Mengejar Cinta Casanova

Mengejar Cinta Casanova
Bab 46. Malam bersamamu


__ADS_3

Setelah mendengar perkataan Haikal, Ainisha akhirnya bersedia bulan madu ke Bali. Mereka hanya akan pergi berdua, tanpa Haidar. Sempat tidak ingin pergi, karena Ainisha merasa bukan pengantin baru lagi. Mereka hanya mengesahkan pernikahan yang dulu terjadi saat Ainisha menikah atas nama Alisha dan wali nikah hakim.


Saat ini, Ainisha sangat senang. Bisa menikah dengan identitas asli sebagai Ainisha dan dengan wali nikah ayahnya sendiri. Bahkan sekarang, ibunya juga kesehatannya semakin membaik setelah bertemu dengannya.


Keberangkatan bulan madu Haikal dan Ainisha, direncanakan esok hari. Haikal ternyata juga sudah mengajukan cuti selama 5 hari. Waktu yang dirasa cukup untuk memberikan seluruh waktunya hanya untuk bisa bersama Ainisha. Karena setelah itu, Haikal harus bisa membagi waktu dengan pekerjaannya kembali.


Haikal ingin memanfaatkan waktu bulan madu ini, untuk lebih mendekatkan diri secara emosional dengan Ainisha. Tetapi tentu saja, malam ini, akan menjadi malam pertama di pernikahannya yang kedua dengan Ainisha.


Semua orang kembali ke rumah masing-masing, dan Bu Minarsih terpaksa mengajak Haidar dan sang pengasuh untuk ikut pulang bersamanya. Mengingat rumah Ainisha yang kecil, yang hanya terdiri dari dua kamar saja. Jika Haidar ikut tinggal di rumah orangtua Ainisha, tidak ada tempat lagi untuk tidur.


Haikal dan Ainisha akan melakukan ritual malam pertama di rumah Ainisha. Hal ini untuk menghormati orangtua tua Ainisha, yang sudah lama tidak bersama Ainisha setelah menikah dengan Haikal beberapa waktu lalu.


Haikal dan Ainisha, memasuki Kamar kecil Ainisha. Haikal menatap tajam tempat tidur yang terbuat dari kayu biasa. Pikirannya jauh ke depan. Apa yang akan terjadi saat mereka melakukannya dengan kondisi tempat tidur yang terlihat tidak kokoh lagi?


"Mas, kenapa masih berdiri saja? Tidak ingin istirahat?" tanya Ainisha saat melihat Haikal ragu-ragu untuk masuk.


"Ainisha, tempat tidurmu kecil begitu. Apa bisa untuk tidur kit berdua?" tanya Haikal mengalihkan keraguannya.


"Bisa, Mas. Kita coba saja kalau tidak percaya," jawab Ainisha yang langsung merebahkan dirinya karena tubuhnya terasa lelah.


Haikal berganti pakaian terlebih dahulu sebelum mengikuti Ainisha langkah Ainisha. Haikal duduk ditepi ranjang, berusaha melihat apakah tempat tidur ini cukup kuat untuk menampung dua tubuh.


Ainisha merasa sedih, karena Haikal ragu untuk tidur di tempat sekecil ini. Ainisha bangkit dari tidurnya, lalu duduk dibelakang Haikal. Ainisha memeluk pinggang suaminya dari belakang sambil berbisik pelan.


"Mas, aku capek. Aku pamit tidur dulu ya?"

__ADS_1


Haikal senang mendapat pelukan Ainisha dari belakang. Tetapi, ketika mendengar Ainisha pamit mau tidur, Haikal bergegas memegang tangan Ainisha. Sehingga membuat Ainisha tidak bisa melepaskan kedua tangannya, dari pinggang suaminya.


"Mas, lepaskan. Ainisha mau istirahat," ucap Ainisha manja.


Haikal melepaskan pelukan Ainisha, tetapi bukan untuk memintanya beristirahat. Haikal menatap wajah yang meskipun kini bukan lagi wajah Ainisha, tetap bagi Haikal terlihat seperti wajah Ainisha.


Ainisha merasa gugup saat Haikal mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Ainisha. Ainisha tahu, jika Haikal ingin menciumnya. Tetapi perasaan gugup selayaknya pengantin baru, kembali Ainisha rasakan saat ini.


