
Qirani menggelengkan kepala melihat Aditya yang sedang tidur tergeletak di permadani. Tampak benar-benar nyenyak dan mendengkur cukup keras. Televisi menyala, tapi penontonnya tertidur sangat pulas.
" Kakak... Kakak... "
Gumam Qirani sembari menyalakan lampu tengah dan dapur.
Dengan langkah yang tak ingin menimbulkan suara, Qirani melangkah masuk ke kamarnya. Melemparkan tubuhnya ke tempat tidur dan merentangkan kedua tangannya ke samping.
Hari ini lumayan seru juga...
Arga benar-benar tau cara menyenangkan anak-anak di panti asuhan tadi.
Memesan begitu banyak makanan, mainan untuk mereka.
Beberapa kali, Lina dan Luki mencuri-curi kesempatan buat ngobrol denganku, biar Arga nggak curiga...
Benar-benar seneng banget rasanya hari ini...
Biarpun harus sedikit berakting, tapi semuanya berjalan lancar dan menyenangkan.
" Div... Divya... "
Suara Aditya dari arah luar kamar memanggil nya.
Qirani segera bangun dari rebahannya dan berjalan menuju pintu. Aditya sudah berdiri di depan kamarnya saat ia membuka pintu.
" Ah benar, kamu sudah pulang. Tau-tau aku bangun, lampu sudah nyala... "
Kata Aditya sembari berjalan ke arah dapur.
" Kakak tidur udah kayak apa aja, ngorok gitu. "
Sahut Qirani yang mengikuti langkah kaki sang kakak ke dapur.
" Gimana acara mu ? Nggak ada masalah kan ? "
" Nggak ada, aman. Pasti kakak ya yang kasih tau Bunda... "
" Tentu saja, siapa lagi yang kamu harapkan ? "
Jawab Aditya dengan sombong.
Qirani memeluk pinggang kakaknya dari belakang. Aditya berhenti melangkah.
" Makasih ya kak.... Aku udah takut banget kalo masuk ke rumah Bunda, dan semua yang mengenali ku disana menyambutku sebagai Qirani. "
" Aku tau itu. Makanya begitu kamu keluar pintu apartemen, aku langsung batalin pengiriman kue dan kado ulangtahun darimu buat Bunda, ku ganti besok pagi. Langsung aku telpon Bunda juga, aku bilang, Arga mengajakmu kesana, jadi aku minta Bunda kerjasama berakting juga. "
Qirani melepaskan pelukannya dan langsung berdiri di depan Aditya.
" Kakak terbaik ! "
Katanya sambil mengacungkan dua jempolnya ke hadapan sang kakak.
Aditya mengusap sayang ke kepala Qirani sembari tersenyum bangga.
" Sekarang, bikinin aku kopi. Seharian ini aku nggak minum kopi bikinan mu, rasanya nggak komplit. "
" Okey ! Siap laksanakan, bos ! "
Sahut Qirani sambil memberi hormat.
Tanpa bicara lagi, Qirani langsung membuka kitchen set bagian atas. Mencari kopi dan gula di sana. Dengan cekatan ia merebus air panas di poci kecil, menyiapkan cangkir, dan mengisinya dengan gula dan kopi sesuai takaran untuk sang kakak.
" Kamu suka ya ke sana ? "
Tanya Aditya mengamati tingkah Qirani yang sedang bersenandung kecil.
" Apa sejelas itu ya ? "
Qirani malah balik bertanya.
" Kamu itu nggak pernah bisa berbohong padaku, sayang. Di mataku, kamu sedih senang, sangat jelas terlihat. "
Sahut Aditya sembari mencolek hidung Qirani dan meninggalkan warna kemerahan di ujung hidung adiknya yang kecil itu.
" Sakit ih.... "
Keluh Qirani sembari mengusap ujung hidungnya beberapa kali.
