Mengejarmu

Mengejarmu
BAB 23


__ADS_3

Lantai dua...


Ini rame banget....


Lampu nya nggak semua terang, tapi ada lampu warna-warni di langit-langit ruangan.


Kafe apa Diskotik ?


Tapi di dalam hotel....


Hotel nya bagus, hotel kelas atas kali ya ..


Atau ini yang disebut hotel bintang limakah ?


Surprise apa yang mau diberikan ke aku ?


Aku deg-degan... apa karena surprise nya atau karena masuk ke hotelnya ?


Kenapa harus disini ?


Ke...


" Tenang... Ini hotel milik keluarga Arga. Keluarganya pengusaha sukses di bidang property dan perhotelan. Dia itu calon insinyur lho, kalo lulus skripsinya, hehehe.... "


Seperti paham apa yang dipikirkan Qirani, Indra pun memberikan penjelasan.


" Oh... "


Gumam Qirani yang mulai merasa tenang.


" Nah, sekarang kamu udah bisa lepasin tanganku ? Aku takut, Arga marah ngeliat kamu sedeket ini denganku. "


Kata Indra sambil melirik ke arah Qirani yang begitu erat memeluk lengannya.


" Ah, maaf... Aku nggak sengaja, maaf, Kak... "


Kata Qirani tersipu malu dan langsung melepaskan tangan Indra, kemudian berdiri menjaga jarak.


" Tuh, udah ditunggu di meja paling ujung. Yuk... "


Ajak Indra sembari tersenyum geli melihat kepolosan gadis di sebelahnya.


Indra menunjukkan tempat dimana Arga dan yang lainnya sedang berkumpul. Qirani berjalan mengikutinya dengan agak jengah, karena melihat beberapa orang yang tampak sangat intim di beberapa meja yang mereka lewati.


" Nih, pengantinmu... "


Kata Indra begitu sampai di hadapan Arga, di satu meja dengan sofa setengah melingkar, tepat di sudut kafe.


Arga, Doni, Intan, dan Elisa yang sedang mengobrol dengan santai langsung menoleh ke arah Indra. Kemudian serempak melihat ke arah Qirani yang berdiri di sisi Indra.


Tatapan Intan tampak biasa saja melihat Qirani yang mengenakan setelan kebaya dengan rambut yang ditata setengah disanggul kecil nan modis dan setengahnya tergerai jatuh.


Berbeda dengan Elisa, yang menatap Qirani dengan sunggingan senyum sinisnya. Raut wajah tak sukanya tampak terlihat jelas dan tegas.


Tapi Arga dan Doni melongo melihat Qirani. Bagi keduanya, Qirani bak seorang putri cantik yang baru turun dari khayangan. Make-up natural Qirani membuat mata mereka tampak segar.


Dalam balutan kebaya dengan gaya masa kini, membuat Qirani saat ini terlihat berbeda jauh dari Qirani yang biasa mereka lihat sebelumnya. Qirani terlihat sangat cantik dan manis.


" Hei ! Awas tuh ada yang netes deh ilernya... "


Sindir Elisa dengan ketusnya, membuat Arga dan Doni tersadar.


Intan dan Indra langsung tertawa kecil melihat Arga dan Doni yang sempat tersentak kaget.


" Sini ! "


Kata Arga yang langsung mendorong Doni untuk pindah tempat, menginginkan Qirani duduk di sebelahnya.


" Dih, aku langsung diusir begitu aja... "


Keluh Doni dengan kesal dan kemudian pindah tempat duduk di sebelah Intan.


Dengan malu-malu, Qirani pun menurut. Duduk di sebelah sisi kanan Arga. Sedangkan Indra memilih duduk di sebelah Doni.


Seperti tahu apa yang diinginkan Arga, yang lain tanpa menunggu lama kembali mengobrol dengan seru. Elisa yang duduk di sebelah sisi kiri Arga, sesekali melirik Arga dan Qirani.


