Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 34


__ADS_3

" Sudah satu minggu Arga mengurung diri di dalam kamar, Ma. Nggak kedengaran sih dia ngamuk atau ngeberantakin barang-barang. Malah tenang banget. Kamarnya terkunci tapi setiap Bi Marni antar makan, dia mengambilnya. Dan makanannya juga habis. Aku nggak tau harus gimana lagi bujuk dia agar keluar kamar. "


Pak Bima menjelaskan keadaan Arga saat ini kepada ibunya.


" Mungkin dia sedang berpikir. Kita tunggu saja dia keluar sendiri dari kamarnya. Dua kali jatuh cinta, cuma bikin dia terluka. Cucuku itu punya wajah dan badan yang bisa bikin gadis manapun tergila-gila, tapi kenapa malah jatuh cinta pada gadis yang cuma bisa ninggalin dia begitu saja... Bikin sia-sia masa mudanya saja. "


" Makanya aku pingin jodohin dia sama Rosa. Siapa tau Rosa bisa bikin dia melupakan pacarnya itu. "


" Memangnya nggak ada informasi apapun tentang pacarnya yang menghilang itu ? Kamu nggak minta bantuan sama Joko ? "


" Mana bisa urusan sepele begitu, aku minta tolong sama Joko. Ini urusan anak muda yang nggak penting. Rasanya malah ngeremehin Joko, kalo ngurusin masalah ini. Lagipula, kalo memang pacarnya itu hilang, ini udah hampir sebulan, masa iya nggak ada yang punya informasi soal gadis itu. Aku pikir, dia sengaja menghilang. Mungkin bersembunyi, sengaja menghindari Arga. "


" Betul juga katamu ini. Nggak enak juga gangguin Joko dengan persoalan anak-anak. "


Pak Bima menuangkan air putih ke gelas di atas meja di sampingnya. Lalu menyodorkannya kepada Bu Eka.


" Minum dulu, ma... "


Kata Pak Bima.


Bu Eka mengambil gelas dari tangan Pak Bima, dan meminum air putih tersebut hingga isinya tinggal setengah. Pak Bima kembali mengambil gelas tersebut dan meletakkannya di tempatnya semula.


" Sebenarnya apa yang Arga lakukan hingga pacarnya itu kabur ? "


" Entahlah... Arga nggak bercerita lebih banyak lagi. Seperti yang mama tau, dia cuma bilang hal yang sama, kalo dia punya kesalahan yang fatal pada gadis itu. "


" Sungguh hebat, seorang gadis panti asuhan bisa membuat cucu kesayanganku sampai bertekuk lutut kayak gitu. Aku jadi ingat masa muda mu dulu. "


Bu Eka menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan raut wajah yang sinis.


Pak Bima terdiam mendengar perkataan ibunya dan tak ingin melanjutkan percakapan lebih lama lagi, Pak Bima beranjak bangun dari kursi kerjanya.


" Aku capek, ma. Pingin istirahat lebih awal malam ini. Mama juga, silahkan... "


Kata Pak Bima dengan tenang dan sopan.


" Kamu ini... Apa masih nggak bisa ngelupain pacar pantimu itu ? Sampai hari ini masih aja menduda. "


" Please, ma... "


" Ya, ya, baiklah... Anak kalo sudah dewasa, orangtua sendiripun dilupakan. "


Kata Bu Eka sambil beranjak bangun dari sofa dan bersiap melangkah keluar dari ruang kerja sang anak.


" Yah, Oma... Arga mau bicara. "


Tiba-tiba Arga masuk ke ruang kerja Pak Bima dengan mimik wajah serius. Bu Eka yang sudah beberapa langkah hendak keluar, menghentikan langkahnya.


" Apa yang kamu mau bicarakan ? Jangan lagi bicara soal pacarmu yang... "


" Nggak. Arga mau kuliah lagi, ngelanjutin S3, sambil magang kerja di perusahaan ayah, boleh ? "


Jawaban Arga membuat Pak Bima dan Bu Eka saling melempar pandangan.


" Serius kamu ? "


Tanya Pak Bima menegaskan.


" Arga serius, yah. "


Sahut Arga dengan tatapan tajam ke arah ayahnya.


" Kapan kamu mau mulai ? "


" Tahun ini juga boleh, secepatnya. Tapi ada satu syarat yang Arga mau, Arga minta ditempatkan di luar Jakarta. Di cabang manapun, selain di Jakarta. "


Pak Bima dan Bu Eka mengernyitkan kening mendengar syarat yang diajukan Arga.


