
Akhirnya....
Upacara kelulusan pun selesai.
Nggak nyangka, biar nggak terkenal dan punya banyak teman... aku sedih juga dengan acara perpisahan ini.
Dibully karena aku satu-satunya murid dengan status anak panti asuhan, kadang bikin aku sakit hati...
Tapi Alhamdulillah... aku bisa melaluinya dengan baik-baik saja.
Aku nggak ngecewain Bunda juga, lulus dengan nilai terbaik...
Larut dalam lamunannya, Qirani terus menatap selembar kertas di tangannya. Sedikit senyum tersungging di bibirnya. Merasa puas.
" Iya iya, nilai mu emang paling bagus, kamu terbaik. Tapi jangan dipelototin terus. Bisa kabur itu nilai, pada ngilang karena takut, hehehe.... "
Tiba-tiba Luna muncul dari arah samping, membuat Qirani sempat tersentak kaget.
" Ah, bikin kaget saja... "
" Say.... kamu bener-bener cantik alami ya... Tadi aku perhatiin, begitu kamu naik ke panggung, semua cowok-cowok langsung melongo ngeliat kamu, Qiran. Kamu harus percaya diri, jangan selalu minder cuma karena kamu anak panti asuhan. Aku yakin, semua anak panti asuhan di dunia ini, nggak ada yang mau menjadi anak panti asuhan. Iya kan ? "
Kata Luna sembari menggenggam jari jemari Qirani penuh kehangatan.
Qirani melempar senyumnya. Matanya berkaca-kaca. Ia balas menggenggam erat tangan Luna.
" Luna, aku nggak sekuat itu kayaknya. Aku .... "
" Ssstttt.... Udah ah, dari semua sifatmu, sifat ini nih yang aku nggak suka. Percaya diri sedikit aja, bisa lah... Pasti bisa ! "
" Hemm... Makasih ya, selalu jadi sahabat terbaikku. Selalu bantu aku, nggak peduli apapun yang terjadi. "
Ucap Qirani langsung memeluk Luna.
Keduanya saling berpelukan dengan bahagia. Luna menepuk pundak Qirani dengan lembut, membuat Qirani tak lagi bisa menahan airmatanya. Seketika pipinya mulai basah.
" Biarpun kita udah lulus, aku janji, aku akan tetap main ke tempatmu. Kita akan tetap jadi sahabat sampai kapan juga. Dan lagi, jangan lupa buat hubungi aku kalo butuh apa-apa.... "
Kata Luna yang mulai ikut bercucuran airmata.
" He-em... iya, makasih banyak ya .... Aku sayang kamu, Luna .... "
" Aku tau, aku juga sayang sama kamu, buat ku, kamu bukan cuma teman atau sahabat, tapi kamu itu udah jadi sodara ku... "
Sahut Luna di sela-sela sesenggukannya.
Setelah puas berpelukan dan sesenggukan bersama, keduanya saling melepaskan diri.
" Aduh, eyeliner ku luntur ya ? "
Kata Luna sambil mengedipkan matanya beberapa kali.
" Hihihi... sedikit, sini. "
Jawab Qirani dengan geli, melihat Luna yang merasa cemas.
Dengan tissue di tangannya, Qirani membersihkan area sekitar mata Luna. Tanpa disadari, keduanya tertawa kecil bersama, merasa lucu.
" Hei, kalian ini... Kalo yang nggak paham, melihat kalian begini, pasti yang lain akan berpikir, kalian berdua men-cu-ri-ga-kan.... Hiiyyy.... "
Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah kanan Qirani dan Luna.
Langsung saja keduanya menghentikan tawanya dan menoleh, melihat ke arah asal suara.
" Dih, si tukang gosip lewat. "
Komentar Luna dengan nyinyir, melihat siapa yang menegur barusan, Shelly, teman seangkatan mereka.
" Jangan-jangan bener ya gosip yang beredar, kalian ini.... "
Shelly sengaja menggantungkan kalimatnya dan kemudian mengerlingkan kedua matanya dengan genit, sengaja menggoda Qirani dan Luna.
