
SATU MINGGU KEMUDIAN
" Kak, ada kakak tinggi itu cari kamu... "
Kata Santi, gadis kecil yang montok itu mencolek bahu Qirani.
Qirani yang sedang membantu Bu Rima mencuci baju di lantai atas, menoleh. Begitu pula Bu Rima, merasa penasaran.
" Kakak tinggi ? Siapa ? "
Tanya Bu Rima.
" Mas Galih ? "
Tanya Qirani menebak.
" Kalo mas Galih, aku bilangnya mas Galih yang cari kamu, kak... Itu bukan mas Galih. Dia kakak tinggi yang waktu itu kesini sama kakak. Orangnya ganteng, rambutnya agak gondrong gitu, tinggi, lebih tinggi dari mas Galih, dia... "
" Oh, teman Galih yang anter kamu pulang waktu itu...."
Sambung Bu Rima mengingat.
Wajah Qirani langsung memucat. Baju yang sedang dikuceknya terlepas masuk kembali ke air rendaman.
" Sana, samperin... Jangan sampai tamu menunggu lama. Bersihin dulu tangan mu, dan ganti baju yang kering dulu. "
Kata Bu Rima.
Qirani tak menjawab. Hanya saja, wajahnya memperlihatkan rasa segan untuk bangun dari tempat duduknya.
" Kamu koq kayaknya nggak suka sama temen Galih itu ? "
Bu Rima memang paling paham sekali sifat dan sikap Qirani.
Qirani bukan orang yang bisa berbohong. Apa yang ada di hatinya, dari raut wajah dan tingkahnya akan sangat jelas terbaca.
" Aku nggak begitu kenal.... "
Sahut Qirani jujur.
" Tapi kata bunda dia baik koq... Waktu dia anter kamu, sampai dia akhirnya pulang, dia ngobrol banyak sama bunda. Bunda rasa dia baik, sama baiknya dengan Galih. Orang baik pasti dikelilingi hal yang baik pula... "
Kata Bu Rima dengan penuh petuah dan bijak.
Bunda nggak tau aja, apa yang dia lakuin ke aku...
Batin Qirani.
" Sudah, sana temui... "
Kata Bu Rima.
Akhirnya mau tak mau Qiranipun dengan berat hati bangun juga dari bangkunya. Dengan langkah yang setengah hati, Qirani turun ke bawah, diikuti Santi. Gadis kecil itu menggenggam tangan nya.
" Kakak nggak suka ya ? "
" Iya... Kakak nggak kenal sih. "
" Tapi dia kemarin itu nganter kakak pulang. "
" Iya... "
Sahut Qirani lirih.
Begitu sampai di bawah, Qirani menuju ruang depan. Dan benar, disana telah duduk Arga yang sedang bercanda dengan beberapa anak kecil.
Di pangkuannya ada Edo, yang sedang sibuk dengan permen lollipopnya.
Di bawah kaki Arga, ada beberapa tas belanjaan.
Melihat Qirani datang, Arga langsung menurunkan Edo dari pangkuannya dan berdiri.
Qirani berusaha tersenyum sesopan mungkin. Meski hatinya tak ingin. Tapi Arga melihat senyumnya, sangat jelas terpaksa.
" Lagi sibuk ya ? "
Kata Arga ya tak peduli dengan raut wajah tak suka yang ditunjukkan Qirani.
" Lagi cuci baju... "
Sahut Qirani.
" Nih, buat adik-adikmu... "
Kata Arga sembari menyodorkan tas belanjaan yang tadi dilihat Qirani.
" Makasih... "
Sahut Qirani singkat.
Kemudian dengan enggan menerima apa yang diberikan oleh Arga.
" Bawa masuk ya... Kasih bunda. "
Kata Qirani kepada beberapa anak-anak yang tadi mengobrol dengan Arga.
Segera setelah menerima tas-tas tersebut, anak-anak itu langsung menghambur naik ke tangga lantai atas.
Arga memperhatikan Qirani. Ia menelan ludah, saat menyadari Qirani yang hanya mengenakan celana kolor sepaha dan kaos tanpa lengan. Tampak lepek karena air. Memperlihatkan lekuk tubuh Qirani.
