapan tajam, John berdiri di depan Ainisha yang terdiam takut.

__ADS_1


John lalu memanggil dua anak buahnya untuk mengambil tali dan mengikat tangan Ainisha. Ainisha tentu saja kembali berteriak berharap John mau melepaskannya. Tetapi percuma saja. John sudah terlanjur kecewa pada Ainisha.


"Lepaskan aku! Kenapa tanganku kamu ikat?" terima Ainisha.


"Inilah akibatnya, karena kamu sudah membuatku kecewa. Aku tidak menyangka, kamu ternyata berani berbohong padaku. Padahal, aku sudah menuruti apa yang kamu inginkan," ucap John dengan nada marah.


"Karena apa yang kamu inginkan adalah hal yang gila, John. Aku ini wanita bersuami, jangan jadikan aku wanita yang berdosa dengan memiliki dua suami," ucap Ainisha sambil memohon.


"Orang tidak akan tahu, karena aku sudah menyelidiki bahwa kamu menikah dengan Haikal atas nama Ainisha bukan Clara. Jadi kita akan tetap saja sebagai suami istri," ucap John sambil tertawa.


"Aturan dari mana yang kamu katakan itu? Kamu jangan membuat aturan sendiri yang membenarkan perbuatanmu. Meskipun aku menikah atas nama Ainisha, tetapi aku adalah orang yang sama. Jadi jangan memaksa lagi," ucap Ainisha sedih.


"Tidak. Aku ingin kamu tetap jadi istriku, Clara. Sekalipun, kamu tidak mencintaiku lagi. Yang penting, aku mencintaimu," ucap John tersenyum menyeringai.


Ainisha sudah merasa putus asa. Segala usaha sudah dia lakukan, tetapi tetap saja tidak berhasil. Ainisha kini hanya bisa pasrah pada takdir sekalipun dia masih berharap akan ada keajaiban untuk hidupnya.


Hari sudah menjelang pukul 10. Pak penghulu dan saksi sudah datang. John menyambut kedatangan mereka, dengan senyum kemenangan. Sebentar lagi, Ainisha akan menjadi istrinya.


Ainisha merasa tertekan dan sedih. Pikirannya dan hatinya kacau dan matanya mulai berkunang-kunang, saat dia duduk disamping John yang sudah siap mengucapkan ijab kabul. Ainisha masih sempat melihat tangan John dan pak penghulu berjabat tangan, sampai akhirnya dia terkulai pingsan tidak sadarkan diri.


John panik melihat Ainisha tiba-tiba pingsan saat dia akan mengucapkan ijab kabul. Apa yang terjadi?

__ADS_1


__ADS_2