" Maksud kamu, kamu minta ditempatkan di cabang perusahaan yang di luar kota ? "


Bu Eka memperjelas maksud Arga.


" Iya, di Bandung, Semarang, Surabaya, atau dimana sajalah. Yang penting nggak di Jakarta. "


" Lalu kuliahmu ? Apa sanggup kamu mondar-mandir dua kota untuk kuliah dan bekerja ? "


Tanya Bu Eka, diikuti anggukan kepala Pak Bima.


" Arga mau kerja dan kuliah di kota yang sama. Sekarang ini, Arga butuh ganti suasana. "


Jawab Arga tegas.


" Ooohh... Oke, Oma paham maksudmu sekarang. Bima, rasanya itu bukan ide yang buruk. Arga bisa membuka lembaran baru di luar Jakarta. Siapa tau, ini bisa membantunya melupakan semua hal tentang gadis itu. "


Akhirnya Bu Ekapun menyetujui usul Arga.


Oma salah...

__ADS_1


Justru dengan aku ambil keputusan ini, aku bisa bebas nyariin Qirani tanpa pengawasan ketat dari ayah dan oma.


Kalo aku tetap tinggal disini, aku nggak akan bebas bergerak.


Akan banyak orang-orang ayah dan oma yang selalu mengawasi dan membatasi gerakan ku...


Batin Arga.


" Baiklah, ayah akan konfirmasi kan penugasan mu ke bagian personalia di kantor pusat. Ayah akan cari kota yang tepat buat kuliah dan juga tempat tinggalmu nanti nya. Untuk awalnya, kamu bisa jadi supervisor dulu. "


Kata Pak Bima yang juga menyetujui apa yang Arga inginkan.


" Apapun jabatan yang ayah berikan, nggak masalah buat Arga. "


" Baiklah... "


" Makasih, yah.... "


Dan Argapun langsung meninggalkan ruang kerja ayahnya dengan senyum yang mengembang.


Yesss !!!


Nggak sia-sia aku putar otak buat ngakalin ayah sama oma.


Kenapa nggak kepikiran dari kemarin-kemarin ya...


Bener kata bunda, aku harusnya jaga kondisi badanku, jadi akhirnya bisa bikin aku berpikir lebih baik daripada cuma menunggu dan menunggu.


Apapun kesalahanku pada Qirani, aku akan menebusnya sekalipun dengan nyawaku.


Semoga apa yang dikatakan Bunda benar, dimanapun Qirani berada, dia juga akan belajar hidup lebih baik lagi.


Aku nggak mau kehilangan dia selamanya.


Aku yakin, masih ada kesempatan buatku bertemu dia lagi, entah kapan...


Tapi aku merasa yakin, seratus persen yakin, dia masih hidup...


Sampai kapanpun, aku nggak akan pernah lepasin Qirani.


Dia segalanya bagiku, aku akan lakukan apapun demi dia...


Apapun alasannya menghilang, aku harus bisa menemukannya dan bertanya sendiri padanya soal ini.


Kalo emang dia sengaja menghilang, aku harus tau kenapa dia kayak gitu.


Tebakanku, Ayah pasti pilih Bandung, terdekat dari Jakarta, dan itu bikin aku lebih gampang atur waktu antara Jakarta-Bandung buat nyariin Qirani dibantu Doni dan Indra.


Sekarang... aku harus bisa membuat ayah dan oma percaya, aku belajar melupakan Qirani.


Dengan begitu, mereka akan lengah...


Batin Arga yang segera kembali masuk ke dalam kamarnya.


Melemparkan tubuhnya ke ranjang dan menatap langit-langit kamar yang dilukis dengan pemandangan langit yang cerah dengan semburat cahaya mentari di sudut langit-langit tersebut.


Qirani Asha...


Qirani Asha...


Qirani Asha...


Ucap Arga di dalam hati sembari mulai memejamkan kedua matanya.


DI LONDON, INGGRIS


PADA WAKTU YANG SAMA


Qirani tersentak bangun dari tidurnya. Keringat mengucur dari keningnya mengalir hingga ke lehernya, padahal AC kamarnya dalam keadaan menyala. Nafasnya terengah-engah, terdengar sangat lelah.


Siapa dia ?


Cowok itu...


Dia terus memanggilku, memanggil namaku yang lain... Qirani Asha.


Wajahnya samar-samar... nggak jelas.


Aku ngerasa dia sangat akrab denganku...