Ainisha menunduk pelan sehingga, Haikal hanya bisa mencium kening Ainisha. Merasa Ainisha sengaja menghindar, Haikal mengangkat dagu Ainisha hingga terlihat bibir merah Ainisha yang menggoda. Tubuh Haikal mulai bergetar, menahan gejolak yang tiba-tiba memaksanya untuk melakukan hal yang lebih menantang.


Dengan perasaan cinta yang menggebu-gebu, karena sudah terpendam sekian lama, Haikal mulai mencium bibir seksi istrinya. Tidak ada yang bisa Ainisha lakukan selain membalas ciuman Haikal.


Pelan-pelan namun pasti, Ainisha mulai terbuai dalam belaian suaminya. Belaian mesra, yang bisa membuatnya merasakan kembali masa-masa bahagia yang lama hilang. Ainisha juga ingin membuat suaminya, merasakan hal yang sama seperti dirinya. Karena itu, dia juga melakukan beberapa hal, yang membuat Haikal tidak bisa lepas dari pelukan Ainisha.


Haikal lupa, jika tempat tidur Ainisha agak rapuh. Dengan semangat '45, Haikal mencoba melampiaskan hasratnya yang sudah tertunda sekian lama.


"Aku tahu, aku akan pelan-pelan. Tenang saja, punyaku juga lama tidak terpakai. Jadi aku juga harus pelan-pelan untuk melatihnya lagi, supaya bisa memuaskan istriku," jawab Haikal sambil tersenyum.


Ainisha merasakan sakit, saat senjata milik suaminya memasuki bagian inti tubuhnya. Hal itu membuat Haikal sangat berhati-hati bergerak. Dipandanginya wajah Ainisha yang tampak meringis menahan sakit. Tetapi, Haikal tidak bisa lagi menahan diri.


"Tahan sedikit lagi. Nanti rasa sakit itu akan hilang dengan sendirinya," bisik Haikal lembut.


Saat Haikal dengan kekuatan penuh membuat tubuh istrinya mulai nyaman, tiba-tiba suara derit tempat tidur Ainisha mengganggu konsentrasi Haikal. Apalagi, tempat tidur ini seperti mau roboh. Dan jika benar-benar roboh, maka mau ditaruh dimana rasa malunya pada orangtua Ainisha.


"Mas, ada apa?" tanya Ainisha yang kaget melihat Haikal berhenti.

__ADS_1


"Kayaknya, kita musti ganti tempat," jawab Haikal sambil menghela napas.


"Maksudnya?" tanya Ainisha bingung.


Haikal tidak menjawab pertanyaan Ainisha. Dia mencabut senjatanya lalu meminta Ainisha untuk bangun. Meskipun Ainisha tidak paham maksud suaminya, Ainisha segera merih selimut untuk menutupi tubuhnya yang terasa dingin.


Haikal bergegas memindahkan kasur yang ada diatas tempat tidur ke lantai. Meskipun terlihat aneh, tetapi akan lebih aman daripada melakukannya di atas.


Haikal menatap Ainisha yang masih berdiri melihat ulah suaminya. Ainisha hanya bisa menarik napas panjang sambil tersenyum saat suaminya memintanya untuk tidur diatas kasur, yang sudah dipindahkannya di lantai.


"Sekarang lebih aman," ucap Haikal sambil tersenyum puas.


Ainisha duduk di atas kasur hanya dengan memakai selimut. Wajahnya terlihat malu-malu saat Haikal kembali memulai dari awal.


"Matikan dulu lampunya, Mas," ucap Ainisha sebelum Haikal bertindak lebih jauh.


Haikal mengikuti permintaan Ainisha mematikan lampu. Dengan begitu, Haikal lebih bisa berani bertindak nakal dengan mencumbui seluruh bagian tubuh istrinya.


Malam semakin larut dan dingin. Suara burung malam mengiringi suara desah-an dari sepasang suami istri yang kini kembali menyandang status pengantin baru satu anak.


Mereka memuaskan diri, seolah mereka tidak akan melakukannya di malam-malam selanjutnya. Padahal rencana bulan madu sudah menunggu mereka esok hari. Akan ada lebih banyak kesempatan untuk mereka melakukannya tanpa takut ada gangguan.


Bahkan, mereka bisa melakukannya di tempat yang sangat bagus, paling aman dan nyaman. Karena sebuah hotel mewah, telah dipersiapkan untuk mereka berdua.


Haikal terbaring lemas disamping Ainisha yang juga terlihat lelah. Suasana semakin dingin, membuat Haikal menarik tubuh Ainisha dan didekapnya erat. Ainisha menarik selimut agar mereka untuk menambah hangat tubuh mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2