
Hari ini, Haikal tidak pergi ke kantor karena orangtuanya akan datang. Padahal di dalam hati, Ainisha sudah memiliki rencana untuk melarikan diri dari rumah Haikal. Ainisha merasa tidak akan sanggup menjalani kehidupan sebagai istri tetapi dengan kebohongan status identitasnya.
Selesai mandi dan berganti pakaian, Ainisha pamit pada Haikal untuk mencari udara segar. Haikal yang masih bermalas-malasan di tempat tidur, beranjak bangkit dan segera mandi. Inilah kesempatan Ainisha untuk bisa pergi dari rumah ini.
Ainisha tidak pernah berpikir ataupun berharap bahwa pada akhirnya dia akan tenggelam dalam sandiwaranya sendiri. Sebagai Ainisha, dia memang memiliki perasaan suka pada Haikal. Tetapi saat ini, yang dicintai Haikal adalah Alisha bukan Ainisha.
Ainisha melangkah perlahan menuju ke dapur saat perutnya terasa lapar. Ternyata bibik sedang memasak nasi goreng yang baunya sudah tercium oleh Ainisha sejak dari kamar Haikal. Ainisha mendekati bibik untuk meminta sedikit untuknya.
"Bibik, baunya harum sekali. Bibik masak apa?" tanya Ainisha memuji dan berharap akan ditawari.
"Nyonya sudah bangun? Bibik sedang membuat nasi goreng kesukaan Tuan muda," jawab bibik sambil mematikan kompor.
"Jangan panggil seperti itu, Bibik. Saya bukan Nyonya rumah ini," kata Ainisha malu.
"Tuan muda sudah memberitahu Bibik, bahwa anda adalah Nyonya rumah ini sekarang. Tuan juga meminta bibik untuk melayani keperluan Nyonya muda," jawab bibik.
"Boleh mencicip dikit nggak, Bik?" tanya Ainisha yang sudah sangat kelaparan.
"Apa tidak menunggu tuan muda dulu, Nyonya muda?" tanya Bibik.
"Bik, hanya nyicip dikit kok. Nggak perlu nunggu dia," jawab Ainisha sambil menelan ludah.
"Tentu saja boleh, Nyonya muda," jawab Bibik.
Bibik mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Ainisha. Dengan cepatnya Ainisha meraih piring dari tangan Bibik dan diletakkannya di atas meja makan. Akan tetapi sebelum dia makan, dia teringat kalau dia sekarang sedang menjadi Alisha yang lembut. Ainisha menghentikan gerakannya yang kasar dan berubah lembut dan elegan.
__ADS_1
"Bibik, nanti jangan bilang ke Tuan kalau saya sudah makan. Saya malu, bik," kata Ainisha sambil melihat ke arah bibik yang tersenyum.
"Nyonya, sebenarnya, Tuan muda yang meminta bibik masak lebih awal. Karena tuan muda tahu, setelah bangun tidur, nyonya pasti lapar. Silahkan, makan saja, Nyonya muda," kata Bibik menjelaskan.
Mendengar penjelasan Bibik, Ainisha segera makan dengan lahap tetapi tetap dengan gaya elegan. Setelah selesai makan, Ainisha bergegas pergi untuk pulang ke rumah tanpa sepengetahuan Haikal. Dia mengendap-endap sambil melihat kesana kemari untuk memastikan bahwa tidak ada yang melihatnya.
Sampai di pintu, Ainisha berniat hendak membuka pintu. Akan tetapi, tiba-tiba pintu terbuka dan transparan terlihat beberapa orang berdiri di depan pintu. Ainisha kaget dengan kedatangan mereka dan takut kalau sebenarnya dia ingin pergi dari rumah ini.
Tidak hanya Ainisha yang kaget, tetapi mereka juga tampak terkejut dengan keberadaan Ainisha. Karena itu, Ainisha berpura-pura menyambut kedatangan mereka.
"Selamat siang, silahkan masuk," sambut Ainisha sambil tersenyum manis.
"Oh, ini Alisha? Calon istrinya Haikal?" tanya Bu Kartika sambil tersenyum.
"Benar, saya Alisha," jawab Ainisha lembut.
Ainisha kaget mendengar jawaban Bu Kartika yang mengenalkan diri sebagai ibunya Haikal. Ainisha langsung mencium tangan Bu Kartika sebagai rasa hormatnya. Setelah itu Ainisha mencium tangan semua yang datang bersama bu Kartika. Semuanya berjumlah sekitar 10 orang. Ainisha mempersilahkan mereka duduk.
