
Suasana kemeriahan pesta, membuat Ainisha merasa tidak nyaman. Dia memang tidak pernah pergi ke pesta para pengusaha seperti pesta malam ini. Yang paling menarik perhatiannya adalah Haikal.
Entah dorongan apa, yang tiba-tiba membuat Ainisha ingin mendekati Haikal. Akan tetapi sebelum dia melangkah, Haikal yang lebih dulu mendekatinya.
"Hai, selamat malam," sapa Haikal sopan.
Lidah Ainisha terasa kelu untuk menjawab sapaan Haikal. Hatinya berdebar-debar dan jantungnya berdetak kencang. Apa yang terjadi pada dirinya saat ini, sungguh sesuatu yang tidak dia harapkan.
Ainisha mencoba menekan perasaanya yang mulai kacau. Senyum manisnya menghiasi bibirnya yang masih terasa kaku.
"Selamat malam," jawab Ainisha lembut meski agak gugup.
"Kamu, putrinya Bu Minarsih?" tanya Haikal lagi sambil menatap Ainisha tajam.
"Benar sekali, Pak. Anda siapa?" jawab Ainisha pura-pura tidak mengenal Haikal.
Haikal tampak tersenyum manis sekali. Senyum yang membuat Ainisha sangat tergila-gila padanya. Lalu senyum itu kini Haikal tebar pada wanita lain. Hati Ainisha berubah kesal.
"Kita pernah bertemu setahun yang lalu. Aku tidak menyangka, kalau kamu akan semudah itu melupakan orang yang pernah kamu jumpai sebelumnya," jawab Haikal sambil menghela napas.
Ainisha kaget dan bingung mendengar perkataan Haikal. Pasti saat ini kebingungannya terlihat oleh Haikal. Dia tidak berani menatap wajah Haikal karena pasti Haikal akan curiga dengan dirinya. Untunglah Bu Minarsih datang menyelamatkan hidup Ainisha dari kepanikannya.
"Malam, Pak Haikal. Apa kabar?" sapa Bu Minarsih sambil mendekati Haikal.
"Malam juga, Bu Minarsih. Kabar baik, Bu Minar sendiri, bagaimana?" jawab Haikal sambil berjabat tangan dengan Bu Minarsih.
"Baik. Lama tidak bertemu, setelah kerjasama kita berakhir setahun yang lalu," ucap Bu Minarsih santai.
Haikal dan Bu Minarsih melanjutkan pembicaraan mereka dan saling bercanda. Sesekali Ainisha mencuri pandang ke arah Haikal yang tampak lihai dalam berbicara.
__ADS_1
Ainisha menunduk saat pandangan mereka beradu. Haikal menatap Ainisha penuh rasa curiga. Ainisha juga menyadari, jika tatapan mata Haikal tampak aneh. Tetapi Ainisha tidak tahu apa yang saat ini ada didalam pikiran Haikal.
"Clara, Pak Haikal ini, ingin kembali bekerja sama dengan perusahaan kita. Ibu sudah bilang bahwa Sekarang kamu yang tangani. Jadi mulai sekarang kamu akan sering bertemu dengan Pak Haikal," ucap bu Minarsih sambil menatap Ainisha lembut.
Ainisha hanya bisa mengangguk. Dia sebenarnya ingin mengatakan pada Bu Minarsih, bahwa pria yang saat ini ada di hadapannya adalah suaminya.
"Pak Haikal, saya harap anda bisa membimbing Clara karena dia baru dalam dunia bisnis ini," ucap Bu Minarsih pada Haikal yang terus menatap Ainisha. "Kalian bicara dan saling mengenal dulu, agar tidak canggung saat memulai kerjasama."
Bu Minarsih meninggalkan mereka berdua yang hanya saling diam. Ainisha tidak lagi berani menatap tatapan Haikal yang seolah menelanjanginya.
"Clara, matamu mengingatkan aku pada istriku. Dia memiliki mata yang sangat indah dan menggoda sama sepertimu," ucap Haikal seperti orang mabuk, padahal dia tidak mabuk.
Mendengar ucapan Haikal yang menggodanya, membuat hati Ainisha sakit dan marah. Haikal berani menggoda wanita lain walaupun itu adalah dirinya. Tetapi wajahnya Clara, dan berarti dia menggoda orang lain.