Arga yang masih terus menatap Qirani dengan tatapan takjub, benar-benar tampak terpesona. Itu membuat Qirani semakin canggung, karena keduanya hanya saling diam tanpa bicara.


" Kak .... "


Akhirnya Qirani lah yang membuka suara terlebih dahulu.


" Ah .... Aku lupa. Sebentar... "


Tersadar, Arga tersenyum kecil dan segera merogoh kantong Cardigan berwarna coklat yang ada dipangkuannya.


Sebuah kotak kayu dengan ukiran yang cantik berukuran 5x15 cm disodorkan nya kepada Qirani. Qirani menerimanya dengan penasaran.

__ADS_1


" Ini hadiah buat kelulusan mu... Bukalah. "


Kata Arga.


Qirani yang memang ingin tahu apa isi kotak tersebut, membukanya dengan perlahan. Tampak sebuah kalung putih dengan model biji lada dan liontin bulat bertahta kan berlian begitu bersinar di mata Qirani.


" Cantiknya... "


Ucap Qirani yang terpana melihatnya.


" Kamu lebih cantik... "


Sambung Arga yang terlihat senang melihat ekspresi wajah Qirani.


" Ini buat aku, Kak ? "


Tanya Qirani, yang mengalihkan pandangannya dari kalung tersebut ke arah Arga.


" Ya, surprise dan juga permintaan maaf ku karena masalah yang lalu. Aku janji, aku nggak akan anggap kamu sebagai Adhisty lagi. Kamu ya kamu, Adhisty udah meninggal. Kamu mau kan kasih aku kesempatan sekali lagi ? "


Kata Arga dengan tatapan penuh harap.


" Tapi aku... "


" Kalo kamu nggak suka sama aku, kamu harus belajar dari sekarang buat suka sama aku. Aku juga kan belajar buat terima kamu sebagai Qirani bukan Adhisty. "


Potong Arga cepat sambil menggenggam tangan Qirani yang sedang memegang kotak tempat kalung.


Lah koq maksa gitu ?


Kenapa kata-kata dia malah kayak bikin aku yang salah ya ?


Kalo emang mau mulai awal lagi, masa ngomongnya kayak gitu...


Lagi juga, aku emang bukan Adhisty dan nggak pernah jadi Adhisty.


Dia yang sebelumnya menganggap ku sebagai Adhisty.


Dasar si arogan !


" Koq bengong ? Ga suka ? Ga mau mulai awal lagi sama aku ? Mau bilang nggak ??? "


Huh... ada ya orang kayak gini...


Apesnya lagi, aku kenal lagi !


Batin Qirani sembari menghela nafas.


Sahut Qirani dengan cepat, berharap Arga tidak marah.


" Sini, aku pakein.... "


Belum sempat Qirani menjawab, Arga sudah mengambil kotak kayu tersebut dari tangan Qirani.


Mau tak mau, Qirani pun mengubah posisi duduknya membelakangi Arga. Dengan hati-hati, Arga memakaikan kalung itu ke leher jenjang Qirani.


Kalung yang cantik...


Aku menyukainya.


Pasti harganya mahal, kilaunya bagus banget.


Emas putih... lambang cinta abadi katanya.


Apa kalung ini bener-bener mengikatku dengannya ?


Rencana ku menjauh darinya... kayaknya kacau kalo kayak gini.


" Selesai... "


Kata Arga yang kemudian langsung memeluk Qirani, sebelum Qirani memutar tubuhnya kembali.


Mendapatkan pelukan yang tiba-tiba dari belakang, membuat wajah Qirani merona merah dan terasa panas.


" Aku suka sama kamu, terlepas kesalahan ku yang kemarin, aku benar-benar suka kamu. Hari ini, kita mulai dari awal ya. Kasih tau aku kalo aku nggak baik sama kamu, aku akan perbaiki semuanya dari sekarang. Kamu mau kan ? "


Kata Arga setengah berbisik di telinga Qirani.


