
Sejak pagi, Ainisha sudah bersiap di depan rumah Resia untuk menyelidiki Resia. Dia harus bisa mencari tahu kegiatan Resia setiap hari. Tiba-tiba dia menepuk jidatnya sendiri karena merasa dia sangat bodoh.
Bukannya ada pak Ferdi, yang akan memberitahu semua tentang Resia dan apa saja kegiatannya setiap hari, bahkan mungkin setiap detik.
Ainisha segera menghubungi pak Ferdi. Karena takut akan di curigai orang, mereka memang jarang bertemu kecuali untuk hal yang sangat penting. Ainisha meminta jadwal dan kegiatan apa saja yang dilakukan Resia dan meminta pak Ferdi untuk mengantarkannya segera.
Pak Ferdi tidak curiga sama sekali, jika informasi yang Ainisha minta adalah untuk mencari kesalahan Resia dan membongkarnya didepan keluarga Haikal. Tidak pernah disebutkan dalam perjanjian, tidak boleh memperlihatkan keburukan Resia. Baik Resia yang meninggalkan atau Haikal yang meninggalkan. Semua sama, yang penting berpisah. Tugas selesai.
Ainisha bergegas pulang dan menunggu informasi dari pak Ferdi untuk bisa menentukan langkah selanjutnya. Selang beberapa jam, orang suruhan pak Ferdi telah datang membawa semua informasi yang Ainisha butuhkan.
Setelah membaca semua tentang kegiatan Resia, Ainisha tertarik dengan kegiatan Resia berkumpul dengan teman-temannya di sebuah Cafe. Dari sinilah, Ainisha akan mencoba mencari kesalahan Resia, lewat hubungannya dengan teman-temannya.
Sore itu, Ainisha pergi ke Cafe tempat Resia biasa berkumpul dengan teman-temannya. Ainisha mencari tempat duduk yang bisa melihat seluruh isi di dalam Cafe. Dengan berpakaian biasa, Ainisha memulai aksinya.
Tidak berapa lama, datanglah Resia dan beberapa orang temannya. Tiga wanita dan tiga orang pria. Mereka terlihat sangat akrab dan seperti pasangan kekasih. Mereka berada disini cukup lama hingga malam menjelang. Mereka pergi dan berpisah dengan pasangan masing-masing.
Ainisha kembali mengikuti Resia dan pasangan prianya menuju ke sebuah hotel. Dengan cepat Ainisha mengambil beberapa gambar mereka dengan ponsel miliknya tepat di depan nama hotelnya. Ainisha masih sabar menunggu hingga dua jam lamanya. Mereka baru keluar dari hotel tersebut.
Ainisha kembali mengambil gambar mereka dengan jelas. Setelah Resia dan teman prianya pergi, Ainisha bergegas pulang.
Sampai di rumah, Ainisha melihat kembali foto-foto yang sudah diambilnya tadi. Dia harus segera memutuskan bagaimana caranya untuk mengirim hasil foto-fotonya kepada kelurga Haikal.
Ainisha menghela nafas panjang, dan akhirnya memutuskan untuk mengirimkannya lewat paket. Kini, Ainisha bisa tidur dengan tenang. Usahanya beberapa hari ini telah berhasil. Semoga hasilnya seperti yang diharapkan.
Keesokan harinya, Ainisha pergi ke studio foto untuk mencetak foto-foto Resia dan teman prianya. Setelah itu dia bergegas pulang dan segera membungkusnya dengan rapi dan segera dikirim ke alamat rumah orangtua Haikal tanpa alamat pengirim.
Baru saja Ainisha hendak bernapas lega, sebuah panggilan telepon dari pak Ferdi yang memberitahukan bahwa Resia sudah tahu jika Ainisha adalah suruhannya.
"Apa, jadi Resia sudah tahu semuanya? Baik, saya akan segera pergi ke tempat yang sudah anda berikan tempo hari. Tolong, perlambat kedatangan putri Pak Ferdi," ucap Ainisha yang segera menutup panggilan telepon dari pak Ferdi.
Dengan cepat, Ainisha merubah diri menjadi Alisha dan bergegas pergi ke rumah yang sudah disediakan pak Ferdi. Rencana ini dibuat, agar Resia tidak tahu jika Alisha adalah Ainisha. Untung saja, Alisha belum terlambat dan sudah sampai di rumah itu sebelum Resia datang. Ainisha menenangkan diri dan bersiap menghadapi kemungkinan paling buruk didalam hidupnya.
Suara ketukan pintu terdengar dan tidak lama kemudian, Ainisha berjalan perlahan untuk membukanya. Saat pintu terbuka, tampak Resia dengan sorot mata penuh amarah bergegas masuk tanpa menghiraukan Ainisha.
__ADS_1
"Resia, ada apa kamu datang kemari?" tanya Ainisha pura-pura tidak tahu.
"Kamu orang suruhan ayahku, bukan? Dibayar berapa kamu oleh ayah untuk merusak hubunganku dengan Haikal?!" tanya Resia penuh emosi.
"Apa maksudmu? Aku tidak tahu siapa ayahmu," jawab Ainisha.
