
GEDUNG PERKANTORAN GRUP EKAJAYA
" Arga nggak mau menikah dengan Rosa cuma karena urusan bisnis ! "
Kata Arga kesal sambil melempar tubuhnya ke sofa tamu di kantor ayahnya.
" Ini demi perusahaan dan demi masa depan mu juga, Ga. Hotel di beberapa kota di Jawa Tengah sudah tutup. Kita butuh dana besar. Dengan gabungan saham dan bantuan keuangan dari perusahaan Om Herman, itu akan sangat membantu kita buat bangkit lagi. Apa kamu nggak kasian dengan para karyawan disana ? Banyak yang sudah belasan tahun ikut dengan perusahaan kita ini. "
Kata Pak Bima menjelaskan.
Arga menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Tatapan matanya menatap ke arah luar jendela kantor ayahnya.
Pak Bima bangun dari kursi kerjanya dan melangkahkan kaki menghampiri Arga. Beliau pun ikut duduk di sofa, bersebelahan dengan sang anak.
" Tapi nggak harus dengan pernikahan, yah. Aku nggak cinta sama Rosa. Dan Rosa pun kayaknya juga bukan tipe cewek Siti Nurbaya. Dia cewek modern dengan pandangan modern juga tentunya. "
Kata Arga, mendahului sang ayah yang ingin membuka mulut.
" Dia anak penurut. Apa kata Herman, dia akan ikuti. "
Timpal Pak Bima.
" Kalo anak penurut, apa sampai urusan pernikahan dan masa depannya juga diatur kayak gitu ? Jangan kolot, yah. "
Arga masih terus memberikan alasan.
" Dengerin ayah. Rosa anak yang baik. Dia berpendidikan tinggi. Skillnya dalam bekerja juga nggak diragukan lagi. Ayah yakin, dia bisa menjadi istri yang baik dan bisa membantumu mengatasi masalah perusahaan kita ini. "
Pak Bima terus berusaha membujuk Arga.
" Ada cara lain, Yah... Nih, silahkan ayah baca dulu. "
Kata Arga seraya bangun dari duduknya dan meletakkan sebuah amplop coklat berukuran folio yang sedari tadi dipegangnya ke atas meja di hadapan ayahnya.
" Apa ini ? "
Tanya Pak Bima yang penasaran dan kemudian mengambil amplop coklat tersebut.
" Ayah buka aja... "
Sahut Arga singkat.
Pak Bima mulai membuka amplop coklat tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalamnya.
Dengan teliti, dibacanya per halaman. Wajah Pak Bima tampak serius. Terkadang beberapa kali membaca di halaman yang sama, seperti ingin menegaskan sesuatu.
Beberapa saat kemudian, Pak Bima merapikan kembali apa yang tadi dibacanya dan memasukkannya ke dalam amplop coklat.
" Grup Paradise menawarkan kerjasama dengan keuntungan sama rata, dan mereka bersedia memberikan pinjaman dana sebesar yang kita butuhkan dengan bunga 0,2 %. Kita bisa memilih tenor yang sesuai dengan kemampuan kita, itu satu hal yang menarik. Dan semakin menarik lagi, tanpa penghitungan saham pula. Hmm..... "
Kata Pak Bima sesaat setelah meletakkan amplop coklat tadi kembali ke atas meja.
" Kapan kalian bertemu ? Kenapa Ayah bisa nggak tau tentang pertemuan kalian ? "
__ADS_1
" Sudah semingguan lebih... Ayah ingat ? Saat Om Herman nawarin Aditya Chandra bergabung makan malam dengan kita ? Siangnya mereka baru dari kantor Arga. Mereka datang langsung ke kantor Arga. Arga juga nggak tau, kenapa mereka lebih memilih menemui Arga daripada langsung ke Ayah. "
" Apa mereka tau masalah hotel kita di Jawa Tengah ? "
" Mungkin... Itu kan juga rahasia, semua pasti tau soal itu, yah. Sudah nggak bisa ditutupi lagi. "
" Huufftthh.... Iya, masalah sebesar itu... Pastilah ketauan juga. Beberapa pemegang saham sudah mulai menuntut buat menarik saham mereka. "
" Dibanding Arga menikah dengan Rosa, kerjasama dengan Grup Paradise, aku pikir, kayaknya lebih bisa jadi solusi buat masalah perusahaan saat ini. "
" Apa bukan karena kamu tertarik dengan tunangan Aditya itu ? Ayah ingat banget, betapa sigapnya kamu menyiapkan kursi buat gadis itu, daripada ngajakin ngobrol si Rosa. Bahkan selama makan malam, kamu lebih sering merhatiin tunangan orang daripada obrolan malam itu... "
" Terserah ayah komentar apa... Udah waktunya pulang kerja, pamit duluan ya yah... "
Arga begitu enggan banyak bicara dengan sang Ayah. Ia langsung bangun dari duduk santainya dan melangkahkan kakinya ke luar kantor Pak Bima tanpa menoleh kembali.
Pak Bima hanya bisa diam melihat sosok Arga yang tak lama menghilang dari pandangannya begitu pintu kantornya tertutup.