" Apa lagi rencana mu ? Masih pingin bikin Arga jadi orang bodoh ? Mencoba mengembalikan ingatan seseorang yang sudah sembuh dari hilang ingatannya ?... "
__ADS_1
Tanya Aditya merasa lucu saat menatap Qirani dan duduk di salah satu kursi meja makan, yang berseberangan dengan kitchen set dimana Qirani berdiri.
" Di... "
Baru saja Qirani membuka mulut untuk menjawab kakaknya, suara poci berdenging keras tanda air sudah mendidih.
Segera Qirani mematikan kompornya dan perlahan menuangkan isi dalam teko ke cangkir yang telah disiapkan Qirani sebelumnya. Begitu air panas tercampur dengan kopi dan gula di cangkir, aroma kopi yang khas dan tajam memenuhi ruangan, menggelitik Indra penciuman Aditya.
" Heemmm.... wanginyaaaaaa..... "
Puji Aditya sembari memejamkan mata dan menghirup aroma kopi dengan nikmatnya.
" Ini, kakakku sayang.... "
Kata Qirani, lalu menyodorkan secangkir kopi yang sudah selesai diseduhnya ke arah Aditya.
Qirani sendiri ikut duduk di salah satu bangku terdekat dengan Aditya. Ditatapnya sang kakak yang masih saja menghirup aroma kopi sambil tersenyum.
Aku sangat bersyukur...
Bertemu dan memiliki kakak kayak kamu.
Sangat sayang dan perhatian padaku, padahal nggak sedarah...
" Apa aku sangat mempesona, sampai kamu ngiler ngeliatin aku ? "
Tanya Aditya yang begitu membuka mata mendapati adiknya sedang menatapnya.
" Kakak termasuk cowok ganteng. Kenapa nggak laku-laku ya ? "
Qirani balik bertanya.
" Sialan... Aku bukannya nggak laku-laku. Tapi aku cuma mau dapetin cewek yang selevel denganku. "
" Oh ya ? Level berapakah ? "
" Kalo 10 itu level tertinggi dan sempurna, aku cukup level 9,9 saja.... "
" Dih, sombongnya ! Jangan terlalu pemilih, nanti keburu tua, jadi perjaka gapuk ! "
" Mana ada kakakmu ini jadi perjaka gapuk, liat aja nanti... "
" Kalo aku perhatiin, Intan menyukaimu, kak. Kenapa nggak coba jalan sama dia ? Dia cukup baik dan mandiri. "
" Iya, kan ada dua cewek tuh setiap kit kumpul bareng Arga dan teman-temannya. Yang satu rambutnya sebahu dan berwarna ungu, yang satu lagi rambutnya pendek seleher dengan warna coklat diombre pirang. Nah, Intan yang rambut pendek seleher. "
Qirani menjelaskan.
Aditya menyeruput kopinya sembari memikirkan apa yang dikatakan Qirani.
" Aku tau, tujuan kita belum tercapai. Tapi pikirkan juga masa depanmu, kak. Kalo ada waktu, ajak Intan jalan. Siapa tau kalian cocok. Sambil melaksanakan rencana kita, tapi juga mencari pengantin buatmu. Setelah semuanya selesai, kamu bisa menikah. "
" Kalo aku menikah, siapa yang akan jaga kamu dan mama ? "
" Kakak... Kamu ini kan cuma menikah, bukannya pergi jauh ke Antartika. "
" Seorang istri itu memegang kendali atas suaminya. Bahkan anaknya pun kalah. "
Ucapan Aditya tampak terdengar menyedihkan. Dan begitu selesai bicara, Aditya terlihat melamun.
Ayah selalu menomorsatukan istrinya yang baru setelah Ibu meninggal.
Perhatian buatku sedikit saja nggak pernah ada.
Selalu perempuan pelakor itu yang ayah sayangi.
Bahkan ayah menurutinya saat pelakor itu meminta ayah membuangku di panti asuhan, cuma gara-gara pelakor itu sudah hamil muda.
Dia nggak mau harta ayah terbagi buatku juga, jadi dia mempengaruhi ayah.
