
Ainisha sudah kembali berpenampilan sebagai Alisha. Sambil menanti Bu Kartika datang, Ainisha duduk santai di ruang keluarga sambil menonton televisi. Dia masih canggung setelah kejadian siang ini.
Sementara Haikal berdiam di kamarnya sambil menyesali apa yang telah dia lakukan pada Ainisha. Pikirannya benar-benar dibuat kacau oleh keberadaan Ainisha. Sebelum ibunya datang, peristiwa siang ini harus diselesaikan terlebih dulu.
Haikal keluar dari kamarnya untuk mencari Ainisha. Ainisha cukup kaget ketika menyadari Haikal berdiri di belakangnya. Hatinya berdebar kencang dan tangannya gemetar. Ainisha memejamkan matanya untuk menenangkan diri, sambil menarik napas dalam-dalam dan dihembuskan perlahan-lahan. Setelah merasa tenang, Ainisha bersikap biasa saja.
"Ainisha, aku ingin bicara," ucap Haikal ragu-ragu menunggu reaksi Ainisha. Lalu dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Ainisha.
"Oh, silahkan. Anda disini adalah pihak yang berkuasa. Sedangkan saya, hanya pihak yang lemah," ucap Ainisha pelan.
"Aku ingin minta maaf, atas kejadian siang ini. Aku tidak ada niat untuk melecehkan kamu. Aku hanya terbawa perasaan. Aku pikir, kamu adalah istriku," ucap Haikal gugup.
"Saya ini, hanya seorang gadis delivery. Gadis tomboy yang miskin. Tidak akan bisa sama seperti istri anda. Yang pasti cantik dan seksi. Seharusnya anda tahu itu. Kami tidak akan pernah sama," ucap Ainisha sedih.
Ainisha menyadari, Haikal mencintai Alisha karena Alisha cantik, seksi dan menggoda. Sangat jauh berbeda dengan Ainisha. Jika dia tahu Ainisha adalah Alisha, dia pasti akan mengejek Ainisha. Gadis jelek yang menghalalkan segala cara untuk bisa mendekati Haikal.
"Aku tahu. Kalian sangat berbeda, meski kalian juga sangat mirip. Sesuai perjanjian, jika aku menyentuhmu dengan sengaja, aku akan membayar denda. Ini ada cek 100 juta. Sebagai denda karena aku telah melihat bahkan menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya. Untung saja, kamu menyadarkan aku. Jika tidak ...." ucap Haikal berhenti.
"Baik, saya terima. Setelah ini, anggap saja semua ini tidak pernah terjadi. Semua akan kembali seperti awalnya. Agar tugas saya cepat selesai," ucap Ainisha sambil mengambil cek didepannya.
Ainisha tidak peduli dengan Haikal. Terserah dia mau menganggap apa dirinya saat ini. Yang pasti, Ainisha ingin semu segera berakhir. Berurusan dengan Haikal, sangat membuatnya lelah hati.
"Aku senang mendengarnya. Jadi aku tidak akan merasa bersalah lagi," ucap Haikal lega.
Padahal didalam hati Haikal sangat penasaran dengan sikap Ainisha yang seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan mereka. Jelas-jelas dia juga membalas setiap sentuhannya. Bagian-bagian tubuh yang sama, yang paling di sukai dari tubuh istrinya. Haduh, pikiran Haikal sedang kacau.
Sebuah ketukan pintu menyadarkan lamunan Haikal. Bibik membukakan pintu dan ternyata, ibunya sudah datang.
__ADS_1
"Ibu, sudah datang?" sambut Haikal. "Kenapa ibu tidak menghubungi Haikal, supaya Haikal bisa jemput ibu di stasiun."
"Ibu sengaja, mau memberi kejutan. Mana menantu ibu, Alisha?" jawab Bu Kartika.
"Ibu, apa kabar?" tanya Ainisha sambil mencium tangan Bu Kartika.
"Sehat, ayah mertuamu juga sehat. Alisha, menurut ibu, kamu jangan memakai sepatu hak tinggi lagi. Kamu kan sedang hamil," nasehat Bu Kartika.
"Iya, Bu. Nanti Alisha ganti pake sendal saja," jawab Ainisha manja.
"Besok, ibu ingin membawa kamu menemui dokter. Ibu ingin melihat kondisi cucu ibu," ucap bu Kartika pelan tapi cukup membuat Haikal dan Ainisha panik.
