
" Apa seseorang yang hilang ingatan, beneran nggak akan ingat lagi dalam waktu yang lama ? "
Tanya Arga sambil melihat-lihat ruangan Doni yang serba putih itu.
" Tergantung dari jenis amnesianya. Ada yang bisa ingat kembali dengan sendirinya, ada yang karena faktor tertentu, ada juga yang sama sekali nggak ingat kembali. Kayak lahir kembali aja, melakukan hal-hal yang berbeda, dan mengenal dari awal lagi, karena ingatannya yang kosong. "
" Oh... "
Komentar Arga singkat.
" Aku pusing ngeliat kamu mondar-mandir di dalam ruangan ku. Sebenarnya apa yang bikin kamu kesini ? Belajar tentang amnesia ? "
Kata Doni sambil meletakkan kedua siku tangannya di atas meja, kemudian mengaitkan jari-jemarinya demi menopang dagunya.
" Beberapa hari ini, aku menyelidiki tunangan Aditya. "
" Wah... kedengarannya mulai akrab antara kamu dan Aditya. Sudah saling panggil nama begitu. Dan... apa kamu nggak takut terlibat masalah karena menyelidiki seseorang yang sudah punya pasangan ? Ingat, Ga. Perusahaan mu saat ini bergantung pada Aditya. "
Ujar Doni dengan sedikit nasehat untuk sahabatnya.
Arga tersenyum, ia menarik bangku di depan meja dimana Doni duduk di seberangnya..
" Dokter Doni yang terhormat, apa anda pikir, sahabatmu ini akan begitu bodohnya terang-terangan menyelidiki seseorang ? "
Kata Arga yang setelah duduk, lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang.
" Aku tau, kamu nggak seceroboh Indra. Di antara kita, kamu lah yang paling teliti dalam segala hal. Aku cuma ingetin aja koq... "
Sahut Doni.
" Okey, thanks buat perhatianmu. "
" So... Apa yang kamu dapetin dari penyelidikan tentang nona Divya yang sangat menggoda itu ? "
" Kamu bakal kaget. "
" What ? "
" Dia adalah Qirani ! "
Bukannya terkejut, seperti harapan Arga, Doni malah terkekeh-kekeh.
" Hehehe... Arga, Arga ! Kamu ini bener-bener nggak bisa move on. Cuma karena wajah yang sama, kamu bisa-bisanya menganggap tunangan orang sebagai pacarmu. Kupikir, hatimu saja yang bermasalah, ternyata otakmu juga bermasalah. Berhenti mengganggu ku dengan obsesi halu mu itu. "
" Banyak bukti yang bisa membuatku yakin soal itu, Don. "
" Entahlah... Aku terlalu lelah dengan kisah cinta masa lalumu. "
" Tanda lahirnya Qirani, Divya juga memilikinya. Dan yang lebih meyakinkan lagi, Aditya cerita, dia menemukan Divya dalam keadaan koma karena menjadi korban tabrak lari. Setelah siuman, Divya amnesia, sampai sekarang ini. Nama Divya Naura, ibu Aditya lah yang memberikannya. Dan itu terjadi tiga tahun lalu. "
Arga memberikan penjelasannya.
" Heemm... "
Doni mulai menyimak.
" Aditya menemukan Divya dan membawanya ke Inggris, Don. Itulah kenapa aku nggak pernah menemukan Qirani. Dia nggak ada di negara ini ! "
Arga semakin bersemangat bercerita.
" Masuk akal sih... Apalagi Aditya mau jujur tentang Divya. Bisa dipercaya. Tapi mereka sudah bertunangan, itu berarti dalam masa tiga tahun itu, Divya memulai hidup barunya bersama Aditya. Sudah seharusnya, kamu juga melakukan hal yang sama. "
" Nggak. Aku mau pastiin dulu. Kalo aku nggak bisa membuat Divya mengingat tentang dirinya sebelum tiga tahun lalu, aku nggak akan menyerah. "
" Ga, kamu mau sampai kapan kayak gini ? Sudahlah... Biarkan mereka bahagia. Temukan kebahagiaanmu sendiri, ka.. "
" Kebahagiaan ku cuma bersama Qirani. Sebelum aku yakin, Divya benar-benar tak bisa ingat semuanya, aku nggak akan melepaskannya. Aku akan melakukan sesuatu agar dia bisa mengingat siapa dirinya sebelum tiga tahun ini. "
" Lalu, kalo ternyata dia bisa mengingatnya dan kayak kata kamu, dia benar-benar Qirani, tapi dia nggak ingin kembali padamu, dia tetap pada hubungan nya dengan Aditya. Apa yang kamu lakukan ? "
Ucapan Doni membuat Arga termenung untuk sejenak.
Keadaan di dalam ruanganpun hening sesaat. Hanya terdengar jam dinding yang berdetak. Arga melipat kedua tangannya, dan tampak serius.
