
Ainisha menerima panggilan dari Bu Minarsih. Sebuah kabar yang cukup membuat dirinya gelisah. John datang kerumah Bu Minarsih untuk meminta hak atas Haidar. John mengatakan pada Bu Minarsih, bahwa dia akan tetap berusaha untuk bisa ikut merawat Haidar.
Meskipun John tahu tidak akan mendapatkan hak asuh, tetapi dia ingin mendapatkan hak untuk bisa merawat Haidar selayaknya seorang ayah. John kembali melayangkan gugatan atas hak asuh Haidar. Karena, meskipun Ainisha sudah menikah, haknya sebagai ayah ingin tetap diakui.
John berharap, dia bisa berbagi waktu dengan Ainisha untuk merawat Haidar. Hanya Itu yang John harapkan saat ini. Karena untuk mengambil hak asuh sepenuhnya, hanya ada sedikit harapan.
Mendengar penjelasan Bu Minarsih, Ainisha cukup dibuat cemas dan khawatir. Sepertinya, John memang bukan orang yang mudah menyerah.
"Ainisha, ada apa?" tanya Haikal lagi.
"Ini tentang Haidar dan John. Aku takut, John tipe orang yang bisa berbuat nekat," kata Ainisha bingung.
"Sudahlah, sekalian saja, kita ungkap semuanya. John pasti akan menyerah setelah tahu yang sebenarnya," ucap Haikal agak tenang karena dia ingin mengakhiri dan mengungkap semuanya di depan John.
Mendengar keputusan Haikal, Ainisha merasa agak lega. Mereka segera berangkat ke bandara, agar bisa segera menyelesaikan masalah yang timbul, saat mereka pergi bulan madu.
Setelah perjalanan cukup melelahkan, akhirnya Ainisha dan Haikal sampai di bandara dan dijemput oleh Tama. Sepanjang perjalanan, Haikal bertanya pada Tama tentang keadaan di perusahannya. Termasuk beberapa kesepakatan yang belum di ACC oleh Haikal.
Tama menjawab semua pertanyaan Haikal dengan jelas dan cepat. Seolah semua sudah dipersiapkan oleh Tama saat akan bertemu dengan Haikal. Bagi Ainisha, pembicaraan pekerjaaan seperti itu, menjadi cukup menarik jika itu menyangkut pekerjaan suaminya. Dengan begitu, Ainisha bisa sedikit belajar bisnis, tanpa harus kuliah.
Haikal menatap kearah Ainisha yang terlihat ada sedikit senyum di tengah kecemasannya hari ini.
"Ainisha, ada apa?" tanya Haikal sambil tersenyum.
"Apa, aku tidak berkata apa-apa," jawab Ainisha bingung.
"Tapi, aku lihat kamu tadi senyum-senyum. Bener, kan?" tanya Haikal penasaran.
"Nggak. Mana aku ada senyum. Yang ada, aku malah jadi obat nyamuk kalian," jawab Ainisha kesal-kesal manja.
"Lihat adik junior kamu, Tama. Persis kayak anak kecil, manja plus cemburu," ucap Haikal sambil tertawa kecil.
__ADS_1
Tama hanya bisa tersenyum kesal. Berada diantara pengantin baru, memang membuat dirinya merasa seperti debu di pelupuk mata. Tetapi, karena ini tugas, jadi mau tidak mau Tama tetap harus profesional.
"Pulang kemana, Bos?" tanya Tama di tengah candaan pengantin baru itu.
"Memangnya aku punya berapa rumah?" tanya Haikal sambil menepuk bahu Tama.
"Kali aja, Bos mau kerumah mertua, atau ke rumah Bu Minarsih. Atau juga ke rumah orangtua Bos," jawab Tama pura-pura bodoh.
"Rumah pengantin baru, ya di rumah sendiri. Tapi, boleh juga sih ke rumah Bu Minarsih. Sekalian jemput Haidar," jawab Haikal sambil melihat Ainisha.
"Terserah, Mas Haikal saja. Aku nurut saja," ucap Ainisha lembut.
Haikal tersenyum mendengar ucapan Ainisha yang lembut itu. Pasalnya, Haikal hampir tidak pernah melihat Ainisha bersikap dan berkata lembut, kecuali saat Ainisha menjadi Alisha. Kalau disuruh memilih, Haikal menyukai kedua sikap Ainisha itu. Karena bagi Haikal, seperti apapun sikap Ainisha bahkan dengan rupa seperti apapun Ainisha, Haikal tetap mencintai Ainisha.
Mobil sudah berhenti tepat di depan rumah Bu Minarsih. Haikal dan Ainisha bergegas turun karena rasa rindu pada Haidar yang tidak terbendung lagi. Ainisha membunyikan bel lalu tidak lama kemudian, bibik membuka pintu.
