Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 65


__ADS_3

Qirani menatap meja kecil di sisi trmpat tidurnya. Perlahan, ia berjalan mendekat ke meja tersebut. Tampak sebuah amplop besar berukuran folio berwarna coklat muda tergeletak di atas meja tersebut.


Tepat di sisi tempat tidur, Qiranipun duduk. Tangannya terulur mengambil amplop tersebut. Penuh rasa ingin tahu, ia segera membuka amplop besar tersebut.


Ini... ?


Berkas perceraianku dengan Arga ?


Dia benar-benar serius mengurusnya dengan cepat.


Dia benar-benar udah menyerah mengejarku ?


Dia... belum tanda tangan ?


Okey, aku tanda tangan aja duluan ntar.


Kayak gini, bagus deh, semakin cepat semakin lebih baik buat semuanya.


Kata Qirani dalam hati saat membaca lembaran kertas putih yang ia keluarkan dari amplop besar itu.


Eh...


Apa ini ?


Mata Qirani membelalak saat melihat lembaran terakhir di tangannya.


Perjanjian Perceraian ?!


Baca Qirani dalam hati melihat kop surat yang dicetak tebal dan berukuran besar itu.


Dan tak ingin membuang waktu, ia membaca isi yang tertulis hingga tuntas. Tak hanya sekali, Qirani mengulang membaca secara keseluruhan apa yang tertulis di lembaran terakhir tersebut.


Dahinya mengerut setiap dia selesai membaca. Kedua matanya terlihat tajam memandang semua berkas di tangannya. Raut wajahnya sangat terlihat penuh rasa kesal.


" Apa-apaan ini ?! Dia berani-beraninya ! "


Kata Qirani dengan penuh emosi.


Dalam sekejap, Qirani bergegas keluar kamarnya dan menuju ruang kerja Arga.


TOKK !!! TOOKKK !!! TOOKKK !!!


" KAK ARGA !! KAK !! Keluar kamu !! Aku mau bicara !!! "


Dengan dipenuhi amarah yang hampir meluap, Qirani mengetuk pintu dengan keras.


" KAK ARGA !!! KAK AR... "


Belum selesai Qirani berseru, pintu di hadapannya terbuka dengan perlahan.


" Dengan adanya surat perceraian, akhirnya aku bisa bikin kamu memanggil namaku lagi... Aku bener-bener kecewa banget sama kamu, Qiran. "


Ucap Arga dengan mimik wajah yang tampak kecewa.


Amarah di hati Qirani meredup mendengar ucapan Arga. Amarah yang hampir meluap itu berganti dengan perasaan bersalah.


" Kenapa ? Bukannya pingin marah-marah tadi ? Ternyata, kamu masih manusia biasa ya ? Masih punya rasa nggak enak, hah ? Ngerasa bersalah ? "


Sambung Arga yang menyerang Qirani melalui perkataannya dan juga memasang raut wajah menghakimi.


" Aku... "


" Apa ?! Mau protes soal syarat perceraian itu ?! "


Potong Arga dengan nada sinis, saat dilihatnya Qirani yang menggenggam beberapa lembar kertas dan amplop besar.


" Apapun yang mau kamu omongin, aku nggak peduli. Aku punya keputusanku sendiri, sama kayak kamu yang punya keputusanmu sendiri. Kamu tanda tangan di Perjanjian Perceraian, baru aku tanda tangan di dokumen perceraian itu. Jadi, simpan emosimu, percuma kamu marah-marah padaku. "


Baru saja Qirani berniat membuka mulutnya, Arga sudah mendahuluinya bicara terlebih dahulu.


" Aku capek. Pergilah. Nggak ada lagi yang perlu kita omongin. "


Kata Arga sembari mendorong pintu, berniat menutupnya.


" Tunggu ! Kumohon... "


Qirani memegang pergelangan tangan Arga, mencegah agar pintu tak menutup.


" Bahkan kamu memegang tanganku... "


Ujar Arga sambil menatap tangan Qirani yang memegang pergelangan tangannya.


Dengan canggung, Qirani melepaskan pegangannya.


" Aku... Aku butuh sahammu, kak. Berikan syarat yang lain, tapi jangan ambil lagi sahammu. Aku menikahimu itu karena aku mau sahammu, jadi sia-sia kan kalo kita bercerai dan kamu mengambil lagi sahammu. Aku nggak butuh apa-apa, aku cuma mau sahammu. "


Dan tanpa pikir panjang lagi, Qirani bicara dengan jujur.


Nggak tau lagi harus ngomong apa, biarin aja dia mau mikir gimana...

__ADS_1


Batin Qirani.


" Sahamku begitu penting, ya. Bahkan aku dengan segala cintaku aja kalah penting. "


Kata Arga sambil menyandarkan punggungnya ke sisi pintu di sampingnya.


" Jujur, ya, bagiku, sahammu memang sangat penting. "


Jawab Qirani cepat.


" Kamu benar-benar bikin aku gila ! Kamu mau nikah cuma karena saham ?! Apa aku ini benar-benar nggak berarti apa-apa sedikitpun ?! "


Arga meradang melihat ekspresi wajah Qirani yang datar saat menjawabnya.


" Jangan drama. Kita ada di realita kehidupan. Kita nggak lagi main sinetron yang bicara tentang cinta sejati. Ini kenyataannya, kak. Bagiku, kamu nggak berarti apa-apa. Bagiku, sahammu... "


" CUKUP !!! Aku nggak mau bicara lagi. Itu keputusanku !! "


Kata Arga dengan penuh amarah sambil menunjuk ke arah berkas di tangan Qirani.


BBRRAAKKK !!!


Dan dengan kerasnya, Arga membanting pintu. Qirani hampir melompat karena terkejut.


Sebelumnya, aku yang pingin marah-marah...