"Ibu, ibu baru saja datang. Duduklah dulu untuk beristirahat," ucap Deni sambil memikirkan cara, menghadapi keinginan ibunya tanpa membuatnya kecewa.
Haikal membantu ibunya membawa tas berisi pakaian ganti. Haikal membawa tas ibunya dan di bawanya ke dalam kamar khusus, untuk ayah dan ibunya jika mereka datang menginap. Ibu Kartika berjalan menuju ke ruang keluarga untuk beristirahat diikuti Ainisha yang ikut duduk disampingnya.
"Bagaimana kondisi kamu dan bayi dalam kandunganmu, Alisha?" tanya Bu Kartika sambil melihat Alisha.
"Loh, apa Haikal tidak pernah mengantarmu periksa ke dokter? Seharusnya periksa ke dokter, itu penting. Agar kalian tahu kondisi bayi dalam kandunganmu," kata Bu Kartika kaget.
"Tidak apa-apa, Bu. Lagi pula, Alisha dan kandungan Alisha baik-baik saja. Hanya mual-mual sedikit kalau malam dingin," jawab Ainisha.
"Tapi ibu ingin lebih yakin kalau dokter yang bilang. Besok ibu temani ke dokter," kata Bu Kartika sambil memegang tangan Ainisha.
Anisa hanya mengangguk pelan. Hatinya bingung, bagaimana nanti hasilnya, sedangkan dia belum tentu hamil. Anisa tidak ingin pusing dibuatnya. Dia hanya ingin fokus menjadi menantu yang baik dihadapan ibunya Haikal.
Haikal datang sambil membawa sendal untuk Ainisha. Hal itu membuat Ibu Kartika merasa senang melihat putranya sangat memperhatikan istrinya.
__ADS_1
"Terimakasih, Mas Haikal," ucap Ainisha lembut.
"Iya, sayang," jawab Haikal sambil mencolek hidung Ainisha.
"Kalian membuat ibu sangat bahagia. Yah, beginilah. Usia ibu sudah tua, hanya ingin melihat anak dan menantunya hidup rukun dan bisa memberikan cucu-cucu yang manis-manis untuk ibu," kata Bu Kartika penuh senyuman.
Haikal dan Ainisha saling berpandangan. Tatapan Ainisha sinis dan ada rasa benci yang merasuki hatinya. Bukan benci pada Haikal, tetapi benci pada dirinya sendiri. Kenapa hal yang harusnya begitu mudah, harus menjadi sulit baginya.
Karena ternyata kejujuran itu sulit. Apalagi jika tidak tahu apa yang akan terjadi. Sebuah pertaruhan antara dibenci atau di cintai. Itulah yang sulit di terima Ainisha, sulit menerima kenyataan pahit. Walaupun jika Haikal menerimanya, apakah orangtuanya akan sama?
"Alisha, temani ibu menonton televisi sambil menunggu waktu makan malam. Haikal, buatkan janji dengan dokter Patra, biar besok kita tinggal datang," perintah Bu Kartika.
"Iya, ibu. Alisha akan temani ibu," ucap Ainisha patuh.
"Baik Bu."
Haikal segera menghubungi dokter Patra, sahabatnya. Dokter muda yang sangat cerdas dan diusianya yang masih muda sudah bisa menjadi dokter spesialis kandungan.
Malam mulai menjelang. Diawali makan malam, lalu mereka Bu Kartika segera kekamarnya untuk beristirahat. Sementara Haikal dan Ainisha juga bergegas masuk kekamarnya. Ainisha segera beristirahat tanpa peduli lagi pada Haikal. Karena jika tidak begitu dia pasti akan terbawa suasana.
"Karena ibu ada disini, malam ini, kita akan tidur di ranjang ini berdua," ucap Haikal sambil duduk ditepi ranjang.
"Sesuai perjanjian," jawab Ainisha singkat tapi jelas.
Mereka lali tidur seranjang dan mereka hampir tidak bisa tidur. Tetapi karena sudah ngantuk, merekapun tertidur juga.
Keesokan harinya, Bu Kartika mengajak Ainisha pergi ke dokter sesuai jadwal. Meskipun Ainisha tampak bahagia, didalam hatinya dia merasa takut juga jika ketahuan. Haikal juga memberitahunya, rencana apa yang sudah dibuatnya untuk terhindar dari pemeriksaan.
__ADS_1
Tetapi sepertinya, Ainisha tidak bisa menghindar.
Bersambung