"Nyonya sudah kembali?" tanya sang bibik yang terlihat senang melihat kedatangan Ainisha.
"Ada di kamarnya, Nyonya. Tadi bibik lihat, Den Haidar ngantuk lalu dibawa masuk kekamar," jawab Bibik.
"Terima kasih, bik. Haikal, aku lihat Haidar dulu," ucap Ainisha sambil menatap Haikal.
"Ainisha, bukannya aku melarang kamu melihat Haidar. Ingat, kamu baru saja dari perjalanan jauh. Mungkin saja membawa virus, jadi aku sarankan kamu mandi dulu sebelum menyentuh Haidar. Ini juga demi kebaikan Haidar," ucap Haikal mengingatkan Ainisha.
"Aku hanya ingin melihatnya sebentar saja," jawab Ainisha penuh kerinduan.
"Baiklah, aku ikut menemanimu melihat Haidar," ucap Haikal lalu mengikuti langkah Ainisha yang bergegas menuju kamar Haidar.
Ainisha mengetuk pintu kamar Haidar pelan karena takut membangunkan Haidar. Mbak Sisi segera membuka pintu dan tersenyum melihat majikannya sudah kembali.
"Haidar sedang tidur, Bu. Mau saya pindahkan kekamar ibu?" tanya mbak Sisi.
__ADS_1
"Tidak perlu. Biarkan Haidar tidur. Nanti setelah selesai membersihkan diri, aku akan mengambilnya sendir," jawab Ainisha.
Haidar memang memiliki pengasuh, tetapi Ainisha tidak ingin Haidar lebih dekat dengan pengasuhnya ketimbang dengannya. Karena itu, setiap Ainisha ada di rumah, bahkan saat tidur, Haidar akan selalu bersamanya.
Haikal dan Ainisha selesai mandi dan berganti pakaian. Haikal kemudian memutuskan untuk menghubungi Bu Minarsih dan memintanya untuk menemaninya menemui John. Keputusan memang harus segera dibuat untuk menghentikan tindakan John yang tidak mau berhenti mengganggu Ainisha dan Haidar.
Berbekal hasil tes DNA yang dimilikinya, Haikal dan Bu Minarsih pergi menemui John di kantor nya. Disana, Haikal dan Bu Minarsih di terima dengan baik oleh John. Bahkan, John sangat menghormati Bu Minarsih lebih dari sebelumnya. Mungkin dia ingin menunjukan bahwa dia sebenarnya pria yang baik.
"John, kami datang menemuinya, karena gugatan baru yang kamu ajukan. Aku sebenarnya tidak mengerti, bukannya kamu harusnya menyerah setelah Clara menikah denganku. Dan kamu sendiri yang mengatakan itu di hadapan banyak orang," ucap Haikal dengan nada agak tinggi.
"Aku memang pernah mengatakan akan berhenti, jika Ainisha menikah. Tetapi, kamu tidak tahu bagaimana rasanya, menjadi seorang ayah. Haidar adalah satu-satunya harapanku saat ini. Dia adalah masa depanku," ucap John menunjukan perasaan kebapakan pada Haikal.
"John, kamu masih bisa memiliki anak dengan cara lain. Tidak perlu lagi memaksa Clara."
"Aku ingin anakku dengan Clara, memangnya kenapa? Kamu hanya ayah tiri bagi Haidar," ucap John emosi.
"Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa wanita yang kamu anggap Clara, bukan Clara?" ucap Haikal langsung pada intinya.
"Apa maksudmu, Haikal? Clara adalah bukan Clara?" tanya John bingung.
"Benar. Clara yang saat ini ada di rumah Bu Minarsih adalah Ainisha, istriku."
Haikal mulai menceritakan, siapa Ainisha. John mendengarkan dengan seksama, tetapi jelas terlihat dimatanya, ada rasa tidak ingin percaya dengan semua cerita yang diungkapkan oleh Haikal. Apalagi, Haikal juga mengatakan bahwa Haidar adalah anak Haikal dan Ainisha.
John tersenyum sinis dan menganggap bahwa cerita Haikal hanyalah untuk membuat John berhenti mengganggu Haidar. Haikal yang menyadari, jika John sudah menutup hati, segera mengeluarkan sebuah amplop. Hasil tes DNA antara Haikal dan Haidar, lalu diberikannya pada John. Dengan hati kesal, John mengambil amplop tersebut dan membukanya.
Bersambung
Samb menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku. Judulnya Menikahi Mafia Arogan karya Momoy Dandelion.
Jangan lupa mampir ya, aku juga baca lho ...
__ADS_1