Bukan hanya pipinya yang terasa panas, kali ini telinganya pun ikut terasa panas mendadak. Qirani melirik ke arah sekitarnya. Teman-teman Arga yang lain seolah-olah punya dunia sendiri. Seperti tak melihat apa yang dilakukan Arga, padahal mereka kan satu meja.


Sengaja pura-pura nggak liat ya ?


Pasti mereka kerjasama, masa nggak ada yang komentar sama sekali sih....


Ini kan jelas banget keliatan.


Batin Qirani curiga.

__ADS_1


" Kamu nggak dengar apa yang barusan aku omongin ? Koq diam aja... "


Teguran setengah berbisik dari Arga membuat Qirani kembali tersadar Arga sedang menunggu jawaban.


" Aku malu, Kak... Bisa lepasin dulu nggak ? "


Sedekat ini, jantungku hampir mau meledak gara-gara berdetak semakin kencang dan kacau...


Qirani semakin merasa gerah.


Mendengar permintaan Qirani, Arga melepaskan pelukannya. Dan Qirani memutar tubuhnya. Arga melihat kalung yang kini menjuntai di leher Qirani.


" Cocok ya... pilihanku nggak salah. "


Puji Arga sambil memperhatikan leher jenjang Qirani.


" Ehem ! Ehem ! "


Doni sengaja berdehem dengan kencang, mencoba mendapatkan perhatian dua sejoli yang masih saling memandang.


" Apa ? "


Tanya Arga tanpa mengalihkan tatapannya dari Qirani.


" Udah lah, jangan dipelototin terus. Cewek mu nggak akan kemana-mana ini. Ayo, cheers dulu lah... "


Kata Doni sembari menyodorkan segelas minuman ke hadapan Arga.


" Okey... Nih, kamu ini aja ! "


Sahut Arga, dan kini mengambil sebotol minuman jus buah yang sudah disiapkan untuk Qirani sebelumnya di tengah meja.


Dan dengan penuh perhatian, sebelum Qirani menerimanya, Arga membuka terlebih dahulu tutup botol minuman tersebut.


" Makasih, Kak. "


Ucap Qirani.


Kemudian, seperti dikomando, serentak berdiri bersamaan dan mengangkat gelas minuman yang ada di hadapan masing-masing.


" Lulus skripsi, jadi orang kebanggaan keluarga. "


Indra memulai dahulu mengucapkan harapannya.


" Jadi dokter, terus semangat buat ambil program spesialis bedah. "


Doni menyambung kemudian.


" Meneruskan perusahaan, menikah, dan punya anak banyak, secara aku kan anak tunggal, hehehe... "


Lanjut Intan dengan penuh harap.


" Harus dapetin apa yang aku mau apapun yang terjadi. "


Kata Elisa dengan tegas.


" Meneruskan perusahaan keluarga, menikahi Qirani Asha. "


Dengan senyum kecil di sudut bibirnya, Arga penuh keyakinan melirik ke arah Qirani.


" Aku.... "


" Menikah dengan Arga Mahardhika, punya anak banyak, jadi istri yang baik. "


Belum selesai Qirani bicara, Arga sudah memotongnya.


Semua melihat ke arah Arga dengan pandangan yang aneh. Termasuk Qirani. Arga membalas tatapan yang lainnya dengan senyum yang mengembang.


" Dasar bucin ! "


Komentar Intan dengan tertawa geli.


" Beneran mau menang sendiri. "


Sambung Indra merasa lucu.


" Ya biarin, dia aja nggak protes koq ! Kenapa kalian protes ? "


Sahut Arga tak mau kalah.


Padahal aku pingin bilang...


Aku pingin ketemu orangtua kandungku.


Batin Qirani sembari melihat ke arah Arga.


" Ya udah deh.... CHEERS !!! "

__ADS_1


" CHEERS !!! "


Dan semua kompak bersuara dengan lantang.


__ADS_2