" Isshhh... Shelly, aku bilangin ya, kalo kamu nggak jadi host gosip di stasiun tivi, itu berarti kamu sia-siain bakat terpendam kamu itu, hehehe.... "
" Luna, mau jadi apa aku, itu urusan aku, not your bussinnes !! "
" Yah, baru dikata gitu udah ngambek... Nggak seru, dodol ! "
" Cih .... Males aku sama kamu ! Ditambah lagi, temenan sama anak panti yang nggak jelas asal usulnya. Apa kamu yakin, Qirani itu orang baik-baik ? Bisa jadi dia itu anak penjahat yang dibuang ? Atau anak haram hasil selingkuhan ? Mmm, jangan-jangan anak hasil **** bebas ? Di... "
PPLLAAAKKK !!!!
" Aauuwww !!! Luna, kamu berani tampar aku, hah ?! "
Jerit Shelly sambil memegangi pipi kirinya yang tampak memerah.
" Kalo punya mulut, dijaga ya ! Sini, aku robek sekalian itu mulut kurang ajar !! "
Luna benar-benar emosi.
" Luna, Luna .... udah, nggak enak diliat sama temen-temen yang lain... Udah. "
Qirani segera menarik lengan Luna, mencegahnya karena ingin menyerang Shelly.
" Dasar gila ! Kamu pikir aku takut ?! "
Shelly menantang.
" Kamu !!! Sini !!! "
" Shelly... tolong, pergilah... kumohon ? "
Qirani masih terus memegangi Luna sambil memohon kepada Shelly.
__ADS_1
" Huh !! "
Dengan kesal Shelly pun berlalu meninggalkan Qirani dan Luna.
" Bener-bener bikin mood aku buruk aja itu orang ! "
Kata Luna setelah Qirani melepaskan lengannya.
" Udah deh... Malu ah, diliatin orang. Biarin aja dia ngomong apa, jangan dibuat emosi begitu. Aku nggak peduli koq. Jadi aku mohon sama kamu, kamu juga harus belajar kontrol emosi ya. "
" Kamu itu, sekali-kali lawan orang kayak Shelly gitu. Biar nggak terus-terusan usil ke kamu. Jangan lemah apa jadi manusia ! "
" Iya, iya, aku akan berusaha.... Calon Guru nggak boleh marah-marah, ntar murid-murid mu kabur ketakutan lho.... "
" Justru jadi guru harus galak, biar murid nya pada takut. "
" Mana ada begitu... Buktinya, Bu Farida kan guru killer, kamu kenyang disemprot, dihukum, tetep aja kamu nggak ada takut-takutnya tuh... "
" Aihhh, Qirani sayang.... itu lain cerita, hehehe.... "
" Kalah deh debat sama kamu. "
" Lho kan kamu tau, lomba debat di sekolah ini, siapa yang dikirim ? Dan siapa yang selalu menang ? Aku ini nggak ada tandingannya ! Biar jelek-jelek begini, aku bisa mengharumkan nama sekolah daripada si tukang gosip yang baru lewat itu, huh ! "
Kata Luna penuh dengan emosi.
" Iya, percaya koq.... Yuk ah, pulang. Kayaknya udah banyak yang pada pulang lho... "
Ajak Qirani sambil merangkul Luna dan berjalan keluar dari aula, dimana acara kelulusan dirayakan.
" Bunda mu benar-benar nggak hadir ya ? "
Tanya Luna sambil mengikuti jejak langkah Qirani.
" Hari ini Bunda banyak kesibukan, perpisahan SMP nya Lina, lalu ke sekolah Luki juga. Aku yang paling gede, jadi aku harus ngalah kan sama yang lain ... Hari ini ada kamu dan mami mu, aku udah sangat hepi koq. "
" Iya juga sih... "
" Oh iya, mami mu mana ? "
" Udah pulang duluan... Dia ada pesenan kue buat ntar malam, jadi harus buru-buru pulang. Takut nggak keburu ntar. "
" Jadi malam ini, boleh lah ada beberapa potong kue sampai ke tempatku ? "
" Ah bisa aja, tapi pasti ada. Mami ku kan paling sayang kamu daripada aku.... Iisshhh, aku suka bingung, aku ini anak kandung apa anak adopsi ya... "
" Hahaha.... Mami mu yang terbaik deh ! "
" Iya iya... Tapi, kamu nggak pingin cari tau lagi soal orangtua kandungmu ? "
Tanya Luna, dengan mimik serius.