Aku yakin, Arga tertarik sama tunangan Aditya itu.
Gerak-gerik nya sangat jelas malam itu.
Matanya nggak lepas sama sekali dari gadis itu.
Bahkan sampai pulang aja, nggak ada sepatah katapun buat Rosa.
Ada gadis yang bisa dilirik malah ngelirik gadis orang...
Batin Pak Bima sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali.
" Undangan party dari tuan mudamu... "
Bisik Aditya kepada Qirani begitu pintu ruangan apartemen terbuka lebar.
Qirani mengernyitkan keningnya dan mengikuti dengan cepat langkah kaki Aditya yang panjang menuju sofa ruang tengah.
" Maksudnya, kak ? "
Kata Qirani yang ikut duduk disisi Aditya begitu Aditya melempar pantatnya ke atas sofa kulit berwarna hitam legam tersebut.
" Malam ini, Arga ngajakin kita party, ngerayain kerjasama yang akhirnya terjadi. Tadi pagi dia dan pengacaranya datang ke kantor ku, menyetujui semua poin kerjasama yang kita ajukan. Dan pulangnya dia ngajakin party di kafe hotel miliknya. "
Jelas Aditya penuh semangat.
" Oh ya ? Mereka benar-benar setuju bekerjasama dengan kita ? "
" Yups ! Aku harus telpon mama. Satu lagi, dia sangat terlihat kecewa, sayang. Nggak ketemu kamu di kantor tadi. "
" Segitunya ? "
" Segitunyaaaa.... Arga celinguk sana celinguk sini sampai akhirnya bertanya juga. Aku bilang, kamu sakit. Dan mukanya langsung tegang. Nanya kayak nenek-nenek berisik. Sakit apa ? Sudah berobat ? Sudah minum obat teraturkah ? Ke dokter mana ? Ke klinik apa ke rumah sakit ? Sakitnya parah kah ? Sudah berapa hari sakit ? Hahahaha.... Kayaknya dia benar-benar yakin, kamu itu Qirani nya dulu. Atau dia mulai jatuh cinta sama kamu karena ngerasa kamu mirip Qirani nya dulu ?... Heemmm, menurutmu gimana, adikku sayang ? "
Kata Aditya dengan tawanya yang lebar.
__ADS_1
" Entah... Dan aku nggak peduli yang mana, yang penting saat ini dia mulai tertarik padaku. "
Jawab Qirani dengan wajah tanpa ekspresi.
Aditya mengusap beberapa kali kepala adiknya dengan lembut. Qirani menatap sang kakak.
" Aku berharap, rencana kita ini nggak bikin kamu tersakiti ataupun menyesal di belakangnya nanti. Misal... ini misal ya, kalo ternyata kamu nanti jatuh cinta pada Arga, kakak nggak akan melarangmu, nggak akan membuatmu patah hati. Betapapun pentingnya rencana kita, kebahagiaanmu lah yang terpenting. Paham ? "
Kata Aditya dengan mimik wajah yang serius namun hangat.
" Kakak... "
" Serius, aku mau kamu bahagia, biarpun Arga pasanganmu nantinya, aku nggak akan marah. Mama juga pasti mengerti. Dia yang pertama buatmu, meskipun caranya salah. Tapi aku yakin, seratus persen yakin, dia benar-benar cinta pada Qirani Asha. Bisa jadi, kamupun akan luluh nantinya. Jadi... tetaplah jujur pada diri sendiri. Nggak usah takut, aku dan mama marah. Kita ini satu keluarga. Harus saling sayang dan percaya. Okey, sayang ? "
" Ya... Aku akan jujur pada diriku sendiri dan juga kepada kakak dan mama. Jujur tentang apapun itu. Tapi rasanya, rasa benciku pada manusia satu itu lebih besar daripada rasa cintanya padaku. "
" Alright... For now whatever you feel, the important thing is that you know what you want... "
( Baiklah... Apapun yang kamu rasain sekarang, yang penting kamu tau apa yang kamu mau... )
" Of course... "
( Tentu aja... )
" Hari ini benar-benar sesuai yang diharapkan... "
" Ya udah, sana mandi. Aku siapin baju ganti ya... "
Kata Qirani yang mendorong kakaknya untuk segera bangun dari duduknya.
" Iya... iya... Cariin kaos aja ya. Malam ini party santai, aku pingin minum banyak. "
" Idih, niat amat, kak ! "
" Hahaha... "
Dan Aditya pun bangun melangkahkan kaki menuju kamar mandi sambil bersiul riang. Qirani tersenyum simpul melihatnya.
Mungkinkah perasaanku berubah nanti ?
Aku tau, aku ingat...
Betapa pedulinya Arga padaku.
Tapi aku juga ingat, betapa jahatnya dia malam itu.
Dia ngelakuin hal yang menjijikkan itu beberapa kali malam itu.
Bikin aku sangat sakit saat berjalan keluar...
Sakit di badanku, sakit pada hatiku !
Jadi nggak masuk akal kalo nantinya perasaanku bisa berubah...
__ADS_1
Sesuatu yang mustahil !