Apa aku mengenalnya ?


Tapi siapa dia ?


Wajahnya benar-benar nggak bisa kulihat dengan jelas...


Mungkinkah dia seseorang dari masa laluku ?

__ADS_1


Qirani menghapus keringatnya dengan lengan piyamanya. Kemudian ia beringsut duduk mendekati meja kecil disisi ranjangnya.


Dia mengambil handphonenya dan melihat ke jam dinding di kamarnya yang berada tepat di hadapannya.


Udah jam dua siang...


Rupanya aku ketiduran.


Padahal tadi cuma pingin baca majalah fashion sambil nunggu makan siang.


Apa mama dan kak Adit nggak bangunin aku ?


Batinnya sambil turun dari ranjang.


Dengan langkah gontai Qirani keluar kamar. Ia menuju ruang makan. Tampak kosong, tak ada Bu Citra dan Aditya. Lalu ia berjalan menuju taman belakang.


Benar saja, ia mendapati sang ibu yang sedang sibuk dengan laptop di meja taman, sembari sesekali melihat ke arah tumpukan buku-buku.


Qirani berjalan menghampiri ibunya dengan perlahan. Tiba tepat di belakang kursi roda sang ibu, Qirani memeluk bahu Bu Citra penuh kehangatan.


" Mama... "


" Kamu... Bikin kaget mama saja. "


Kata Bu Citra yang sempat terkejut dengan pelukan Qirani yang mendadak itu.


" Mama serius banget... "


Ujar Qirani sambil melihat ke arah laptop sang ibu.


" Mama sedang baca laporan mingguan yang dikirim dari cabang kita di Surabaya. Promosi disana berjalan bagus, semoga dalam satu bulan ke depan bisa menarik pengunjung sesuai target. "


" Oh ya... Heemm... Berarti karyawan mama benar-benar bagus dong kinerjanya. "


" Kamu tau, hampir semua karyawan mama itu anak panti asuhan. Mama memilih anak-anak yang pintar dalam nilai akademiknya, kemudian mama berikan beasiswa agar bisa kuliah di universitas yang berkualitas sesuai prestasi dan skill mereka , dan pada akhirnya... mereka mengabdi pada mama sampai hari ini. "


" Mamaku memang hebat... "


" Mama cuma pingin, semua orang bisa melihat bahwa penghuni panti asuhan itu juga bisa sukses, malah bisa lebih baik. Kita harus melihat dan menilai seseorang dari kemampuannya bukan dari hartanya. Orang kaya belum tentu rajin, itulah yang bisa membuat mereka jatuh miskin. Tapi orang yang rajin, bisa jadi kaya raya. "


" Betul juga ya, ma... "


" Sini, cium mama... "


Kata Bu Citra sambil menarik lengan putrinya.


Qiranipun melepaskan pelukannya dari bahu ibunya dan kini berada di hadapan ibunya. Dengan lembut, diciumnya kening Bu Citra selama sekian menit.


" Love you, mom... "


Ucap Qirani setengah berbisik setelah mencium sang ibu.


" Love you too... My angel... "


Sahut Bu Citra dengan senyum bahagia.


" Kak Adit mana ? "


Tanya Qirani sambil duduk di bangku taman, tepat di hadapan sang ibu.


" Setelah makan siang, bilang mau keluar. Bilangnya mau cari info soal universitas buat kamu kuliah dan beberapa les private yang kamu perlukan, kayak les bahasa Inggris dan beladiri. "


" Niat banget ya kakak... "


" Tapi dia benar, kamu emang harus lebih baik lagi sekarang. Ingat, kamu itu juga calon pemilik perusahaan mama. "


" Iya, ma... "


" Oh iya, kamu belum makan siang. Tadi Adit manggilin kamu buat makan siang, tapi kamu nggak keluar kamar. Pas dia liat ke dalam kamar, kakakmu bilang, kamu tidur pulas banget. Dia nggak tega mau bangunin. Jadi kami makan siang tanpa kamu. "


" Nggak papa ma... "


" Ya udah, sekarang, kamu makan dulu, ya. "


" Ntar aja... Divy mau disini dulu, nemenin mama. "


" Divya... "


Bu Citra menatap Qirani dengan tatapan merajuk.


" Baiklah... Divy makan sekarang... "


" Kamu harus sehat dan kuat, sayang... "


" Iya mama sayang... "


Dan Divya pun segera bangun dari duduknya, kemudian melangkah ke dalam rumah menuju ruang makan.

__ADS_1


__ADS_2