
Menjadi ibu tunggal ternyata tidaklah mudah. Meskipun, Ainisha memiliki baby sitter untuk membantunya merawat Haidar, tetap saja ada sesuatu yang kurang. Ainisha sudah berusaha mencoba menjadi seorang wanita yang tangguh dan tegar demi sang anak. Akan tetapi tetap saja dia terus merindukan kehadiran sosok pria yang sangat dia cintai.
Kenyataan hidup mengharuskannya menjadi wanita yang harus bisa lebih bersikap dewasa. Wanita yang tidak harus menangis ketika ditinggalkan pria bahkan tidak harus bunuh diri untuk menunjukan sebuah rasa, cinta. Baginya, Clara adalah contoh terbaik yang harus bisa dia ambil hikmahnya.
Ketika seorang pria memilih meninggalkan kita, seharusnya kita harus menunjukan padanya, bahwa pilihannya adalah salah. Kita harus bisa menunjukkan bahwa diri kita, adalah wanita yang berharga. Bahkan lebih berharga dari pilihannya saat ini.
"Ibu Clara, Ibu Clara ...," panggil Sisi, baby sitter Ainisha.
Ainisha tampak kaget mendengar suara panggilan Sisi. Karena saat itu, Ainisha sedang duduk melamun di kamarnya. Dia bergegas berdiri dan berbalik badan.
"Ada apa, Si?" tanya Ainisha.
"Badan Haidar agak demam. Tadi sudah Sisi kompres, tetapi sepertinya demamnya belum turun juga," jawab Sisi khawatir.
"Apa, Haidar demam?" gumam Ainisha cemas.
Mendengar perkataan Sisi, Ainisha menjadi panik. Dia langsung berlari menuju ke arah Haidar yang berbaring di atas tempat tidur.
"Kita langsung bawa saja ke rumah sakit," ucap Ainisha yang langsung menggendong Haidar keluar. "Siapkan keperluan Haidar, aku tunggu di mobil."
Ainisha segera menuju ke mobil yang terparkir didepan rumah. Sementara pak Joko yang sedang membersihkan kaca mobil, ikut panik melihat Nona mudanya berlari sambil menggendong bayinya.
"Nona, Den Haidar kenapa?"
"Haidar demam. Tolong, antar kami ke rumah sakit," jawab Ainisha dengan nada cemas.
"Baik, Non."
"Tunggu, Sisi sebentar."
Ainisha melihat ke arah pintu yang tidak lama kemudian, muncul Sisi dengan membawa kebutuhan Haidar.
"Sisi, cepatlah!" teriak Ainisha.
__ADS_1
Sisi setengah berlari mendekati mobil yang sudah bersiap berangkat. Mobil berjalan setelah Sisi masuk kedalam mobil. Ainisha menciumi Haidar sambil meneteskan air mata.
Mobil melaju kencang menuju ke rumah sakit Harapan Mulia. Selama perjalanan, Ainisha terus meneteskan air matanya tiada henti. Meskipun tidak terdengar suara isak tangisnya.
Sesampainya di IGD, Ainisha segera membawa Haidar masuk yang segera di sambut oleh petugas jaga. Sementara Sisi mengikutinya dari belakang.
Saat ini, Ainisha sangat takut akan terjadi sesuatu pada Haidar. Haidar, titipan dari Tuhan dan tanda cinta yang paling berharga baginya ini, terlihat sangat lemah. Tetapi, meskipun dalam kondisi sakit, Haidar tidak terdengar suara tangisnya. Hal itu malah membuat Ainisha semakin khawatir dengan keadaan Haidar.
Dokter meminta Ainisha untuk menunggu di luar selama dokter menangani Haidar. Ainisha tampak gelisah dan cemas. Dia berjalan mondar-mandir, lalu duduk, lalu berdiri kembali dan seperti terus hingga berulang kali.
Sisi, sang pengasuh juga tidak kalah cemas dan panik. Dia sangat takut jika terjadi sesuatu pada anak majikannya. Pasti Ibu majikannya itu, nanti marah padanya karena dianggap tidak becus mengurus bayi. Bisa jadi dia akan dipecat.
Setelah beberapa saat, salah seorang dokter keluar untuk memberikan penjelasan.
"Dok, bagaimana kondisi anak saya?" tanya Ainisha panik.
"Ibu tenang saja. Anak Ibu hanya mengalami demam biasa saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," jawab pak dokter tenang.
