
Dimana kamu, Qirani ?
Kenapa nggak ada kabar apa-apa...
Padahal aku udah pasang berita di koran, laporan ke pihak berwajib.
Kayak debu gitu aja, menghilang tanpa diketahui siapapun...
Jangan bikin aku tersiksa lebih lama lagi, kumohon....
Kembalilah sekarang.
Siapapun, tolong aku !
Arga terus mencoba memikirkan sesuatu. Membekap wajahnya dengan kedua tangannya. Menghela nafas panjang. Terus berpikir. Mencari cara lain demi menemukan Qirani.
Tiba-tiba Indra yang baru saja datang, menggelengkan kepalanya. Melihat sang sahabat tenggelam dalam lamunan ditemani beberapa botol minuman di atas meja. Iapun menepuk punggung Arga
" Aku tau, kamu tersiksa karena kehilangan. Tapi dengarkan aku, kamu butuh makan, bro. Minuman ini cuma bikin otakmu kacau. Nggak akan bisa selesaikan masalahmu. "
Indra menasehatinya dengan nada suara yang santai.
Kemudian duduk di sebelah Arga. Meraup keripik kentang di atas meja, dan mulai mengunyahnya satu persatu.
" Kalo saja aku nggak ngelakuin itu... "
" Hei, sudahlah... Itu udah terjadi, nggak bisa juga memutar waktu kan ? Ayahmu bilang, kamu nggak pernah makan dengan benar. Kalo kayak gini terus, yang ada bukannya bisa nemuin Qirani, tapi kamu bakal dirawat karena kelaparan... "
Kata Indra dengan bijaksana.
" Gimana soal Intan ? Apa ada info terbaru soal obat itu ? "
Tanya Arga mengalihkan pembicaraan.
" Dari cerita Intan sih, kayaknya bukan dia deh yang kasih obat ke kamu. Intan sudah menyerah, bro. Dia memilih mundur daripada harus berebut cinta sama Qirani. Dia bilang, dia nggak pernah dapetin cintamu, jadi ngapain menipu diri sendiri. "
Jawab Indra menjelaskan.
Mendengar penjelasan Indra, Arga merenung.
Ya, Intan emang udah nggak seagresif sebelumnya.
Bisa jadi, dia akhirnya sadar, aku cuma anggap dia sahabat.
Lalu siapa yang seusil itu punya niat nggak bener padaku ?
Siapa yang berharap tidur denganku ?
Elisa kah ?
Tapi dia nggak kayak cewek-cewek yang mengejarku.
Dia bersikap wajar dan nggak keliatan tertarik padaku.
Apalagi aku dan dia juga nggak begitu akrab.
Sebatas teman kuliah dan teman nongkrong...
" Ga, ada sesuatu yang pingin aku kasih tau. Cuma aku nggak yakin sih soal ini. "
Kata Indra dengan mimik wajah serius.
" Apa ? "
" Kemarin aku cek kembali cctv di hotel, aku liat berulang kali, dan aku dapet sesuatu. Cctv yang mengarah ke arah lift, aku liat Qirani sempat ditegur oleh seseorang, cowok, kayaknya seusia kita. "
" Aku sudah liat itu juga, tapi masalahnya, cowok itu cuma negor doang. Akhirnya Qirani berjalan sendiri keluar hotel. Yang bikin aku kesal, kenapa cctv yang di luar hotel mati ! Bullshit ! "
" Tapi aku perhatiin lagi, cowok itu keluar lagi dari dalam lift, dan berlari ke arah keluar hotel, selisih beberapa menit saat Qirani keluar hotel. Aku curiga, cowok ini mengejar Qirani. Itu cuma kecurigaan ku sih, tapi nggak menutup kemungkinan kan ? "
Arga menatap wajah Indra dengan kening yang berkerut. Mencoba mencerna apa yang dikatakan Indra baru saja.
" Wajah orang itu, apa keliatan jelas ? "
Tanya Arga bersemangat.
Dengan lemah, Indra menggelengkan kepalanya. Seketika itu pula, Arga pun lemas.
" Aku penasaran, ayo kita ke hotel. "
Kata Arga akhirnya memutuskan.
Dan tanpa menjawab, Indrapun mengikuti Arga keluar dari apartemennya.
DI HOTEL X
" Ma, urusan kita sudah selesai disini. Kapan aja mama mau pulang, semua sudah siap. Beberapa anak cabang sudah mulai dibuka dan siap beroperasi mulai hari ini. Adit juga sudah melobi beberapa orang di perusahaan itu. Dan berhasil menyelipkan mata-mata. "
Aditya memberikan laporannya dengan wajah serius.
" Bagus, tunggu beberapa tahun buat melihat perkembangannya. Saat semua tepat pada rencana ku, aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya jadi milikku. Lalu, soal dia... Apa yang kamu dapetin ? "
Sahut Bu Citra dengan senyum puas.
