
Qirani meletakkan tas kerjanya di atas ranjang. Tanpa mengganti pakaian, ia bergegas keluar kamar. Langkahnya yang cepat, terhenti di depan pintu ruang kerja Arga.
Tangannya telah menjulur, membentuk kepalan, berniat mengetuk pintu di hadapannya. Namun, mendadak ia tampak ragu.
Apa perlu aku bertanya pada Arga ?
Apa iya Arga tau sesuatu tentang urusan kak Adit ?
Tapi... apa Arga masih mau bicara padaku ?
Sejak aku minta bercerai, Arga nggak pernah lagi bicara sepatah katapun padaku.
Qirani menghela nafas untuk sejenak.
Dia selalu menghindar, jaga jarak denganku, bahkan dia nggak pernah tidur lagi sekamar dengan ku.
Setiap ada waktu dirumah, dia cuma ada di dua tempat, di kamar tamu dan ruang kerjanya ini.
Kalo pun Arga tau sesuatu tentang kakak, apa dia mau kasih tau ke aku ?
Batin Qirani dengan bimbang.
Tangannya tak lagi ingin mengetuk pintu. Masih dengan kebimbangannya, Qirani perlahan memutar tubuhnya.
Sudahlah... percaya aja sama kak Adit.
Ntar juga dia bakal cerita yang sebenarnya.
Kayaknya aku harus coba bersabar nungguin kakak jujur dengan sendirinya.
Jangan mulai cari obrolan dengan Arga lah, itu bisa bikin aku malah kacau ntar.
Dengan diamnya Arga sekarang ini, paling nggak itu bikin aku nggak tergoda lagi buat berubah pikiran...
KLIKK !!
Pintu di belakang Qirani terbuka. Pintu ruang kerja Arga. Qirani menoleh. Arga melihatnya dengan tatapan sendu.
" A... "
Baru saja Qirani membuka mulut untuk memberi alasan kenapa dirinya ada di depan pintu, namun bibirnya langsung terkatup dengan cepat.
Arga tampak tak terkejut melihatnya. Tanpa reaksi apapun. Qiranipun membatalkan niatnya untuk bicara terlebih dahulu.
Arga menatapnya sekilas, dan dengan acuh tak acuh ia berjalan melewati Qirani begitu saja.
Qirani memutar tubuhnya kembali, melihat sosok Arga yang benar-benar tak menghiraukan keberadaannya.
Aku pantas dianggap nggak ada...
Aku pantas diperlakuin kayak gini.
Ini yang kumau bukan ?
Tapi... kenapa hatiku terasa sakit ?
Batin Qirani sambil terus menatap punggung Arga.
Tau-tau ada di depan pintu...
Apa yang dia mau lakuin ?
Apa dia mau bilang sesuatu tadi ?
Apa sengaja mau permainkan aku lagi ?
Paling dia cuma mau nanyain soal perceraian.
Baiklah... aku akan urus secepatnya.
Ini yang dia mau, berpisah dariku.
Sia-sia pastinya aku memohon lagi dan lagi...
Mungkin, dia emang bukan jodohku.
Batin Arga yang terus berlalu meninggalkan Qirani yang masih terpaku di depan pintu ruang kerjanya.
Bahkan, hingga Arga memasuki kamar tamu yang kini menjadi kamar tidurnya, Qirani masih mematung di tempat yang sama dengan lamunannya.
SATU MINGGU KEMUDIAN
Indra membaca beberapa lembar berkas di pangkuannya dengan serius dan seksama. Per kata, per paragraf, per bab, tak lepas dari mata tajamnya. Indra benar-benar fokus.
Arga menunggu dengan penuh resah. Sesekali ia memainkan pulpennya di atas meja, membuatnya berputar-putar. Kemudian, ia mengetuk-ngetukkan jari jemarinya dengan bergantian di atas meja. Benar-benar tampak gelisah.
Pandangan Arga bergantian mengarah dari wajah Indra ke lembar berkas di pangkuan Indra.
" Gimana ? "
Tanya Arga begitu melihat Indra selesai membaca.
" Kamu yakin dengan isinya ini ? "
Indra balik bertanya.
Diletakkannya berkas yang baru saja selesai dibacanya ke atas meja kerja Arga. Indra menatap Arga dengan penuh selidik.