" Aku nggak mau mikirin soal itu. "
Ucap Arga tegas pada akhirnya.
Keras kepala !
Batin Doni setengah kesal.
__ADS_1
" Aku nggak akan berkomentar apa-apa lagi. Satu hal yang aku ingatkan. Seseorang yang mengalami amnesia dalam waktu yang cukup lama, sebaiknya jangan dipaksa untuk mengingat dengan keras. Itu bisa menyebabkan masalah pada otaknya. Lakukan perlahan dan sealami mungkin. Kamu paham ? "
Kata Doni yang akhirnya memilih mendukung keputusan Arga.
Doni sangat memahami seperti apa sifat dan karakter Arga. Persahabatan yang terjalin sejak lama dalam hitungan tahunan membuatnya mengenal dengan sangat baik siapa Arga.
Arga tersenyum mendengar apa yang dikatakan Doni.
" Thanks ya buat infonya. Kamu yang terbaik. Aku janji, nggak akan memaksa dengan keras dan buru-buru. Aku akan melakukannya dengan sabar. "
" Ya ya ya... "
" Gimana kabar Sherina ? Masih muntah-muntah terus ? Tesismu ? Lancar ? Nggak capek apa, bagi waktu buat terus kuliah dan ngurus istri yang lagi hamil anak kedua ? Belum anak pertama mu yang baru dua tahun... Lagi bandel-bandelnya... "
Dan obrolanpun berlanjut ke tema pembicaraan yang lain.
BEBERAPA HARI KEMUDIAN
" Arga mau mengajakmu keluar ? "
Tanya Aditya yang sedang rebahan di atas permadani tebal berbulu lembut sembari menikmati acara televisi di hadapannya.
" Iya, semalam dia meneleponku. "
Sahut Qirani yang sedang merapikan rambutnya yang setengah basah dengan sisir.
" Kemana ? "
" Nggak tau. Dia nggak bilang apa-apa. Cuma bilang, mumpung hari ini libur, dia mau ngajak jalan, gitu aja. "
" Owh... Mmm, aku perlu ikut ? "
Pertanyaan Aditya membuat Qirani memutar tubuhnya dan menatap wajah kakaknya dengan raut wajah penuh tanda tanya.
" Apa kakak berpikir, adikmu ini gadis yang lemah, yang nggak bisa membela diri ? Sampai harus diikuti ? "
" Hehehe... Sedia payung sebelum hujan itu perlu, adikku sayang. "
Sahut Aditya dengan tertawa kecil.
" Kenapa kakak nggak kasih perlawanan dengan sepenuh hati sih ? Harusnya kakak itu jangan langsung iya aja waktu Arga bilang mau coba kembalikan ingatanku. Apalagi status kita itu kan tunangan. Masa iya semudah itu nyerahin tunangan sendiri ke pria lain... Tarik ulur dulu, biar gimana juga, bersikap seolah-olah mencoba mempertahankan dulu hubungan pertunangan kita ini, karena kan kakak sebagai pasangan yang sangat mencintai tunangannya. Ini koq malah, gampang banget menyerah. "
" Lah mau gimana lagi, aku liat dia udah ngebet banget sama kamu. Aku kan laki-laki juga. Rasanya kasian ngeliat dia tersiksa kayak gitu karena kamu. "
" Tapi kan jadinya aneh, kak. Cuma karena Arga menginginkan aku, kakak main kasih aja. Gimana judulnya coba ? Sia-sia dong akting kita sok mesra dan perhatian kemarin ini. Biarin ajalah dia ngerasain dulu berjuang merebut ku darimu. Paling nggak, dia harus bener-bener berjuang sangat keras... "
" Hei, hei... Kamu ini udah kayak sutradara sinetron saja. Kenapa aku merasa adikku ini menjadi sangat kejam dan nggak berperasaan ya... "
Kata Aditya sambil bangun dari acara rebahannya dan duduk menghadap ke arah Qirani.
" Dia lebih kejam... "
Kata Qirani lirih sembari melempar tubuhnya di sofa, tepat di depan Aditya.
Aditya menggeser pantatnya, mendekat ke arah Qirani. Begitu mereka sudah saling berhadapan, Aditya meraih kedua tangan Qirani dan menggenggamnya.
" Dengerin ya. Kamu boleh berniat balas dendam atas semua yang dilakukan Arga padamu, silahkan. Aku nggak akan melarangku. Tapiiiiii.... Lihat Arga, lihat semua yang ia lakukan dulu demi menemukanmu, liat pengorbanan nya sampai hari ini, setia jadi jomblo karena berharap menemukanmu suatu saat nanti. Dia benar-benar sayang sama kamu, benar-benar cinta. "
" Pertimbangkanlah soal itu... Jangan tutup mata dan hatimu cuma karena dendam. Apalagi kita memang punya rencana, menghancurkan perusahaannya. Jadi sisakanlah sedikit belas kasihan mu padanya... "
Kata Aditya panjang lebar sambil mendongakkan wajahnya ke atas menatap Qirani.