"Dasar laki-laki, Playboy. Sebutan Casanova cocok untukmu," gumam Ainisha yang langsung pergi meninggalkan Haikal yang bingung dengan sikap Ainisha barusan.
Ainisha keluar dari acara pesta dan berjalan kaki dia sekitar tempat ini. Melihat bulan yang bersinar terang dikelilingi bintang yang terpancar indah di atas sana.
Ainisha melihat ke kiri dan ke kanan untuk melihat apakah ada orang lain yang melihat kecelakaan ini. Suasana cukup sepi dan cukup untuk mendukung rencana balas dendamnya.
"To--long ban--tu, aku," ucap Resia pelan bahkan hampir tidak kedengaran.
Tetapi, apakah dia bisa sekejam itu merusak wajah Resia yang sekarang sedang berlumuran darah?
Ainisha teringat dirinya, yang kini harus menjalani kehidupan sebagai orang lain karena ulah Resia. Dia tidak bisa berkumpul dengan orangtuanya bahkan juga dengan suaminya lagi. Dia harus memerlukan waktu untuk membuat orang-orang yg ang dicintainya menyadari bahwa dia adalah Ainisha.
Ainisha berusaha membuka pintu mobil yg ang kacanya sudah hancur bahkan kini merusak wajahnya. Ainisha berusaha menarik tubuh Resia pelan, tetapi tenaganya tidak cukup kuat untuk bisa mengangkat tubuh Resia yang terjepit.
"Clara, butuh bantuan?" tanya Haikal yang ternyata khawatir dengan Clara yang tadi terlihat marah padanya.
__ADS_1
Disaat seperti ini, tidak mungkin Ainisha bermanja dan menunjukan sikap kesal pada Haikal. Ainisha mengangguk pelan dan bersama dengan Haikal, Ainisha mencoba menarik tubuh Resia pelan. Akhirnya mereka berhasil mengeluarkan Resia dari dalam mobil meski dengan susah payah. Haikal segera mengambil mobilnya dan membawa Resia ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Haikal segera menghubungi John, suami Resia. Ainisha hanya duduk menunggu dokter keluar untuk mendengar kondisi Resia sekarang.
"Clara, sebentar lagi suaminya datang. Kita tunggu sebentar lagi, setelah itu aku antar kamu pulang," ucap Haikal sambil duduk di samping Ainisha.
"Baik," jawab Ainisha pelan.
Ainisha masih teringat, saat Resia menatapnya sambil meminta tolong. Begitu menyedihkan dengan wajah penuh darah yang menetes karena terkena pecahan kaca. Saat Resia dulu merusak wajahnya, dia dalam keadaan tidak sadarkan diri. Pantas saja, Ainisha tidak merasakan rasa sakit itu. Entah dia harus merasa bersyukur atau sedih.
Setelah beberapa saat, John datang dengan keadaan panik. Dia mendekati Haikal dan bertanya keadaan Resia. Saat itulah, salah seorang dokter keluar.
"Siapa keluarga pasien?" tanya pak dokter.
"Saya suaminya, Dok," jawab John sambil mendekat.
"Begini, Pak. Maaf, kami sudah sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk istri Bapak. Tetapi, luka wajahnya sangat parah sehingga harus dilakukan operasi plastik dalam beberapa tahapan. Kami masih melakukan pemeriksaan lebih detail dan menunggu izin dan persetujuan Bapak," ucap dokter dengan nada sedih.
"Oke, Dok. Lakukan apa saja yang terbaik untuk istri saya. Biaya tidak masalah," jawab John sambil menghela napas berat.
"Baik, kami akan melakukan operasi tetapi kami tidak bisa terburu-buru.
"Kenapa, Dok?" tanya John mulai panik lagi.
"Kami menemukan satu Maslah lagi yang lebih mendesak untuk dilakukan operasi lebih dahulu. Tapi saya harap Bapak tenang dan sabar," ucap dokter yang semakin membuat John panik.
Tidak hanya John, tetapi Haikal maupun Ainisha ikut panik dan khawatir. Walaupun Ainisha sangat membenci Resia, tetapi rasa kemanusiaannya masih ada.
"Dokter, cepat katakan, jangan membuat saya panik," ucap John berusaha menenangkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada Resia?
Bersambung