Tawa Qirani langsung terhenti mendengar pertanyaan yang dilontarkan Luna kepadanya. Rangkulannya di bahu Luna pun terlepas begitu saja. Luna menatap wajah sang sahabat. Terlihat jelas, ada semburat kesedihan di wajah cantik Qirani.
Kata Luna penuh dengan penyesalan melihat respon dari Qirani.
" Nggak papa... Aahh, soal ini juga aku nggak tau harus gimana. Aku pingin banget tau soal orangtua kandungku, aku pernah ngobrol juga soal ini sama Bunda. Cuma... lalu apa yang nanti terjadi setelah aku ketemu orangtua kandungku kalo emang masih hidup ? Apa mereka mau ketemu dan menerima aku ? Bisa jadi mereka sudah bahagia dengan keluarga baru. Aku ? akhirnya cuma jadi pengganggu. Aku ... "
" Qirani, kalopun mereka masih hidup dan nggak mau menerimamu, paling nggak kamu puas bisa mengetahui siapa orangtua kandungmu. Kamu udah lulus SMU ini, tanpa orangtua juga kamu bisa menghidupi dirimu sendiri, udah bisa cari kerja... "
" Heemmm.... iya sih. Apa yang kamu bilang bener juga. Paling nggak aku tau, kayak apa sih orangtua kandungku. Masalahnya, Lun... petunjuk yang aku punya cuma sebuah alamat dan pakaian bayi yang aku pakai waktu itu. Alamat nya kan ada di Surabaya, aku nggak ada uang buat kesana. "
" Kita udah lulus sekolah, kita bisa ke Surabaya, Ran. Aku bisa minta uang mami ku. Kita cari sama-sama orangtuamu. "
" Tapi nggak mungkin uang sedikit, Lun. Kita harus punya tempat buat nginep ya selama mencari. Terus makan nya gimana ? Nggak mungkin juga sehari dua hari langsung ketemu. Apalagi kita nggak tau Surabaya. Pasti butuh waktu buat muter-muternya.... "
" Iya juga sih... Mmm, aku punya ide bagus ! "
" Apa ? "
" Gimana kalo kita cari kerja aja disana ? Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Kita kerja, bisa buat makan dan kost. Libur kerja, kita manfaatin buat cari alamat itu. Hem, bagus nggak ide ku ? "
Qirani merenung, memikirkan ucapan Luna.
" Ini pas buat kita, Ran... "
" Lun, Surabaya itu kota besar lho. Kamu yakin kamu mau bantu aku nemuin orangtuaku ? Lalu Kak Dika mu ? Mami Papi mu ? Setujukah ? "
Kali ini Luna yang merenung mendengar ucapan Qirani.
" Ah, itu urusanku. Aku akan kasih penjelasan kepada mereka. Aku yakin, mereka pasti setuju. Mami ku kan sayang banget sama kamu, beliau nggak akan nggak setuju aku bantu kamu. Kak Dika, biar aja kalo dia mau ikut, malah lebih bagus lagi. "
" Pacarmu itu kan anak kuliah. Mana bisa main ikut gitu aja... "
" Mmm, soal Kak Dika, aku jamin dia akan setuju. "
" Udah lah, aku nggak mau ngerepotin kamu dan keluargamu lebih banyak lagi. Nggak enak sama Kak Dika juga. Kalian baru pacaran dua bulan, masa iya mau main pergi jauh gitu sih. "
" Terus apa rencana mu ? "
" Aku belum tau... Saat ini sih, pingin pulang meluk Bunda dan tidur siang. Kaki ku sakit banget karea pake hak tinggi punya mu ini. Belum baju kebaya nya, bikin jalan nggak bisa cepet. "
" Hehehe.... Iya ya, ayo aku antar kamu pulang. Kita naik taksi. "
" Wah boleh tuh... "
Dan keduanya pun menghentikan obrolannya, menggantinya dengan bersenandung bersama, kemudian terus melangkah berdampingan berjalan menuju gerbang keluar sekolah.