" Yakin ! Yakin banget, aku mau kayak gitu isinya. "
" Ga, kita tau, Qirani yang dulu maupun yang sekarang, bukan cewek matre. Penawaranmu itu, keliatan banget, ke arah materi. Kamu siap bercerai dengan catatan, dia mengembalikan semua saham yang udah dia dapetin saat menikah. Aku yakin, dia bakal balikin semuanya. Kan dia yang mau perceraian ini. "
" Kalo dia nggak matre, kenapa dia minta semua sahamku sebagai syarat dia mau menikah denganku ? Alasan apa selain dia cuma mikirin materi ? Dia tau banget, aku ini cinta mati sama dia. Dia juga pastinya tau kan, apapun bakal aku lakuin buat ngebahagiain dia. "
Arga berhenti bicara untuk sejenak. Dilihatnya Indra tampak dengan tenang menanggapi apa yang dia bicarakan.
" Tapi dia tetep minta sahamku waktu itu. Dia nggak cukup dengan cinta dan pengorbananku. Dan tiga bulan ini, dia benar-benar nggak ada rasa peduli sedikitpun padaku. Padahal, kamu tau betul, aku sudah lakuin apa aja buat dia. "
__ADS_1
Lanjut Arga dengan nada suara yang terdengar putus asa.
" Aku tau. Cintamu nggak perlu diragukan. Masalahnya, Qirani sendiri. Aku yakin, dia nggak matre, tapi dia pasti punya alasan yang tepat kenapa dia minta sahammu. "
" Okey, anggap dia nggak matre. Dan dia punya alasan yang tepat buat itu. Nah, sahamku ini berarti berharga bukan buat dia ? Jadi, aku akan manfaatin sahamku buat dia biar berubah pikiran. "
" Mmm... Iya juga ya... Dari awal, yang dia minta cuma saham. Dan abis kamu nikah pun, dia nggak ada hal lain yang dia minta. Segitu capernya kamu, dia masih tetep aja dingin. Kayaknya, sahammu itu emang seberharga itu buat dia. "
Indra mulai sependapat dengan Arga.
" Saham seorang Arga Ekadanta, mana ada nggak berharga ? Grup Ekajaya itu kan perusahaan yang... "
" Iya iya iya, aku tau, aku tau. "
Indra segera memotong ucapan Arga sebelum risih mendengar kenarsisan sahabat karibnya itu.
Arga tersenyum kecil. Ada rasa bangga yang tampak begitu jelas di wajah melankolisnya itu.
" By the way, ngebahas soal Qirani, oke, itu bisa kamu coba. Dan kuharap, aku bener-bener berharap, kamu bisa pertahanin pernikahanmu ini. Karena aku amat sangat muak kalo harus ngeliat kamu kayak zombie lagi. Aku nggak mau harus semangatin hidupmu lagi kayak beberapa tahun lalu. Bener-bener ngerepotin banget dan bikin capek lahir batin. "
Kata Indra tegas.
" Sebenernya kamu ini sahabatku apa bukan sih ? "
Kata Arga setengah gondok.
" Aku juga agak bingung soal itu. Kalo aku bilang, aku ini sahabatmu, itu artinya, aku harus siap lahir batin buat support kamu, apapun yang terjadi. Jujur, itu berat banget, Ga. "
Sahut Indra dengan senyum mengembang.
" Sialan ! Jadi kamu nyesel gitu ? "
Timpal Arga yang ikutan tersenyum.
" Mmm, bisa dibilang begitu. Hehehe... "
Jawab Indra dengan terkekeh.
" Mau kamu sahabatku atau bukan, kamu ini terhitung sebagai bawahanku, jadi... Sebagai bawahan yang baik, kamu tetap harus support bosmu ini, paham ? "
Tambah Arga dengan sok tegas.
" Siap, bos ! "
Dan Indra pun tiba-tiba berdiri tegap dengan tangan kanannya diletakkan di kening, membuat posisi bak menghormat.
" Hei, bikin kaget aja ! Tiba-tiba berdiri begitu ! "
Protes Arga agak kesal karena terkejut sambil ikut berdiri.
" Hahahaha.... "
Indra tertawa terbahak-bahak.
" GUYS !!! "
Arga dan Indra menoleh ke arah pintu dan mendapati Doni yang tampak shock.
" Ada apa, Don ? Ada masalah apa ? "
Tanya Arga penasaran.