__ADS_1
" Kamu .... bajumu basah begitu, emangnya nyuci sambil berendam ? "
Kata Arga berkomentar dingin.
" Kena air sabun. Kan nyucinya dikucekkin... "
Jawab Qirani singkat.
" Hari gini masih ngucek baju ? Hahaha... jadul amat ! "
Kata Arga diselingi tawanya.
Qirani tak tertawa sama sekali. Baginya, hal itu tak lucu. Arga menghentikan tawanya saat melihat Qirani menatapnya dengan aneh.
" Ah, maaf... "
Ucap Arga merasa canggung.
" Kalo sudah selesai, aku mau bantu bunda nyuci baju lagi.... "
" Segitu nggak senang ya ngeliat aku ? "
" Bu-bukan.... a-aku... "
Qirani langsung gugup melihat cara Arga bertanya dengan nada ketus.
Bagus, cewek ini masih bisa diintimidasi...
" Aku pingin ngajak kamu jalan, buruan ganti bajumu. "
Kata Arga tapi dengan nada memaksa.
" I-iya... "
Sahut Qirani dengan suara gemetar.
Dan dengan cepat ia memutar tubuhnya masuk ke dalam.
Dia lucu banget....
Si cupu yang penurut...
Arga tampak senang. Senyumnya terus mengembang. Tak lama menunggu, Qirani sudah berganti pakaian.
Celana katun panjang berwarna hijau lumut, dipadu sweater panjang berwarna orange. Rambutnya diikat ekor kuda. Dan ia mengenakan flat shoes warna hitam di kakinya.
Apa yang dikenakannya keliatan bagus sih di badannya, tapi kentara banget, itu semua barang murahan...
Beli di obralan apa dapat bantuan barang bekas ?
Batin Arga menilai apa yang ada di tubuh Qirani.
" Sudah ijin ? "
" Lumayanlah, cukup waktu. Ayo, jalan. "
Kata Arga sambil menggandeng tangan Qirani.
Mau tak mau Qirani mengikutinya. Kepergian mereka diikuti oleh banyak pasang mata penghuni panti asuhan yang lain.
BEBERAPA WAKTU KEMUDIAN
" Dimana ini ? "
Tanya Qirani saat turun dari mobil di area parkir.
" Di tempat tongkrongan ku. Cafe M. "
Jawab Arga singkat.
Kemudian dengan acuh tak acuh dan gerakan cepat, iamerangkul pundak Qirani, membawanya masuk ke lift.
Di dalam lift, Qirani mencoba menggeser tubuhnya agar tak terlalu menempel dengan Arga. Tapi Arga menahannya dengan mencekal bahunya.
" Pingin banget jauh dariku, hem ? Coba aja. "
Kata Arga sambil melirik sadis.
" Ng-nggak... nggak kok... "
Sahut Qirani cepat dan langsung menundukkan kepala.
Arga tersenyum melihat sikap Qirani yang ketakutan. Dan keduanya diam tanpa bergerak sedikitpun.
Sesaat kemudian lift terbuka. Arga membawa Qirani memasuki sebuah ruangan yang begitu ramai.
Penuh dengan suara musik dan banyak orang yang sedang bergoyang mengikuti musik yang memenuhi seluruh ruangan.
Saat melewati beberapa orang yang berjoget, Qirani menutup hidungnya. Bau alkohol dan parfum yang bercampur sangat menyengat di hidung Qirani.
" Jadi gadis yang baik, kalo nggak, aku bisa lakuin apapun padamu, paham ? "
Kata Arga tepat di telinga Qirani.
Mendengar ucapan Arga sebagai ancaman, Qirani segera mengangguk cepat karena takut.
" Hai, bro !! "
Sapa Arga begitu mereka tiba di hadapan Doni dan Indra, ada juga beberapa gadis dengan baju yang seksi duduk di sekitar keduanya.
__ADS_1
" Hai, Ga ! "
Balas Doni yang langsung bertoast dengan Arga.
" Hai, bro ! "
Sambut Indra dan juga melakukan toast dengan Arga.
Sedetik kemudian, keduanya melihat ke sisi Arga, mereka terkejut saat mengenali sosok gadis yang sedang dirangkul Arga. Bersamaan menatap ke arah Arga kembali dengan penuh tanda tanya.