"Jangan bohong. Aku sudah tahu semuanya, kamu tidak bisa mengelak lagi. Hentikan usahamu mendekati tunanganku, dan aku akan membayar kamu, jauh lebih besar dari yang ayahku berikan," kata Resia dengan nada kesal karena Ainisha masih belum mengaku.
"Kamu salah, aku tidak pernah dibayar oleh ayahmu atau siapapun. Karena aku sama sekali tidak mengenal ayahnya. Aku dan Haikal hanya kebetulan bertemu dan kami saling jatuh cinta pada pandangan pertama," kata Ainisha berusaha tetap bertahan dengan pilihannya untuk tidak mengaku.
"Terserah jika kamu masih tidak mau mengaku. Siapapun kamu dan apa tujuan kamu ingin memisahkan kami, aku tidak akan pernah tinggal diam. Aku akan mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku."
"Baik, kita lihat, siapa yang akan bisa mendapatkan Haikal, kamu atau aku," ucap Ainisha percaya diri.
"Deal. Kita sepakat. Aku sangat suka dengan tantangan. Aku pergi dan ingat, jika kamu kalah, kamu tidak boleh mendekati Haikal untuk selamanya," ucap Resia lalu melangkah pergi.
Ainisha menarik nafas lega. Untung Resia tidak terus mendesaknya untuk mengaku. Padahal dia sudah bersiap-siap, jika Resia kembali ingin duel dengannya seperti hari itu di rumah Haikal, dia sudah siap. Kini, dirinya benar-benar telah menjadi pelakor dengan mengaku mencintai Haikal.
Setelah kepergian Resia, Ainisha memutuskan akan lebih banyak menghabiskan waktu di tempat ini. Dia juga memutuskan untuk berhenti bekerja untuk sementara waktu sampai urusannya selesai. Dia tidak bisa, bolak-balik menjadi Ainisha dan Alisha. Hal itu sangat melelahkan.
"Selamat, siang. Ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis di kantor Haikal ramah.
"Selamat siang. Saya ingin bertemu dengan pak Haikal. Apakah beliau ada di kantor?" jawab Ainisha.
"Nama anda siapa? Sudah ada janji?"
"Alisha, belum ada janji. Tapi ada hal penting yang harus saya sampaikan pada pak Haikal."
Ainisha menunggu dengan sabar, sampai resepsionis memberi jawaban
"Baik, Mbak. Silahkan mbak masuk."
"Terimakasih."
__ADS_1
Ainisha melangkah menuju ruangan Haikal. Diapun mengetuk pintu agak pelan dan ragu seperti perasaannya saat ini. Dia ragu, apakah yang dia lakukan hari ini kan bisa membantu rencananya agar berhasil.
"Masuk," suara tegas Haikal terdengar cukup menggetarkan hati Ainisha.
Kedatangan Alisha disambut baik oleh Haikal. Dengan senyum senang, Haikal melihat Ainisha seolah sudah setahun tidak bertemu.
"Akhirnya, kamu datang juga," kata Haikal lega.
"Maksudmu?" tanya Ainisha bingung.
"Sudah lama aku berusaha mencarimu. Tapi, aku kesulitan mencari alamat rumahmu."
"Untuk apa mencariku? Bukankah kamu memilih bersama Resia?" tanya Ainisha.
"Maafkan aku. Aku telah membuatmu salah faham. Aku dan Resia ada sedikit masalah yang harus aku selesaikan terlebih dahulu. Aku sudah berjanji padamu, bahwa aku akan bertanggungjawab atas perbuatanku padamu. Tapi, aku minta kamu bersabar sedikit lagi, oke?" kata Haikal berusaha menjelaskan kesulitannya pada Ainisha.
"Tapi kamu sama sekali tidak pernah mencariku, kan?" tanya Ainisha pura-pura marah dengan nada manja.
"Sudah aku katakan, aku kesulitan menemukanmu. Saat itu, aku lupa bertanya alamatmu. Aku sudah bertanya ke cafe, tapi kamu tidak bekerja disana," jawab Haikal.
Haikal benar. Pagi itu dia tidak bertanya alamat maupun nomor ponselku. Aku juga tidak memberikan alamat dan nomor ponselku padanya. Sedangkan, setelah pulang, aku akan menjadi Ainisha kembali, batin Ainisha.
"Baiklah, aku percaya padamu. Tapi, aku tidak bisa menunggu lama. Jika kamu ingin bertanggungjawab padaku, kamu harus meninggalkan Resia secepatnya," kata Ainisha manja.
"Tentu. Aku janji, akan secepatnya meninggalkan Resia," kata Haikal sambil tersenyum melihat sikap manja Ainisha yang menggodanya.
"Baiklah, aku pulang. Aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu lagi. Selamat siang."
"Selamat siang."
Ainisha beranjak pergi meninggalkan Haikal yang masih tidak percaya, wanita yang dicintainya datang menemuinya, setelah dia hampir putus asa mencari keberadaannya.
Aku benar-benar telah dibuat mabuk kepayang olehmu. Tunggu saatnya aku akan menjadikanmu istriku, batin Haikal.
__ADS_1
bersambung