Pada akhirnya, dia malah yang marah-marah, dan aku cuma bisa diam disini nggak dapet apa-apa ?!


Kacau !!!


Batin Qirani sambil menatap pintu yang tertutup rapat di hadapannya.


" Kak Arga ! Kak ! "


Panggil Qirani yang berharap Arga mau membuka pintunya kembali.


" Ah, udah deh ! Nggak akan dibukain juga. Dia lagi kesal begitu... "


Kata Qirani pada dirinya sendiri.


Kemudian dalam hitungan detik, Qirani memutar tubuhnya dan kembali menuju kamar utama, kamarnya sendiri sekarang ini.


" Huuuffftthhh !!! "


Qirani menghempaskan udara melalui bibirnya yang tampak manis dengan lipstik berwarna nude itu.


Apa yang bikin kak Arga ngajuin syarat perceraian kayak gitu ?


Dan sahamnya lagi yang jadi syarat.


Apa yang aku lakuin semua ini cuma demi saham dia, demi mama...


Kalo aku cerai dan sahamnya nggak jadi milikku, sia-sia dong pernikahan ini.


Apa yang harus aku lakuin sekarang ?...


Qirani melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamar dengan dahi berkerut.


Kak Adit !


Seru Qirani dalam hati.


Segera Qirani beranjak bangun dan meraih tas kulitnya yang berwarna coklat tua dengan merk ternama yang tergeletak di sisinya.


Qirani membuka tasnya dengan cepat dan mengambil handphonenya. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Qirani kembali meletakkan tas tersebut di sisinya.


TUUTTT... TUTTT... TUTTT...


Handphone yang baru saja digenggamnya berbunyi. Qirani mengernyitkan keningnya saat melihat nama yang muncul sebagai penelepon di layar handphonenya.


Pas banget...


Baru juga mau nelpon.


Batin Qirani yang merasa senang sekaligus penasaran.


" Ya, kak ? "


Kata Qirani begitu menekan gambar telepon diterima pada layar handphone nya.


" Aku sayang kamu dan mama... "


Suara Aditya di seberang terdengar bergetar di telinga Qirani.


" Kak... Apa maksudmu ? "


Qirani merasa aneh.


" Div, apapun yang aku lakuin yang mungkin nantinya bakal bikin kecewa kamu dan mama, aku minta maaf. Aku nggak bisa menahan diri. Aku... "

__ADS_1


Suara Aditya terdengar menggantung.


" Kakak, please. Jangan buat aku bingung. Apa maksud kalimatmu itu ? Kamu dimana ? Ayo, kita ketemu. Aku akan ke apartemenmu sekarang, biar ki... "


" Aku nggak di apartemen. "


Kata Aditya yang langsung memotong ucapan Qirani.


" Lalu, kamu ada dimana sekarang ? Sharelock alamatmu, aku langsung jalan. "


Balas Qirani yang langsung meraih tas disisinya dan bergegas keluar kamar.


" Mana alamatmu, kak ? "


Tanya Qirani yang melangkah dengan terburu-buru, bahkan mulai setengah berlari menuju pintu utama untuk keluar rumah.


DUUGGG !!


" Hei, kenapa kamu lari-larian gitu sih di dalam rumah ?! "


Protes Arga yang tanpa sengaja tertabrak oleh Qirani.


" Hei !! Aku bicara denganmu ! "


Seru Arga yang tak terima, karena Qirani yang telah menabraknya melewatinya begitu saja.


Qirani tak mempedulikan seruan Arga. Ia masih setengah berlari sambil menelepon.


" Kak, aku... "


" Aku di kantor polisi. "


" A... Apa ?! "


Jawaban Aditya dari seberang membuat Qirani menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba.


" Aku membunuh seseorang, Div. Akhirnya... Aku membunuhnya, Div. Aku berhasil membunuhnya. Akhirnya... "


Sambung Aditya dengan nada suara yang terdengar puas dan bangga.


Wajah Qirani kini memucat. Handphonenya terlepas begitu saja dari tangannya yang langsung terkulai lemas saat mendengar kalimat Aditya baru saja.


Arga yang masih berniat mengomel, merasa aneh dengan sikap Qirani. Ia melihat Qirani yang sebelumnya terburu-buru, kini hanya berdiri diam mematung tepat di pintu rumah.


Ada apa ?


Kenapa handphonenya jatuh tiba-tiba ??


Terus... kenapa dia diam begitu ?


Telepon dari siapa ?


Batin Arga penasaran.


" Qirani... Ada apa ? "


Tanya Arga sambil berjalan mendekat ke arah sang istri.


Tetapi Qirani tak bergeming sedikitpun. Matanya menerawang, tampak kosong. Wajahnya yang memucat, bertambah dengan lipatan di keningnya. Tubuhnya sedikit gemetar.


Kakak... membunuh orang ??!!


Batin Qirani kalut.


" Qiran... "


Panggil Arga yang berdiri tepat di belakang Qirani.


Qirani tak menjawab. Tanpa berpaling ke belakang ia berjongkok dan memungut handphonenya yang sebelumnya terjatuh di lantai.


" Ada kabar buruk kah ? Telepon dari siapa ? Apa... Heii !!! "


Belum selesai Arga bertanya, Qirani sudah berlari keluar rumah.


" Apa-apaan sih dia ?! Main pergi begitu saja ?!! Bikin orang jadi penasaran... "


Gerutu Arga setengah kesal.


Sebenarnya, siapa yang telepon dia sih ?


Di dalem rumah sampai lari-larian gitu...


Udah nabrak orang, nggak minta maaf.


Ditanya nggak ngejawab.


" Hiisshhh... "


Arga mendesis dengan rasa ingin tahu yang besar.

__ADS_1


__ADS_2