" Pesenin dia minuman, milkshake... "
Kata Arga yang tak peduli dengan tatapan penasaran para sahabatnya.
Tanpa basa basi dia duduk di ujung sofa yang melingkar itu. Dilihatnya Qirani yang kebingungan memilih tempat duduk, Arga langsung menariknya untuk duduk di pangkuannya.
Qirani sempat terkejut saat Arga memegangi pinggangnya. Salah satu gadis seksi di sisi Indra pergi memesan milkshake.
" Kamu bawa dia kesini, apa nggak jadi masalah ? "
Tanya Doni mengingatkan Arga.
" Selama dia jadi cewek yang penurut, asal bersama aku, nggak akan ada masalah... "
Kata Arga menjawab pertanyaan Doni dan juga ucapan itu ditujukan pada Qirani.
Wajah Qirani berubah kemerahan saat mengangkat wajahnya dan tepat kurang dari seinchi, wajahnya berhadapan dengan wajah Arga.
Arga tersenyum di sudut bibirnya dan satu alisnya terangkat. Qirani yang melihat senyum Arga, menganggapnya sebagai senyum yang jahat, segera ia memalingkan wajahnya.
Saat memalingkan wajahnya, Qirani baru melihat dengan jelas, siapa kedua teman Arga. Wajahnya yang memerah langsung pucat. Tubuhnya gemetar. Arga bahkan merasakannya.
" Nggak usah takut, mereka pingin minta maaf sama kamu. "
Bisik Arga di telinga Qirani.
" Bukannya kalian mau minta maaf sama dia ?! "
Kata Arga selanjutnya.
Dan dengan kedipan matanya, sebuah isyarat untuk Doni dan Indra, keduanya langsung memberi isyarat untuk gadis-gadis seksi yang berjumlah 4 orang itu berpindah tempat.
" Ah iya, sebelumnya, aku Doni... Aku minta maaf soal kejadian yang lalu ya... "
Kata Doni sambil mengulurkan tangannya.
Berniat menjabat tangan Qirani. Qirani menoleh ke arah Arga, seakan meminta sebuah pendapat.
" Terserah kamu, kamu mau maafin apa nggak... "
Kata Arga tanpa ekspresi.
Qirani kembali menatap Doni, berusaha mencari ketulusan di mata Doni. Dan memang, tampak bagi Qirani, Doni terlihat tulus meminta maaf. Qirani mengulurkan tangannya menerima jabatan tangan Doni.
" Maaf ya .... Aku bener-bener minta maaf... "
Ucap Doni sekali lagi.
Qirani mengangguk pelan. Gadis-gadis seksi di situ tak ada yang berani berkomentar maupun bertanya, meskipun ingin.
" Aku juga... maafin aku ya... "
Sambung Indra begitu Qirani selesai berjabat tangan dengan Doni.
Qiranipun menerima permintaan maaf Indra. Kemudian tanpa disadarinya, senyumnya mengembang.
" Kakak, semoga nggak main permainan itu lagi ya... "
Kata Qirani setengah memohon.
Keduanya langsung melirik ke Arga. Arga membelalakkan mata kepada mereka.
Mau cari mati apa ?
Kenapa malah ngeliat ke aku ?
Apa biar dia tau, itu permainan aku yang bikin ?!
Sialan !
Batin Arga setengah kesal.
" Ya, kita nggak akan main itu lagi. Pasti. Hehehe... "
" Betul, nggak akan lagi... Hehehe... "
Kata keduanya sambil tersenyum dan terkekeh.
Argapun ikut tersenyum. Qirani terlihat lega mendengarnya.
Apa Arga mulai nggak waras ?
Kenapa dia keliatan pingin dilihat baik sama cewek ini ?
Selama ini nggak pernah mau keliatan deket sama cewek manapun, tapi sekarang malah sengaja bawa seorang cewek kesini...
Disini semua kenal dia, dan dia paling nggak mau disorot dekat dengan seorang cewek sekalipun.
Tapi ini terang-terangan memaksa cewek ini duduk di pangkuannya.
__ADS_1
Apa dia serius ?
Kata Doni penuh tanda tanya.