
Pesan singkat dari ibunya, membuat Haikal bisa bernapas lega. Ibunya akan datang nanti malam. Jadi masih ada waktu untuknya mengajari Ainisha bersikap lembut dan anggun seperti Alisha.
Haikal menghubungi Tama, untuk meminta Tama membatalkan semua pertemuan pada hari ini. Haikal akan fokus untuk membuat Ainisha menjadi menjadi Alisha sebelum ibunya datang.
"Aini, cepat mandi dan turun untuk sarapan. Setelah itu, pelajaran akan dimulai," ucap Haikal sambil meletakkan ponselnya.
Ainisha tidak menjawab perkataan Haikal. Dia bergegas mandi dan ketika dia keluar, Haikal sudah tidak ada di kamar ini lagi. Ainisha segera berganti pakaian, agar bisa cepat turun karena Anisha tidak ingin Haikal menunggu terlalu lama.
Ainisha memakai pakaian milik Alisha yang ada di lemari. Dia sudah pernah memakainya ketika menjadi Alisha. Pas dan terlihat seksi. Hanya, Ainisha tidak mengubah gaya rambutnya. Masih dengan poni dan kepang dua seperti biasanya.
Ainisha turun melewati tangga satu demi satu dengan pelan-pelan, agar dia tidak terjatuh. Saat itu, Haikal memperhatikan Ainisha dari bawah. Haikal kaget dan hampir tidak percaya, jika pakaian istrinya bisa pas di tubuh Ainisha. Bahkan wajah mereka sama. Hanya bentuk rambutnya saja yang berbeda.
Mereka seperti pinang dibelah dua. Ataukah mereka sebenarnya kembar? Yang satu seksi dan yang satu tomboy. Mereka hidup terpisah karena orangtua mereka bercerai? batin Haikal.
"Haikal, kapan kita sarapan?" tanya Ainisha mengagetkan Haikal.
"Semua sudah siap dimeja makan. Aku tadi ingin memanggilmu karena kamu terlalu lama belum juga turun," jawab Haikal.
"Tadi aku bingung, pakai baju yang mana. Sedapatnya saja. Apakah istrimu tidak akan marah, aku memakai pakaiannya?" tanya Ainisha setengah berbisik.
"Tidak akan. Kalau dia marah, biar dia memaki-maki aku. Itu lebih baik, daripada dia diam," jawab Haikal sambil menghela nafas.
Tetapi Ainisha tidak mengerti, maksud dari perkataan Haikal. Dan Ainisha juga tidak ingin bertanya lebih jauh, karena dia takut jawaban Haikal akan membuatnya sedih.
__ADS_1
"Sudah, ayo kita sarapan," ajak Haikal.
Ainisha berjalan mengikuti Haikal yang segera duduk. Ainisha juga ikut duduk sambil melihat gaya sarapan Haikal. Walupun, Ainisha sudah tahu jika setiap pagi, Haikal sarapan hanya sebuah roti dan segelas susu.
"Kenapa hanya ada roti dan susu?" gumam Ainisha berharap Haikal mendengar ucapannya.
"Kenapa, tidak suka? Tapi kamu harus terbiasa, karena ini yang biasa kami makan untuk sarapan," jawab Haikal.
"Baiklah, terpaksa meski perutku pasti masih lapar," gumam Ainisha.
"Nanti, kita makan diluar. Aku juga tidak akan membiarkan kamu mati kelaparan sebelum tugasmu selesai," ucap Haikal sambil makan.
"Sadis," sahut Ainisha sinis.
Ainisha tersenyum melihat barang-barang milik Alisha masih tersimpan dengan baik. Itu berarti, Haikal sangat mencintai Alisha. Ainisha mencoba sepatu berhak tinggi. Meskipun ketika menjadi Alisha, Ainisha sudah terbiasa, tetapi saat ini dia harus menunjukkan jika dia belum bisa menggunakannya.
Ainisha mulai berjalan dengan memakai sepatu berhak tinggi. Sesekali dia oleng dan hendak terjatuh. Tetapi, Haikal sama sekali tidak peduli. Padahal jika yang akan jatuh adalah Alisha, dia pasti akan sangat khawatir.
Hari sudah mulai siang, Haikal memanggil seorang pegawai salon untuk membantu Ainisha belajar menggunakan make up sendiri. Make up milik Alisha yang masih tersimpan di atas meja rias dikamar ini.