" Ga ! Kamu bakalan shock, yakin ! "
Doni mencengkeram lengan Arga dengan kuat.
" Apaan ? Apa yang... "
" Korban penganiayaannya si Aditya Candra. Kalian inget ? "
Belum selesai Indra bertanya, Doni sudah memotong ucapannya.
Arga dan Indra saling beradu pandang, dan bersamaan keduanya menganggukkan kepala sambil menatap ke arah Doni.
" Dia ! Dia itu, masih saudara mu, Ga ! Masih sedarah dengan ayahmu ! "
Kata-kata Doni membuat Arga membelalakkan kedua matanya.
" Don, jangan gila kamu. Jangan halu di siang bolong begini. Apa yang kamu bicarakan ini, hah ?! "
Indra menatap tajam ke arah Doni.
Doni melepaskan cengkeramannya pada lengan Arga. Ia memilih duduk di tempat Arga duduk sebelumnya.
Arga masih bengong. Tak percaya pada pendengarannya sendiri. Dia menoleh ke arah Indra dan Doni bergantian.
" Aku aja nggak percaya pas aku denger secara nggak sengaja. Papaku. Tadi pagi, orang itu datang ke rumah sakit. Aku melihatnya di area parkir, datang bareng omamu, Ga. "
Kata Doni yang mulai menguasai dirinya dengan tenang.
" Aku pikir, aku salah lihat. Tapi setelah aku basa-basi ngobrol sama omamu, aku perhatiin, dan aku yakin, orang itu adalah korban penganiayaan kakak iparmu. "
Lanjut Doni sembari menoleh ke arah Arga yang kini duduk di sampingnya.
" Lumayan lama juga, omamu dan orang itu di ruangan papaku. Pintu juga terkunci dari dalam. Aku coba menguping, tapi nggak kedengeran dengan jelas. Ada beberapa kata yang bisa aku tangkap, omamu menyebut nama Bu Citra dan juga menyebut-nyebut orang itu sebagai anakku. "
" Siapa nama orang itu ya, Ndra ? "
Arga menoleh ke arah Indra.
" Mmm, Hamdi ! Hamdi Sulistiyanto. "
Jawab Indra.
" Tapi cuma denger sedikit kata kayak gitu, gimana kamu bisa yakin kalo Hamdi ini anak omanya Arga ? "
Sambung Indra, bertanya kepada Doni.
__ADS_1
" Aku tanya ke papaku. Awalnya papa nggak mau cerita gitu aja, tapi aku terus maksa nanya. Dan benar, papa bilang, Hamdi ini anak oma mu di luar nikah. Jujur aja, papa bilang, harusnya aku nggak boleh kasih tau kamu, Ga. Tapi, berita sepenting ini, nggak mungkin aku nggak bilang ke kamu, kan ? "
Sahut Doni begitu berapi-api.
" Anak oma di luar nikah ?! Maksudmu, omaku selingkuh ??! Tapi, kalo dilihat dari fisik orang itu, seingatku, dia kayaknya lebih tua dari ayahku, deh. "
Kata Arga setelah diam beberapa saat.
" Papa bilang, omamu pernah hamil dengan pacarnya, dan itu terjadi sebelum omamu dijodohkan sama opamu, Ga. "
Jawab Doni sangat serius.
" Oma pernah hamil ??? Malah sampai punya anak segala ??? Nggak mungkin, ah ! Aku nggak percaya !!! "
Arga terlihat tak suka dengan ucapan Doni.
" Serius, Ga ! Papaku lho yang bilang ! Apa iya, papaku segila itu berani cerita bohong soal omamu ?! Apa untungnya coba, papaku bohong padaku ?! "
Kata Doni tegas.
Arga terdiam. Ia mencoba memikirkan semua yang dikatakan Doni. Dengan seksama, ia memperhatikan raut wajah Doni yang sangat serius.
Doni beneran keliatan serius...
Jangan-jangan apa yang dia bilang emang kenyataannya...
Oma...
Oma punya skandal sebesar itu ?!
Parah !!!
Batin Arga.