"Anak Ibu tidak perlu rawat inap. Kami sudah melakukan beberapa tes, termasuk tes laboratorium. Dan tidak ditemukan masalah yang berarti. Kami sudah memberinya obat turun panas. Silahkan Ibu mengurus prosedurnya untuk segera membawanya pulang," ungkap dokter tersebut.
"Baik, Dok. Terima kasih," ucap Ainisha lega.
"Sama-sama. Saya permisi dulu karena masih banyak pasien lain yang menunggu," ucap sang dokter.
"Silahkan," ucap Ainisha sambil tersenyum.
"Ibu, biar Sisi yang urus biaya pengobatan Haidar. Ibu temani Haidar saja," ucap Sisi dengan sikap bersalahnya.
"Baiklah, ini kartunya. Setelah selesai, tolong beritahu pak Joko untuk menyiapkan mobilnya," ucap Ainisha sambil memberikan kartu ATM kepada Sisi.
Ainisha masuk ke ruang perawatan Haidar setelah Sisi melangkah pergi. Ainisha menarik napas panjang sambil mendekati Haidar yang kini sedang menangis. Salah satu tenaga kesehatan IGD mempersilahkan Ainisha untuk menggendong bayinya. Ainisha segera mengangkat tubuh mungil dan dipeluknya lembut dan penuh kasih sayang.
Ainisha membawa Haidar keluar dari ruang IGD menuju teras rumah sakit untuk menghirup udara segar. Berjalan pelan sambil berusaha meninabobokan Haidar. Sampai akhirnya Haidar tertidur dalam gendongannya.
__ADS_1
"Clara ...."
Ainisha berhenti saat mendengar seseorang memanggilnya Clara. Suara dari pria yang pernah menyakiti Clara, John. Jantung Ainisha berdetak lebih cepat karena selain dia kaget, dia juga tidak akan bisa lagi menyembunyikan keberadaan Haidar.
Ainisha masih tetap tegak berdiri dan tidak bergeming. Hal itu membuat John lebih mendekat dan menepuk bahu Ainisha.
"Clara," panggil John lagi.
Merasa sudah tidak bisa lagi mengelak, Ainisha berbalik badan sambil menunjukan wajah datar pada John.
"Benar, kenapa?" tanya Ainisha kemudian.
"Bayi, apakah dia anakmu?" tanya John penasaran.
"Bukan." Jawaban tegas Ainisha untuk membuat John berhenti bertanya tentang Haidar.
"Oh, aku pikir dia anakmu. Aku sudah terlanjur bahagia melihat anak ini. Aku pikir, dia anak kita," ucap John sambil menarik napas berat.
"Anak kita?" tanya Ainisha berpura-pura bodoh.
"Iya, bukannya kamu hamil anakku? Jika dipikir-pikir, sekarang pasti kamu sudah melahirkan," ucap John seolah tidak berdosa.
"Mudah sekali kamu berbicara, John. Kamu pikir, melahirkan seorang anak tanpa suami itu mudah? Jangan kira aku akan mau melahirkan anak kamu. Aku tidak ingin mengingat bahkan melihat wajah dari pria yang sudah menorehkan luka. Apalagi pria yang telah menolak mengakui dan tidak mau bertanggungjawab atas darah dagingnya sendiri. Lebih baik aku bunuh saja anak itu," ucap Ainisha emosi.
"Clara. Aku tidak yakin kamu akan melakukan itu. Meskipun kamu membenciku, tidak mungkin kamu akan membunuh anakmu sendiri," ucap John merasa dibohongi.
Entah kenapa, Ainisha sangat marah dan tersulut emosi mendengar ucapan John. Padahal ucapan itu sebenarnya juga tidak terlalu buruk. Hanya saja, saat teringat bagaimana Clara akhirnya memutuskan mengakhiri hidupnya yang sekaligus juga mengakhiri hidup anak yang ada didalam kandungannya karena ulah John.
Sebagai sesama wanita, Ainisha seolah ikut merasakan sakitnya penderitaan yang dialami Clara saat itu. Walaupun mungkin Ainisha lebih beruntung karena dia bisa melewati saat tersulitnya dan sekarang dia masih bisa memiliki harapan untuk hidup bahagia daripada Clara. Semoga Clara mendapatkan tempat yang terindah disisi Tuhannya.
Ainisha menatap tajam wajah John dan Plakkkk ....
Bersambung
__ADS_1