Sedangkan Ainisha termangu di depan pintu. Niatnya untuk melarikan diri akhirnya gagal setelah kedatangan keluarga Haikal. Ainisha bingung antara tetap disini atau tanpa malu, pergi tanpa pamit.
Keluarga Haikal telah duduk dengan santai di ruang tamu sembari melepas lelah setelah perjalanan jauh. Tidak lama kemudian, Haikal muncul dengan pakaian santai. Kaos dan celana pendek. Haikal terkejut saat melihat orangtuanya datang bersama beberapa kerabat dan diantaranya adalah seorang ustadz yang sangat dikenalnya, Ustadz Wahid.
"Ibu, kenapa ustadz Wahid ikut datang ke sini?" tanya Haikal kaget.
"Alisha, kemarilah. Ibu akan menjelaskan semuanya," kata Bu Kartika sambil melihat Ainisha yang masih berdiri sejak tadi.
__ADS_1
Ainisha berjalan pelan dan ragu. Ainisha duduk di samping Haikal setelah mendapat isyarat dari Bu Kartika.
"Begini. Setelah semalam kami mendengar kabar keinginanmu untuk menikah, kami sepakat untuk tidak menundanya lebih lama. Jadi, hari ini ibu membawa semua yang kalian butuhkan untuk acara pernikahan," kata Bu Kartika.
"Maksud ibu?" tanya Haikal masih belum mengerti penjelasan ibunya.
"Ibu sudah membawa Ustadz Wahid, untuk acara akad nikah. Ibu juga sudah membawa penata rias yang akan membantu kalian menyiapkan diri agar terlihat seperti pengantin pada umumnya. Hari ini juga, kalian harus menikah secara siri dulu untuk menghindari dosa yang lebih besar dan berkelanjutan. Setelah itu, baru kita siapkan pernikahan secara resmi dan mencari hari yang baik," kata Bu Kartika lebih jelas lagi.
Kaki Ainisha terasa lemas dan di tidak dapat berkata apa-apa. Dia hanya melihat Haikal dan berharap Haikal akan menghentikan rencana ibunya. Tetapi, Haikal malah setuju dan mendukung keputusan keluarganya membuat Ainisha tidak bisa lagi mengelak.
Persiapan pernikahan siri antara Haikal dan Ainisha segera di persiapkan. Sudah tidak ada jalan bagi Ainisha untuk mundur lagi. Ainisha hanya bisa menghela nafas saat dirinya harus mengikuti keinginan ibunya Haikal dan dirias hari ini juga.
Tepat pukul satu siang, semua persiapan sudah selesai. Haikal dan yang lainnya sudah menunggu diruang tamu. Pernikahan siri ini, sangat sederhana dan akan dilakukan di rumah Haikal. Semua tinggal menunggu Ainisha yang masih ragu dengan keputusannya.
Di depan cermin, Ainisha melihat wajahnya yang kini telah penuh dengan riasan pengantin. Gejolak hatinya saling bertentangan. Di satu sisi Ainisha setuju menikah dengan Haikal karena Haikal telah menyelamatkannya dari Resia.
Terlebih lagi Haikal juga yang sudah merenggut kesuciannya semalam. Ainisha tidak mungkin bilang pada Haikal bahwa dulu, Ainisha hanya berpura-pura sudah tidur dengan Haikal. Posisinya sebagai Alisha, membuatnya harus bersikap baik pada Haikal.
Di sisi lain, Ainisha merasa bersalah telah membohongi keluarga besar Haikal dengan identitas palsunya. Dulu, dia hanya membohongi Haikal saja. Tetapi kini, dia telah membohongi semua orang. Dan itu akan menjadi bom waktu yang akan meledak kapan saja. Bayangan balas dendam Haikal dan kehidupan penjara karena penipuan membuatnya ketakutan.
"Mbak Alisha, semua orang sudah menunggu. Mari saya bantu, untuk keluar. Sebentar lagi acara akad nikah akan di mulai," kata salah satu tata riasnya.
"Sebentar lagi, Mbak. Aku ingin menenangkan diri sebentar," jawab Ainisha.
"Baiklah, saya akan keluar untuk memberitahu, agar mereka menunggu sebentar lagi," kata Mbak-nya lagi.
__ADS_1
"Tidak perlu. Saya akan keluar sekarang. Jangan membuat mereka panik dengan keinginan saya," ucap Ainisha agak sedih.
Mungkin, ini sudah garis hidup yang harus aku jalani. Karma untuk pelakor sepertiku, yang telah merusak hubungan orang lain. Terjebak dengan pria yang pernah di jebaknya. Pernikahan yang aku harapkan, adalah pernikahan yang bisa membuatku nyaman dan aman serta bahagia.