Juga belajar merias dan mengurai rambutnya seperti Alisha. Pegawai salon itu hanya membantu membuat rambut Ainisha seperti rambut Alisha yang selalu tergerai indah.
Ainisha menatap dirinya didalam cermin setelah pegawai itu pamit pergi. Sama, sama seperti Alisha. Karena memang mereka adalah satu.
__ADS_1
Pintu kamar terbuka perlahan. Ainisha tahu, jika itu pasti adalah Haikal yang ingin melihat apakah dia sudah mirip dengan istrinya. Ainisha berdiri sambil menatap Haikal yang tiba-tiba berhenti melangkah. Haikal tampak terdiam melihat Ainisha sangat mirip, bahkan menurut Haikal itu memang Alisha. Kerinduannya pada Alisha membuatnya hilang arah dan lepas kendali.
Haikal mendekati Ainisha lalu memeluknya erat. Wangi parfum yang sama semakin membuat Haikal tidak bisa mengendalikan hasratnya yang tiba-tiba muncul. Ainisha bingung saat merasakan detak jantung Haikal terdengar sangat cepat. Suara deru nafasnya memburu di telinganya.
Aku harus bagaimana, menghadapi ini? batin Ainisha.
Haikal semakin tidak tahan dengan gejolak hasratnya yang kian membuncah dan ingin segera tersalurkan. Haikal melepaskan pelukannya. Menatap buas wajah Ainisha yang tampak malu dan menunduk. Haikal mengangkat dagu Ainisha sambil menatap bibir merah Ainisha yang menantang.
Tanpa pikir panjang, Haikal langsung mencium bibir Ainisha dengan penuh gairah. Sedangkan Ainisha tampak gelagapan karena dia tidak menyangka, Haikal akan mencium bibirnya dan hampir tidak memberinya kesempatan untuk bernapas.
Penolakan Ainisha malah semakin membuat Haikal lebih berusaha membuat Ainisha nyaman. Haikal melepaskan ciumannya, untuk memberi kesempatan Ainisha untuk bernafas sejenak. Lalu beberapa detik kemudian, Haikal kembali melu-mat habis bibir Ainisha dengan lembut.
Terbawa suasana dan kelembutan Haikal, Ainisha malah membalas ciuman Haikal. Hatinya kacau antara menganggap Haikal adalah suaminya dan Haikal yang hanya menganggapnya Alisha.
Ainisha membiarkan dirinya terlena dalam buaian cinta Haikal yang semakin berani. Haikal membawanya keatas ranjang dan membaringkannya perlahan dalam posisi masih berciuman. Tidak ada lagi batas, yang Ainisha miliki. Batasan itu telah runtuh oleh gairahnya yang ikut berpacu dengan Haikal.
Satu persatu Haikal melepaskan pakaian Ainisha dan juga pakaiannya sendiri. Ciuman Haikal mulai bergerilya kebagian yang paling di sukai Alisha ketika bercumbu dengannya. Haikal benar-benar merasakan, bahwa gadis yang sedang dia cumbui saat ini adalah istrinya. Karena itu, Haikal tidak menghentikan langkahnya dan ingin lebih dari sekedar cumbuan.
Selangkah lagi, Haikal akan benar-benar menjadi pria sejati. Adik kecilnya sudah siap hendak beraksi ketika tiba-tiba, Ainisha mendorong tubuh Haikal dan langsung menampar wajah Haikal. Haikal tersadar dan hanya bisa mengucapkan sepatah kata.
"Maaf," ucap Haikal pelan.
Haikal memberikan selimut pada Ainisha untuk menutupi tubuhnya yang dalam kondisi tidak berpakaian. Meskipun dirinya sendiri juga tanpa sehelai pakaian. Haikal mengenakan celananya kembali lalu pergi menuju kamar mandi. Disana dia melanjutkan apa yang tidak dia dapatkan dari Ainisha. Ditengah guyuran air shower suara, desahannya nyaris tidak terdengar.
__ADS_1
Sementara itu, Ainisha menangis. Apa yang tadi terjadi, bisa saja akan terjadi lagi. Walaupun saat ini dia masih bisa bertahan sebagai Ainisha, akankah nanti dia bisa bertahan?