Qirani mengumbar senyum manisnya dan menundukkan kepalanya, mendekat ke wajah sang kakak.
" Kenapa aku berpikir, kakakku yang ganteng ini sebenarnya memihak aku apa bukan ya ? "
Ujar Qirani dengan satu alis naik ke atas bersamaan dengan senyum yang tersungging di sudut bibirnya.
Aditya menjauhkan wajahnya dan melepaskan genggamannya pada tangan adiknya.
" Sekali lagi, aku nggak mau kamu menyesal karena udah menyia-nyiakan seseorang yang begitu peduli padamu. "
Kata Aditya sambil bangun berdiri dari duduknya di atas permadani.
Qirani terdiam. Tatapannya ke arah acara televisi yang menyala di hadapannya. Tapi ia tidak menyimak sama sekali acara tersebut. Raut wajahnya tampak serius.
" Pagi ini, kamu belum bikinin aku kopi ya... "
Kata Aditya yang berjalan sampai ke dapur dan melihat ke sekeliling dapur.
" Ah iya, kopi habis semalem. Aku lupa mau keluar buat beli. Nanti deh aku sekalian mampir beli stok. "
__ADS_1
Sahut Qirani, masih tetap tak bergeming dari duduknya.
" Oh... Pesenin kopi ya di bawah, ntar pas kamu turun. "
" Okey... "
TING TONG... TING TONG...
Tepat setelah Qirani menutup mulut menjawab sang kakak, bel pintu terdengar.
Qirani menoleh ke arah pintu, memperhatikan Aditya yang bergegas setengah berlari keluar dari dapur menuju pintu.
" Kenapa juga harus berlari... Bukannya ada aku diluar sini... "
Gumam Qirani, sembari menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Mata Qirani tak beralih sedikitpun dari arah pintu. Aditya membuka pin untuk kunci pintu dan pintu pun segera ditariknya ke arah dalam setelah terdengar suara klik, tanda kunci telah terbuka.
" Hai, Dit... "
" Oh, kamu... Masuk. "
Kata Aditya yang langsung tersenyum ramah begitu mendapat sapaan dari sang tamu.
Arga pun melangkah masuk ke dalam, mengikuti jejak sang pemilik. Di balik tubuh Aditya, Arga melihat sosok Qirani yang sedang memandang ke arah mereka berdua.
" Pagi sekali... Memangnya kamu mau ngajakin aku kemana ? "
Tanya Qirani, tepat sesaat Arga dan Aditya sudah sampai di hadapannya.
" Duduk dulu... Mau minum sesuatu yang hangat ? Tapi nggak ada kopi, habis. "
Sela Aditya sebelum Arga membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Qirani.
" Ah, nggak usah, Dit. Santai saja. "
Kata Arga menolak.
Arga pun memilih duduk di salah satu sofa terdekat dari Qirani berada.
" Kalo sudah siap, ayo jalan ! "
Kata Arga sembari menatap ke arah Qirani.
" Kemana ? "
Qirani tampak penasaran.
" Hari ini aku pingin ngajakin kamu ke tempat seseorang yang berulang tahun. "
" Merayakan ulangtahun seseorang ? Siapa ? "
Tanya Qirani yang semakin penasaran.
Aditya yang sebelumnya acuh tak acuh, kini mulai menyimak karena rasa ingin tahu. Ia juga melirik ke arah Qirani, dan pandangan mereka sempat beradu, sebelum akhirnya bersamaan menatap ke arah Arga dengan serius.
" Bunda Rima... Pemilik Panti Asuhan Mentari Pagi. "
Sahut Arga dengan senyum yang mengembang.
Qirani dan Aditya seketika membelalakkan mata karena terkejut. Kembali keduanya saling bertatapan.
Langkah pertama yang dipilihnya benar-benar skakmat !
Divya bakal kesulitan kalo sampai harus kesana....
Batin Aditya mencemaskan sang adik.
Baru tadi sebelum mandi, memesan kue ulang tahun dan kado buat Bunda.
Bisa jadi kue dan kado itu sudah sampai di panti.
Dan parahnya lagi, aku mengirimnya dengan menggunakan nama Qirani lagi.
Adik-adik di panti juga pasti hari ini tau tentang aku sekarang, karena Bunda memang berencana jujur tentang aku hari ini, begitu kue dan kado itu sampai.
Gimana ini ?
Bakal kacau kalo tiba-tiba aku datang ke sana dan semuanya langsung memanggil ku Qirani, nggak mungkin aku pura-pura nggak kenal sama mereka...
Apa yang harus aku lakuin sekarang... ???
__ADS_1