" Ada apaan ya di depan ? Koq rame gitu... "
Tanya Qirani melihat kerumunan di luar gerbang sekolah.
" Ayo kita ke depan lagi... Penasaran ih ! "
__ADS_1
Sahut Luna sambil menarik lengan Qirani.
" Pelan-pelan, aku takut keseleo... "
Ujar Qirani yang mengekor di belakang Luna.
" Ran, Qirani... Liat deh, mobilnya. "
Luna langsung menunjuk ke depan dimana sebuah mobil terparkir tepat di sisi jalan raya.
" Mobil Kak Arga... "
Ucap Qirani begitu melihat apa yang ditunjukkan Luna.
" Kak Arga ? Cowokmu yang galak itu ? "
" He eh... Tapi mana orangnya ya ? "
Sahut Qirani setengah bergumam sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar di antara kerumunan teman-teman sekolahnya.
Tak lama kemudian, mata Qirani menemukan sosok pemuda tinggi yang sedang bersandar di tembok sekolahnya. Dimana pemuda tersebut sedang asyik bercanda dengan beberapa teman sekolah Qirani, terutama yang perempuan.
Kak Indra ?
Ngapain dia pake mobil Kak Arga dan nongkrong disini, godain temen sekolahku ?
Ah masa bodoh lah !
Bukan urusanku...
Batin Qirani agak bingung dan juga penasaran.
" Kenal nggak ? "
Tanya Luna.
" Kenal, tapi nggak tau kenapa dia disini. Yuk ah pulang... Eeh, taksi, Lun... Taksi ! "
Kata Qirani yang kemudian langsung berteriak begitu melihat sebuah taksi melintas.
" Taksi ! Taksi ! "
Sambung Luna yang ikut berteriak memanggil taksi tersebut.
Dan taksipun berhenti. Qirani dan Luna segera bergegas meninggalkan kerumunan menuju dimana taksi tersebut berhenti.
Luna langsung membuka pintu dan segera masuk ke dalam taksi terlebih dahulu. Qirani pun mengikutinya.
" Hei, hei ! Ntar dulu ! "
Tiba-tiba pintu taksi yang hampir ditutup oleh Qirani, tertahan karena seseorang.
" Qirani ? Qirani kan ? "
Tanya seseorang tersebut yang tak lain ternyata Indra.
" Kak Indra ngapain ? Mau ikut naik taksi juga ? "
Sahut Qirani balik bertanya.
" Aduh, kamu ini. Aku nungguin kamu di luar sekolah udah ada sejam, kamu malah main naik taksi aja ! "
Kata Indra tampak kesal.
" Lho, kan aku nggak tau kalo kakak mau nungguin aku. Nggak ada yang bilang juga... "
" Ini dadakan... Ayo, keluar ikut aku. "
" Aku mau pulang... "
" Iya, ntar diantar pulang. Sebentar aja. "
Kata Indra yang masih terus memegangi pintu mobil agar tetap terbuka.
Qirani melihat ke arah Luna. Luna membalas tatapan Qirani dengan penuh tanda tanya.
" Apa ? Kamu mau ikut ? Kamu yakin ? "
Tanya Luna.
" Tolonglah .... Kamu tau Arga, gadis cantik. Dia nggak bisa dengar penolakan. Dan janganlah bikin aku serba salah. Arga cuma mau kasih surprise aja koq. "
Indra yang menjawab, karena meliha Qirani yang kebingungan.
" Aku janji, ntar kamu pulang dengan selamat, hehehe... "
" Ya udah, sana. Minta pulang sore aja ya. Abis isya' aku ke tempatmu, nganterin kue. "
" Iya, makasih Lun.... "
Dan kemudian Qirani pun turun dari taksi tersebut.
" Yuk... "
Ajak Indra yang kemudian diikuti Qirani berjalan menuju mobil yang diketahui milik Arga.
Surprise ?
Mau kasih surprise apa ?
Apa tentang kelulusanku ?
Dan kenapa Kak Indra yang jemput ?
__ADS_1