Aditya menyerahkan sebuah koran kepada Bu Citra. Bu Citra menerimanya dan melihat koran tersebut. Dan matanya tertuju pada sebuah iklan berita orang hilang, foto Qirani tampak jelas disitu.
" Okey... Jadi ada yang mencarinya, dia punya keluarga. Sudah waktunya kita anterin dia pulang. Kamu sudah hubungi nomer kontak ini ? "
" Dari nomer kontak yang tertera dan info dari teman kita di kepolisian. Ada info menarik yang Adit yakin, mama pasti akan tertarik. "
__ADS_1
" Oh iya, apakah itu ? "
" Gadis ini bisa sangat berguna buat rencana kita, ma... "
" Benarkah ? Kenapa bisa begitu ? Apa yang kamu temukan yang menarik itu ? "
" Namanya Qirani Asha, baru lulus SMK bulan ini. Tepatnya dua minggu lalu. Salah satu anak panti asuhan Mentari Pagi, alamatnya Adit sudah dapatkan. Yang menarik adalah, yang mencarinya anak satu-satunya Bima Harsono, namanya Arga Ekadanta. Adit yakin, mama nggak asing bukan dengan nama-nama ini. "
Bu Citra langsung membelalak terkejut mendengar informasi yang diberikan oleh Aditya.
Bima... Bima...
Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Dulu kamu jatuh cinta pada Rima.
Sekarang anakmu punya hubungan apa dengan gadis panti asuhan ini ?
Apa ini karma keluargamu, hah ?!
Arga...
Anakmu itu, udah dewasa rupanya...
" Kamu yakin, gadis itu berhubungan dengan keluarga Bima ? "
" Adit yakin sekali. Mama bisa cari tau sendiri ke panti asuhannya. Adit belum kesana buat mastiin tapi Adit dapat info dari teman kampus Arga, Qirani ini pacaran dengannya. "
Jadi benar...
Ayah dan anak sama, pacaran dengan anak panti asuhan...
" Okey... Kayaknya sebelum kita pulang, aku harus jalan-jalan dulu sebentar. "
" Mama mau ke panti asuhannya ? "
" Ya, suruh Steve siapin mobil, berikan alamatnya pada mama. Dan kamu, jaga gadis itu jangan sampai keluar kamar hari ini. Tunggu mama pulang, baru kita bahas apa yang akan kita lakukan padanya. "
" Baiklah... Adit antar ya mama keluar. "
" Ya... Sekalian ajak gadis itu cari sarapan. Ingat, jangan sampai tertangkap cctv ya. "
" Ya, ma... Adit tau. "
Dan tanpa banyak bicara lagi, Aditpun menelpon sang sopir pribadi. Melaksanakan instruksi sang ibu.
SETENGAH JAM KEMUDIAN
Arga dan Indra tiba di hotel X, milik keluarga Arga. Begitu turun dari mobil dan menyerahkan kunci pada petugas hotel yang menyambut mereka, keduanya bergegas masuk ke dalam.
Saat melangkah masuk ke dalam hotel Arga yang terburu-buru tertabrak roda pada kursi roda Bu Citra di pintu masuk.
Kata Arga kesal dan mengusap lututnya.
" Maaf, adikku tidak fokus saat berjalan. "
Ucap Aditya kepada Arga yang terlihat langsung meradang.
" Sudah... Ayo, kita masuk ! "
Kata Indra yang langsung mencekal lengan Arga.
Arga mengernyitkan keningnya melihat Bu Citra yang duduk di kursi roda dan di belakangnya berdiri seseorang dengan postur tubuh kecil, mengenakan topi pantai berwarna putih yang hampir menutupi sebagian wajahnya, ditambah kacamata lebar berbentuk kotak dengan lensa yang bergradasi.
Di sisi satunya lagi, ia memperhatikan Aditya yang mengenakan kacamata dan topi hitam.
Melihat Arga yang penuh selidik, Bu Citra melemparkan senyum ramahnya.
" Maaf, anak saya mendorong kursi roda saya terburu-buru, jadi melukai kaki anda. Saya minta maaf sekali lagi. "
Kata Bu Citra dengan sopan.
" Lagi di dalam begini, segala pake kacamata kayak gitu... Mana jelas ngeliat jalan... "
Gerutu Arga.
" Maaf, sekali lagi maaf. "
Kata Bu Citra kembali.
" Silahkan, Bu.... Jangan dimasukkan ke hati, teman saya memang manja. Silahkan.... "
Kata Indra sambil menarik Arga ke samping, memberikan tempat untuk Bu Citra lewat.
" Terimakasih... "
Kata Aditya dengan menganggukkan kepalanya.
Dan tanpa menunggu lama, Qirani kembali mendorong kursi roda Bu Citra, diikuti Aditya yang berjalan berdampingan dengannya.
Ada sesuatu yang membuat Arga penasaran, dan tak melepaskan pandangannya pada sosok yang mendorong kursi roda Bu Citra.
Rasa-rasanya aku kayak pernah liat dia ya...
Kayak nggak asing buatku.