Kalo bukan karena mama, mungkin aku nggak akan pernah keluar dari panti asuhan busuk itu !!!
Batin Aditya dengan rasa sakit hati yang dalam, apalagi saat ia tiba-tiba teringat apa yang dilakukan seorang karyawan di panti asuhan tempatnya dulu tinggal.
Aku yang lemah, aku yang masih kecil...
Orang itu melakukan pelecehan seksual padaku beberapa kali !
Dasar pedofil gila !
Lihat aja, begitu aku menemukannya, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri !
__ADS_1
Aku akan cabik-cabik isi perutnya, aku akan berikan sebagai makanan anjing !!!
Aku benar-benar bakal bunuh itu orang !!!
Ayah dan orang itu !!!
Qirani merasa raut wajah Aditya tampak menyeramkan. Ada kemarahan yang sangat besar di wajah kakaknya. Matanya tampak tajam menusuk dan berapi-api. Untuk pertama kalinya, Qirani merasa ketakutan melihat sang kakak.
" Kak... "
Tegur Qirani sembari menyentuh perlahan punggung tangan kakaknya yang sedang mengepal kuat.
Aditya masih tak bergeming. Raut wajahnya masih tampak menakutkan. Dengan kedua tangannya, Qirani menggenggam tangan Aditya yang mengepal tadi.
Apa yang terjadi ?
Ada apa, kenapa kakak jadi begini menakutkan ?
Apa yang membuatnya marah ?
Apa pernikahan itu sangat buruk baginya ?
" Kakak... Kak Adit... Kak Adit... "
Panggil Qirani sembari terus menggenggam tangan Aditya.
" Ah... "
Ucap Aditya lirih saat lamunannya telah buyar.
Aditya menatap Qirani dengan bingung, melihat adiknya melihatnya dengan penuh ketakutan yang sangat jelas di wajah cantiknya.
" Kamu kenapa ? "
Tanya Aditya penasaran.
" Kakak bikin aku takut tadi... "
Sahut Qirani sembari melepaskan genggamannya.
Apa aku tadi kebawa emosi ya ?
Divya melihatku setakut itu...
Batin Aditya.
" Aku janji, aku nggak akan bahas soal pernikahan lagi. Terserah kakak aja, mau menikah apa nggak... "
Kata Qirani.
" Divya... kamu nggak salah koq, pernikahan juga bukan hal yang buruk. Tadi aku cuma teringat sesuatu yang menyakitkan saja. Tapi nggak ada hubungannya denganmu... "
" Bener ? "
" Iya, bener. Kamu ini kan adik tersayang ku. Mana bisa bikin aku sakit hati... "
" Kalo aku sampai bikin kakak sakit hati, aku rela menggangtinya dengan hidupku. "
" Aku bukan kakak yang jahat, mana bisa aku ambil hidupmu ? Biarpun kamu bikin sakit hati, kamu tetap adik tersayang ku... "
" Kakak... "
" Sudah ah ! Sana mandi ! Bau tubuhmu ada bau tubuh Arga, kalian ngapain aja ? "
" Kakak... Mana ada begitu ? Aku kan jaga jarak terus dari Arga ! "
Jawab Qirani kesal dan wajahnya memerah.
" Eitts... Wajahmu merah tuh, apa kalian nggak melakukan sesuatu yang mmmm, intim ? "
Aditya meledek.
" Kakak !! Nggak ada kayak gitu ! "
" Liat itu, makin merah aja itu wajah cantik adikku, apa adikku berpikir tentang sesuatu bareng Arga ? "
" Kakak !!!! "
Dan Qirani langsung bangun dari duduknya, menghampiri Aditya, mencubitnya terus menerus.
Aditya mengaduh kesakitan setiap Qirani mencubitnya, tapi mulutnya tak berhenti meledek sang adik.
__ADS_1
Dan ruangan itupun penuh dengan tawa, suara mengaduh dan ocehan Qirani yang kesal karena kelakuan sang kakak.