" Apa ayahku tau soal ini ya ? Nggak... Kayaknya nggak mungkin. Selama ini kita tau sendiri kan ? Oma benar-benar segitunya cinta dan sayang sama opa. Bahkan setelah opa meninggal, oma sama sekali nggak pingin nikah lagi. Padahal yang siap jadi pengganti opa, banyak lho. Tau sendiri, waktu opa meninggal, usia oma empat puluhan, dan oma itu cantik banget, kan... "
" Kali aja, pada akhirnya, omamu benar-benar jatuh cinta pada opamu. Kan banyak yang kayak gitu. Nikah karena dipaksa, ujung-ujungnya cinta beneran. "
Sambung Indra menanggapi apa yang dikatakan Arga sebelumnya.
" Bisa jadi. Yang pasti, Hamdi ini adalah saudara ayahmu, beda bapak. Dari cerita papaku, ayahmu nggak tau soal ini. "
Sahut Doni.
" Ntar dulu. Gimana bisa, papamu tau rahasia besar omanya Arga, tapi ayahnya Arga malah bisa nggak tau ? Aneh. "
" Kayaknya, rumah sakit milik papaku itu dari omamu, Ga. Kalian tau sendiri, keluargaku, nggak sekaya kalian. Demi papa sekolah di kedokteran, kakek nenekku sampai abis-abisan jual tanah. "
Kata Doni sembari menghela nafas.
" Maksudmu... Rumah sakit itu sebagai imbalan buat papamu agar menyimpan rahasia omaku ? "
Arga menegaskan maksud Doni.
" Ya, bisa jadi. Sebelum papa punya rumah sakit, kehidupan keluargaku kan biasa aja, Ga. Kamu kan, yang paling sering jajanin aku waktu kita sekolah dulu. Dan tau-tau, papa punya rumah sakit... "
" Yah, namanya aku masih anak kecil ya, orangtua jadi orang kaya dadakan, senengnya udah kayak apa tau, jadi mana ada rasa pingin tau, gimana rumah sakit itu bisa dimiliki papa. "
Kata Doni, sembari setengah melamun.
" Tapi kan kakek nenekmu emang punya tanah luas... "
" Ah, nggak tau deh... Ini kan pemikiranku aja. Jangan-jangan, rumah sakit milik papa itu dari oma mu. "
Kata Doni memotong ucapan Arga.
Arga terdiam. Mencoba menelaah semua ucapan Doni.
Jadi, korban penganiayaan Adit adalah anak oma yang lain...
Lalu, apa hubungannya oma, orang itu, dan Adit ??!
Wajah Arga tampak tegang. Dahi di antara kedua alis matanya yang bak ulat bulu berbaris itu berkerut. Sangat jelas tergambar rasa penasaran dan tak percaya di raut mukanya yang tampan itu.
Dalam laporan kepolisian waktu itu, Hamdi ini sebagai korban penganiayaan karena pengaruh alkohol.
Dan cukup mencurigakan juga, beberapa kali minum bareng Adit, dia bukan type orang yang rese kalo mabuk.
Sampai hari ini juga, Adit nggak pernah sekalipun menyinggung soal kejadian itu lagi.
Batin Arga dengan ingatan tentang kejadian beberapa waktu lalu saat dirinya bersama Qirani dan Aditya di kantor polisi.
Dari info yang didapat Indra tentang Hamdi juga bukan sesuatu yang pantas dianggap aneh.
Seorang pekerja kantoran di koperasi kecil, punya keluarga yang biasa-biasa saja.
Kalo dia emang anaknya oma, kenapa cuma jadi keluarga yang biasa-biasa saja ?
Kali ini, Arga membuka ingatannya akan sosok laki-laki paruh baya yang sempat dilihatnya tergeletak penuh luka lebam di rumah sakit.
Semua tau siapa oma, Nyonya Besar,
pemilik grup Ekajaya.
Paling nggak... Hamdi ini punya perusahaan dari oma atau punya rumah mewah.
Apalagi, dari cerita Doni, sampai sekarang oma masih berhubungan dengan Hamdi ini.
Seharusnya Hamdi pasti ngedapetin yang namanya kekayaan dari oma, kan...
Cuma pekerja kantoran biasa... ?!
Kembali dahinya berkerut membentuk lipatan lebih dalam lagi. Mata Arga yang memang terlihat tajam, semakin tampak lebih tajam dan dalam saat menerawang ke depan.
Dan rasanya aneh banget, sebenarnya apa hubungan antara Adit dan Hamdi ?!
Kayaknya, aku harus cari tau lebih dalam lagi...
__ADS_1