Tapi... siapa ya ?
Wajahnya nggak keliatan jelas sih, topi pantai dan kacamatanya nutupin hampir semua wajahnya.
__ADS_1
" Ayo, jadi nggak nih ngecek cctv ? Malah ngelamun... "
Tegur Indra menarik-narik lengan Arga dan menyadarkannya dari lamunan.
" Aku kayak nggak asing sama yang dorong kursinroda itu... Cewek itu... "
Kata Arga sambil berjalan ke arah dalam.
" Kenapa nggak ditegur ? Sekarang udah telat, udah pada keluar hotel tuh. "
Sahut Indra.
" Kenapa bisa yakin banget, itu cewek ? "
Sambung Indra.
" Dari bodi dan kulit tangannya juga keliatan dia cewek, cuma sayangnya rambut dia dimasukkan semua ke topi gitu, aku jadi nggak tau itu rambutnya panjang atau pendek, keriting apa lurus... "
" Apaan sih... Malah kayak sensus penduduk aja, segala mgomongin ciri-ciri orang. "
Indra langsung memotong kalimat Arga dan menyeretnya agar lebih cepat melangkah.
PANTI ASUHAN MENTARI
Bu Citra memperhatikan sekelilingnya begitu Steve membuka pintu gerbang berwarna coklat tersebut.
" Steve, just wait in the car please. Wait for me about half an hour, then you pick me up inside. "
( Steve, tolong tunggu di mobil saja, ya. Tunggu aku sekitar setengah jam, lalu baru kamu jemput aku ke dalam. )
Pesan Bu Citra.
" Yes, madam... "
( Ya, nyonya... )
Sahut Steve, sopir pribadi Aditya yang memang warga keturunan asing dan tidak mengerti bahasa Indonesia.
Kemudian Bu Citra menekan tombol di pegangan kursi rodanya, tombol otomatis untuk menggerakkan kursi rodanya tersebut.
Setelah beberapa saat berjalan dan melihat-lihat sekelilingnya, Bu Citra tiba di serambi depan. Dimana tampak olehnya seorang gadis dengan pakaian yang santai, sedang sibuk dengan handphonenya.
" Assalamualaikum.... "
Sapa Bu Citra dengan ramah.
Lina menoleh, melihat siapa yang pagi-pagi sudah datang bertamu. Tampak olehnya, seorang wanita paruh baya yang sangat cantik duduk di atas kursi roda, dengan selembar kain batik Kalimantan menutupi pinggang sampai ke ujung kaki.
" Walaikumsallam, ya Bu... "
Jawab Lina sopan.
" Kamu tinggal disini ? "
" Iya. "
" Bisakah ibu bertemu dengan pemilik panti asuhan ini ? "
" Oh, mau ketemu Bunda. Bisa bisa.... Tunggu ya Bu, saya panggilin Bunda dulu. "
Dan Linapun segera berlari menghambur masuk ke dalam rumah.
Sembari menunggu pemilik panti asuhan tersebut keluar, Bu Citra memutar kursi rodanya. Menghampiri hamparan berbagai jenis bunga di sisi serambi.
Bunga-bunga ini...
Mengingatkanku pada seseorang.
Seorang sahabat lama yang entah dimana sekarang.
Dia suka sekali tanaman bunga, setiap jalan-jalan dengannya, pasti ada aja bunga yang harus dibawanya pulang...
Dimana kamu sekarang...
Sudah menikah kah ?
Terakhir bertemu denganmu, kamu lagi patah hati dan menangis seharian, membuatku susah payah menghiburmu...
Apa kamu...
" Ya, dengan siapa ya pingin ketemu saya ? "
Tanya Bu Rima dengan ramah, begitu sudah berdiri di belakang kursi roda Bu Citra.
Lamunan Bu Citra buyar, dan sambil menyunggingkan senyumnya yang ramah, ia menekan tombol dan memutar kursi rodanya.
Begitu keduanya saling berhadapan, senyum ramah Bu Rima dan Bu Citra menghilang dalam sekejap. Kini keduanya saling memandang dengan mata yang membelalak tajam tak percaya.
Bu Rima langsung jatuh terduduk bersimpuh, menggenggam erat kedua tangan Bu Citra di pegangan kursi roda.
" Ka-kamu.... Kamu masih hidup ?! Kamu masih hidup ?! Ini... Ini... Beneran kamu ?! "
Bu Rima tergagap.
" Rima... Ya Allah, Allah begitu sayang padaku. Allah sayang padaku, aku baru saja mikirin kamu dan sekarang kamu ada di hadapanku. Rima... Rima... "
Bu Citra langsung berurai airmata. Bu Rima memeluk Bu Citra dengan erat. Begitu pula Bu Citra, tak kalah erat membalas pelukan Bu Rima.
Untuk sejenak keduanya saling menangis dalam pelukan. Mencurahkan rasa kangen akan sahabat lama yang berpisah dalam hitungan belasan tahun.
__ADS_1